
Sudah seminggu Kiran bedtres di rumah sakit, seminggu itu pula keadaannya sudah mulai membaik.
Dokter Anggun yang pernah menangani kasus persalinan pertama Kiran, memintanya dua hari lagi baru boleh pulang sambil menunggu hasil laporan medisnya.
"Nona Kiran kandungan anda sudah cukup kuat, tapi itu bukan berarti anda boleh beraktivitas apa lagi berjalan dengan langkah cepat atau pun berlari.
Hindari setress yang berlebih-lebihan dan harus mengkonsumsi makanan yang bergizi tapi kurangin yang mengandung asam dan pedas." Ucap dokter Anggun menasehati pasiennya ini.
"Berarti hal lainnya boleh dong dokter?" tanya Kenan yang dimengerti oleh dokter.
"Oh iya untuk interaksi hubungan in*im sebaiknya ditunda dulu sampai usia kandungan menginjak tiga bulan ke depan."
ucap dokter Anggun mengingatkan Kenan.
Kiran hanya tersenyum sambil mengangguk, ia merasa geli melihat wajah suaminya yang merenggut kesal.
"Baik dokter terimakasih banyak atas sarannya."
Kenan duduk lagi di bangku setelah dokter Anggun meninggalkan kamar inap istrinya.
Dreetttt...
Kenan melihat ada telepon dari asistennya Yoga. Ia keluar dari kamar inap istrinya untuk menerima panggilan telepon itu.
"Tuan Kenan! Apakah anda bisa datang ke perusahaan sebentar?"
"Apakah ada masalah dengan perusahaan Yoga?"
"Ini tentang dana perusahaan yang digelapkan oleh mantan sekertarisnya Pasya."
"Baik. Aku akan ke perusahaan sekarang."
"Sayang! aku mau ke perusahaan sebentar. Ada hal penting yang harus aku urus saat ini."
Ucap Kenan lalu mencium lembut bibir istrinya.
"Kenan sayang! aku nggak mau ditinggal, aku mau kamu tetap berada disini menemaniku."
Ucap Kiran dengan rengekan manjanya.
"Ya Allah sayang! kalau kamu sudah sakit begini manjanya membuat aku jadi ingin melahap kamu sayang.
Semoga kamu cepat sembuh dan sehat serta kuat kembali supaya aku bisa membahagiakan kamu. Aku tidak sabar mengunjungi anakku yang ini," Ucap Kenan sambil mengelus perut istrinya.
Keduanya berpelukan dan saling memagut bibir. Ciuman itu berlangsung lama seakan ciuman itu adalah ciuman yang terakhir untuk mereka.
Ciuman itu terlepas ketika Kenan merasakan ada yang asin masuk dalam pagutan itu. Ternyata Kiran sedang menangis. Kenan mulai panik melihat istrinya tiba-tiba saja menangis.
"Sayang, apakah ada yang sakit, mengapa kamu tiba-tiba menangis?" tanya Kenan sambil membelai rambut panjang istrinya.
"Aku tidak ingin ditinggal kamu Kenan. Perasaanku sangat tidak enak saat ini. Aku mohon jangan tinggalkan aku sayang."
Pinta Kiran sambil terisak.
"Sayang! aku hanya pergi sebentar sayang, mengapa kamu sangat sedih, seperti aku nggak balik lagi aja."
Ucap Kenan membujuk istrinya agar tidak merajuk.
"Tapi aku nggak kamu pulang, Kenan ...hiks.. hiks!" tangis Kiran makin menjadi.
"Tumben kamu sesedih ini, apakah ini bawaan hamil?" tanya Kenan yang tidak tega meninggalkan istrinya. Tapi ia juga tidak ingin berlama-lama menunda urusannya dengan Lita jadi terbengkalai.
Gadis itu sedang menyimpan uangnya di bank di Swiss.
"Sayang, setelah urusanku selesai, aku akan langsung balik ke sini lagi, aku janji hmm!" pelukannya makin erat pada istrinya.
Mengapa aku juga ikut gelisah ya. Akh! ini hanya perasaanku saja." Ucapnya mengusir kegelisahannya.
Ketukan pintu kamar inap VVIP terdengar kencang. Kenan menguraikan pelukannya lalu menghampiri pintu itu dan ternyata ada sahabat istrinya yang datang menjenguk Kiran.
"Assalamualaikum Tuan Kenan !" Sapa Rena lembut.
__ADS_1
"Waalaikumuslam mbak Rena. Silahkan masuk! oh ya kebetulan sekali aku ingin minta tolong kepadamu.
Tolong tungguin Kiran sebentar karena aku ada urusan, ini sangat urgen." Ucap Kenan terlihat buru-buru.
"Sayang, ada sahabatmu yang akan menemanimu sebentar, aku hanya butuh waktu dua jam setelah itu aku akan balik lagi ke sini," ucap Kenan lalu mengecup lagi kening istrinya.
"Mbak Rena, maaf aku tinggal ya! terimakasih sebelumnya."
Ucap Kenan segera keluar dari kamar inap istrinya.
"Ia Tuan Kenan! pergilah tidak apa-apa, biar nona Kiran saya yang tungguin.
Sepeninggalnya Kenan, kedua sahabat ini saling berpelukan untuk melepaskan kerinduan mereka.
"Selamat ya Kiran, kamu hamil lagi. Semoga babynya cepat tumbuh sehat dan kamu juga harus kuat." Ucap Rena menyemangati sahabatnya.
"Terimakasih teteh sudah merepotkan teteh," ucap Kiran tersenyum manis pada sahabatnya ini.
Keduanya mulai terlibat obrolan apa saja dengan diselingi candaan.
Yoga yang sudah menunggu Kenan di tempat parkir rumah sakit segera menghampiri bosnya itu yang sudah berdiri di depan lobi rumah sakit.
"Apa yang harus aku lakukan Yoga untuk mendapatkan lagi aset milikku yang sudah di ambil perempuan itu?"
"Kamu butuh tanda tangan anda dan kesaksian tuan Pasya yang sudah menjadi tersangka karena perbuatan mantan sekertarisnya.
Uang yang di ambilnya bernilai fantastis. Ia memanfaatkan kepercayaan tuan Pasya dengan kecerdasannya untuk mengeruk keuntungan sedikit demi sedikit tanpa sepengetahuan tuan Pasya yang saat itu percaya buta saja gadis itu."
"Baiklah sekarang kita temui Pasya by dulu sebelum bertemu dengan wanita itu. Dengan begitu urusan kita tentang aset itu bisa kita serahkan langsung ke pengacara kita untuk di usut tuntas."
Ucap Kenan sambil membuka pintu mobilnya.
"Masalahnya tuan Pasya mau membantu kita dengan syarat tuan Kenan dan nona Kiran harus menyerahkan hak asuh Dilan kepadanya."
Deggggg..
"Apa...? apakah aku tidak salah dengar, Pasya berani mengajukan syarat bodoh itu untuk menukarkan putranya dengan aset milikku?"
"Iya Tuan Kenan! Tuan Pasya sepertinya sangat menginginkan putranya untuk tinggal bersamanya karena putranya Dillan sendiri yang meminta dia agar mengajukan peninjauan ulang kembali perebutan hak asuh antara kalian dan dirinya."
"Astaga! Saya tidak percaya ini. Kenapa Pasya tega mengkhianati aku lagi? Padahal selama ini aku sudah berbuat baik kepadanya."
"Kenapa tuan Kenan tidak tanya sendiri Dilan, apakah dia dipaksa oleh Pasya untuk tinggal bersamanya atau ini murni permintaan Dilan sendiri, tuan Kenan"
"Masalahnya saat ini, istriku dalam keadaan kritis. Kandungannya sangat lemah jika kita libatkan kasus perebutan hak asuh anak mereka Dilan."
"Tapi kita tidak bisa menunda kasus ini terlalu lama tuan Kenan karena kalau kita tidak proses secepatnya, bulan berikutnya, aset anda tidak bisa lagi di klaim dan semuanya menjadi milik Lita."
"Kalau begitu aku harus membujuk istriku untuk melepaskan dilan untuk bisa diambil oleh Pasya."
Ucap Kenan langsung lemas tak berdaya.
"Begini Tuan Kenan! Apakah saya boleh memberi anda saran?"
"Saran apa Yoga?"
"Manfaatkan perasaan dendam nona Kiran terhadap Lita untuk merebutkan kembali aset milik anda, tuan Kenan."
"Apakah seorang ibu rela melepaskan putra kandungnya demi mendapatkan kekayaan di dunia ini, Yoga?" Tanya Kenan dengan tubuh lemas.
Deggg...
Flashback
Keserakahan manusia tidak terlepas dari janji manis setan untuk mengelabuinya menelan manisnya dosa walaupun dirinya tahu usianya tidak cukup untuk menghabiskan apa yang telah ditempuhnya dengan cara yang salah.
Begitupun yang terjadi dengan sekertaris Lita, bukan hanya perusahaan besar Cyber IT group Anjastara yang diambilnya namun juga semua aset yang dimiliki oleh keluarga tuan Kenan diembatnya juga.
Kiran berada dirumah mertuanya sudah memasuki hari ke tiga, bagi Kiran tiga hari bagaikan tiga tahun dalam neraka. Kiran mencoba menghubungi ponsel sekretaris Lita, tapi Lita tidak pernah mau mengangkat panggilan telepon dari Kiran.
Kiran sudah sangat gusar, dia beralih menghubungi Rena sekertarisnya.
__ADS_1
"Hallo assalamualaikum Rena!"
"Waalaikumuslam, Kiran !! kamu ke mana saja?"
"Maaf Rena itu tidak penting dijawab, saya ingin bicara dengan Lita, tolong ke ruangan dia sekarang."
"Kiran ini gawat, keadaan perusahaan sudah sangat kacau dan barusan ada rapat pemegang saham dan perusahaan kamu beserta semua aset milikmu sudah berpindah tangan pada Asera group."
Degg!!
Wajah Kiran berubah pucat saat mendengar percakapannya dengan Rena sekertarisnya melalui ponselnya.
Apa yang dia dikuatirkan terjadi juga, kecurigaannya pada sekertarisnya Pasya terbukti.
"Makanya aku sudah berapa kali menghubungi ponselmu untuk memberi tahukan hal ini padamu dan di mana kamu sekarang Kiran ?"
"Bagaimana bisa terjadi Rena?"
Aku tidak pernah menyerahkan perusahaan milikku pada tuan Bagas, pasti ini ada kesalahpahaman atau penipuan yang dilakukan oleh sekertaris Lita.
"Kiran, bukankah kamu yang sudah menandatangani penyerahan aset perusahaanmu pada sekertaris Lita dan sekarang menjadi perusahaan milik tuan Ariestya?
"Demi Allah saya tidak melakukannya atau jangan-jangan?
astaga jadi beberapa malam lalu aku di minta sekertaris Lita untuk menandatangani kontrak kerjasama dengan perusahaan lain, jadi si kutu itu berani menipuku?"
"Sekarang apa yang mesti saya lakukan untuk membantumu mengembalikan perusahaan milik mu?"
"Ikuti saja permainan asisten Rama dan berpura-pura lah kalau kamu mendukungnya Rena, aku percaya dengan kinerja mu saudaraku."
Degg!!
Rena termangu mendengar ucapan Kiran yang menganggap dirinya adalah saudara. Rena menyambut tawaran persaudaraan itu dengan perasaan haru dan bahagia walaupun kadang-kadang Kiran menempatkan dirinya hanya karyawan sama seperti staf yang lain namun kali ini Rena merasakan pengakuan Kiran bukan untuk menyenangkan hatinya tapi lebih kepada pengharapan yang besar yang perlu pengorbanan yang besar untuk bos sekaligus sahabatnya itu yang saat ini sangat dibutuhkan oleh Kiran pada Rena.
"Hallo Rena apa kau mendengarkan permintaanku?," tanya Kiran untuk membuyarkan lamunan Rena di seberang teleponnya.
"Iya Kiran tentu saja, aku akan memperjuangkan kembali milik keluargamu dari tangan seorang pengkhianat sekertarisnya Pasya ."
"Bagus!, aku tidak akan melupakan jasamu ini dan buktikan kesetiaan mu sebagai sekertaris ku juga saudaraku.
Laporkan semua pergerakan Lita di perusahaan beserta komplotannya."
"Siap bos, tidak ada yang tidak mungkin untukmu selama kita berjuang dijalan yang benar di hadapan Allah dan di mata hukum."
"Rena aku mengandalkanmu saudaraku."
Sambungan telepon seluler milik Kiran diputus sepihak oleh Kiran dengan perasaan marah dan kecewa dengan perlakuan sekertaris Lita.
Gadis cantik ini membuka lagi CCTV perusahaan yang didalam ponselnya. Dia melihat semua pergerakan sekertaris Lita dan komplotannya.
Banyak sekali direktur utama beberapa perusahaan besar yang sudah diblacklist oleh Kiran terakhir sebelum dirinya diserang di mansionnya beberapa hari yang lalu.
Suara tangisan baby Dilan menghentikan aktivitas Kiran pada ponselnya dan mengalihkan perhatiannya pada Dilan yang sedang ditangani oleh Bibi Ina kepala pelayannya.
"Bibi berikan baby Dilan padaku," kata Kiran seraya merentangkan tangannya untuk mengambil babynya dari tangan bibi Ina
Bibi Ina menyerahkan baby Dilan ke tangan nona mudanya lalu bibi Ina duduk di samping Kiran yang sedang duduk di sofa bad milik suaminya Pasya yang ada di dalam kamar tersebut.
"Nona, sebenarnya apa yang terjadi dengan perusahaan non?"
"Sekertaris Lita mengkhianatiku bibi, semua aset perusahaan dan kepemilikan lainnya di ambil alih oleh si kutu itu kecuali harta kekayaan yang di bank tanah air dan luar negeri milik keluargaku tidak bisa disentuhnya karena prosesnya tidak muda harus dengan kehadiran ahli waris yang bisa mengambil alih prosedurnya tentu saja dengan didampingi oleh pengacara perusahaan."
"Berarti kita tidak bisa tinggal ditempat yang kemarin nona muda ceritakan padaku?"
"Iya bibi, saya mohon maaf kita harus bertahan disini dulu sambil memikirkan langkah selanjutnya, tolong bibi bersabar dan terus berdoa semoga kita bisa bebas dari neraka ini," keluh Kiran pada bibi Ina.
Bibi Ina membelai rambut Kiran dengan perasaan yang sama sedihnya dengan nona mudanya, tidak ada yang bisa dilakukan oleh Bibi Ina karena dirinya sendiri yatim piatu tidak ada tempat baginya untuk didatangi kecuali bersama nona mudanya.
Bibi Ina telah berhutang budi pada keluarga tuan Herland yang pernah menyelesaikan dirinya saat terjadi transaksi perdagangan anak dibawah umur untuk dijadikan wanita penghibur para pria hidung belang.
Saat itu usianya baru menginjak 16 tahun. bibi Ina melarikan diri dari geng mafia perdagangan anak dan kebetulan tuan Daniel yang hampir menabrak bibi Ina kecil, beruntung bibi Ina selamat, bibi Ina yang melihat tuan Herland bisa meminta tolong untuk melindungi dirinya.
__ADS_1