CINTA Kandas Di Tengah Perjodohan

CINTA Kandas Di Tengah Perjodohan
30. Menikah


__ADS_3

Putusan sidang perceraian itu akhirnya di ketuk palu oleh hakim untuk mengakhiri pernikahan Pasya dan Kiran tanpa banyak tuntutan dari Kiran maupun Pasya.


Usai sidang itu berakhir. Pasya langsung berjalan cepat tanpa ingin melihat lagi mantan istrinya itu sedang berpelukan dengan kedua mertuanya.


"Selamat sayang! kamu sudah terbebas dari bajingan itu. Kamu bisa mulai lagi hidupmu dan ayah akan menerima pria yang ingin menerimamu apa adanya."


Ucap tuan Herland untuk menebus rasa bersalahnya.


"Benarkah ayah akan menerima pria yang ingin menjadi suamiku nanti?"


"Iya sayang. Jika dia mencintaimu, dia tidak akan keberatan dengan status janda yang kamu sandang saat ini."


Terang tuan Herland membuat Kiran merasa berbunga.


"Ya Allah. Apakah ini hadiah dari semua ujian yang Engkau limpahkan kepada hamba?"


Batin Kiran sedang berkomunikasi dengan Tuhannya.


Keluarga kecil itu pulang bersama menuju rumah sang ayah. Kiran sudah meminta Kenan untuk membawa bayinya ke rumah ayahnya untuk ia perkenalkan kepada kedua orangtuanya yang mengetahui bayinya masih hidup.


Lagi pula, perceraiannya dengan Pasya telah usai, itu berarti ia hanya bisa menunggu Kenan datang untuk melamar dirinya.


Setibanya di kediaman kedua orangtuanya, mobil mewah hitam itu sudah menyusul mereka ikut berhenti di halaman mansion tuan Herland.


Kiran segera menghampiri mobil itu untuk menyambut putranya sebelum Kenan turun dari mobil itu.


Kedua orangtuanya Kiran menengok ke arah putrinya yang sedang menggendong seorang bayi dalam selimut lembut namun belum terlihat wujud bayinya.


"Ayah..! Bukankah bayinya Kiran sudah meninggal? tapi kenapa malah ada dalam gendongan putri kita?"


Tanya nyonya Herland terlihat haru.


"Astaga! Pantas saja putri kita sembunyi dari kita dan Pasya, rupanya malaikat kecil itu menjadi alasan utama kenapa dia tidak ingin pulang ke rumah kita."


Ucap tuan Herland yang merasa bangga akhirnya bisa menimang cucu.


"Ayah, ibu! ini cucu kalian. Ia akhirnya selamat dari kematian yang hampir merenggut nyawanya."


Ucap Kiran seraya menyerahkan putranya pada sang ibu.


Tapi ada sosok gagah nan tampan berjalan perlahan menuju calon mertuanya yang sedang menatapnya sambil menautkan kedua alis mereka.


"Kiran! bukankah itu adalah anak petani yang pernah ayah tolak lamarannya?"


"Ayah! Apakah ayah pernah mendengar mendiang tuan Ghifari?'


"Kenapa kamu bisa mengenal mendiang tuan Ghifari? Dia sudah meninggal dalam kecelakaan pesawat di luar negeri bersama istrinya. Hanya saja putranya tidak pernah ketahuan oleh media sampai saat ini walaupun ia di nyatakan masih hidup."


Ucap tuan Herland yang sangat mengenal tuan Ghifari.


"Benar sekali ayah, putranya almarhum tuan Ghifari sedang berdiri di depan kita saat ini. Dialah Kenan Alexa Ghifari."


Ujar Kiran dengan lugas membuat tuan Herland tersentak.


"Benarkah dia...?"


"Iya ayah! Kenan melarikan dirinya dan bersembunyi di desa tempatnya sopir pribadi kedua orangtuanya karena dia lebih nyaman dengan sopir pribadi kedua orangtuanya ketimbang dengan pelayan yang lain.


Itulah sebabnya ia mau diakui sebagai anak petani daripada dikenal sebagai putra seorang Milioner."


Ucap Kiran membuat ayahnya terlihat sangat malu.


Deggg...


Ia masih ingat betapa kerasnya ia menolak Kenan dengan penuh hinaan saat pemuda tampan itu melamar putrinya.


Kini wajah angkuhnya harus tertunduk melihat bumi karena kekayaan yang dimilikinya tidak sebanding dengan kekayaan yang dimiliki oleh kekasih dari putrinya itu jauh dibawah standardnya.


Nyonya Hanum mempersilahkan Kenan masuk dan semuanya masuk ke dalam mansion dan duduk di ruang keluarga.

__ADS_1


Kiran pamit kepada semuanya untuk menyusui si kecil yang sudah mencari sumber makanannya dengan mulut kecil yang nampak mangap mencari sesuatu yang ingin dihisapnya.


Kenan duduk di hadapan calon kedua mertuanya dan mulai menyampaikan permohonan maafnya karena sudah menyembunyikan Kiran dan putranya dari keluarganya.


"Kamu tidak perlu minta maaf Kenan, justru kami lah seharusnya berterimakasih kepadamu karena kamu telah melindungi putri dan cucu kami." Ujar tuan Herland.


"Tapi kedatangan saya ke sini sekaligus untuk melamar putri tuan Herland karena saya sangat mencintai putri tuan."


Pinta Kenan santun.


"Tapi putriku hanya seorang janda anak satu, apakah kamu masih mau menerima mereka?"


"Aku tidak pernah mempermasalahkan itu tuan Herland karena cintaku tidak melihat status itu.


Aku mencintai Kiran dengan segenap jiwa ragaku, apapun keadaannya tidak akan menghalangi hatiku untuk berhenti mencintainya."


Ucap Kenan dengan mantap.


Hati tuan Herland begitu trenyuh mendengar ucapan tulus seorang Milioner muda yang tetap hidup dalam kesederhanaan.


"Nak Kenan, jika kedua orangtuamu masih hidup, pasti mereka sangat bangga kepadamu.


Kamu telah memilih jalanmu sendiri untuk tampil dengan kepribadianmu yang tetap bersahaja walaupun kemewahan bisa saja menjadikanmu orang yang paling berpengaruh dengan segudang ambisi untuk menaklukkan dunia."


Ujar tuan Herland dengan penuh kekaguman kepada sang calon menantu.


"Harta tidak di bawa sampai kita mati tuan! Apa yang kita usahakan di dunia ini hanya untuk mengumpulkan amal baik agar kita bisa bawa pulang menghadap Allah dengan rasa bangga.


Kematian orangtuaku mengajarkan aku banyak hal, bahwa kemewahan pun tidak bisa menebus nyawa mereka ketika menghadapi ajal."


Glekkkk..


Kata-kata Kenan seperti cambukan keras untuk tuan Herland yang selama ini menilai orang lain berdasarkan status sosial, saat ia ingin menjalin hubungan dengan siapapun. Asalkan mereka kaya, itu sudah menjadi modal utama baginya untuk membaur.


Kiran turun lagi ke lantai bawah setelah menyusui putranya yang kini sudah tertidur di bawah penjagaan Omanya, nyonya Hanum.


Tuan Herland memutuskan untuk putrinya segera menikah agar tidak terjadi fitnah antara Kiran dan Kenan.


"Kapan kalian ingin melangsungkan pernikahan kalian?" Tanya tuan Herland.


"Insya Allah, kalau bisa Minggu depan tuan Herland kalau semua kelengkapan identitas pribadi dan admistrasi lainnya sudah dilengkapi."


Ucap Kenan yang ingin segera menikahi Kiran.


"Baiklah. Kita tidak boleh menunda niat baik ini lebih lama."


Ucap tuan Herlan lalu menyalami calon menantunya.


"Terimakasih tuan Herland sudah menerima aku bagian dari keluarga ini. Kalau begitu aku mau pamit dulu."


Kenan segera menuju ke mobilnya namun di cegah oleh Kiran yang tidak ingin kekasihnya segera pergi dari mansionnya.


"Apakah kamu tidak ingin ngobrol dengan aku dulu?"


"Apakah boleh?"


"Bukankah aku sudah menjadi wanita bebas saat ini?"


Kenan tersenyum lebar lalu mengacak rambut Kiran.


"Baiklah. Sesuai keinginanmu tuan putri, Kiran."


Canda Kenan lalu mengajak Kiran untuk keluar sebentar dengannya.


"Kita mau ke mana Kenan?"


"Ke suatu tempat?"


"Ke mana...?"

__ADS_1


"Lihat saja nanti!"


"Ihhh.... katakan! aku tidak suka penasaran seperti ini." Protes Kiran manja.


"Kalau bilang sekarang bukan kejutan namanya."


"Aku tidak sedang ulang tahun."


"Aku juga tidak sedang mengingat ulang tahunmu tapi setiap hadiah yang aku berikan tidak akan mengenalkan aku pada momen spesial karena setiap hari kamu adalah orang yang sangat spesial di hatiku."


Ucap Kenan lalu mengecup lembut bibir Kiran saat keduanya sudah berada di dalam mobil.


Kenan mengajak calon istrinya ini menuju bandara dimana pesawat jet pribadi miliknya sedang menunggu.


Ketika tiba di bandara, Kiran dibuat takjub saat melihat pesawat jet pribadi milik Kenan yang sangat cantik dan mewah itu akan menjadi tempat mereka bisa keliling dunia dengan pesawat itu.


"Sekarang kita berangkat ke Denpasar."


"Tapi aku tidak bawa apapun Kenan."


"Di dalam pesawat sudah ada semua perlengkapan wanita yang kamu butuhkan sayang."


"Benarkah?"


"Iya sayang!"


"Ayo naik!"


Tidak lama pesawat itu sudah mengangkasa membawa pasangan yang sedang berbahagia ini menuju Denpasar Bali.


Kenan memilih resort di wilayah Jimbaran Bali sebagai tempat bulan madu ia dan istrinya Kiran.


Hiasan kamar yang begitu indah untuk mereka yang ingin melakukan ritual malam pertama. Kiran mengenakan lengerie berwarna marun untuk menyambut kehangatan suaminya.


Perutnya yang kembali rata memudahkan dirinya untuk bisa beraktivitas saat ini. Ia sendiri belum berani memeriksa lagi keadaannya pada dokter pasca melahirkan putra pertamanya.


Karena posisinya yang masih berstatus istri dari Pasya saat itu. Ia hanya duduk di depan kaca dan berbicara seorang diri, bingung dan takut membuatnya pasrah saat ini menghadapi suaminya, Kinan.


"Sayang..! Kenapa kamu tiba-tiba melamun?"


"Entahlah sayang! Aku merasa takut jika Pasya mengetahui aku menikah dengan kamu dan anaknya kita sembunyikan maka ia akan membunuh kita."


"Ada aku yang akan melindungi kalian, jadi tidak perlu takut sayang."


Kenan mengecup bibir isterinya dengan lembut dan mulai menyentuh bagian yang ingin ia raih yang sudah lama ia rindukan.


"Kenan! Kenapa buru-buru sayang? Kenapa ingin menyentuh bagian itu?"


"Aku sudah tidak kuat lagi sayang."


"Tidak jangan Kenan ..! Jangan menyentuh bagian itu." Pinta Kiran menangis tersedu-sedu.


"Sayang..! Kiran..! Bangun! Kita sudah sampai di bandara Bali."


Kiran membuka matanya dan menyadari dia sedang mimpi.


"Astaga ternyata aku hanya mimpi. Aku pikir kita sudah menikah Kenan."


"Apakah kamu sedang mimpi kita bercinta?"


Deggggg...


"Kenapa kamu bisa mengetahui kalau aku mimpi kita sedang bercinta sayang?"


"Karena kamu tidak ingin di sentuh di bagian rahasia itu. Sama halnya saat kamu masih gadis dulu.


Kamu benar-benar mempertahankan milikmu sebelum kita menikah."


"Aku sangat takut karena baru melahirkan putra pertamaku. Bagaimana rasanya di masukkan lagi dengan benda yang berbeda, apakah rasanya akan sama ataukah berbeda?"

__ADS_1


"Apakah kamu ingin mencobanya sayang?"


Deggggg..


__ADS_2