
Gerimis yang tadinya begitu lembut kini berubah butiran hujan yang mulai kencang. Angin ikut berhembus menyapu dua wajah yang tidak tertutup kaca helm.
"Apakah kamu mau kita berteduh?" Tawar Kenan sedikit mengencangkan suaranya karena hujan sudah mengguyur tubuh mereka.
"Tapi ini seperti melewati hutan. Mana mungkin kita berteduh di sini." Ucap Kiran yang merasa bergidik.
"Kalau kamu yakin mau terus menerobos hujan, aku tidak masalah, tapi ini masih sangat jauh menuju perkampungan." Ujar Kenan.
"Baiklah. Lebih baik kita berteduh." Ucap Kiran.
"Sudah setengah basah kamu baru minta berhenti." Gerutu Kenan dalam hati.
Pria ini mencari pohon yang cukup rindang agar mereka bisa berteduh. Ia masuk ke dalam hutan yang tidak terlalu mendapat banyak curah hujan.
Ia memarkirkan motornya dan mencari beberapa potongan kayu yang cukup panjang untuk menjemur jaket mereka.
Kiran yang mengenakan jaket anti air membuat baju bagian dalamnya aman. Sedangkan Kenan baju dan jaket levis miliknya ikut basah.
Kenan menanggalkan bajunya sekalian saat ia sudah membuat api unggun untuk menghangatkan tubuh mereka.
Kiran yang melihat tubuh atletis Kenan langsung bersemu merah. Tubuh kekar dengan dada bidang di lengkapi susunan perut bak roti sobek itu membuatnya menelan salivanya dengan kasar.
Kenan menangkap wajah gugup Kiran yang terlihat mengalihkan pandangannya ke api unggun. Kenan sengaja duduk di hadapan Kiran agar ia bisa menatap wajah Kiran dari kobaran api unggun kecil yang di buatnya.
"Jika hujan makin deras kita terpaksa bermalam di sini." Ujar Kenan membuat Kiran tersentak.
"Apakah kamu sudah gila? Mana mungkin kita harus menginap di hutan dengan banyak penghuni di dalamnya entah itu binatang buas atau ...?"
Kiran tidak berani meneruskan perkataannya untuk menyebut nama jenis makhluk halus.
Membayangkannya saja membuat bulu kuduknya meremang apalagi menyebutnya.
Kenan yang sudah tahu Kiran sangat penakut dengan makhluk itu walaupun tidak akan bisa terlihat oleh mata manusia, namun Kenan senang mengerjai Kiran.
"Kiran! siapa yang ada dibelakang mu?"
Tanpa ingin melihat ke belakang, Kiran langsung melompat ke tubuh Kenan membuat Kenan menahan tawanya.
"Aaaaaa..tidak..tidak! Jangan ganggu aku."
Ucap Kiran sambil menyembunyikan wajahnya ke dada bidang Kenan yang tanpa mengenakan baju.
Rasanya Kenan ingin ngakak saat itu, tapi ia harus menahan diri karena tidak ingin mendapatkan amukan dari gadis ini.
Tidak lama Guntur dan petir datang bersamaan membuat Kiran makin merapatkan pelukannya ke tubuh Kenan.
Rasa jahilnya Kenan berubah rasa sayang pada Kiran dan membuatnya ingin melindungi gadis ini.
"Tetaplah dalam pangkuanku Kiran! Ini sudah malam. Untuk pulang pun, itu tidak mungkin karena ini sudah larut malam." Ucap Kenan sambil menatap wajah cantik Kiran.
"Kalau tahu tadi hujan sederas ini, lebih baik kita menginap di rumah kaca." Ucap Kiran.
"Apakah kamu tidak ingin menikmati suasana alam terbuka dengan api unggun di depanmu?"
"Iya Kenan! Aku juga sangat menyukai suasana kemping, tapi ini serba dadakan, dan kita tidak siap untuk itu." Gerutu Kiran.
"Apakah kamu ingin makan sesuatu?"
"Makan apa Kenan?"
"Di dalam sana banyak ubi, apakah kamu mau kita bakar ubi?"
__ADS_1
"Di dalam sana sangat gelap Kenan dan aku tidak mau kamu meninggalkan aku sendiri di sini."
Kita bisa jalan berdua sayang dengan penerangan ponsel kita masing-masing."
"Tapi suasana sekarang lagi hujan kamu malah lebih basah lagi, Kenan."
"Ada bagian hutan yang sangat rindang tanpa tertembus air hujan. Apakah kamu mau melihatnya?"
"Astaga Kenan! Aku hampir mati jantungan seperti ini karena suasana hutan ini, kamu malah mengajak aku mencari ubi." Gerutu Kiran.
"Tanaman ubi nya tidak jauh dari sini sayang."
"Baiklah. Tapi kalau terlalu jauh mencarinya kita balik lagi, bagaimana?" Tawar Kiran.
"Ok, setuju."
Keduanya masuk ke dalam hutan mencari ubi disekitar tempat mereka berteduh. Tidak lama kemudian, Kenan menemukannya dan mencabutnya.
Keduanya membawa ubi itu untuk di cuci di pancuran air hujan. Kenan membakar ubi itu di api unggun yang ia buat.
Kiran begitu kagum dengan kemahiran Kenan melakukan apapun untuk membuatnya senang.
Setelah ubi nya matang, Kenan mengupasnya dan meletakkan di wadah daun pisang untuk Kiran makan. Keduanya makan saling duduk berdampingan.
"Ubi ini sangat manis Kenan."
"Apakah kamu menyukainya sayang?"
"Hmm!"
"Ternyata kamu sangat mengenal hutan ini, Kenan."
"Hutan ini tempat bermain kami berempat jadi seluk beluk hutan ini kami sudah hafal."
"Baiklah. Tidur lagi di pangkuanku sayang agar aku bisa mengawasi mu. Lagi pula udara malam ini sangat dingin." Ucap Kenan.
Kiran menuruti perkataan Kenan tanpa canggung mulai merebahkan tubuhnya di dada bidang Kenan.
Lama kelamaan, Kiran akhirnya tertidur dalam pelukan Kenan. Rasa hangat tubuh Kenan membuatnya lebih hangat daripada selimut apapun.
Kenan tetap terjaga sambil memeluk tubuh Kiran. Dengan ditemani api unggun yang masih setia menyala menghangatkan tubuh keduanya.
"Kiran! Aku tahu kamu menyukaiku karena reaksi gesture tubuhmu yang lebih memperlihatkan perasaanmu daripada bibirmu yang sudah sudah membohongi dirimu sendiri."
Batin Kenan makin mengeratkan pelukannya pada Kiran.
Hujan mulai reda hanya meninggalkan sisa hembusan angin dingin menerpa tubuh keduanya. Lolongan anjing hutan dan binatang lainnya mengeluarkan suara khas mereka sesuai nama mereka masing-masing.
Hingga masuk pukul empat pagi Kenan masih tetap menjaga wanitanya. Ia tidak mau ada binatang melata atau buas keluar dari dalam sana menyapa mereka berdua walaupun ia sudah mengusai hutan rimba ini.
Jika binatang buas di dalam sana bisa jinak dengannya tapi dia tidak menjamin wanita penakut dalam pangkuannya ini akan sanggup menghadapi binatang-binatang penguasa rimba itu.
"Yang tidak terlihat saja jantung Kiran hampir mau meledak, apa lagi binatang melata yang akan siap memperlihatkan bisanya pada Kiran." Batin Kenan.
Kaki Kenan mulai merasakan kesemutan hingga ia ingin menggerakkan tubuhnya agar tidak terlalu kaku.
Kiran merasa terganggu dengan gerakan itu membuatnya mengerjapkan matanya melihat apa yang terjadi.
Mata Kiran langsung melebar mengingat ia masih berada dalam pangkuan Kenan.
Ia merenggangkan tubuhnya dan menatap wajah tampan dan mata Kenan yang terlihat berat menahan ngantuk.
__ADS_1
"Astaga! Maafkan aku!"
Kiran segera beringsut dari tubuh Kenan. Ia melirik jam tangannya sudah hampir pukul lima pagi.
"Ya Tuhan. Berarti aku sudah tidur cukup lama dalam pangkuan mu. Dan kamu semalaman tidak pakai baju?"
Tanya Kiran sambil melihat tubuh Kenan yang sangat membuatnya kagum.
"Tidak apa. Aku sudah terbiasa dengan udara dingin. Apa lagi keluar masuk hutan dalam keadaan hujan, itu sudah biasa bagiku."
Ucap Kenan sambil menggerakkan kakinya agar lebih rileks sebelum ia bangun.
Kiran mengambil baju kaos milik Kenan dan membantu Kenan memakainya.
Kenan merasa kegirangan melihat perhatian Kiran padanya. Kiran juga membantunya memakaikan jaketnya yang sudah kering karena semalaman di jemur dekat api unggun.
"Ayo kita pulang Kenan! Aku takut bibi Ina akan mencariku."
"Bukankah kamu sudah mengirimkan pesan untuknya?"
"Sudah! Dia sudah mengetahui kalau aku pergi denganmu. Tapi pikirannya akan terganggu kalau aku tidak pulang-pulang semalaman."
"Tapi dia juga akan merasa tenang karena aku bersamamu. Jadi jangan terlalu memikirkannya. Lagi pula di sini tidak ada signal jadi sulit untuk menghubungi bibimu itu."
"Aku haus Kenan dan juga lapar." Rengek Kiran membuat Kenan mengulum senyumnya.
"Kamu benar-benar gadis manja Kiran. Semua yang kamu inginkan harus ada di hadapanmu dan itu sangat membuat ku suka. Aku akan melakukan apapun untukmu asalkan kamu mau menjadi milikku." Batin Kenan.
Ia lalu mengambil air mineral yang di bawanya selalu di jok motornya. Kiran meneguk air itu hingga terlihat leher jenjangnya yang membuat Kenan tergoda.
Ia segera memalingkan wajahnya dan mengambil jaket milik Kiran dan memakaikan ke tubuh Kiran. Saat menarik resleting jaket Kiran, mata keduanya beradu. Kenan menatap sinar mata Kiran yang begitu indah dan teduh.
Lama keduanya saling menatap. Kiran memejamkan matanya kala Kenan mendekati wajahnya hingga jarak keduanya hampir tak terkikis.
Melihat itu Kenan tersenyum geli. Ia sengaja membuat Kenan tenang dalam keadaan mata gadis itu tertutup karena ada ular yang sudah turun menghampiri kepala gadis itu.
Sambil mengecup bibir Kiran sekilas, Kenan melempar jauh ular yang sudah digenggamnya.
Hanya kecupan sekilas itu membuat wajah Kiran merona gugup.
"Ayo kita pulang sayang!"
Ajak Kenan seraya merengkuh pinggang Kiran. Keduanya langsung keluar dari hutan begitu melihat fajar sudah mulai menerangi bumi.
Kenan tidak malu dan sungkan lagi kepada Kenan. Ia memeluk pinggang Kenan menikmati udara pagi.
Tiba di kampung itu, saat matahari sudah sedikit tinggi. Pintu pagar bambu itu di buka oleh pelayan. Kiran turun dari motornya Kenan dan mengucapkan terimakasih. Ia memberitahu nomor ponselnya pada Kenan yang langsung dimasukkan ke dalam daftar kontak ponselnya.
"Nanti aku hubungi kamu lagi Kiran. Istirahatlah dan jangan ke mana-mana."
Kiran mengangguk dan melambaikan tangannya pada Kenan yang sudah siap meluncur kembali ke rumahnya.
Kenan mengedipkan sebelah matanya menggoda Kiran yang langsung mengembangkan senyumnya.
Bibi Ina yang sudah ada di belakang Kiran siap dengan pertanyaannya.
"Nona Kiran!"
Kiran membalikkan tubuhnya.
"Iya bibi!"
__ADS_1
"Apakah nona Kiran menginap bersama pemuda itu?"
Degggg..