CINTA Kandas Di Tengah Perjodohan

CINTA Kandas Di Tengah Perjodohan
9. Penjemputan Paksa


__ADS_3

Entah mengapa malam itu, Kiran tidak bisa tidur, walaupun sudah pukul satu malam, Kiran tetap terjaga.


Wajah Kenan terus terbayang dalam pelupuk matanya. Ia mengambil ponselnya dan ingin menghubungi Kenan malam itu.


"Enak nggak ya? kalau aku telepon Kenan di jam satu pagi dini hari?"


Kiran membuka aplikasi WhatsApp dan membuka kontak Kenan. Matanya terbelalak ketika melihat WA Kenan sedang aktif.


"What...? dia sendiri belum tidur? Dia lagi ngobrol sama siapa..? Aku harus memarahinya. Aku tidak suka kalau pria itu berhubungan dengan wanita lain dan...?"


Dretttt...


"Hahhh...? Dia meneleponku?"


Kiran kebingungan sendiri mau angkat atau mau matikan.


"Aaaakk..! Angkat saja. Kenapa harus jaga gengsi, dari pada menumpuk rindu mendingan melepaskannya..plongg gitu!"


Kiran senyum-senyum sendiri lalu mengangkat telepon dari Kenan.


"Hallo Kiran sayang..!" Sapa Kenan so sweet.


"Hallo calon imam ku..!" Balas Kiran nggak kalah mesranya.


"Kamu kenapa nggak bisa tidur, Kiran?"


"Hmm...itu...lagi..?"


Kiran gugup mau Jawab jujur tapi juga malu.


"Kamu lagi kangen sama aku..?"


"Lho ko kamu bisa tahu...?" Tanya Kiran keceplosan."


"Tuh kan benar kamu kangen sama aku." Ledek Kenan membuat wajah Kiran merona.


"Terus! Bagaimana dengan kamu..? Kamu sedang wa sama siapa..?"


"Aku ingin menghubungi kamu tapi aku takut kamu sudah tidur dan akan membuatmu terganggu." Ucap Kenan jujur.


"Oh..! Kirain kamu lagi ngobrol sama orang lain."


"Kamu cemburu ya sayang?"


"Sedikit..!"


"Ketemuan yuk!"


"Malam-malam begini?"


"Iya..!"


"Aku jemput ya..!"


"Tapi nanti ketahuan bibi Ina, dia bisa ngamuk, Kenan."


"Tapi aku sangat merindukanmu Kiran. Aku bawa mobil dan kita bisa ke rumah kaca. Bagaimana?"


Kiran yang sudah kepalang cinta, tidak bisa membendung hasratnya untuk bertemu dengan Kenan.


"Baiklah. Aku tunggu kamu menjemputku." Ucap Kiran antusias.


Dalam waktu kurang sepuluh menit, Kenan sudah menghampiri wanitanya. Kiran buru-buru masuk ke mobil dan mengecup bibir Kenan.


Mobil itu langsung berangkat menuju rumah kaca. Tapi Kenan tidak membawa Kiran ke rumah kaca. Ia membawa mobilnya masuk ke dalam hutan.


Keduanya mulai melepaskan kerinduan mereka. Saling bercumbu mesra tanpa ada kontak fisik.


Mereka hanya saling memanjakan aset pribadi mereka hingga merasakan kepuasan sebatas sentuhan lidah dan mulut mereka.


Tubuh keduanya yang masih polos ditutup dengan selimut. Kenan masih saja menyentuh dan memainkan belahan dada sekang milik Kiran.


"Kiran!"


"Berikan milikmu itu sayang! Aku ingin merasakannya!"


"Tidak Kenan! Kita sudah terlalu jauh dengan melakukan hal ini tapi tidak dengan kesucianku."


"Aku akan bertanggungjawab jika kamu hamil."


"Apa lagi itu! Aku belum siap punya anak dan tidak mau melahirkan anak di luar nikah. Itu pantang bagiku." Ucap Kiran tegas.


Kenan hanya menarik nafasnya gusar dan keduanya kembali memanjakan aset pribadi mereka masing-masing hingga menjelang subuh.


...----------------...


Hampir enam bulan hubungan Kiran dan Kenan terjalin indah. Kiran yang berencana ingin menyampaikan perasaannya kepada sang kekasih bahwa dirinya sudah siap berumahtangga, hari itu terlihat sangat bahagia.

__ADS_1


Apa lagi hari itu adalah momen yang tepat untuk Kiran memberi kejutan di ulang tahunnya sang kekasih.


Ia berdandan lebih cantik dari biasanya. Memakai dress merah dengan kalung berlian yang sudah menghias di leher jenjangnya.


Rumah kaca adalah tempat pertemuan rahasia mereka karena jauh dari pemukiman warga. Sementara itu, Kenan tidak mengetahui jika hari itu, Kiran akan memberikan kejutan untuknya.


Kiran hanya bekerja sama dengan ketiga anak buahnya Kenan untuk memberikan surprise pada pria tampan itu.


Yang sedang menjemput Kiran saat ini adalah Agam. Sementara Izzat dan Hendra setia menemani bosnya untuk membuat laporan pembukuan keuangan hasil pertanian mereka.


Entah mengapa hari itu Kenan tidak merasa nyaman bekerja. Pikirannya hanya tertuju kepada Kiran. Sudah hampir satu Minggu ini mereka tidak bertemu.


Hatinya mulai nelangsa karena ingin memeluk wanitanya. Ia sudah terbiasa dengan memeluk tubuh Kiran apalagi mereka selalu tidur bersama setiap kali mereka bertemu.


Walaupun belum ada penyatuan secara langsung, namun Kenan sudah terbiasa dengan tubuh indah milik Kiran.


Melihat kegelisahan bosnya, Izzat mencoba menenangkan Kenan.


"Bos!"


"Hmm!"


Kenan masih fokus bekerja dengan laptopnya.


"Apakah tidak sebaiknya kita mengitari kebun buah untuk melihat para pekerja, tuan?"


"Baiklah."


Kenan menyanggupi walaupun wajahnya masih kelihatan murung dengan perasaan yang tidak tenang.


"Bos!"


"Hmm!"


"Mengapa anda dan nona Kiran tidak menikah saja?" Tanya Izzat.


"Kiran belum siap membina hubungan yang lebih serius denganku."


Sahut Kenan dengan wajah cemberut.


"Bagaimana kalau nona Kiran siap menikah denganmu dalam waktu dekat ini?"


"Mana mungkin dia mau melakukan itu Izzat."


"Siapa tahu dia ingin memberikan kejutan untuk anda tuan. Bukankah nona Kiran selalu penuh dengan kejutan?" Timpal Hendra meyakinkan bos mereka.


Glekkkk...


Hendra dan Izzat tercengang mendengar ucapan bos mereka dan keduanya sama-sama saling menatap lalu melakukan tos ala mereka antara dua tangan dan dua kaki dan saling bersentuhan pinggul. Keduanya terkekeh kegirangan karena apa yang dijanjikan oleh Kenan untuk mereka akan segera terwujud.


"Yes!" Pekik keduanya.


Sementara di tempat Kiran, gadis itu meminta pelayan Efi mengambil beberapa gambar dirinya berpose di taman sambil menunggu kedatangan Agam yang akan menjemputnya.


Tidak lama kemudian, klakson mobil berbunyi. Pelayan Efi buru-buru membuka pintu pagar bambu itu, karena mengira Agam yang akan datang menjemput Kiran.


Betapa kagetnya Kiran saat melihat plat mobil asal Jakarta yang merupakan mobil ayahnya memasuki halaman rumah itu.


"Ayah...!"


Kiran begitu gugup melihat kedatangan ayahnya yang tiba-tiba.


Ayahnya mengembangkan kedua tangannya mengharapkan pelukan dari putrinya.


Kiran menghamburkan pelukannya pada ayahnya karena ia juga merindukan kasih sayang dari sang ayah.


"Apa kabar sayang! Sepertinya putri ayah makin cantik dan bahagia tinggal di desa. Apakah ada seseorang yang membuat kamu betah di sini?." Ucap tuan Herland dengan sindiran yang halus.


Kiran mengusap leher jenjangnya yang terasa kaku saat ini karena gugup menghadapi ayahnya.


"Silahkan masuk ayah!"


"Ini rumahku sendiri. Jadi aku tidak perlu penyambutan dari putriku."


Ucap tuan Herland dengan perubahan intonasi suara yang terdengar sinis.


Kiran hanya menarik nafas dalam sambil meremas dress-nya. Ia merasa rencananya hari ini untuk menemui sang kekasih akan gagal total. Apa lagi sebentar lagi Agam akan tiba di rumah ini.


"Apakah kamu sedang menunggu seseorang, Kiran?"


"Tidak juga ayah!"


Kiran mengambil tempat duduk di hadapan ayahnya.


Bibi Ina menyiapkan kopi untuk untuk tuan Herland.


"Silahkan Tuan!"

__ADS_1


Bibi Ina hendak meninggalkan ayah dan anak itu yang sedang ngobrol namun di cegah oleh tuan Herland.


"Bibi Ina! Duduklah di sini!"


"E.. iya tuan!"


Bibi Ina meletakkan baki di bawah meja dan ikut mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh tuannya.


"Bibi Ina! Apakah rumah ini sering kedatangan tamu?"


Bibi Ina melirik Kiran yang terlihat diam seribu bahasa.


"Itu tuan, hanya teman dekatnya non Kiran dan anak buahnya."


"Sedekat apa mereka bibi?"


"Ayah! Biar Kiran yang menjelaskan kepada ayah karena bibi Ina tidak tahu apa-apa." Protes Kiran.


Tuan Herland mengangkat tangannya mencegah putrinya berkomentar karena ia ingin bibi Ina sendiri yang menceritakan kelakuan putrinya.


Bibi Ina begitu bingung untuk memilih antara melindungi Kiran atau menceritakan sebenarnya jika Kiran jarang pulang dan lebih memilih menginap dengan kekasihnya Kenan.


"Itu Tuan! Nona Kiran terlihat sangat dekat dengan teman prianya. Alangkah baiknya kalau tuan besar segera menikahkan keduanya agar tidak timbul fitnah di kampung ini."


Ucap bibi Ina membuat Kiran bernafas lega.


"Aku akan menikahkan putriku dalam waktu dekat ini bibi Ina..."


Ucapan tuan Herland terhenti sambil menyeringai licik menatap wajah Kiran yang terlihat sumringah saat ini.


"Aku akan menikahkan Kiran dengan putri sahabatku yang saat ini baru saja menyelesaikan S2 nya di Amerika."


Jelas tuan Herland hampir membuat Kiran pingsan.


"Tapi ayah, aku sudah memiliki kekasih dan aku sangat mencintainya. Kami berencana untuk mendatangi ayah di Jakarta untuk meminta restu ayah."


Jelas Kiran dengan suara sudah terdengar parau.


"Oh, dengan anak petani itu? Apakah dengan perkebunan yang mereka miliki yang tidak seberapa itu di bandingkan dengan milik kita mampu membahagiakan kamu, hah?"


"Ayah! Kebahagiaan pernikahan tidak terletak pada sebuah kemewahan. Jika itu terjadi, mungkin ibuku yang paling bahagia mendapatkan ayah yang kaya raya.


Tapi, apa yang Ibuku dapatkan, dia hanya mendapatkan kekejaman ayah yang menyingkirkannya seperti sampah setelah ia tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan ayah dalam menjalankan kewajibannya sebagai istri."


Plakkkkk...


"Kau ingin ayah kembali rujuk dengan ibumu, hah?"


"Iya! Berhentilah mengejar wanita pelakor itu yang membuat ayah hanya tergoda dengannya karena tubuhnya bukan karena cinta!"


Teriak Kiran dengan nada sengit.


"Baik. Sekarang kamu kembali ke Jakarta dan menikah dengan jodoh pilihan ayah dengan begitu, ayah akan kembali rujuk dengan ibumu."


Ucap tuan Herland sambil meminta anak buahnya menyeret putrinya masuk ke mobil.


"Tidak! Aku tidak mau ayah. Aku mencintai kekasihku. Bibi Ina. Tolong aku!"


Pinta Kiran sambil melihat ke arah bibi Ina yang tidak bisa berbuat apa-apa pada Kiran.


Sementara itu, pelayan Efi merekam semua kejadian antara tuan Herland dan putrinya Kiran.


Ia segera mengirim ke nomor Izzat. Sedangkan Agam yang baru tiba di rumah Kiran melihat bagaimana Kiran dibawa paksa oleh ayahnya untuk kembali ke Jakarta.


Setelah Kiran berada di dalam mobil. Mobil mewah berseri inisial B itu segera meninggalkan rumah peristirahatan Keluarga Kiran.


Agam begitu syok melihat kejadian itu. Ia merutuki dirinya sendiri karena telat menjemput Kiran akibat mengisi bensin dulu.


"Harusnya aku menjemput nona Kiran lebih dulu daripada mampir ke SPBU yang antriannya panjang seperti ular tangga tadi."


Ucap Agam sambil menepuk jidatnya.


Izzat yang mendapat pesan dari pelayan Efi terbelalak melihat adegan menegangkan antara Kiran dan ayahnya. Ia segera melaporkan kepada bosnya.


"Tuan!"


Kenan melihat wajah Izzat yang terlihat pucat karena rencana mereka gagal total.


"Tolong lihat ini tuan!"


Izzat menyerahkan ponselnya ke tangan Kenan yang menatapnya bingung.


Matanya seketika melebar dengan degup jantung yang tak menentu detakan nya saat ini.


Amarahnya tidak bisa terbendung lagi mendengar sang kekasih akan dijodohkan dengan orang lain.


"Sial! Ambilkan mobilku Izzat! Aku mau ke Jakarta sekarang!"

__ADS_1


"Baik Tuan!"


__ADS_2