CINTA Kandas Di Tengah Perjodohan

CINTA Kandas Di Tengah Perjodohan
16. DIAM


__ADS_3

Kepulangan Kiran dari rumah sakit menjadi polemik bagi Pasya yang sudah menyinggung perasaan istrinya.


Kiran tidak lagi mau diatur oleh suaminya. Ia jadi lebih bersikap sinis dan apa adanya di depan pelayan. Apa yang ditakutkan oleh Pasya akhirnya terjadi juga di dalam rumah tangganya.


Para pelayan mulai bergosip tentang hubungan keduanya yang tidak terlihat manis di depan mereka.


"Kiran! Apakah kamu tidak bisa menahan diri sesaat saja agar tidak memperlihatkan sikap dinginmu itu padaku di hadapan para pelayan?"


Ucap Pasya.


"Aku sudah lelah untuk berpura-pura di depan mereka seakan hubungan kita saat ini terlihat romantis." Sahut Kiran.


"Kamu ingin mereka menggunjingkan dirimu setiap saat dan mulai tersebar sampai ke tetangga di luar sana, hah?"


"Hubungan kita memang sudah tidak sehat dari awal pernikahan. Kamu tidak mau menyentuhku dan terus menyiksaku sambil menunggu apakah aku akan hamil anak dari Kenan. Itukan yang ada di pikiranmu selama ini?" Tanya Kiran dengan suara lantang.


Pasya yang tidak terima nama mantan kekasih istrinya di sebut membuatnya murka. Ia mendorong tubuh istrinya dengan kasar ke atas kasur.


"Kau berani sekali menyebut nama lelaki itu di kamar kita dan di dalam rumah kita, hah!"


"Bukankah aku sudah bilang kepadamu, kalau aku tidak mencintaimu, mengapa kamu tidak mau melepaskan aku juga?"


"Jadi, karena aku tidak menyentuhmu dan kamu ingin kembali padanya hanya untuk di tiduri olehnya?"


Pasya mencengkeram erat dagu istrinya.


Seperti biasa Kiran tidak ingin dicium oleh suaminya saat Pasya benar-benar marah.


"hummm!"


Bibir Kiran dibekap dengan kuat hingga Kiran tidak bisa mendapatkan pasokan udara. Kiran mendorong wajah Pasya untuk menjauhinya, namun Pasya sudah menyesapkan lidahnya ke dalam rongga mulut Kiran.


Bukan hanya itu saja yang dilakukan Pasya pada istrinya, rok panjangnya Kiran ditarik, hingga baju kaus Kiran sudah raib di tubuh itu.


Seperti orang yang sudah kerasukan, kali ini Pasya tidak mengikat lagi tubuh istrinya. Ia ingin merasakan reaksi dari Kiran apakah ingin melayaninya atau tidak.


Benar saja, Kiran mulai terangsang dan membalas ciuman suaminya. Keduanya bergumul dengan saling memberikan servis terbaik mereka pada tubuh pasangannya.


Dengan saling berpindah posisi satu sama lain, entah Kiran di bawah atau bergantian diatas, yang jelas Kiran tidak ingin lagi diperdaya oleh Pasya.


Ia ingin merasakan hubungan suami-istri yang sebenarnya, tanpa digantung gairahnya yang selama ini tidak pernah dituntaskan.


Dari keributan kecil hingga memanas dan berakhir di arena pencapaian nikmat yang sedang mereka nikmati saat ini.


Apa yang mereka ingin reguk akhirnya terwujud. Pasya yang mengira istrinya sudah tidak perawan, dengan kasar mendorong juniornya super besar itu membuat Kiran tersentak.


"No! Sakit Pasya!"


Pekik Kiran tidak sanggup menampung tiang pancang sebesar itu pada area sensitifnya.


Pasya tidak mempedulikan itu. Ia menekan dengan kuat membuat Kiran mengusap wajahnya menahan perih, sakit dan ngilu hingga air matanya tidak terbendung.


Pasya mendiamkan sesaat memberikan kesempatan juniornya merasa kedutan yang sudah mengurut lembut hingga menyisakan kenikmatan yang tidak ada tandingannya di dunia ini.


Kiran menggigit bibir bawahnya sambil menahan nafasnya karena sesaat lagi ada gerakan selanjutnya yang dilakukan oleh suaminya.


Gerakan dari lembut hingga kasar dengan ritme statis membuat keduanya sama-sama melenguh panjang sampai ke puncak ******* yang sudah mereka raih bersama sambil memanggil nama pasangan mereka.

__ADS_1


"Kiran! Kamu sangat nikmat, sayang!"


"Pasya! terimakasih, suamiku."


Saling memberikan apresiasi masing-masing karena servis yang memuaskan yang mereka berikan dalam memanjakan aset mereka masing-masing.


Usai menyemprotkan benihnya ke dalam rahim istrinya, Pasya segera bangkit melepaskan junior yang sudah puas mengembara di tempat sempit itu.


Tiba-tiba mata Pasya melebar melihat darah kesucian istrinya sudah membekas di seprei putih itu.


Ia menatap wajah sendu istrinya dan seprei itu bergantian. Rasa bersalahnya mulai menghampiri hatinya. Dadanya terasa sesak karena telah mencurigai bahkan menuduh istrinya begitu keji selama ini.


Pasya langsung menghampiri lagi Kiran dan meraih tubuh polos itu untuk masuk ke dalam pelukannya.


"Kiran! Kenapa kamu membohongi aku? Kenapa kamu... astaga! kamu sudah membuat aku berprasangka buruk padamu, bahkan mendzolimi dirimu."


Ujar Pasya penuh penyesalan.


Kiran tidak ingin menjawabnya untuk membela diri apa lagi berbangga diri karena suaminya sudah mendapatkan dirinya dalam keadaan kesuciannya masih terjaga.


Rasa bangganya Pasya tak bisa ia lukiskan malam ini. Ia merasa menjadi suami yang paling beruntung sebagai orang pertama yang berhasil menjebloskan gawang pertahanan sang istri.


"Kiran! Terimakasih sayang! Kaku sudah memberikan milikmu yang sangat berharga untukku. Maafkan atas kebodohan ku, hingga menyiksamu dengan kenikmatan dan membuatmu tersiksa setiap saat."


Ucap Pasya tanpa henti menyesali perbuatannya pada sang istri dari hari ke hari.


Tanpa disadari, Kiran yang merasa kelelahan bercinta dengan suaminya untuk pertama kalinya, akhirnya tertidur karena kelelahan.


"Kiran...Kiran ...Kiran!"


Deru nafasnya terdengar teratur dengan rona wajah bahagia yang terlihat puas usai mendapatkan apa yang ia inginkan dari suaminya.


"Astaga! Kau ini gampang sekali terlelap. Capek ya sayang? padahal aku baru mau mengajak kamu bercinta lagi, tapi kamu sudah pergi ke alam mimpi sendiri tanpa mengajak ku."


Ucap Pasya terkekeh sendiri.


Keesokan paginya, Kiran masih terlihat lelah dan enggan beringsut dari tempat tidurnya.


Seperti pengantin baru lainnya, Kiran merasakan tempat sensitifnya seakan sobek di dalamnya membuatnya sulit bergerak dan jika sedikit saja ia berpindah tempat itu terasa sangat sakit.


Pasya memperhatikan wajah cantik Kiran yang terlihat sedang menahan sakit membuatnya mengerti bahwa istrinya saat ini sedang membutuhkan bantuannya.


Tanpa ingin bertanya dan membuat Kiran malu, Pasya menggendong tubuh Cyra membawanya ke kamar mandi.


"Sayang! Ayo kita mandi."


Ucap Pasya membawa masuk Kiran ke dalam kamar mandi dan membaringkan tubuh istrinya di dalam bathtub.


Kiran menikmati setiap perhatian suaminya kepadanya. Amarah yang awalnya meletup-letup, akhirnya bisa berakhir dengan hal yang menggembirakan.


Dan mungkin mampu mengubah hidupnya untuk masuk ke dunia baru menjadi istri seutuhnya dan mungkin menjadi wanita sempurna yang sedang menunggu kehadiran calon bayi yang saat ini sedang membentuk kehidupan baru di alam rahimnya saat ini.


"Sayang! Apakah kamu ingin makan sesuatu?"


"Tidak Pasya! Aku ingin tidur lagi setelah mandi karena masih merasa ngantuk."


Ujar Kiran agak manja pada sang suami.

__ADS_1


Untuk menebus kesalahannya, Pasya memandikan Kiran seperti bayi saat ini. Acara mandi yang dilakukan keduanya bukan ritual mandi biasa. Keduanya mengulangi lagi percintaan mereka untuk meraih lagi kenikmatan yang ada.


Usai bersenang-senang dengan tubuh mereka, Kiran merasakan lapar yang luar biasa hingga perut itu berbunyi. Pasya mengulum senyumnya melihat Kiran yang tidak bisa menahan lapar.


"Apakah kamu lapar sayang?"


"Apakah kamu ingin aku berbohong? Bukankah perutku sudah memberitahu sendiri kalau saat ini aku sedang lapar berat.


"Iya sayang! Kenapa aku harus tanya ya?"


"Kamu mau makan apa sayang?"


"Yang bisa cepat di makan tanpa masak."


"Kalau begitu makan roti dan buah dulu terus minum susu. Apakah kamu mau?"


"Itu juga boleh."


"Baiklah aku telepon pelayan dulu untuk mengantar makanan untuk kita."


Pasya meminta pelayan mengantarkan makanan yang sesuai dipesan istrinya.


Dalam lima menit pelayan sudah berada di depan pintu kamar Pasya.


Kiran makan roti yang memiliki tugas jenis rasa. Yaitu keju, coklat dan kacang.


Sementara Kenan memakan potongan buah-buahan yang sudah di siapkan oleh pelayannya.


Pasya juga menyuapi mangga matang yang sangat manis untuk Kiran.


"Sayang! Mengapa kamu menghukum aku dengan suatu kehebatan yang kamu miliki untuk dipersembahkan milikmu untuk orang seperti aku?" Tanya Pasya penasaran.


"Aku tidak ingin terlihat murahan di hadapan laki-laki yang mengincar tubuhku demi memenuhi syahwatnya atas nama cinta."


Ucap Kiran apa adanya.


"Aku merasa sangat beruntung mendapatkan seorang gadis yang memilki keimanan yang kuat hanya untuk satu tujuan." Puji Pasya.


"Jangan terlalu memujiku Pasya. Karena apa yang aku lakukan karena atas dasar prinsip bukan karena suatu bentuk penghormatan." Ujar Kiran merendah.


"Aku tidak peduli dengan komentar hambar mu itu Kiran. Yang jelas tidak semua wanita sepertimu yang pernah terlibat dalam pergaulan bebas tapi bisa mempertahankan harga diri. Itu yang membuat aku salut kepadamu sayang."


Ucap Pasya penuh kagum pada istrinya.


"Iya aku tahu Pasya. Bagiku pergaulan bebas itu tidak serta merta harus menyemburkan dirinya di lembah nestapa.


Karena semua tergantung kepada kitanya mau hancur atau mau tetap yang terbaik untuk mempertahankan suatu prinsip walaupun sebagian orang memandang kehidupan pergaulan bebas itu identik dengan kehancuran."


"Kamu hanya ingin balas dendam kepada ayahmu saja bukan? itulah sebabnya kamu menyakitinya dengan menjatuhkan reputasinya dengan perilaku mu yang terlihat buruk di hadapannya dan masyarakat?"


"Iya Pasya. Saat itu aku sangat putus asa. Kalau tidak ingat bunuh diri itu dosa, aku ingin mengakhiri hidupku saat aku tahu ayahku harus selingkuh dengan wanita yang usianya di bawahku. Kalau bukan karena harta ayahku,


Apa lagi yang dia incar. Itulah yang membuat aku sangat sakit. Aku tidak mau ayahku membawa sampah jalanan dan hidup enak di rumah mewah yang dibangun kedua orangtuaku dengan penuh air mata dan darah."


"Benar juga apa katamu Kiran, jika aku jadi kaku aku akan melakukan hal yang sama."


Ucap Pasya lalu merapikan piring dan gelas bekas untuk di taruh di luar kamar mereka.

__ADS_1


__ADS_2