
Pasya segera menyusul istrinya karena kuatir pada keadaan Kiran tapi saat melangkah, ia melihat ada amplop berlogo rumah sakit.
Mengetahui rumah sakit itu adalah tempat istrinya melakukan konsultasi dengan dokter kandungannya, Pasya membuka amplop itu dan mengeluarkan isi kertas foto hasil USG calon janin mereka.
"Astaga! Jadi calon janinku adalah berjenis kelamin laki-laki?"
Gumam Pasya haru. Hatinya sangat gembira dan ia memutuskan pulang ke rumahnya.
Tapi lagi-lagi, Pasya begitu kaget melihat OB yang sedang mengepel lantai yang banyak berceceran darah.
"Darah siapa ini Yani?" Tanyanya dengan menautkan kedua alisnya.
"I..itu darah nona muda, tuan! sepertinya nona muda mengalami pendarahan."
Jawab Yani membuat tubuh Pasya menegang di tempatnya berdiri.
Deggggg..
"Tidak! Jangan biarkan putraku...?"
Pasya tidak mampu melanjutkan perkataannya yang menakutkan itu. Membayangkannya saja dadanya terasa sangat sesak.
Tapi ia bingung harus ke pergi mencari istrinya di mana. Apakah Kiran mendatangi rumah sakit yang sama atau pulang ke rumah mereka.
Kiran yang sudah di bawa ke rumah sakit oleh teman-temannya, hari itu juga melahirkan bayinya itu secara prematur. Saat ingin melahirkan bayinya kaki tangannya terasa sangat kaku karena tubuhnya yang makin lemah.
Benturan yang cukup keras saat Kiran jatuh di dorong suaminya mengakibatkan janin mereka harus menjadi korban dari pertengkaran itu.
Pasya menunggu di depan pintu ruang bersalin dengan hati cemas Ia bertanya pada staffnya Rena tentang keadaan istrinya.
"Mengapa istriku tiba-tiba melahirkan? bukankah bayi kami belum genap usianya untuk hadir ke bumi?"
"Sayang sekali tuan Pasya! bayi kalian harus lahir secara prematur karena perbuatanmu yang telah mendorong tubuh nona Kiran hingga pinggangnya membentur sofa begitu keras.
Kami tidak tahu nasib keduanya di dalam sana karena dokter belum juga keluar sedari tadi padahal nona Kiran melahirkan bayinya secara normal.
"Wajah Pasya terhenyak mendengar penuturan Rena. Ia tidak menyangka pembuatannya yang ingin meleraikan Kiran dan Lita berakibat buruk pada istri dan bayinya.
Cek..lek..
Dokter keluar dengan wajah cemas. Ia lalu memanggil wali dari Kiran. Wajah Pasya terlihat makin pucat menghampiri dokter.
"Tuan! Kami hanya meminta pernyataan dari tuan untuk menandatangani berkas ini, siapa yang harus kami selamatkan? Ibunya atau anaknya?"
Degggg...
Pasya mengusap wajahnya dengan kasar karena keduanya sama-sama penting baginya. Tapi ia juga tidak tega pada istrinya jika dia begitu egois untuk mempertahankan bayinya.
"Selamatkan istri saya dokter!"
Pinta Pasya dengan berat hati dan air matanya tidak sanggup lagi ia tahan lalu dibiarkan mengalir begitu saja di pipinya.
Ia segera membubuhkan tandatangannya menyetujui penyelamatan istrinya.
Sementara keempat sahabat istrinya menarik nafas dengan lega. Pasya segera meninggalkan kamar bersalin itu tanpa menunggu hasil akhirnya.
"Pantas saja nona Kiran minta cerai darinya, sikapnya saja seperti itu. Ia seakan menyesali keputusannya untuk menyelamatkan nona Kiran. Dasar suami egois."
Umpat Intan kesal.
Tapi Tuhan berkata lain, bayi itu selamat dan juga Kiran. Bayi itu segera di bersihkan lalu di masukkan ke dalam tabung inkubator.
Dokter keluar lagi hendak menemui suami dari Kiran, untuk mengabarkan kabar baik pada lelaki itu. Tapi Pasya sudah lenyap. Dokter Dea hanya bisa menyampaikan kabar bahagia itu kepada keempat sahabatnya Kiran.
__ADS_1
"Bayi dan ibunya selamat." Ucap dokter Dea sembari menyalami keempat sahabatnya Kiran.
"Alhamdulillah ya Allah, terimakasih atas kemurahan-Mu, ya Rabb." Ucap Rena haru.
Setelah Kiran dipindahkan ke kamar inap VVIP, keempat sahabatnya memberikan selamat pada ibu malang ini. Mereka menceritakan tentang Pasya yang sempat datang dan segera pulang kembali ketika memberikan pernyataannya untuk menyelamatkan nyawa Kiran.
"Berarti bayi itu hanya milikku dan dia merasa bayi itu telah meninggal dunia dan biarkan seperti apa yang dia pikirkan tentang anaknya."
Ucap Kiran merasa kecewa dan sekaligus lega.
"Bagaimana mungkin dia tidak akan tahu nona Kiran, kalau kamu nanti pulang ke rumah suamimu?"
"Aku tidak akan tinggal di Jakarta, aku akan segera pergi jauh darinya?"
"Ke mana nona Kiran pergi?"
"Ke luar negeri dan membesarkan bayiku di sana."
Keempat sahabatnya terhenyak. Mereka tidak menyangka bakal mendengar kalimat nekat seorang Kiran yang tidak bisa lagi memaafkan suaminya.
Walaupun mereka sangat menyayangkan perbuatannya Pasya pada istrinya demi melindungi sekertarisnya.
...----------------...
Kiran menceritakan tentang keadaannya pada Kenan. Mantan kekasihnya itu begitu murka saat mengetahui Kiran tidak diperlakukan dengan baik oleh suaminya.
"Tunggulah aku sayang! Aku akan menjemput kalian berdua dan tinggallah dengan ku!" Ucap Kenan.
Pria tampan ini berinisiatif untuk menyembunyikan ibu dan anak ini dari jangkauan Pasya.
...----------------...
Lima hari kemudian, Kiran sudah bisa membawa pulang bayinya yang sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan bumi.
Ia berencana menunggu kedatangan Kenan di hotel. Rasa bahagia Kenan tidak tersampaikan oleh pria tampan ini menjemput wanita impiannya.
Di dalam pesawat jet pribadinya, Kenan memastikan keadaan kamar pribadinya harus dalam keadaan steril karena akan membawa bayinya Kiran.
Izzat dan Hendra tidak menyangka kalau bos mereka memiliki pesawat jet pribadi yang selama ini mereka tidak mengetahuinya.
"Bos! Apakah bos menyewa pesawat orang konglomerat ini hanya untuk menjemput nona Kiran dan bayinya?"
"Ini pesawat milikku bukan barang sewaan. Memalukan!"
Sergah Kenan kesal.
"Tapi kami baru melihatnya tuan!"
"Apakah aku harus memamerkan semua milikku kepada kalian?"
"Tidak Tuan! Maafkan perkataan kami." Ucap Hendra buru-buru.
Pesawat itu landing dengan sempurna di Bandara Jakarta. Kenan segera menjemput Kiran di hotel mewah dengan mobil mewah miliknya.
Seorang sopir pribadi Kenan tampak memberi hormat penuh pada lelaki tampan ini.
"Senang bertemu lagi denganmu Tuan Haidar!"
Ucap sang sopir membuat Izzat dan Hendra terus di buat syok.
Banyak sekali kejutan yang diberikan oleh Kenan kepada mereka dari pesawat jet pribadi, mobil mewah Limosin dan entah apa lagi sesudah ini yang akan mereka temui pada si bos.
Mobil itu segera meluncur ke hotel untuk menjemput Kiran dan bayinya. Kiran yang sudah menunggu di lobi hotel, begitu kaget saat Kenan turun dari mobil Limosin itu dan menghampirinya.
__ADS_1
"Kenan! Mobil siapa ini?"
"Masuklah sayang! Jangan ngobrol di sini!"
Kiran duduk di dalam mobil itu dan melihat Izzat dan Hendra yang menyambutnya dengan senyum.
"Selamat atas kelahiran bayinya, nona Kiran!"
"Terimakasih Izzat, Hendra! Kalian ikut juga, di mana Agam?"
"Agam sedang mengawasi para pekerja di kebun, nona Kiran." Ujar Izzat santun.
Mobil kembali melaju dengan kecepatan stabil, kali ini tidak langsung menuju ke bandara tapi ke jalan tol menuju kota Bogor.
"Kenan! Bukankah ini jalan menuju Bogor? Kita mau ke mana?"
"Ke istanaku!"
"Istana..? Maksudmu apa Kenan..?"
"Aku akan menceritakan semuanya kepadamu begitu tiba di kediamanku."
Ucap Kenan lalu menatap wajah mungil dengan tubuh sebesar botol bir tertidur pulas di dalam gendongan sang ibu.
Semuanya terlihat diam dan tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Kenan merangkul pundak Kiran agar gadis ini tidak gampang jatuh karena sedang mengantuk sambil menggendong sang bayi.
Setibanya di kediaman Kenan, lagi-lagi Kiran dan kedua anak buahnya Kenan terkagum-kagum dengan istana megah milik Kenan yang selama ini tidak diketahui oleh orang-orang dekat Kenan.
Kenan membantu Kiran turun membawa bayinya ke kamar yang sudah di persiapkan oleh para pelayan Kenan.
"Kenan ...ini semua?"
Mulut Kiran masih di buat terbuka dengan melihat apa yang disuguhkan di depan matanya.
Kiran masuk ke kamarnya yang di dalamnya sudah ada tempat tidur khusus untuk bayinya berupa boks kaca yang terlihat sangat indah nan mewah.
Kiran merasa kalau dirinya juga orang kaya, tapi ia tidak menyangka Kenan merahasiakan hal ajaib dari sisinya yang selama ini ia ketahui sebagai sosok sederhana dari seorang anak petani yang disangkakan oleh ayahnya.
Kiran membaringkan bayinya di tempat tidurnya. Ia kemudian duduk di sisi ranjangnya. Kenan sangat merindukan Kiran membuat ia tidak sabar memeluk gadis itu.
"Kiran! aku sangat merindukanmu sayang."
"Kenan! status ku masih istri orang!" ingat Kiran.
"Aku tahu itu, tapi aku tidak akan mengembalikan kamu padanya setelah apa yang telah ia lakukan kepadamu."
"Tapi, tolong jelaskan kepadaku mengapa kami dibawa ke sini, padahal sebelumnya aku meminta kamu untuk membawaku ke kampung mu, di mana rumahmu yang ada di hutan itu."
"Masalahnya bayimu itu prematur, Kiran! Jika dibawa dalam menempuh perjalanan jauh, bukan tidak mungkin kita akan mencelakakan tubuh mungilnya.
Aku sudah konsultasikan ini dulu pada teman yang dokter spesialis anak sebelum memutuskan yang terbaik untuk bayimu."
Ujar Kenan penuh makna.
"Astaga! Aku sama sekali tidak berpikir sampai sejauh itu, Kenan. Aku berpikir egois hanya karena ingin menghindar dari Pasya yang menyebabkan aku dan bayiku menjadi seperti ini."
"Aku harap, setelah usia babymu tiga bulan, ajukan cerai kepadanya dan aku akan segera menikah denganmu." Pinta Kenan tegas.
"Baiklah Kenan! Kali ini aku tidak akan labil lagi dalam menentukan sikapku untuk mengambil keputusan bercerai dari Pasya."
"Setelah kekacauan ini berakhir, jangan pernah lagi berurusan dengan Pasya dan aku akan membawa kalian ke kampung di mana rumah kaca adalah tempat kita bernaung."
Janji Kenan untuk wanitanya.
__ADS_1
"Terimakasih Kenan! Aku sangat bersyukur memiliki kekasih seperti dirimu. Tapi, aku ingin tahu siapa sebenarnya dirimu Kenan ..?"
Degggg...