
Hubungan antara Kiran dan Kenan makin hari makin terlihat mesra. Rumah Kiran menjadi tempat pertemuan keduanya atau sebaliknya, kediaman Kenan menjadi tempat mereka melepaskan kerinduan.
Pagi itu Kiran mengajak bibi Ina mencari bambu untuk buat nasi pot dengan campuran daging sapi, ayam dan ikan. Ia juga menggali ubi dan talas untuk membuat gorengan dan kolak.
Bibi Ina ikut membantunya mengumpulkan semua bahan makanan untuk di masak demi sebuah vlog Channel YouTube yang Kiran buat.
Keduanya membersikan ubi dan sayuran lainnya di sungai yang mengalir tenang.
"Bibi! Aku suka suasana desa. Makanan di sini hanya cukup untuk mencarinya saja tanpa harus membelinya."
"Iya non Kiran ! Hidup di desa kalau untuk makan ada aja non. Tapi kalau untuk mendapatkan pendapatan lebih tidak cukup kalau bukan petani yang memiliki sawah ladang yang cukup luas."
"Emangnya upah mereka bekerja di ladang orang lain tidak cukup layak untuk kehidupan mereka?"
"Paling yang upahnya besar kebunnya ayah non Kiran dan tuan muda Kenan. Tapi jumlah karyawannya di batasi karena tergantung musim buah." Ucap bibi Ina.
"Ya Allah bibi. Apa yang harus Kiran lakukan untuk membangun desa ini agar lebih maju dan orang kampung tidak harus mencari uang lebih di kota besar?"
"Susah non kalau perekonomian dan daya beli masyarakatnya minim, itu yang buat kita sulit mendapatkan penghasilan lebih."
"Baiklah bibi. Nanti aku ingin bahas keadaan desa ini dengan Kenan. Mungkin banyak solusinya yang akan kita kembangkan di desa ini."
Ujar Kiran membuat bibi Ina tersenyum bangga.
"Ya Allah non. Hatimu sungguh mulia. Kamu memikirkan kepentingan orang banyak sementara kamu mengabaikan hakmu sendiri." Ucap bibi Ina.
Tidak lama keduanya pulang membawa bambu yang sudah di potong sesuai ukuran yang diinginkan Kiran untuk memasak nasi pot. Sementara sayuran dan ubi di bawa oleh pelayan lainnya.
Kiran yang memang senang memasak sambil membuat vlog terbantu dengan kehadiran kekasih dan ketiga anak buahnya Kenan.
Setiap kali habis memasak, dan hidangan itu sudah tersaji dengan baik dan indah, Kiran tidak segan mengajak makan bersama dengan kekasih dan anak buahnya serta bibi Ina dan Efi.
"Non Kiran! Sepertinya anda bukan hanya mendapatkan gaji menjadi seorang YouTuber, tapi juga membuat tubuh kami menjadi subur dan makmur karena masakannya anda sangat enak dan membuat kami ketagihan."
Ucap Agam sambil mengunyah makanannya.
Kiran tersenyum dan mengucapkan terimakasih atas pujian Agam padanya.
Wajah kelam Kenan tidak menyukai anak buahnya memuji apapun yang dilakukan wanitanya kecuali dia sendiri.
Ditatap seperti itu membuat Agam hanya tersenyum kecut seakan mengatakan aku minta maaf Tuan.
Kiran menanggapi perkataan Agam tantang masakannya.
"Yang sedikit sulit, mendapatkan bahan makanannya. Saya dan bibi Ina harus mencari di kebun dulu seperti mencari berbagai macam jenis jamur, rebung atau bahan dasar makanan lainnya." Ucap Kiran.
Kenapa harus mengajak bibi Ina, anda bisa mengandalkan kami dan juga si bos jika mencari bahan untuk masakan." Timpal Izzat.
Kiran menatap wajah Kenan yang mengangguk menyetujui perkataan Izzat.
"Apakah aku tidak menganggu pekerjaan kalian di kebun?" Tanya Kiran tidak enak hati.
"Tidak apa non! Bos punya anak buahnya begitu banyak. Dan kami bertiga hanya menjadi orang kepercayaannya. Nanti kami bisa gantian mengawasi para pekerja sambil membantu non Kiran mencari bahan yang di butuhkan untuk membuat masakan." Jelas Hendra.
"Kalian tidak usah, biar saya saja dengan Kiran yang mencari bahan makanan yang ada di hutan." Ujar Kenan membuat ketiganya terdiam.
__ADS_1
"Baik Tuan.
Mereka kembali melanjutkan makannya hingga selesai. Ketiga anak buahnya membantu Efi dan bibi Ina membereskan semua piring-piring kotor yang ada di meja di taman belakang tempat mereka makan bersama. Sementara Kiran mengupas buah apel untuk Kenan.
Kadang ia menyuap setiap potongan buah pada kekasihnya dan begitu pula Kenan pada Kiran.
Melihat kemesraan Kenan dan Kiran, bibi Ina mulai kuatir dengan hubungan mereka berdua yang sudah menjadi buah bibir di kalangan masyarakat yang sudah mengenal keduanya.
Walaupun Kiran bisa menjaga dirinya, namun tidak menutup kemungkinan jika bisa melampaui batas karena seringnya bertemu.
"Apakah kamu mau ikut aku ke rumah kaca untuk mendapatkan bahan makanan di sana?"
"Itu terlalu jauh Kenan. Kalau tiba di rumah aku malah merasa lelah duluan." Ucap Kiran.
"Kenapa tidak sekalian saja masak di sana. Semua perlengkapan memasak ada di sana. Kamu cukup membawa bumbunya yang diperlukan saja. Nanti aku akan bawa mobil supaya kita tidak kehujanan lagi." Ucap Kenan.
Kiran tercenung sesaat lalu menyetujui ajakan Kenan.
"Baiklah. Itu juga ide yang tidak buruk." Ucap Kiran.
"Besok pagi aku akan menjemputmu. Apakah kamu senang membuat vlog saat makan malam?"
"Hmm!"
"Ok, aku akan menjemputmu jam tujuh pagi. Sekarang kamu pamit pulang dulu karena ini sudah malam."
Kenan mengucapkan terimakasih dan tidak lupa mencium kening sang kekasih.
Rumah kembali terlihat bersih dan wangi. Kiran masuk ke kamarnya hendak istirahat. Bibi Ina yang ingin menegur gadis itu untuk mengingatkan hubungannya dengan Kenan yang terlalu dekat, urung di lakukan.
...----------------...
Sesuai janjinya Kenan, gadis ini sudah rapi mempersiapkan dirinya menunggu jemputan.
Beberapa menit kemudian, Kenan sudah datang dengan mobilnya. Hendra yang membawa mobil itu.
"Bibi Ina! Kiran jalan dulu ya."
"Nona! Kenapa tidak sebaiknya kalian menikah saja supaya bibi tidak terlalu kuatir dengan kedekatan kalian berdua."
"Tapi Kiran belum siap jadi ibu rumah tangga bibi. Kiran masih ingin menikmati masa lajang Kiran." Ujar Kiran dengan suara yang begitu pelan.
"Apakah kekasihmu itu betah menunggu kesiapan kamu?"
"Ya kalau dia tidak mau, Kiran nggak masalah bibi." Ujar Kiran cuek.
"Astaga, anak ini!" Omel bibi Ina yang gregetan dengan jawaban Kiran yang tanpa beban.
"Baiklah. Hati-hati di jalan."
Ucap bibi Ina melepaskan kepergian nona mudanya.
Setibanya di di rumah kaca, Kiran turun bersama dengan Kenan yang mengajak gadis itu masuk ke rumah sederhana yang terbuat dari papan. Rumah minimalis itu sengaja di bangun oleh Kenan untuk tempat peristirahatan jika sedang panen buah.
"Kamu mau istirahat dulu atau mencari beberapa bahan makanan yang ingin kamu masak?"
__ADS_1
Tanya Kenan sambil merapikan mantel dan sepatu milik Kiran yang tergeletak begitu saja di ruang tamu.
"Aku mau istirahat dulu." Ucap Kiran yang masih merasa ngantuk.
"Baiklah. Aku akan tunjukkan kamarmu." Ucap Kenan.
Kenan membuka pintu kamarnya Kiran dan gadis itu sangat senang melihat kamarnya begitu bersih dan rapi. Walaupun tidak begitu luas namun desainnya sudah seperti villa yang ada di Bali.
Di tambah lagi ada pintu kaca yang model geser yang langsung menghadap ke taman. Ada juga sofa berbentuk unik mengikuti lekukan tubuh manusia untuk sekedar bersandar sambil menikmati taman yang ada di samping kamar itu.
"Ini sangat indah Kenan! Aku suka ada di sini."
Ucap Kiran yang sudah lupa dengan rasa ngantuknya.
Gadis ini lebih asyik memandangi taman bunga yang ada di samping kamarnya.
Kiran meraih tubuh Kiran dan memangku gadis itu supaya bisa menatap bunga bersama dengannya.
"Apakah kamu suka dengan semua ini Kiran?"
"Aku lebih suka dengan pemiliknya."
Ucap Kiran sambil menatap bunga yang ada di depan mereka.
Kenan meraih dagu Kiran dan menatap gadis itu.
"Coba katakan sekali lagi Kiran!"
Kiran tersenyum dan mengulangi lagi ucapannya." Aku lebih suka dengan pemilik semua yang ada di sini. Jika aku mendapatkan pemiliknya maka aku aku akan mendapatkan semua ini."
Ujar Kiran terlihat serius.
"Berarti kamu siap menikah dengan ku Kiran?"
Kiran terlihat gelagapan. Ia ingin menikah tapi ia tidak ingin memiliki anak terlebih dahulu.
"Tapi aku...?"
Kenan tidak ingin mendengarkan alasan gadis ini yang selalu berubah-ubah. Ia memagut bibir sensual milik Kiran yang sangat ingin di sesapnya. Selama ini ia hanya bisa mengecup bibir itu hanya sekilas saja setiap kali mereka berpisah.
Kiran membalas ciuman Kenan dan itu mulai dari lembut hingga keduanya tidak mampu lagi mengusai tubuh mereka.
Ciuman itu berlanjut memuaskan dahaga kerinduan mereka. Kenan tidak ingin melangkah yang lebih jauh yang akan membuat Kiran membencinya.
Ia hanya mengusai wajah Kiran sampai batas bibir dan lidah Kiran Tanpa ingin menyentuh aset lainnya.
Puas menikmati ciuman panas mereka, Kiran baru merasakan kelelahan dan tidur dalam dekapannya Kenan.
Lagi-lagi Kenan menikmati tubuh jenjang dan empuk milik Kiran. Walaupun hanya sebatas memeluk gadis ini. Itu sudah membuatnya sangat bahagia.
Begitu juga Kiran. Gadis cantik ini percaya bahwa Kenan tidak akan merusak kepercayaannya jika Kenan mampu menjaga nilai kesuciannya sampai ia siap menikah dengan pria tampan ini. '
Kenan yang terlihat mengantuk ikut tidur bersama Kiran di sofa panjang itu. Sementara di luar sana anak buahnya tidak begitu peduli dengan apa yang dilakukan oleh pasangan romantis itu.
Mereka sibuk menyiapkan makan siang untuk pasangan itu bila nanti sudah bangun.
__ADS_1