CINTA Kandas Di Tengah Perjodohan

CINTA Kandas Di Tengah Perjodohan
35. Minta Maaf


__ADS_3

Kenan segera menghubungi Kiran namun ponsel Kiran dinonaktifkan. Ia segera keluar lagi menuju mobilnya yang sudah di siapkan oleh pelayannya.


Satu-satunya yang akan ia datangi saat ini adalah polres Jakarta Barat. Ia masih ingat polisi tadi menyebutkan dari Kapolda metro jaya Jakarta barat.


Setibanya di sana polisi yang tidak mengetahui kalau Kenan adalah seorang Milioner muda, mengomeli Kenan seperti anak berandalan.


Polisi itu menggebrak meja sambil menunjuk-nunjuk jarinya ke wajah Kenan yang tetap terlihat tenang namun menyimpan kecemasan keadaan istrinya.


"Tadi saya menelpon anda, tapi anda malah mengatakan saya penipu. Dasar suami bajingan! Istri kabur dengan anak dari rumah, kamu sendiri tidak tahu."


Umpat polisi Firli dengan wajah memerah.


"Maaf pak! Saya baru saja tiba di rumah dan tidak memeriksa ke dalam kamar, jadi tidak tahu kalau istri saya pergi." Ujar Kenan.


Tidak lama Kombes keluar dari ruangannya dan melihat ada Kenan. Betapa kagetnya Kombes Sigit Purnomo itu saat melihat Kenan sedang di omelin juniornya.


"Oh.. Tuan Kenan..!" Sapa Kombes Sigit..


Kenan memberi hormat seraya menyodorkan tangannya kepada Kombes Sigit.


"Ada apa Tuan Kenan ke sini..?" Tanya Kombes Sigit.


"Saya lagi menanyakan keluarga saya yang sedang mengalami kecelakaan pada pak Firli, tapi ia masih mengamuk dengan saya Sekarang tidak tahu lagi harus mendatangi rumah sakit mana."


Ucap Kenan dengan setia mempertahankan wajah datarnya.


Kombes Sigit memarahi anak buahnya yang sudah menceramahi Kenan daripada memberitahu keberadaan keluarga Milioner muda itu.


"Katakan! Di mana keluarganya!" Titah Kombes Sigit pada anak buahnya Polisi


"Di rumah sakit Primer Tuan."


Kenan segera pamit kepada Kombes Sigit untuk menemui istrinya di rumah sakit.


Kombes Sigit menjitak kepala anak buahnya dengan keras.


"Kau tahu? Kau sedang bicara dengan siapa hah?"


"Maaf Pak Sigit! Memangnya dia siapa..?"


"Dia adalah Milioner muda, pemilik perusahaan Texas group. Kamu sudah berurusan dengan orang yang salah."


Ucap Kombes Sigit membuat polisi Firli terhenyak.


Deggggg....


"Maaf pak Sigit! aku tidak tahu karena orang itu diam saja saat saya mengomelinya.


"Dia akan menuntut mu atas ketidak sopanan mu itu."


Timpal Konbes Sigit.


"Hahhh..?"

__ADS_1


Pak Firli hanya bisa menjatuhkan tubuhnya dengan perasaan kuatir.


Kenan mendatangi rumah sakit di mana istri dan putra sambungnya sedang dirawat. Ia begitu takut sesuatu terjadi pada kehamilan Kiran.


"Ya Tuhan! Kenapa aku melakukan kebodohan yang sama seperti bajingan itu. Dia sedang hamil tapi aku malah mementingkan egois ku demi harga diri yang tidak jelas."


Batin Kenan yang sudah sampai di bagian resepsionis rumah sakit.


Resepsionis memberikan informasi pasien Kiran dan Baby Dilan yang di rawat satu kamar inap VVIP.


Di dalam kamar sana sudah ada ibu mertuanya nyonya Hanum.


Kenan masuk ke kamar itu setelah memberi salam pada ibu mertuanya.


"Kenan..!"


"Iya ibu..!"


"Kenapa baru datang? Kenapa Kiran bisa membawa sendiri mobilnya dalam keadaan hamil?"


"Saya sedang kerja dan tidak tahu kalau Kiran pergi dari rumah. Bagaimana dengan kandungannya, ibu?"


"Syukurlah kandungannya tidak masalah. Keduanya hanya syok saja karena ada mobil yang tiba-tiba menyalip di depan mobil Kiran, membuat Kiran kehilangan keseimbangannya lalu menabrak mobil di sampingnya."


"Bagaimana keadaan baby Dilan?"


"Dia juga tidak terluka hanya masih trauma karena dari tadi selalu menangis dan mengigau."


"Tidak perlu berterimakasih Kenan! Tapi ibu berharap belajarlah dari kegagalan rumah tangga Kiran yang pertama.


Putriku sangat keras kepala dan tidak ingin diatur. Tapi cobalah memaafkan dia kalau dia berbuat salah kepadamu supaya dia tidak ngambek seperti ini."


Pinta nyonya Hanum sedih.


"Maafkan aku ibu! Kami hanya sedang salah paham saja. Tapi Kiran terlalu berlebihan menanggapinya."


Ucap Kenan membela diri.


Kiran yang mendengar percakapan ibu dan suaminya sangat geram dengan ucapan Kenan yang seakan sedang tidak ingin dimarahi oleh ibunya. Ia mengepalkan kedua tangannya dalam selimutnya.


"Baiklah. Kalau begitu ibu pamit pulang dulu Kenan. Ayahmu sedang berada di luar negeri. Ia tidak mengetahui tentang ini.


Jika ia tahu kamu sudah memperlakukan putrinya dengan buruk, dia akan lebih membencimu dari pada Pasya."


Imbuh nyonya Hanum sambil menepuk pundak menantunya.


"Hati-hati ibu!"


Nyonya Hanum mencium pipi putrinya dan juga cucunya Dilan.


Kiran yang sudah sadar pura-pura tidur dan tidak mau berdebat dengan suaminya. Kenan tahu kalau Kiran sedang membohonginya.


Ia juga tidak ingin menganggu istrinya yang saat ini emosinya sedang naik turun. Lagi pula ini sudah pukul dua pagi. Iapun memilih istirahat di tempat tidur khusus keluarga pasien.

__ADS_1


...----------------...


Keesokan paginya, Kiran turun dari tempat tidurnya hendak pipis. Kenan dengan sigap membantu gadis ini untuk ke kamar mandi.


"Sayang! Apakah kamu mau aku temani ke kamar mandi?"


"Tidak perlu! Aku bisa sendiri."


Kiran menepis tangan Kenan dari lengannya.


"Sayang! Kamu sedang hamil dan sedang sakit jadi harus di bantu."


"Untuk apa kamu peduli? Bukankah kamu lebih asyik dengan amarahmu dan memikirkan harga dirimu? Pulanglah, mungkin kita bisa bercerai setelah aku pulang dari rumah sakit."


Deggggg...


"Kiran...!" Bentak Kenan yang tidak terima istrinya muda mengucapkan kata cerai.


"Apakah kamu kira perceraian itu suatu hal mudah sekali kamu lakukan, hah?"


"Berhentilah membentak ku!"


Kiran segera ke kamar mandi. Rasanya percuma berdebat dengan suaminya yang tidak pernah mau mengalah.


Walaupun di tolak istrinya, Kenan tetap menunggu Kiran di depan kamar mandi takut istrinya bisa jatuh di kamar mandi.


Kiran berjalan dengan perlahan menuju ke kasur putranya yang masih tertidur. Ia menggantikan popok baby Dilan yang sudah penuh dengan ompol


"Biar aku yang melakukannya Kiran! Lebih baik kamu istirahat."


Pinta Kenan merebut Pampers dari tangan Kiran.


"Lepaskan! Kamu tidak berhak mengurus putraku."


"Oh ya! Jadi hanya ingin membebaskan ayahnya kamu masih marah denganku?"


"Itu terserah kepadamu. Aku sudah tidak peduli. Urusan kita hanya perceraian."


Ucap Kiran penuh penekanan pada kalimatnya.


"Kiran! Sudahlah. Sampai kapan kamu terus menerus marah padaku?"


"Aku marah padamu..hah..yang benar saja, Kenan. Kamu yang mendiamkan aku duluan hingga berhari-hari. Sekarang kamu tanya siapa yang marah denganmu...?"


"Baiklah aku minta maaf sayang. Aku akui aku salah telah membuat kamu kecewa dengan sikapku. Kamu yang tidak bisa menghargai aku yang mencoba melindungi kamu dari pria bajingan itu, agar kamu bisa membesarkan baby Dilan tanpa kuatir pada ayahnya, tapi apa yang kamu pinta dariku, kamu malah meminta aku untuk membebaskannya. Apakah kamu tidak bisa memahami pengorbananku?"


"Dia tidak bersalah..Dia korban dari keserakahan ayahnya. Kenapa kamu tidak mengerti juga.


Jika memang Pasya ingin mengambil putranya itu jauh lebih baik, dari pada putraku akan menanggung malu seumur hidupnya karena perbuatannya ayah yang sudah korupsi dari mendekam di penjara."


Ucap Kiran sengit.


Glekkkk..

__ADS_1


__ADS_2