CINTA Kandas Di Tengah Perjodohan

CINTA Kandas Di Tengah Perjodohan
37. Berbaikan


__ADS_3

Penyatuan tubuh itu makin memanas dengan erangan yang terdengar manja seakan merangsang sang suami yang terus memberinya kenikmatan.


Pelepasan benih keduanya seakan memompa habis hingga tetesan terakhir memenuhi rahim sang istri yang saat ini sudah memasuki usia kehamilan lima bulan.


Senyum keduanya merekah seakan menandakan tidak lagi rasa tersakiti karena mampu menundukkan ego masing-masing.


Tidak perlu kata maaf yang perlu mereka utarakan saat ini, karena gesture tubuh mereka sudah mewakili itu. Kenan mencoba berdamai dengan keadaan istrinya yang saat ini sedang mengandung bayi mereka.


Emosi istrinya yang kudu dijaga agar janin di dalam sana tidak merasa terganggu.


Keduanya menghembuskan nafas kelelahan mereka lalu saling mengecup dan mencium sebagai bentuk apresiasi karena sudah memberikan yang terbaik untuk menyenangkan tubuh mereka yang haus akan sentuhan nikmat dahsyat itu.


"Aku lapar sayang!" Pinta Kiran manja."


"Kamu mau makan apa, biar aku yang membuatnya."


"Aku mau makan nasi goreng di luar. Makan roti bakar dan minum susu jahe."


"Baiklah. Ayo kita bersih-bersih dulu baru pergi makan di luar." Pinta Kenan lalu menggendong istrinya menuju kamar mandi.


Tidak lama keduanya sudah rapi dengan memakai jaket menuju tempat kuliner yang masih buka walaupun saat ini sudah pukul sebelas malam.


Kenan memarkirkan mobilnya setelah menurunkan istrinya terlebih dahulu di tempat nasi goreng.


Kiran memesan nasi goreng kesukaan mereka yaitu nasi goreng seafood.


Tidak jauh dari tempat Kiran duduk, Pasya yang sedang makan melihat mantan istrinya itu begitu kaget.


"Kiran..?" Gumamnya lirih sambil mendelik kan matanya.


Kiran menunggu suaminya sambil memainkan ponselnya. Pasya yang tidak melihat suaminya Kiran segera mendekati ibu dari anaknya itu.


"Malam Kiran..!"


Kiran tersentak tanpa ingin menoleh ke sumber suara yang begitu familiar di kupingnya.


"Pasya ..!"


"Ternyata takdir cukup berpihak kepadaku saat aku merindukanmu dan mendatangi tempat ini yang merupakan tempat langganan kita. Tempat yang penuh kenangan. Apa kabar cantik! sudah lama kita tidak bertemu."


Ucap Pasya sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya ke arah Kiran terkesan nakal.


"Enyalah dari hadapanku! Aku tidak mau suamiku akan berpikir buruk tentang kita."


"Oh .. astaga! Aku lupa mantan istriku ini banyak pengagumnya hingga tidak perlu waktu lama untuk mendapatkan lagi pasangan hidup. Aku harap kalian bahagia dan aku ingin kamu kembalikan putraku."


Degggg....


Kiran tersentak saat tahu kalau Pasya sudah mengetahui anaknya masih hidup."


"Tidak ada anakmu bersama ku. Bukankah kamu selama ini sudah menganggapnya mati?"


"Seharusnya kamu tetap memberitahuku kalau anakku masih hidup sampai saat ini." Kecam Pasya.


"Hidup..? Apakah kamu menungguku saay aku hampir mati berjuang untuk menyelamatkannya.


Aku menolak dokter melakukan operasi sesar padaku. Demi putramu aku mempertaruhkan nyawaku dan sekarang kamu minta anakmu...?"


Pekik Kiran tak peduli saat ini dia ada di mana.


"Ada apa ini...?"


Kenan menatap keduanya dengan wajah kelam.


Degggg....


Pasya pun begitu syok saat mengetahui suami Kiran adalah mantan kekasih Kiran sendiri dan juga mantan bosnya.


"Kenan! Aku tidak mau makan di sini!"


Pinta Kiran yang langsung bangun memeluk suaminya.


Lagi-lagi, Pasya juga tersentak melihat perut Kiran yang sudah mulai membesar.


"Ternyata dia hamil lagi. Sial...!"

__ADS_1


Umpat Pasya makin meradang melihat kemesraan pasangan di depannya ini.


"Sebentar sayang..Aku tanya abang tukang nasi gorengnya dulu."


"Bang, apakah peranan istriku masih lama?"


"Ini mau di hidangkan tuan?"


"Kalau begitu tolong bungkus saja!"


Kiran memberikan uang dua ratus ribu dan tidak ingin menunggu kembaliannya. Keduanya segera pergi meninggalkan Pasya sendirian yang masih terkesiap melihat kejutan dari mantan istrinya. Menikah dengan bosnya dan sekarang hamil.


"Kenapa aku harus bertemu dengannya di sini? Merusak suasana hatiku saja."


Kenan membuka Styrofoam nasi goreng itu untuk istrinya. Keduanya memilih makan di mobil dan tidak ingin membahas tentang Pasya.


Cukup lama keduanya menikmati nasi goreng mereka dan tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.


Usai menyantap nasi goreng, Kenan menjalankan mobilnya mencari kedai roti bakar coklat dan susu jahe untuk Kiran.


Di tempat itu mereka menikmati makanan penutup mulut lebih renang. Kenan tidak ingin bicara tentang pertengkaran istrinya dengan Pasya. Ia ingin Kiran sendiri menceritakannya.


"Kenan! Aku minta maaf sayang karena sudah membuat kamu tidak nyaman."


"Tidak apa. Ini yang aku kuatirkan jika kalian bertemu." Jelas Kenan dengan wajah datarnya.


"Aku dihinanya dan di kecam sedemikian rupa seakan aku ini wanita murahan."


"Apa kamu menganggap dirimu seperti itu?"


"Tidak Kenan!"


"Kalau begitu abaikan perkataannya karena kamu bukan wanita seperti itu."


Ucap Kenan sedikit mengangkat kedua bahunya.


"Benar juga katamu, untuk apa mempedulikan perkataannya jika kita tidak melakukannya."


Kiran merasa terhibur karena suaminya sangat dewasa dalam menyikapi masalah.


Pasya membersikan remah roti di pinggir bibir istrinya dengan tisu.


"Iya sayang."


Keduanya kembali ke mansion dengan hati bahagia. Pasya mencoba mencairkan suasana dengan lagu kenangan mereka saat mereka masih pacaran.


"Kamu masih mengingat lagu ini sayang?"


"Aku tidak akan pernah melupakannya sayang. Saat aku merindukanmu, aku selalu memutarkan lagu itu sambil menatap wajah beku yang ada di ponselku.


Ada juga pose menantang milikmu yang membuat aku cukup terhibur dengan memandang itu."


"Foto menantang? Foto apa Kenan. Rasanya aku tidak pernah memberikan foto itu padamu."


"Apakah kamu mau melihatnya?"


"Hmm!" Kiran mengangguk dengan cepat.


Kenan memberikan ponselnya agar istrinya memeriksa sendiri apa yang ia katakan.


Manik hitam legam milik Kiran makin melebar melihat foto dirinya yang sedang tertidur dengan kaki menjuntai setengah terbuka di kamar milik Kinan.


"Astaga! Kapan kamu mengambil ini..? Dan kenapa harus melihatnya. Ini sangat memalukan."


Wajah Kiran memerah menahan malu karena saat itu dia masih gadis.


"Lain kali kalau tidur pintunya dikunci supaya tidak ada yang berniat iseng padamu." Goda Kenan.


"Yang iseng itu hanya kamu Kenan, bukan orang lain karena itu kamarmu sendiri."


Gerutu Kiran makin kesal.


"Tapi yang menikmati milikmu tanpa ijin dengan matanya, sudah menebus kesalahannya dengan menikahi orangnya." Timpal Kenan.


"Iya sayang. Tapi itu sangat membuat aku..!"

__ADS_1


"Bukankah kamu selalu mengkhayal tentangku...?" Goda Kenan makin membuat wajah Kiran bersemu merah.


"Cih! Maksud kamu aku selalu berfantasi liar tentang kamu begitu..? Memalukan!"


"Ciye.. ciye...yang sedang malu pasti jawabannya begitu. Kenapa tidak mengaku saja sayang kalau kamu juga berpikiran yang sama denganku."


Pancing Kenan untuk memastikan apakah Kiran memikirkannya juga atau hanya dirinya sendiri.


"Maafkan aku Kenan! Saat aku sudah menjadi istri Pasya, aku mencoba membuang bayanganmu agar aku tidak mengkhianati suamiku saat itu."


Batin Kiran tanpa mau menjawab pertanyaan Pasya yang memicu konflik lagi antara mereka.


Sementara di tempat lain. Pasya tidak bisa menerima kenyataan bahwa mantan istrinya menikah lagi dengan mantan kekasih istrinya sendiri dan sialnya itu adalah bosnya.


"Semuanya serba kejutan untukku ketika aku keluar dari penjara. Anehnya kenapa mereka bisa berada di kota Bogor? Apakah mereka tinggal di Bogor?"


Pasya terus berpikir keras bagaimana caranya ia bisa bertemu dengan putranya.


"Seharusnya aku tadi bertanya pada Kiran tentang putraku bukan menyerangnya dengan perkataan omong kosong.


Sial...! Kenapa aku sulit sekali mengendalikan diriku jika ingin mendapatkan sesuatu dengan mudah."


Pasya berusaha menenangkan perasaannya. Sudah hampir jam dua pagi dini hari ia belum bisa memejamkan matanya walaupun badannya sudah cukup lelah.


Pasya mencari obat tidur di dalam laci meja dan benar saja, obat tidurnya masih ia simpan.


"Hanya kamu yang bisa menenangkan pikiranku dan menutup mataku."


Untuk mengusir rasa suntuknya, Pasya bermain game hingga matanya lelah dan terpejam dengan cepat setelah obat tidurnya bereaksi.


Menjelang pagi tiba, Kiran mengajak suaminya berjalan pagi untuk mendapatkan udara segar di sekitarnya. Pria tampan ini masih enggan untuk membuka matanya.


"Sayang ...! Aku masih merasa ngantuk. Bisa tunggu lagi satu jam? Ini masih jam enam pagi."


Gumam Kenan dengan suara agak tersendat dan mata terpejam.


"Apakah kamu ingin aku jalan-jalan sendirian? Baiklah kalau begitu aku sendiri bawa mobil dan sekalian cari sarapan pagi. Aku mau nyarap bubur ayam."


Kenan segera bangkit sambil mengucek matanya.


"Jangan pernah bawa mobil sendiri! Apakah kamu ingin membuat aku jantungan lagi, hah?"


"Makanya kalau di suruh bangun ya bangun. Jangan bikin aku terus membujuk mu dan itu sangat menyebalkan!"


"Baiklah. Tunggu aku sepuluh menit saja. Oh iya bawa baby Dilan bersama kita sayang!"


Pinta Kenan lalu masuk ke kamar mandi.


Kiran tersenyum lalu mendatangi pelayannya yang sedang menggendong baby Dilan yang sudah berusia satu tahun.


Dalam sepuluh menit keluarga kecil ini sudah keluar mengitari kota Bogor bersama baby Dilan yang sibuk memainkan ponsel Ibunya.


Kiran memperhatikan kecepatan jari jemarinya baby dilan saat bermain game tidak melakukan kesalahan sedikitpun dan putranya ini bisa memenangkan permainannya dengan mudah.


"Kamu ini sangat pintar sayang!"


"Mama!"


"Hmm!"


"Dilan mau susu!"


"Ok. Tunggu sebentar sayang!"


Kiran mengambil susu botol yang sudah ia persiapkan untuk putranya. Ponsel milik mamanya dikembalikan pada Kiran dan baby Dilan mulai meminum susunya.


Mobil itu berhenti di salah satu taman di mana sudah banyak orang melintasi taman itu dengan duduk maupun berolahraga.


Hampir semua usia yang bersantai di taman itu. Ada juga wanita hamil yang sedang berjalan kaki tanpa mengenakan sendal.


Kiran turun sambil menggandeng tangan baby Dilan yang sudah bisa berjalan walaupun begitu lancar.


Tidak jauh dari situ nyonya Zoya yang sedang berolahraga melihat mantan menantunya Kiran dan cucunya yang belum pernah ia lihat sama sekali.


"Kirannn..!" Panggil nyonya Zoya membuat Kiran tersentak.

__ADS_1


"Ibu ...?"


__ADS_2