CINTA Kandas Di Tengah Perjodohan

CINTA Kandas Di Tengah Perjodohan
15. Amarah


__ADS_3

Kiran dan Kenan tidak menyadari saat mereka bicara, rupanya Pasya kembali lagi ke kampus itu untuk mengembalikan ponsel istrinya yang tertinggal di mobil.


Hatinya begitu sakit, saat melihat Kenan berani menggenggam tangan istrinya. Ingin rasanya ia membunuh Kenan saat itu, tapi ia tidak mau mendapatkan kebencian dari istrinya yang menganggapnya sebagai suami posesif.


Pasya menunggu Kenan meninggalkan kampus istrinya, baru ia juga ikut meninggalkan kampus itu dengan hati kecewa.


Walaupun saat ini kemarahannya sangat besar pada Kiran, namun ia harus mengendalikan emosinya untuk menunggu Kiran pulang dari kampusnya.


Pasya meminta sopir pribadinya yang menjemput Kiran, ketika gadis itu selesai kuliah.


Kiran melihat mobil suaminya sudah terparkir di tempat biasanya, tetapi ia tidak melihat sosok tampan itu lagi, hanya sopir pribadi yang terlihat berdiri sambil menatap ke arah Kiran yang jalan menghampirinya.


"Pak Ali! Di mana suamiku?"


"Maaf nona Kiran! Saya di minta tuan muda untuk menjemput nona karena saat ini tuan muda sedang ada urusan mendadak yang tidak bisa ia pending."


Ujar pak Ali sedikit menundukkan wajahnya.


"Baik pak. Kita langsung pulang saja." Ucap Kiran lalu masuk ke mobil ketika pak Ali sudah membuka pintu mobil untuknya.


Kiran merasa keanehan hari itu karena perubahan sikap Pasya yang tiba-tiba saja tidak ingin menjemputnya padahal dia ingin menanyakan ponselnya pada suaminya.


"Harusnya dia yang menjemputku. Bagaimana caranya aku menanyakan keberadaan ponselku padanya. Apakah hilang begitu saja atau tertinggal di mobil tadi." Batin Kiran kesal.


Setibanya di mansion, Kiran mencari ponselnya yang mungkin tertinggal di kamar, namun tidak di temukan juga.


"Apakah hilang di kampus? Sudahlah capek juga cari ponsel dari tadi tidak ketemu." Gumam Kiran lirih.


Ia akhirnya tidur setelah kelelahan mencari ponselnya yang hilang. Sementara itu, Pasya tidak ingin pulang ke rumahnya dan memilih menginap di hotel.


Sekitar pukul sembilan malam, Kiran baru bangun dan sangat kaget melihat jam dinding menunjukkan sudah pukul sembilan malam.


"Astaga! Ini sudah pukul sembilan malam, berarti aku sudah tidur sangat lama hari ini. Dan di mana Pasya? Apakah dia sudah pulang?"


Kiran beringsut dari tempat tidurnya dan mencari suaminya di ruangan lain namun tidak ditemukan. Ia berjalan ke arah dapur di mana pelayan selalu berkumpul.


Beberapa pelayan yang sedang asyik bermain ponsel mereka seketika berdiri saat melihat Kiran menghampiri mereka.


"Apakah nona butuh sesuatu?" Tanya Pelayan Lisa.


"Tidak! aku mau tanya, apakah kalian melihat suamiku?"


"Sejak tadi kami belum melihat tuan Pasya pulang kerja, nona." Ujar pelayan Lisa dan dibenarkan oleh pelayan lainnya sambil mengangguk.


"Baiklah."


"Non Kiran!"


"Hmm!"


"Apakah anda ingin makan malam?"


"Tidak usah, nanti saja kalau suamiku sudah pulang. Aku ingin makan malam bersamanya." Ujar Kiran lalu kembali ke kamarnya.


"Yah! Ini urusannya makin rumit kalau nona Kiran tidak mau makan. Nanti kalau dia sakit, seisi rumah ini akan hancur oleh tuan Pasya. Gadis itu belum tahu saja amarah suaminya itu seperti apa." Umpat Lisa kesal.


Karena masih mengantuk, Kiran akhirnya tidur lagi sambil menunggu suaminya pulang. Sampai pagi tiba, Pasya tidak muncul juga dan Kiran tidak keluar dari kamarnya.


Kebetulan hari itu adalah weekend, berarti Kiran tidak berangkat kuliah dan juga Pasya tidak berangkat ke perusahaannya.


Pukul sepuluh pagi, Pasya baru balik ke rumahnya. Ia di sambut oleh pelayan Lisa.


"Pagi Tuan!"


"Hmm!"


Pasya melihat ke lantai atas menunggu istrinya menyambutnya.


"Apakah istriku sudah bangun?"


"Belum Tuan!"

__ADS_1


"Apakah kamu tidak melihatnya saat ia keluar dari kamarnya?"


"Hanya semalam sekitar pukul sembilan malam nona Kiran bangun mencari tuan dan setelah itu masuk lagi ke kamarnya tanpa mau makan malam. Katanya ia mau makan malam tunggu tuan pulang." Ujar Lisa.


"Apa..?"


Pasya mengusap mulutnya dan menaiki anak tangga dengan cepat.


"Sial! Jangan-jangan dia jatuh sakit karena tidak makan sejak semalam."


Pasya membuka pintu kamarnya dan melihat tidak ada Kiran di tempat tidur. Ia membuka pintu kamar ruang ganti Kiran juga tidak ada.


"Pasti dia di kamar mandi." Ujar Pasya lalu duduk menunggu Kiran di tempat tidur.


Sudah sepuluh menit berlalu, Kiran tidak kunjung keluar dari kamar mandi. Pasya penasaran dan mulai menggedor pintu kamar mandi beberapa kali namun tidak ada jawaban dari Kiran.


Pasya berusaha membuka pintu kamar mandi sambil mengintip istrinya di dalam sana dan ternyata tubuh Kiran tergeletak di lantai dalam keadaan pingsan.


"Kirannn!" Sentak Pasya melihat wajah pucat istrinya.


Pasya segera menggendong tubuh Kiran dan membawanya ke ke tempat tidur.


"Astaga! Kenapa tubuhnya sangat panas?"


Pasya segera menghubungi temannya dokter Hanin.


"Apakah kamu bisa ke rumahku. Sepertinya istriku sakit. Tadi dia pingsan."


"Baik! Tunggu sepuluh menit lagi aku akan tiba di sana." Ujar dokter Hanin.


Tidak berapa lama kemudian, Dokter Hanin sudah memeriksa keadaan Kiran.


"Sebaiknya bawa istrimu ke rumah sakit karena dia mengalami dehidrasi. Mungkin tadi dia habis muntah-muntah dan mulai timbul demam." Ucap dokter Hanin.


"Apakah istriku sedang hamil?" Tanya Pasya terlihat curiga kepada Kiran.


"Tidak ada tanda-tanda kehamilan pada istrimu, Pasya." Ucap Dokter Hanin sambil merapikan lagi peralatan dokternya.


Di rumah sakit, Kiran mendapatkan perawatan maksimal dan di tempatkan di ruang VVIP. Wajahnya yang terlihat pucat dengan selang infus tertancap di punggung tangannya.


"Harusnya aku hadapi permasalahan ku dengannya, bukan meninggalkannya seperti ini."


Pasya merutuki dirinya sendiri karena kebodohannya yang telah melalaikan tugasnya sebagai suami.


Kiran mengerjapkan matanya sambil menahan rasa pusing dan mual bersamaan. Ia melihat Pasya yang sedang menatap dirinya dengan wajah datarnya.


"Mengapa aku sudah berada di rumah sakit?" Tanyanya lirih.


"Bukankah kamu sedang mengundang penyakit? Siapa suruh kamu tidak makan semalaman, hah?" Bentak Pasya sengit.


"Pasya! Aku tidak punya tenaga untuk bertengkar denganmu." Ucap Kiran lirih.


"Iya, karena saat ini kamu sedang sakit dan itu sangat menyusahkan aku!" Ucap Pasya datar.


"Kamu ini punya perasaan atau tidak? Kenapa aku malah di omelin seperti ini?"


Gerutu Kiran sambil menahan air matanya yang hampir tumpah.


"Sekarang, makanlah dan jangan membuat aku susah."


Pasya menaikkan posisi tempat tidur Kiran agar gadis itu bisa makan.


"Aku masih sangat mual dan aku tidak mau makan."


Ujar Kiran menolak sendok yang sudah berisi bubur ayam yang sedang di suap oleh suaminya.


"Beruntunglah kamu tidak hamil, jadi aku tidak perlu mengamuk denganmu." Ucap Pasya membuat Kiran meradang.


Deggggg.....


"Jadi itu yang ada dalam pikiran kamu, Pasya?"

__ADS_1


Tanya Kiran yang sudah tidak bisa terima lagi tuduhan keji Pasya pada dirinya.


Walaupun ia pernah berbohong kepada suaminya kalau ia sudah tidak perawan lagi, tapi tidak berarti ia harus menerima penghinaan ini dari suaminya sendiri.


"Aku tidak mau makan dan aku ingin tidur. Pergilah dari hadapanku dan tidak perlu menunggu aku di sini."


Ujar Kiran yang tidak lagi respek dengan perhatian suaminya.


"Aku kira kamu baik, tapi kamu juga berengsek Pasya." Batin Kiran sambil mengusap air matanya.


"Kiran! Aku tahu aku salah sayang. Aku minta maaf karena tidak tahu kalau kamu sudah pernah di sentuh oleh laki-laki itu atau tidak? Aku terlalu egois dan terlalu merendahkan mu. Aku mohon maaf sayang!"


"Aku bisa makan sendiri dan aku sudah memaafkan kamu. Sekarang aku mohon kamu keluar dari kamarku karena aku tidak bisa berpikir kalau kamu masih ada di sini."


"Tidak! aku tidak akan pergi sampai aku melihat kamu makan sendiri. Aku janji tidak akan lagi menghina kamu Kiran."


"Jangan terlalu memelas padaku karena hatiku juga butuh kejujuran. Aku ingin menentukan perasaan ku tanpa terlibat ucapan mu entah itu tulus atau tidak."


Ucap Kiran sambil mengusap air matanya.


"Apakah aku pengganggu?"


"Mungkin saja seperti itu."


"Bagaimana kalau keputusan mu malah merugikan aku Kiran?"


"Apakah kamu terus menerus berdagang denganku untuk kesenanganmu itu?"


"Baiklah. Kalau begitu aku akan meninggalkanmu sendirian. Tolong jangan lama-lama marahnya Kiran. Aku tidak sanggup melihat kamu menyiksaku dengan sakit mu itu."


Cek... lek..


"Assalamualaikum Kiran, Pasya!"


Tuan Herland dan nyonya Hanum masuk ke kamar inap putrinya sambil tersenyum bahagia melihat Pasya sedang menunggu putri mereka.


Kiran berusaha bangun tapi dicegah oleh ibunya.


"Berbaring saja sayang! Biar ibu yang menghampirimu. Bagaimana keadaanmu sayang?"


"Alhamdulillah, sudah lebih baik ibu, ayah. Maafkan Kiran ibu! kalau Kiran sakit."


"Kenapa harus minta maaf sayang! Emang orang sakit itu salah? Atau dosa?"


Tanya Nyonya Hanum sambil membelai surai panjang putrinya.


"Kiran semalam nggak mau makan ibu karena ngambek sama Pasya. Dan sekarang di rayu suruh makan tetap saja nggak mau."


Ucap Pasya menjatuhkan Kiran di depan kedua orangtuanya Kiran.


"Apakah mulutmu tidak bisa di kunci sedikit saja untuk tidak memfitnahku di depan kedua orangtuaku?" Ucap Kiran makin ketus pada Pasya.


"Siapa yang fitnah? Memang kenyataannya kamu tidak mau makan malam hingga kamu jatuh sakit."


"Siapa yang membuat aku jadi sakit seperti ini, hah? Hampir semalaman aku menunggumu pulang untuk makan malam bersama hingga aku tertidur. Itu ulah siapa? Ke mana saja kamu?"


Bentak Kiran yang sudah tidak sanggup menahan diri lagi menghadapi keegoisan suaminya.


Tuan Herland dan nyonya Zoya begitu kaget mendengar putri mereka seakan tidak bahagia dengan pernikahannya.


"Apakah benar begitu Pasya? Tanya tuan Herlan.


"Biasa ayah. Namanya rumah tangga baru, mana mungkin langsung akrab, mesra apa lagi romantis. Semuanya butuh proses adaptasi untuk mengenal watak satu sama lain."


Ucap Pasya berdalih.


"Kau pintar sekali berdalih Pasya! Kau ingin aku terlihat jelek di depan kedua orangtuaku karena ulahmu sendiri yang memperlakukan aku hanya sebagai istri...?"


"Diaaaammm!"


Bentak Tuan Herlan yang tidak ingin mendengar keduanya bertengkar di hadapan mereka.

__ADS_1


"Baiklah. Ayah dan ibu pulang. Selesaikan permasalahan kalian sendiri dengan bijaksana. Kami tidak mau ikut campur. Ayo ibu kita tinggalkan mereka." Ucap tuan Herland sambil menggandeng tangan istrinya.


__ADS_2