CINTA Kandas Di Tengah Perjodohan

CINTA Kandas Di Tengah Perjodohan
26. LABIL


__ADS_3

Pasya merasa serba salah untuk menentukan sikapnya saat ini. Di saat ia harus memilih antara memenangkan hati istrinya atau mempertahankan sekertarisnya Lita demi perusahaannya.


Pasya terus mengulur waktu hingga Kiran terlihat pasrah dan tidak mau tahu lagi urusan suaminya. Untuk menghilangkan kejenuhannya, Kiran mengundang teman kantornya untuk berkunjung ke mansionnya.


Kiran memasak sendiri untuk menyambut teman-temannya. Masakan yang cukup banyak dengan menu yang berbeda sementara temannya hanya ada empat orang.


Kiran ingin mengenang kembali masa-masa kebersamaannya dengan Kenan dan ketiga anak buahnya pria tampan itu. Di mana mereka selalu makan bersama, saat Kiran memasak untuk mereka.


Rena, Heny, Lisa dan juga Intan sudah berkumpul di meja makan di taman samping dekat dengan dapur.


"Wah! Kelihatannya enak nih Bu mil masak sendiri."


Ujar Rena yang sudah mengambil beberapa lauk memenuhi piringnya.


"Selamat menikmati masakan aku, kalau tidak enak, tolong jangan di cela!"


Ujar Kiran dengan senyum ramahnya.


Kiran memasak masakan ala Korea Selatan untuk teman-temannya dan juga untuk para pelayannya yang ikut menikmati masakan majikan mereka di meja makan yang ada di dapur.


"Kiran! Ini sangat lezat, sumpah demi apapun, lobster dan ramen nya, pedasnya nendang banget."


Puji Heny seraya menempelkan dua jarinya pada bibirnya dengan mengeluarkan suara decapan penuh kekagumannya pada masakan Kiran.


"Ah, yang benar! Aku tidak percaya."


Ucap Kiran agak ragu karena ia belum sempat mencobanya.


"Benar, nona Kiran! Kamu sangat hebat dalam ahli meramu masakan ala restoran. Jangan-jangan nanti kamu buka restoran sendiri dan kami siap menjadi karyawan mu." Ucap Lisa.


"Benar juga kata kamu Lisa. Semakin bertambah usia kita, perusahaan tidak lagi membutuhkan kita yang semakin tua.


Sebelum kita pensiun, sebaiknya kita mempersiapkan diri untuk mencari usaha lain dan salah


satunya bekerja di restoran. Bagaimana nona Kiran, ide kami cukup hebat, bukan?"


Ujar Rena sumringah.


"Ok, aku setuju, nanti aku harus evaluasi dulu tempat dan perencanaannya, setelah itu kita siap membuka restorannya." Ucap Kiran.


"Biar aku yang membuat proposalnya." Ucap Lisa.


Semuanya mengangguk senang dengan wajah berbinar cerah. Kiran merasa terbebani juga dengan permintaan teman-temannya, tapi juga tidak ingin membuat teman-temannya kecewa.


"Mungkin ini adalah tanggungjawab aku untuk memikirkan masa depan mereka. Apa salahnya berbuat baik untuk orang-orang yang membutuhkan. Lagi pula jangka waktu mereka pensiun masih cukup lama."


Batin Kiran.


Tidak terasa hidangan yang ada di hadapan mereka sudah ludes semuanya. Rena yang ingin merapikan piring kotor di cegah oleh Kiran.

__ADS_1


"Biarkan pelayan yang membereskan semuanya Rena, kalian di sini adalah tamuku."


Ucap Kiran sambil menarik tangan Rena untuk duduk lagi menikmati buah segar yang dikirim oleh Kenan.


"Nona Kiran! Apakah setelah melahirkan bayi pertamamu, kamu akan kembali bekerja di perusahaan?"


Tanya Heny yang sudah sangat merindukan kehadiran Kiran di perusahaan."


"Entahlah teman-teman, rasanya pernikahanku sedang berada di ambang kehancuran."


Ucap Kiran dengan wajah sendu.


Deggggg....


Keempat temannya tersentak. Wajah mereka nampak tegang dan juga heran. Perkataan Kiran barusan seperti sambar gledek bagi mereka.


"Kiran! Kamu sedang tidak becanda kan?"


Tanya Rena hati-hati.


"Aku lelah terus menerus bersembunyi dari kemunafikan. Pernikahanku tidak akan bertahan, jika perempuan itu masih ada perusahaan suamiku itu."


Ucap Kiran sendu.


"Jadi karena sekertaris itu, kamu mau mengalah untuknya, Kiran?"


Tanya Rena tak percaya kalau Kiran begitu labil dengan perasaannya saat ini.


"Cinta dan sayang saja tidak cukup untuk membuat kehidupan rumah tanggaku bahagia, jika kepercayaan telah diragukan oleh pasangan hidup kita yang lebih mempercayai wanita lain yang sudah lebih dulu hadir di dalam hidupnya daripada aku yang datang belakangan."


Ungkap Kiran makin sedih.


"Tapi, saat ini kamu sedang hamil dan bayimu membutuhkan kasih sayang ayahnya. Tolong bertahanlah untuk bayimu, Kiran!" Pinta Heny.


"Entahlah. Aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Rasanya aku ingin melarikan diri sejauh mungkin." Ucap Kiran.


Teman-temannya akhirnya menyerah dan tidak lagi mencampuri urusan Kiran lebih jauh.


...----------------...


Kehamilan Kiran yang sudah mencapai tujuh bulan membuat gadis ini sangat semangat untuk mengetahui jenis kelamin bayinya. Ia ingin memeriksa sendiri ke dokter kandungannya.


Saat mengetahui jenis kelamin janinnya adalah laki-laki, Kiran ingin menunjukkan hasil USG janinnya berupa foto tiga dimensi.


Segala upaya sudah ia usahakan untuk memperbaiki keadaan rumah tangganya walaupun hatinya saat ini makin hancur.


Kiran meminta sopir pribadinya untuk mengantar dirinya ke perusahaan suaminya. Ia ingin memberikan kejutan untuk Pasya dengan foto hasil USG calon bayinya.


Kiran melewati teman-temannya yang sangat merindukannya.

__ADS_1


"Tumben Bu mil mampir ke perusahaan." Canda Heny.


"Mau buat kejutan untuk si bos."


Ucap Kiran sambil melangkah menuju ruang suaminya. Kiran melihat ruang kerja Lita kosong. Itu berarti suaminya sedang berada bersama Lita di dalam sana.


Pasya yang duduk berdampingan dengan Lita yang sibuk menerangkan angka laporan keuangan pada Pasya begitu serius.


Merasa sudah berhasil angka yang mereka temukan keduanya saling berpelukan karena saking girangnya.


Cek..lek..


Pintu itu di buka dan Lita memanfaatkan kesempatan itu saat melihat wajah Kiran, spontan memagut bibir Pasya membuat pria tampan ini sangat kaget.


Kiran melihat adegan itu sangat syok." Pasyaaaa!" Teriak Kiran histeris.


Pasya mendorong tubuh Lita dan langsung berdiri mematung ditempatnya.


"Kiran..ini tidak seperti yang kamu...!"


Kiran mendekati keduanya dan langsung menampar pipi Lita sekuat mungkin.


"Dasar wanita ular! lihatlah perempuan yang sedang kamu banggakan dan juga kamu pertahankan, dia sengaja ingin menyakitiku saat aku membuka pintu ini dengan mencium mu.


Sekarang aku minta kamu pilih, memecatnya atau kita bercerai!"


Teriak Kiran lalu mendorong tubuh Lita dan ingin menghajar gadis itu. Pasya menarik tubuh Kiran hingga gadis ini terjengkang dan jatuh ke sofa tunggal sambil memegang perutnya.


"Auhhght!"


Kiran memegang pinggangnya yang sangat kesakitan dan berusaha berdiri.


"Kiran! Maaf sayang aku tidak sengaja mendorongmu."


Pinta Pasya berusaha membantu istrinya berdiri.


Kiran menepis tangan Pasya menjauhi tubuhnya.


"Lepaskan aku dan urus saja wanita itu. Sudah cukuppp Pasya!"


Kiran terlihat benar-benar murka. Ia berusaha bangun sambil berjalan terseok-seok karena tubuhnya sangat gemetar.


"Kiran! Biarkan aku menggendong mu, sayang!"


Kiran menghentikan langkahnya dan menatap wajah Pasya yang terlihat sangat cemas.


"Cukup Pasya! Aku mengorbankan perasaanku, cintaku, masa laluku dan juga mengubur semua kenangan ku hanya untuk mengejar cintamu."


Pasya terdiam dan tidak ingin membuat Kiran makin marah kepadanya.

__ADS_1


Kiran memanggil teman-temannya untuk membantu memapah tubuhnya karena tidak kuat lagi melangkah.


__ADS_2