CINTA Kandas Di Tengah Perjodohan

CINTA Kandas Di Tengah Perjodohan
18. Cemburu


__ADS_3

Hampir tiga bulan Kiran bekerja sama dengan para staff suaminya , membuat ia diterima dengan baik oleh mereka.


Kiran tidak pernah memposisikan dirinya sebagai istri bos di tempat itu dan itu membuatnya lebih cepat akrab dengan para staffnya.


Dengan cara itu, ia mengerti setiap karakter mereka masing-masing dan mengetahui penderitaan yang di alami oleh para staffnya.


Kiran tidak segan ikut ke beberapa teman yang mengajaknya ke rumah mereka. Seperti hari ini, usai pulang kerja temannya Rena, mengajak Kiran untuk mampir ke rumahnya karena anaknya sedang pesta ulang tahun.


Gadis kecil berusia lima tahun itu sedang mengalami sakit jantung dan usianya sudah tidak lama lagi menurut prediksi dokter.


Kiran yang tidak mengetahui dibalik keceriaan Rena tersimpan kepedihan yang sangat mendalam. Putrinya yang ditemani oleh nenek putrinya ini, sedang menunggu kedatangan ibunya.


Kiran juga membelikan kado istimewa untuk putri temannya beserta kue ulang tahun yang lebih mahal dari punya Rena.


Setibanya di rumah kontrakan itu, Rena menyalakan lilin ulang tahun untuk memberi kejutan putrinya.


"Selamat ulang tahun putri cantik mama!" Ucap Rena lalu mengecup kedua pipi putrinya.


Rena memberikan kue ulang tahun punya Kiran untuk diberikan kepada putrinya. Sementara yang ia belikan di pegang oleh temannya yang lain.


"Sepertinya ini bukan punya mama." Ucap Ciky curiga.


"Memang kue ulang tahun ini milik Tante Kiran. Tante Kiran sengaja beli kue ulang tahun yang lebih besar untuk Ciky." Ujar Rena.


"Tapi kue ultah mama lebih berarti untuk Ciky karena dibeli dengan keringat dan penuh air mata. Sedangkan kue yang dibelikan Tante Kiran hanya untuk menyenangkan hatiku."


Ujar Ciky membuat ibu dan teman-temannya terharu.


"Maafkan mama Ciky!"


Rena menyediakan kue ultah yang dibelinya disebelah kue milik Kiran.


Ciky memotong kue itu setelah meniupkan lilin yang ke lima tahun usianya saat ini. Ibunya membagikan semua untuk lima temannya termasuk Kiran.


Baru saja mereka menyelesaikan pesta kecil itu, tiba-tiba jantung Ciky kambuh. Gadis ini memegang dadanya sambil memanggil sang ibu dengan nafas tersengal.


"Cikyyyy!" Pekik Rena panik.


"Ada apa dengan Ciky..?" Tanya Kiran panik yang belum mengetahui penyakit putrinya Rena.


"Putrinya kena serangan jantung lagi." Ucap Heny.


Deggggg...


"Rena bawa dia ke mobilku!" titah Kiran.


"Aku tidak bisa membayar rumah sakit nona Kiran." Tolak Rena.


"Putrimu adalah tanggung jawabku." Ucap Kiran setengah memaksa Rena.


Rena merasa segan dan tidak enak hati pada Kiran.


"Apakah kamu ingin melihatnya pergi Rena?" Bentak Kiran.


Rena menggeleng cepat sambil menangis.


"Tidak! Hanya dua yang tersisa dalam hidupku selain ibuku."


"Kalau begitu cepatlah selamatkan putrimu!" Ujar Kiran.


Semuanya sudah kembali ke kendaraan motor mereka kecuali Rena, putrinya Ciky dan Kiran yang berada di mobil itu.

__ADS_1


Setibanya di rumah sakit, dokter meminta untuk Rena untuk melakukan operasi darurat pada Ciky malam itu juga.


"Lakukan yang terbaik untuk Ciky, dokter. Saya siap menanggung semua biayanya."


Ucap Kiran membuat Rena dan lainnya hanya tercengang.


"Nona Kiran! Biayanya sangat mahal non!" Ujar Rena sambil menangis.


"Dibandingkan dengan putrimu Ciky, nyawanya tidak ternilai dengan uang yang aku keluarkan untuknya."


Rena memeluk Kiran penuh haru, diikuti tiga temannya.


"Ya Allah! Apakah Engkau sengaja menitipkan gadis ini di tengah kami untuk menolong kami, staf dari suaminya."


Batin Rena merasa sesak dengan kebaikan Kiran yang bukan hanya membantunya, tapi tiga tema lainnya sudah merasakan kebaikan istri dari Pasya ini.


Gadis ini yang melunasi utang Heny. Membantu biaya membangun rumah sederhana dan juga membayar tunggakan uang sekolah anak-anak dari temannya.


Operasi jantung pada Ciky sedang berlangsung. Sementara mereka setia menunggu putri dari Rena ini.


"Nona Kiran! Apakah tuan Pasya tidak marah saat kamu begitu boros untuk membantu kami?"


"Uang yang aku bantu kalian adalah uangku sendiri bukan uang suamiku. Aku juga putri orang kaya sama seperti suamiku. Jadi, tidak usah kuatir tentang uangku karena aku tidak akan miskin untuk membantu kalian." Ujar Kiran.


"Apakah kamu tidak mengabari tuan Pasya nona Kiran?"


"Sebentar lagi dia akan menjemputku di rumah sakit."


"Astaga! Nanti kalau suami nona Kiran tahu tentang keadaan kami, tuan Pasya akan marah besar pada nona Kiran karena berkorban untuk kami tanpa mengingat tugas nona sebagai istrinya." Ujar Rena cemas.


"Suamiku sangat baik. Hanya saja wajah datarnya terlihat menyeramkan tapi dia belum pernah membunuh satu orangpun."


Canda Kiran membuat mereka sempat terkekeh ditengah kecemasan.


"Mohon doanya saja teman-teman semoga aku dan suamiku diberikan momongan secepatnya."


Ujar Kiran penuh harap.


"Insya Allah nona Kiran, semoga Allah memberi kepercayaan kepada kalian untuk memiliki banyak anak." Ucap Rena di mainkan oleh teman-temannya.


Dari jauh terlihat Pasya melangkah dengan tegap dengan derap sepatu terdengar oleh Kiran yang sudah hafal suara langkah suaminya.


"Pasya!" Gumamnya sambil membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah suaminya membuat teman-temannya kagum dengan feeling gadis ini.


Pasya membuka dua kancing jasnya dan membuka tangannya untuk menyambut sang istri yang sedang berlari ke arahnya.


Pelukan serta ciuman sayang itu sangat kuat pada Kiran yang sangat merindukan suaminya membuat teman-temannya malu sendiri melihat kemesraan itu.


"Astaga! Mereka sangat manis sekali."


Ujar Heny sambil memeluk Rena yang ikut bahagia melihat adegan itu.


"Apakah kamu tidak merindukan aku sayang?"


Tanya Pasya sambil merengkuh pinggang istrinya.


"Seharusnya kamu tanyakan keadaan putrinya Rena dari pada urusan rindumu padaku yang bisa kamu tanyakan di tempat tidur nanti."


Ucap Kiran terlihat kecewa dengan sikap suaminya yang kurang peka terhadap nasib para staffnya.


"Maafkan aku sayang! Aku sampai lupa tujuan aku datang ke sini. Apakah operasi putrinya sudah selesai?"

__ADS_1


"Belum! Kami masih menunggu hasilnya karena dokter sedari tadi belum keluar juga dari kamar operasi." Ujar Kiran sedih.


"Sebaiknya samperin dulu Rena, sayang." Pinta Kiran.


"Baiklah." Pasya menuruti permintaan istrinya.


Rena dan tiga temannya memberi hormat kepada Pasya selaku bos mereka.


"Maaf tuan Pasya sudah menahan nona Kiran lebih lama di sini."


"Tidak apa Rena. Semoga putrimu baik-baik saja dan jangan sungkan untuk meminta bantuan kepadaku." Ujar Pasya tulus.


"Terimakasih tuan Pasya dan nona Kiran. Kebaikan kalian tidak bisa saya balas. Hanya doa kami semoga pernikahan kalian berdua samawa." Ucap Rena tulus.


"Terimakasih untuk doa dan dukungan kalian untuk kami. Aku senang karena kalian sudah menerima istriku dengan baik." Ujar Pasya bahagia.


Di kamarnya, keduanya kembali melepaskan kepenatan pekerjaan mereka dengan bercinta.


Usai bercinta, keduanya tersenyum puas dan saling menatap, cinta diantara keduanya kembali bersemi seiring dengan penyatuan tubuh keduanya barusan.


Kiran bersandar dalam dekapan tubuh Pasya yang masih polos. Pasya menutupi tubuh mereka sebatas perut Kiran.


"Apakah kamu bisa mengandung bayiku, sayang? tanya Pasya sambil memainkan jarinya di area terlarang milik Kiran.


Sesekali Kiran mend**ah dan menarik nafasnya dalam, tanpa langsung menjawab pertanyaannya Pasya.


"Sayang tanpa kamu menjawab pertanyaan ku, aku yakin kamu bisa hamil dalam waktu dekat. Aku mohon kamu harus berhenti kerja supaya kita bisa punya anak sayang!"


Pinta Pasya tanpa putus asa.


"Emang kalau aku hamil kamu mau kasih apa buat aku?"


"Kamu maunya apa sayang?" Insya Allah aku akan belikan untukmu, tapi jangan minta kereta ya." Canda Pasya.


"Benar kamu mau mengabulkan semua keinginanku?"


"Insya Allah aku bisa."


"Kalau begitu aku mohon kamu pecat sekertaris kamu yang bernama Lita itu."


Pinta Kiran membuat Pasya syok.


"Kiran! Kenapa harus itu? Apakah tidak ada permintaan yang lain yang lebih logis ?"'


"Ada apa denganmu Pasya? Seperti kamu sangat takut kehilangan Lita dari pada kehilangan aku?"


"Kalian berdua sama-sama penting dalam hidup aku Kiran."


"Maksud kamu apa Pasya? Kenapa kedudukan Lita sama dengan kedudukan aku sebagai istrimu?"


Kamu penting sebagai istri dan sekaligus sebagai ibu untuk anak-anakku. Sementara Lita dia sangat penting di perusahaan karena ia sudah sangat memahami cara kerja mengelola perusahaan. Dan aku tidak mau ambil resiko untuk membuat semuanya kacau karena kecemburuanmu itu sayang."


"Emang tidak ada lagi orang pintar di Jakarta ini selain dia Pasya ?"


"Banyak, banyak sekali malah, tapi mengajari mereka dari awal itu yang membuat aku tidak sanggup sayang. Aku takut perusahaan itu akan terganggu kalau kita diberhentikan secara sepihak karena kecemburuanmu itu."


"Astaga Pasya ! Ternyata kamu lebih sayang sekertaris mu itu dari pada aku."


"Bukan seperti itu ceritanya Kiran. Kalau kamu dengan aku terikat surat nikah Insya sampai mati tapi kalau Lita terikat kontrak kerja sampai ia pensiun." Ucap Pasya.


"Terserah kamu sajalah. Aku tidak mau hamil. Lebih baik kamu hamili saja Lita."

__ADS_1


Kiran menarik selimutnya dan tidur.


__ADS_2