
Pagi tiba dengan memperlihatkan senyumnya lewat mentari dengan mengeluarkan kehangatan lembutnya yang masih bercampur dengan hembusan angin sejuk.
Embun nampak enggan untuk mengeringkan di dedaunan. Bulir bening itu masih ingin menikmati dinginnya cuaca pagi hari dengan aroma udara segar yang mulai menyebar di sekitar lingkungan asri tepatnya di puncak Bogor itu.
Usia kandungannya Kiran yang sudah memasuki sembilan bulan, memaksanya untuk beristirahat di villa pribadi milik Kenan yang ada di puncak Bogor.
Kiran nampak bersemangat berjalan pagi untuk merenggangkan otot pinggulnya dan mengencangkan otot-otot pahanya saat melahirkan anak keduanya yang sudah diketahui berjenis kelamin laki-laki.
Kiran tidak sendirian pagi itu. Ia ditemani sang pangerannya yang sangat berhati-hati menjaga wanitanya ini.
"Apakah pagi ini kamu tidak ingin berangkat ke perusahaan, Kenan?"
"Tidak sayang. Aku tidak akan tenang kalau kamu belum lahiran. Aku tidak mau kamu akan menghubungi saat aku sedang ada urusan di kantor dan akan pulang gelisah sambil memikirkan mu apakah sudah melahirkan atau belum."
"Jadi kamu mau menemani aku di dalam kamar bersalin saat aku melahirkan?"
"Tentu saja sayang."
"Ihhh... So sweet banget. Makasih ya sayang."
Ucap Kiran lalu mendongakkan wajahnya meminta sang suami mengecup bibirnya.
Kenan bukan mengecup bibir istrinya, ia malah memagut bibir ranum itu begitu lama. Dan Kiran menikmati ciuman itu.
"Nanti baby akan lengket dengan kamu sayang."
"Itu yang aku inginkan."
"Apakah kamu tidak terganggu dengan kehadirannya?"
"Sama sekali tidak. Aku ingin mengajarnya tentang dunia bisnis sedini mungkin."
"Bagaimana kalau putramu ingin menekuni profesi yang lain, misalnya menjadi seorang dokter ?"
"Anggap saja itu bagian hobi."
"Boleh juga. Seorang dokter sekaligus pengusaha hebat. Kedengarannya sangat keren." Sahut Kiran.
"Aku ingin kamu melahirkan banyak anak untukku. Dengan begitu mereka akan mengelola perusahaan milik mereka masing-masing."
"Apakah aku sanggup melahirkan banyak anak untukmu sayang? Kenapa kamu tidak menikah lagi saja dengan begitu kamu bisa mendapatkan anak dari wanita lain."
"Sayang...! Jangan memintaku melakukan hal bodoh yang akan menyakiti hatimu. Menikah lebih dari satu tidaklah mudah sayang. Kalau hanya memberikan mereka fasiltas itu mudah tapi untuk adil dalam memberikan cinta itu yang sulit."
"Tidak usah mencintai mereka, cukup melahirkan anak untukmu saja."
"Itu namanya zalim dan aku tidak ingin menyakiti hati wanita. Cukup kamu saja yang menjadi tujuanku untuk melepaskan lelahku."
Langkah Kiran tiba-tiba terhenti. Rasa kontraksi mulai menyerang pinggang dan perutnya bersamaan. Kiran mengigit bibir bawahnya dengan memeluk kuat lengan Kenan.
"Sayang..! Ada apa..?"
Tanya Kenan dengan wajah panik.
"Kakiku rasanya keram dan sulit untuk melangkah."
"Baik. Aku akan menggendongmu."
Kenan bergegas menuju mobilnya. Kita berangkat ke rumah sakit sekarang.
"Pak Iwan. Tolong antar kami ke rumah sakit!"
"Siap pak!"
Baja hitam mewah itu melaju dengan gesit menuju rumah sakit. Kiran sudah di sambut oleh dua suster yang mendorongnya menuju kamar bersalin dengan suaminya yang setia disampingnya.
"Syukurlah, hari ini aku tidak berangkat ke perusahaan. Firasat aku benar, kalau Kiran akan melahirkan hari ini."
Batin Kenan saat sudah berada di dalam kamar bersalin.
Kenan menyaksikan sendiri bagaimana perjuangan istrinya mengeluarkan bayi mereka dengan keringat, air mata dan darah. Bayi sekecil itu bisa bebas dari pintu rahim yang begitu kecil.
Kenan tak henti-hentinya mengucapkan syukur kepada Allah atas karunia terbesar dalam hidupnya. Tangis bayi itu sengaja di rekam Kenan untuk menjadi ringtone ponselnya
__ADS_1
Bayi itu diletakkan di dada ibunya untuk mengambil makanan pertamanya.
"Tuan Kenan ! Apakah anda mau mengumandangkan adzan untuk putra anda?"
Tanya dokter Marsha saat bayi milik Kiran sudah dirapikan.
"Siap dokter Marsha."
Kenan dengan sangat hati-hati menggendong bayinya lalu mengumandangkan adzan dan Iqamah di telinga kanan dan kiri.
Awalnya baby itu nangis saat dipisahkan dengan makanannya, namun mendengar suara merdu ayahnya, iapun terkesima lalu tersenyum begitu manisnya.
Diruang inap, VVIP. Kiran kini berada. Kenan yang sudah merindukan istrinya menciumi Kiran berulangkali sebagai rasa terimakasihnya karena telah melahirkan bayi pertama mereka.
"Siapa namanya Kenan ?" Tanya Kiran saat sedang menyusui sang bayi.
"Kinan Alexa Ghifari."
"Kenapa harus Kinan?"
"Itu singkatan dari nama kita berdua sayang. Kiran dan Kenan."
"Nanti kalau punya anak perempuan, namanya siapa?"
"Kayla, Kanaya, Kalista, Kamila. Yang penting ada huruf kapital "K" nya.
Tidak lama kemudian dokter melakukan visit pada ibu dan anak ini. Keduanya diperiksa dan dokter memutuskan mereka besok boleh pulang.
...----------------...
Saat usia baby Kinan satu Minggu, Kenan baru kembali ke perusahaannya.
Asistennya Yoga mengingatkan jadwal meeting siang itu. Kenan memang sengaja tidak mau memakai asisten dan sekertarisnya perempuan. Ia ingin menjaga perasaan istrinya supaya tidak terjadi kecemburuan antara dia dan Kiran.
"Tuan Kenan! Usai makan siang anda ada meeting dengan para pemegang saham."
"Baik.Tentukan tempatnya dan ingatkan kembali kepada saya usai makan siang." Ucap Kenan.
"Ini berkas yang harus anda tanda tangani."
"Tuan Kenan!"
"Iya Yoga!"
"Apakah anda bersedia bertemu dengan tuan Pasya, mantan CEO perusahaan anda..?"
Deggggg
"Apakah dia sudah berada di sini?"
"Iya Tuan. Sepertinya ada urusan penting yang ingin ia sampaikan kepada anda."
Kenan tampak tercenung dan tidak langsung memutuskannya. Ia merasa kalau kedatangan Pasya ada kaitannya dengan baby Dilan.
Yoga yang melihat wajah Kenan yang sedang mempertimbangkan untuk menerima ayah dari baby Dilan saat ini.
"Kalau tuan Kenan tidak bersedia bertemu dengannya, biar saya akan menyuruhnya pergi."
"Jangan! Biarkan ia masuk menemui aku disini."
"Baik Tuan Kenan."
Yoga segera menemui Pasya dan meminta lelaki tampan ini masuk.
"Tuan Pasya ! Anda sudah ditunggu oleh tuan Kenan di ruang kerjanya. Waktu anda hanya dua puluh menit, karena tuan Kenan punya banyak urusan lain." Jelas Yoga tegas.
"Saya mengerti kesibukannya, tapi saya tidak akan menyita waktu berharganya. Mungkin hanya sepuluh menit saja tidak lebih." Sahut Pasya.
"Silahkan ikut saya tuan Pasya !"
Keduanya berjalan beriringan. Tuan Pasya tampak kagum dengan gaya interior kantor Kenan. Sangat berkelas dan mewah.
Yoga membuka pintu untuk tamu tuannya. Kenan langsung berdiri menyambut dingin mantan suami dari istrinya itu.
__ADS_1
"Silahkan duduk Tuan Pasya...!"
"Terimakasih tuan Kenan!"
"Apakah ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ingin bertemu dengan putra saya baby Dilan. Hanya bertemu bukan meminta." Ujar Pasya hati-hati.
"Kita akan mengatur segala sesuatunya dengan pengacara saya saat tuan Pasya ingin bertemu dengan baby Dilan, walaupun itu adalah putra kandung anda sendiri."
"Baiklah. Itu lebih baik. Setidaknya status baby Dilan harus diperbaharui akte kelahirannya bahwa dia adalah putraku bersama mantan istriku Kiran."
"Baik. Sesuai dengan kemauan anda. Nanti kalau pertemuan kalian tidak disukai oleh baby Dilan, saya harap anda tidak memaksanya. Jika itu terjadi, saya tidak akan segan mengirim anda ke penjara." Ancam Kenan.
"Baik. Saya akan menghormati keputusan anda tuan Kenan. Asalkan ijinkan saya bersama dengan putra saya. Saya ingin memberikannya kasih sayang seperti layaknya seorang ayah kepada anaknya."
"Aku tidak masalah. Aku tahu hubungan kalian. Hanya saja saya tidak begitu memiliki wewenang untuk memberikan ijin padamu bertemu dengan baby Dilan.Yang menentukan kamu boleh bertemu dengannya atau tidak hanya Kiran."
"Aku harap kalian tidak terlalu membatasi ruang gerakku untuk bertemu dengan baby Dilan karena kalian baru diberi momongan. Jadi aku mohon jangan terlalu serakah untuk menguasai putraku. Baby Dilan putraku juga."
"Itu tergantung pada sikapmu, bagaimana kamu meminta pada Kiran tanpa penghinaan padanya. Dan satu hal lagi, aku tidak akan ikut campur jika istriku tidak mengijinkan kamu bertemu dengan putra kalian."
Pasya terlihat bingung untuk memulai membuka hubungan dengan putranya yang terhalang oleh Kiran. Ia tahu betul bagaimana sikap Kiran jika sudah marah. Bisa-bisa dia tidak diberi kesempatan bertemu dengan anaknya.
Akhirnya Pasya sepakat menerima syarat yang diajukan oleh Kenan dengan segala resiko yang diatur oleh pengacara mereka berdua.
Ia kemudian pamit karena waktu yang dibutuhkan Pasya sudah hampir selesai.
"Kapan aku bisa bertemu dengan putraku? Kalau tunggu surat perjanjian kedua belah pihak dibuat oleh pengacara kita masing-masing, itu terlalu lama dan aku tidak bisa menunggu selama itu."
"Datanglah nanti malam Tuan Pasya! Kami akan menunggumu. Tapi aku mohon tolong jangan memperkenalkan diri statusmu sebagai ayah pada Dilan, karena dia pasti sangat kaget jika kamu lakukan itu."
"Yang jelas bukan anda ayah biologis putraku dan jangan memprovokasi putraku untuk membenciku, jika kamu benar-benar orang yang sportif tuan Kenan."
"Aku rasa, aku tidak punya kepentingan untuk itu. Jangan mencurigai sesuatu yang belum kamu coba."
"Baiklah. Permisi tuan Kenan. Aku minta alamat lengkap anda untuk bisa bertemu denganku."
"Kamu bisa mendapatkannya dari asisten pribadiku, yoga."
Keduanya bersalaman dan Pasya segera meninggalkan ruang kerja tuan Kenan dengan rasa bahagia karena nanti malam ia akan bertemu dengan putranya.
Pasya ingin menyampaikan berita bahagia ini kepada ibunya. Ia membawa mobilnya ingin cepat-cepat menuju rumahnya.
Baginya bertemu dengan seorang putra yang belum pernah ia lihat secara langsung, jauh lebih berharga daripada harta apapun.
Pasya mempercepat langkahnya saat sudah tiba di rumah ibunya. Ia ingin berbagi kebahagiaannya dengan wanita yang telah melahirkannya ini.
Nyonya Zoya yang sedang memasak makan siang di kejutkan dengan kedatangan Pasya yang datang mengecup pipinya.
"Ibu....!"
"Iya sayang...!"
"Aku punya berita bahagia untuk ibu."
"Apakah kamu ingin menikah lagi?"
"Tentu saja tidak ibu. Dan aku belum mau memikirkan tentang itu."
"Lantas apa yang ingin kamu ceritakan pada ibu. Ayolah Pasya! Jangan membuat ibu mati penasaran."
"Aku diijinkan Kenan untuk bertemu dengan putraku Dilan, ibu."
Ujar Pasya dengan wajah berbinar..
"Benarkah nak, kamu boleh membawa baby Dilan ke rumah kita?"
"Ibuku sayang...! Bukan membawa putraku ke rumah kita tapi hanya di ijinkan bertemu dan bermain dengannya di rumahnya tuan Kenan, itupun banyak persyaratannya dan aku tidak menolaknya karena tujuanku adalah bertemu dengan putraku."
Antara senang dan sedih bercampur jadi satu di dada Pasya yang terasa sangat sesak saat ini. Rasa penyesalan akibat dari perbuatannya sendiri yang telah menyebabkan hancur rumah tangganya hingga ia harus berjuang untuk mendapatkan haknya bertemu dengan putranya itu.
"Tidak apa sayang! Jangan sedih lagi. Setidaknya kamu diberi kesempatan untuk bertemu dengan putramu. Untuk ke depannya bisa di atur. Kalau dia sudah besar dia akan mencari mu, tanpa ada syarat apapun." Ujar ibunya menghibur Pasya.
__ADS_1
"Iya ibu. Semuanya hanya mengandalkan waktu untuk mencapai tujuan disertai ikhtiar. Aku akan merebut kembali cinta putraku Bu." Ujar Kenan bijak.