
Suasana kota besar Madrid menjadi momen berharga untuk keluarga besar Tuan Kenan. Tempat wisata yang menawarkan destinasi alam dan sejarahnya yang panjang di kota tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi mereka.
Lima tempat wisata yang terkenal di kota Madrid dan pusat perbelanjaan telah mereka nikmati. Karena keinginan Kiran yang begitu besar melihat mesjid Cordoba kota Sevilla, membuat keluarga itu melakukan perjalanan lagi ke kota tersebut.
"Kenan aku ingin mengunjungi mesjid Cordoba Spanyol, kota bersejarah di mana umat Islam pernah berjaya di masanya."
Ucap Kiran yang merengek manja pada suaminya setelah mereka sudah berada di hotel.
"Baiklah! besok kita akan ke sana seperti yang kamu inginkan, aku juga penasaran dengan mesjid itu, walaupun sudah banyak membaca sejarahnya tapi wujud dari mesjid itu belum pernah aku lihat sampai saat ini.
"Alhamdulillah terimakasih Kenan. Aku senang banget bisa mengenang masa kejayaan kerajaan Islam yang dibangun pada masa Bani Umayyah."
Ucap Kiran mengecup bibir suaminya lembut.
Tidak lama ada telepon masuk dari Yoga, Kenan meminta izin kepada Kiran untuk menerima panggilan dari asistennya.
Kiran mengangguk lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Beby Kayla yang masih terlelap di biarkan sendiri di kamar.
Sementara di kamar berbeda Dilan dan Kenan sedang bermain game.
"Ada apa Yoga?" tanya Kenan ingin tahu informasi penting yang disampaikan oleh Yoga.
"Bos, ada berita besar bos, kalau bos ingin menjebloskan nona Lita inilah saatnya. Karena saat ini dua sedang terlibat kasus narkoba.
"Aku tidak mau tahu tentang dia Yoga, jika kamu bisa mendapatkan bukti yang lebih memberatkan dirinya aku lebih senang mendengarnya, kalau hanya berbicara tentang dia yang selalu pesta narkoba di apartemennya itu, Aku sudah sering mendengarnya. Saut Kenan kesal.
"Maksud bos bukti memberatkan itu seperti apa bos?" tanya Yoga yang tidak mengerti arah pembicaraan tuannya.
"Bukti bahwa dialah yang telah menggelap dana perusahaan atas nama Pasya. Tanpa itu aku tidak bisa menuntutnya, wanita ular itu pintar berkelit dan aku tidak ingin hanya berdebat dengannya tapi kita harus memiliki kartu mati miliknya."
Ucap Kenan lalu mengakhiri pembicaraannya dengan asistennya Yoga.
Yoga mendengus kesal, ia tidak tahu bagaimana mendapatkan bukti yang sangat membuatnya sulit untuk mendapatkannya.
"Si bos ada-ada saja, jika aku bisa mendapatkan rekaman Lita sedang pesta narkoba di apartemennya, akan aku lakukan.
Siapa yang mesti aku minta tolong karena itu area terlarang yang merupakan kamar pribadi gadis itu. Ahkk pusing!"
Yoga mengacak-acak rambutnya kesal.
__ADS_1
Keesokan harinya keluarga itu sudah terbang ke kota yang dituju. Kiran sangat antusias mengunjungi kota tersebut, seperti impiannya kini telah tercapai. Perjalanan menuju kota Sevilla cukup melelahkan. Mereka juga harus mencari hotel yang akan mereka nginap.
Setibanya di hotel mewah di kota yang dituju, keluarga ini beristirahat sejenak karena mereka sudah lumayan lelah setelah melakukan tour selama dua minggu di Madrid dan kini harus mengunjungi tempat bersejarah lainnya di kota Sevilla tersebut.
"Sayang kita istirahat dulu sehari, insya Allah besok kita akan mengunjungi mesjid Cordoba Spanyol.
"Iya Kenan nggak apa, lagi pula ayah dan ibu juga lelah melakukan perjalanan wisata selama dua minggu ini. Tapi kedua jagoan dan si cantik kita sangat kuat ya sayang, nggak gampang rewel,"
ucap Kiran sambil bermain dengan putrinya yang makin aktif saat ini.
Baby Kayla yang sudah belajar berdiri, berusaha mencari pegangan apa saja untuk ia kuat berpijak.
Kenan merekam momen putranya ini dengan kamera ponselnya. Kiran juga menggoda putrinya agar berdiri lebih lama.
Kayla yang mengerti orang tuanya ingin ia tetap berdiri, berusaha menahan pijakannya agar tidak mudah jatuh. Sepasang suami istri ini bersorak gembira ketika melihat putrinya sudah sempurna berdiri namun tidak berani melangkah.
"Wah anak Daddy hebat sudah kuat berdiri yang lama, nanti Daddy beliin sepeda kalau Kayla sudah bisa jalan."
Ucap Kenan menggendong putrinya lalu mengangkatnya tinggi-tinggi hingga membuat gelak tawa babynya.
Keesokan harinya Keluarga besar tuan Kenan sedang berkunjung ke mesjid Cordoba.
Dengan ditemani pemandu wisata yang berada di sekitar tempat wisata tersebut, banyak menceritakan bagaimana pembangunan mesjid yang awalnya hanya mesjid kecil lalu di perluas hingga empat kali lipat luas sebenarnya dan dibangun dalam waktu dua abad lamanya hingga berdiri kokoh dan megah sampai saat ini.
Puas mengelilingi mesjid tersebut, keluarga besar itu menuju restoran terkenal yang menyediakan makanan halal untuk mereka bisa konsumsi. Restoran yang cukup terkenal di Cordoba dengan menu makanan laut yang menerbitkan liur untuk segera menyicipinya.
Nyonya Hanum sibuk memilih makanan kesukaan suaminya begitu pula Kiran yang ikut memperhatikan satu persatu menu yang tertera didaftar buku tersebut.
"Kenan mau makan seafood?" tanya Kiran sambil memperlihatkan gambar menu dengan olahan makanan laut.
"Aku ikut kamu saja sayang." Ucap Kenan sambil menyuapkan potongan kue ke baby Kayla.
Kiran memanggil pelayan untuk menuliskan pesanan mereka. Pelayan itu pun mengulang kembali pesanan tamu restorannya ini.
Kiran pamit untuk ke toilet, Kenan mengantar istrinya dan menunggunya di luar. Di dalam kamar mandi Kiran merasa sangat pusing, ia membuka mantelnya untuk membasuh wajahnya.
Perutnya pun ikut mual namun ditahannya untuk tidak sampai muntah.
"Astaga! Ada apa denganku, mengapa aku tiba-tiba merasa sangat pusing," tanyanya lirih.
__ADS_1
Ia keluar dari toilet dengan wajah yang dipoles makeup dan tatanan rambut yang sudah kembali rapi, hingga tidak terlihat oleh Kenan bahwa wajah istrinya saat ini sangat pucat.
"Sudah sayang?" tanya Kenan lalu menggandeng tangan istrinya.
Kiran hanya bergumam lalu berjalan beriringan menuju meja makan tempat mereka duduk. Hidangan lezat yang sudah tersaji membuat keluarga ini buru-buru menikmatinya.
Tapi tidak dengan Kiran yang hanya menyicipinya sedikit. Jangankan untuk makan mencium baunya saja ia ingin muntah.
"Mengapa kamu tidak memakannya, ini enak lho," ucap Kenan menyemangati istrinya.
"Apakah kamu ingin memesan yang lain Kiran ?" tanya tuan Herland yang melihat putrinya kurang berselera.
"Ibu pesankan makanan yang lainnya ya," tawar Nyonya Hanum yang tidak ingin membiarkan putrinya kelaparan.
"Kenan aku ingin minum jus buah kiwi." Pinta Kiran manja.
"Baiklah tunggu sebentar sayang!" Kenan memberi kode kepada pelayan yang berdiri tidak jauh dari meja makan mereka.
Tidak lama jus kiwi sudah berada di meja, Kiran menyedot jusnya dengan sangat nikmat.
"Sayang ini pasti asam, buah kiwikan asam sayang" ujar Kenan dengan bahu bergidik.
"Ini sangat segar sayang, mau coba?" Kiran memberikan jusnya untuk dicoba oleh Kenan.
"Sayang ini asam banget." Ucap Kenan menunjukkan wajah jeleknya.
"Kamu makin tampan kalau berekspresi seperti itu sayang." Canda Kiran membuat kedua orangtuanya Kiran terkekeh.
Hidangan itu akhirnya tandas juga, mereka pun meninggalkan restoran tersebut setelah membayar angka yang tertera di bil tersebut.
Kiran berjalan makin sempoyongan. Kenan menyerahkan babynya pada salah satu pelayannya dan berusaha memegangi tubuh Kiran . Tangan Kiran berkeringat dan terasa sangat dingin.
"Ada apa denganmu sayang, apakah kamu kurang sehat?" Kenan memapah lengan istrinya
"Aku sangat pusing Kenan." Ucap Kiran seraya memijit-mijit pelipisnya.
"Cepat bawa ke mobil Kenan ." Titah Nyonya Hanum cemas.
"Lebih baik kita bawa Kiran ke rumah sakit Kenan ." Ujar Tuan Herlan.
__ADS_1
Mobil yang mereka sewa sudah berada di depan restoran. Kenan menggendong istrinya yang makin lemah. Rombongan itupun ikut naik ke mobil dan arah yang mereka tuju saat ini adalah rumah sakit.