CINTA Kandas Di Tengah Perjodohan

CINTA Kandas Di Tengah Perjodohan
46. Merelakan!


__ADS_3

Kiran kembali ke rumahnya setelah kandungannya sudah cukup kuat untuk beraktivitas kembali seperti biasanya.


Melihat suasana hati sang istri yang sedang bahagia, Kenan mencoba berdiskusi dengan Kiran tentang Lita yang telah merampok perusahaannya dengan menimbun kekayaan pribadi.


"Ya ampun! Ternyata wanita terkutuk itu sangat jahat sekali melakukan aksinya. Terus apa yang akan lakukan untuk mengambil kembali aset milikmu, Kenan?"


"Sepertinya aku mendapatkan kesulitan karena harus ada saksi kunci yang bisa menyeret wanita itu ke penjara."


"Siapa saksi kunci itu Kenan?"


"Siapa lagi kalau bukan Pasya. Karena dia adalah CEO saat itu."


"Lantas tunggu apa lagi. Kamu tinggal minta kesaksiannya dan urusan ini selesai."


Ucap Kiran sambil menipiskan bibirnya.


"Masalahnya, Pasya mengajukan syarat kalau dia ingin membantu kita sayang?"


"Syarat..? Kenapa dia memanfaatkan situasi kita demi kepentingan pribadi. Berapa yang dia mau?"


"Bukan materi yang dia minta Kiran."


"Lantas apa yang dia inginkan, kalau bukan uang atau aset tak bergerak?"


"Dilan!"


Deggggg...


"Puteraku, Dillan?"


"Iya sayang!"


"Aku siap tinggal dengan papa, mama, Daddy!"


Ucap Dilan yang sudah berada di balik punggung mereka.


Kenan dan Kiran tersentak melihat putra mereka yang tiba-tiba menyela pembicaraan mereka.


"Dillan! Masuk ke kamarmu! Ini pembicaraan orang dewasa."


"Ini juga menyangkut kehidupan ku juga mama. Aku berhak menentukan kebahagiaan ku sendiri." Ucap Dilan sengit


"Dilan! kau masih dibawah umur. Aku mamamu tidak akan merelakan kamu tinggal dengan orang lain sekalipun itu adalah papa kandungmu sendiri."


"Baik. Kalau itu maunya mama, maka aku akan menyakiti diriku sendiri supaya diantara kalian tidak akan memiliki aku. entah itu mama maupun papa!"


Ancam Dilan dengan wajah kelam diikuti nafas tersengal menahan sesak didadanya.


Dilan masuk ke kamarnya dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Pasya.


"Papa! Aku mendukungmu atas apa yang papa telah perjuangkan untuk mendapatkan aku. Jangan pernah menyerah untuk pengorbanan papa karena yang papa lakukan sudah benar." Ucap Dillan antusias.


"Sayang! Papa tidak mengerti apa yang kamu katakan. Maksud kamu apa sayang ?"


"Tentang persyaratan yang papa ajukan kepada Daddy untuk mendapatkan aku. Ide papa sangat keren."

__ADS_1


Puji Dillan sambil mengusap air matanya.


Pasya menarik nafas lega mengetahui putranya juga mendukungnya. Berarti perjuangannya tidak sia-sia walaupun ia harus kehilangan pekerjaannya untuk itu.


"Terimakasih nak! Papa makin semangat untuk merebut kamu dari ibumu."


Ucap Pasya dengan mata berkaca-kaca.


Kiran tidak terima begitu saja dengan syarat yang diajukan Pasya untuk aset suaminya yang dicuri oleh Lita.


Ia segera ke perusahaan Pasya untuk melabrak mantan suaminya


"Aku akan membuat perhitungan denganmu, Pasya. Aku tidak akan menyerahkan putraku demi apapun."


Gumam Kiran sambil melangkah menuju ruang kerjanya Pasya. Ia segera ke perusahaan Pasya untuk melabrak mantan suaminya itu.


Cek lek...


Pasya sedang ada pembicaraan dengan asistennya Rudi.


"Kiran!"


Pasya segera bangkit ke dari kursi kebesarannya begitu melihat Kiran sudah berdiri di depannya.


Pasya memberi isyarat pada Rudi untuk meningkatkan mereka.


"Silahkan duduk Kiran! Apa kabarmu! Apakah kandungan mu sudah lebih baik?"


Tanya Pasya berusaha rileks.


Ucap Kiran penuh penekanan pada kalimatnya.


"Kenapa kamu harus repot-repot datang ke sini hanya untuk protes padaku. Jika kamu bisa menghentikan keinginan putra kita lakukan saja. Aku tidak memaksanya. Putra kita sendiri yang meminta padaku untuk mendapatkan hak asuh untuk dirinya." Tukas Pasya.


"Kamu pasti yang sudah mencuci otaknya untuk melawanku untuk membenciku agar ia dengan mudah kamu dapatkan."


"Mengapa pikiranmu picik sekali Kiran. Putra kita hanya memilih mana yang membuatnya nyaman, itu saja."


"Jadi kamu kira kami orang asing baginya?"


"Apakah kamu merasa begitu?"


"Tentu saja tidak. Aku dan suamiku sudah memberikan yang terbaik untuknya, fasilitas, cinta , sayang dan kami tidak membedakan diantara mereka bertiga."


"Apakah kamu yakin seperti itu? Bagaimana kalau aku bilang putra kita sangat kesepian di tengah keluarganya sendiri karena mamanya lebih sibuk dengan kedua adiknya tanpa mempedulikan dirinya dan urusan tentangnya kamu serahkan semuanya pada pelayan."


"Omong kosong! Kamu pintar mengarang cerita ini untuk mengelabui ku, seperti itukan?"


"Itu asumsi pribadimu. Aku tidak seperti itu." Bantah Pasya.


"Tidak tahu malu, sudah syukur suamiku memberikan kesempatan untuk kembali ke perusahaannya tapi kamu malah menikam kami dari belakang demi ambisi mu untuk mendapatkan putraku."


"Kiraaaannn!"


Bentak Pasya murka.

__ADS_1


"Kau sangat menjijikkan!"


Kiran keluar dari ruang kerja kembali lagi ke rumahnya. Dalam perjalanan pulang, Kiran mendapatkan telepon dari pelayannya.


"Hallo nona Kiran!"


"Iya bibi, ada apa?"


"Tuan..muda di bawah ke rumah sakit non."


"Apaaa..! Maksud kamu Dilan?"


"Iya nona! Dilan minum racun serangga. Kami temukan dia di kamar mandi dengan mulut berbusa." Ujar pelayan gugup.


Deggggg...


"Baik Ani. Aku segera ke rumah sakit."


"Astaga! Kenapa kamu melakukan hal bodoh seperti itu Dilan?"


"Tolong percepat mobilnya pak Anton!" Pinta Kiran menjerit histeris.


Pasya dan Kenan sudah langsung cabut dari perusahaan menuju rumah sakit begitu dengar kabar dari Kiran.


Setibanya di rumah sakit, ketiganya sedang menunggu putra mereka di operasi karena dokter harus menguras racun yang mengendap dalam perutnya.


"Ya Allah kenapa kamu sampai nekat seperti itu sayang?" Sesal Kiran sambil menangis.


Sekitar lima jam kemudian dokter keluar dari ruang operasi menemui keluarga Dilan.


"Pasien menyebutkan nama papa dan mamanya. Tolong temui putranya."


Ucap dokter Fauzi yang bingung melihat dua orang laki-laki dan satu wanita yang menunggu di ruang operasi.


Pasya segera masuk ke kamar itu menemui putranya yang tergolek lemah.


"Papa..! Aku lebih baik memilih mati daripada hidup hidup terpisah dengan papa."


Ucap Dilan lalu pingsan.


Dokter Fauzi meminta kedua orangtuanya dilan untuk memenuhi permintaan Dilan.


"Aku mohon penuhi permintaan putra anda atau kalian akan kehilangannya. Nadinya cukup lemah, jika kalian egois kalian akan kehilangannya karena ia tidak punya semangat hidup." Ucap dokter Fauzi membuat Kiran mau tidak mau merelakan putranya untuk dirawat oleh Pasya mantan suaminya.


"Sekarang dia milikmu. Bawa dia pergi dari kami!"


Ucap Kiran lalu keluar dari kamar operasi itu.


Sebulan kemudian, Pasya mengajukan pengunduran dirinya pada Kenan. Ia membawa pergi putranya untuk menetap di luar negeri.


Mereka memilih negara Paris Perancis. Di Paris, Pasya membuka usaha kuliner khas Indonesia. Ia hidup bahagia dengan putranya Dilan.


Pasya memilih untuk tidak menikah lagi agar cinta kasihnya hanya untuk putra semata wayangnya, Dillan Ardi Pasya.


Tamat...

__ADS_1


__ADS_2