
Nyonya Zoya mendekati mantan menantunya dengan perasaan yang sulit untuk di gambarkan. Antara takut, bingung, kecewa dan rindu bercampur jadi satu saat ini.
Kiran segera menyalami mertuanya itu dengan takzim tanpa ada kebencian sedikitpun karena selama ini, ibu mertuanya itu tidak pernah ikut campur urusan rumah tangganya selama ia hidup berdua dengan Pasya.
"Apa kabar ibu!"
"Alhamdulillah, ibu sehat nak!"
"Apakah ini cucuku, Kiran?"
Tanya Nyonya Zoya dengan air mata yang tidak bisa lagi terbendung.
"Iya ibu! Namanya Dilan. Baby, ini nenek sayang. Ayo Salim!"
Pinta Kiran diikuti putranya Dilan menyalami neneknya.
"Kiran....! Boleh ibu menggendongnya, nak."
Pinta nyonya Zoya setengah memelas.
"Silahkan ibu! Ini cucu ibu. Tidak ada yang melarang ibu untuk menggendongnya."
Ucap Kiran dengan suara bergetar menahan tangisnya yang hampir mau pecah.
"Terimakasih nak, Kiran! Ibu sangat bahagia memilikimu sebagai menantu. Walaupun jodoh kalian tidak panjang, tapi ibu tetap menganggapmu sebagai menantu ibu."
"Terimakasih ibu! Tidak ada batasan antara menantu dan mertua karena tidak ada sebutan mantan mertua seperti halnya mantan anak atau mantan orangtua."
Imbuh Kiran yang langsung memeluk ibu mertuanya yang makin nelangsa.
Kenan yang melihat adegan dramatis itu, ikut terharu dan sangat kagum dengan jiwa istrinya yang memiliki empati tinggi untuk sebuah hubungan yang sudah renggang namun masih tunduk hormat pada sang mantan mertua.
"Kiran! Jika kedua orangtuaku masih hidup, mereka pasti sangat bangga memilikimu sebagai menantu." Batin Kenan.
"Ehmm..ehm..!"
Kenan sengaja berdehem mengingatkan istrinya tentang keberadaannya yang saat ini di cuekin sama keduanya.
"Apakah kamu tidak ingin mengenalkan aku pada ibu mertuamu, Kiran..?"
"Astaga! Maafkan aku sayang! Aku sampai lupa
mengenalkan mu pada ibu. Ibu..! Ini suami Kiran ibu. Kenan ini neneknya baby Dilan."
Keduanya saling bersalaman saling menyebutkan nama mereka masing-masing.
Mendengar nama besar Kenan, nyonya Zoya sangat syok. Ia tidak menyangka Kenan putra dari Ghifari pemilik perusahaan suaminya dulu bekerja bahkan mengembangkan perusahaan itu, kini menjadi suaminya mantan menantunya.
Bagi nyonya Zoya Kenan bukan orang lain baginya. Dulu ia sering menggendong Kenan saat Kenan masih balita.
Dan saat kematian kedua orangtuanya Kenan, nyonya Zoya yang berusaha menenangkan Kenan, namun rasa trauma dan kesedihan Kenan membuat lelaki berusia tiga puluh dua tahun ini tidak begitu mempedulikan wajah-wajah orang yang saat itu sedang menyampaikan duka mereka kepadanya.
Usai pemakaman kedua orangtuanya, Kenan langsung menghilang begitu saja tanpa diketahui oleh staff manapun tentang keberadaannya.
"Kenan! Apakah kamu sudah lupa dengan ibu..? Dulu ibu yang sering menggendongmu dan ibu juga sering berkunjung ke rumahmu bahkan kamu dan Pasya sering bermain bersama. Apakah kamu lupa tentang itu nak?"
"Maaf ibu! Aku tidak mengingat semua orang kecuali kedua orangtuaku sejak kejadian pesawat naas itu. Aku mohon pengertiannya ibu."
Ucap Kenan yang tidak ingin diingatkan pada masa lalunya yang sangat menyakitkan itu.
"Ibu sudah sarapan?" Tanya Kiran saat keduanya sama-sama terdiam.
"Belum nak, Kiran!"
"Sarapan bersama kami saja Bu. Lagi pula baby Dilan belum makan apapun dari pagi."
"Tapi, ibu ...?"
Nyonya Zoya tidak enak dengan Kenan yang terlihat diam saja.
Kiran memberi isyarat pada suaminya dengan matanya untuk mengajak ibu dari Pasya itu sarapan bersama.
"Kita sarapan bubur ayam di langgananku saja, ayo Bu ikut dengan kami!"
__ADS_1
Pinta Kenan kepada mertuanya Kiran dengan tetap memasang wajah datarnya.
Ekspresi wajah Kenan hanya terlihat hangat dan manis pada sang istri maupun pada putra sambungnya saja. Selebihnya dia tidak begitu respect pada yang lainnya.
Kiran memesan bubur ayam untuk mereka berempat. Sementara nyonya Zoya menyuap bubur untuk cucunya.
"Berapa usia kandungan mu, Kiran?"
"Tujuh bulan ibu."
"Apakah kalian tinggal di Bogor?"'
Kiran tidak bisa menjawabnya karena takut Kenan marah.
"Iya Bu! Kami memang tinggal di Bogor." Jawab Kenan.
"Bukankah rumah orangtuamu, di Jakarta, Kenan ?"
"Sudah saya jual ibu."
"Astaga! Kenapa di jual? padahal rumah itu sangat bagus."
"Untuk mengembalikan modal perusahaan yang mengalami kebangkrutan gara-gara putra dan suami ibu."
Deggggg...
"Maafkan putra dan suamiku, nak Kenan. Mereka terlena dengan harta yang bukan milik mereka. Ibu juga tidak tahu permainan kotor antara keduanya."
Wajah nyonya Zoya berubah murung karena sangat malu dengan perbuatan suaminya.
"Harusnya sebagai istri ibu wajib mengingatkan suami ibu yang serakah itu." Sarkas Kenan membuka Kiran tersentak.
Kiran yang begitu halus perasaannya menatap tajam wajah suaminya untuk tidak melampiaskan kekesalannya pada nyonya Zoya.
"Ibu tidak tahu harus berkata apa padamu, nak Kenan. Rasanya kalau ditukar dengan nyawa ibu pun, kesalahan suami ibu tidak bisa ditebus dengan itu."
"Aku tidak mempermasalahkan lagi tentang itu, ibu. Tapi aku hanya minta tolong kepada ibu untuk bilang kepada putra ibu, Pasya agar melupakan mimpinya mengambil putranya Dilan dari tangan kami!" Titah Kenan tegas.
"Ibu sudah memintanya untuk tidak melakukan itu pada putranya jauh sebelum kamu memintanya kepada ibu."
Jika bukan karena istriku yang memohon kepadaku untuk membebaskan dirinya dari penjara, mungkin aku tak akan melakukannya.
Jadi katakan kepadanya kebebasannya dari penjara itu tidak gratis. Jika dia masih berulah, aku tidak akan segan mengirimkannya lagi ke penjara itu."
"Maafkan putra ibu! Lain kali ibu akan memperingatkan Pasya lebih keras lagi."
Ucap nyonya Zoya terdengar parau.
Kiran yang sudah tidak nyaman dengan pembicaraan suaminya dan mantan mertuanya itu akhirnya minta pulang.
"Sayang! Aku lelah. Apakah kita bisa pulang sekarang?"
"Baiklah ayo kita pulang. Ibu ke sini dengan siapa?"
"Dengan sopir pribadi. Baiklah. Kalian hati-hati. Jaga dirimu Kiran. Semoga persalinan mu nanti lancar nak."
"Aamiin."
"Nak Kiran! Apakah ibu boleh foto berdua dengan baby Dilan?"
"Silahkan ibu! Sini, biar Kiran yang ambil foto kalian berdua."
Nyonya Zoya mengecup pipi cucunya dan Kiran mengambil adegan romantis itu dan ketiganya Selfi bertiga. Sementara Kenan sibuk mengalihkan perhatiannya dengan menghubungi orang lain, entah itu siapa.
"Ibu! Tolong maafkan suaminya Kiran ya Bu! Kenan orangnya baik hanya saja sifatnya sedikit arogan."
"Dia melakukan itu karena ingin melindungi kalian jadi kamu jangan terlalu merasa bersalah pada ibu."
"Tapi, Kiran jadi nggak enak sama ibu."
"Ibu tidak apa nak Kiran. Ibu sudah mengenal sifat suamimu itu jauh sebelum kamu mengenalnya."
"Aku tidak ingin dia kurangajar sama ibu." Jelas Kiran sedih.
__ADS_1
"Apakah kalian masih lama nostalgia nya..?"
Tanya Kenan yang sudah tidak betah berada di kedai bubur itu.
"Ayo pergilah! Suamimu sudah menunggumu Kiran!"
Nyonya Zoya menyerahkan lagi baby Dilan.
Keduanya saling memberikan pelukan dan mengucapkan salam perpisahan lalu naik kendaraan mereka masing-masing.
Kiran memberikan susu untuk baby Dilan yang saat ini sudah mulai mengantuk. Perasaan Kiran makin dipersulit oleh sikap Kenan yang begitu arogan pada mantan mertuanya.
Keduanya tampak diam dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Sekalinya bicara, keduanya kompak mengeluarkan suara.
"Apakah kamu bisa lebih tegas bersikap..?"
"Kamu tidak pantas mendikte seorang yang lebih ...!"
"Baiklah. Bicaralah lebih dulu dan aku akan mendengarkan alasanmu!" Ujar Kiran mengalah.
"Ya sudah. Kamu saja duluan kalau memang itu terasa penting bagimu agar aku bisa mendengarkan keluhan mu."
"Baik. Aku duluan bicara. Aku tahu kedekatan kamu dengan mantan mertuamu itu sangat emosional. Tapi aku tidak ingin kamu dimanfaatkan oleh nyonya Zoya dari sifatmu yang terlalu polos mu itu!"
"What...? Hai..! Bagaimana bisa kamu menilai aku seperti itu? Apakah orang berbuat baik pada orang yang lebih tua itu terlihat polos di hadapanmu..?"
"Kamu memang cerdas, tapi sayangnya kamu terlalu naif. Mudah masuk dalam jebakan sentimentil seseorang."
"Lama kelamaan kamu terlihat membosankan Kenan. Segala sesuatu yang kamu nilai itu hanya berdasarkan opini secara pribadi. Kamu bahkan tidak memiliki empati yang cukup kuat untuk membangun sebuah hubungan emosional dengan orang lain." Sarkas Kiran.
"Baiklah. Kita lihat saja setelah pertemuan kamu dengan nyonya Zoya hari ini. Apa yang akan dia lakukan padamu.
Bisa-bisa dia akan memanfaatkan kelemahan mu untuk mendapatkan empati mu. Dengan begitu kamu akan memberikan Dilan padanya dengan suka rela."
Ujar Kenan yang tidak ingin lagi melihat Kiran terus menerus dibodohi oleh Pasya dan keluarganya.
Degggg....
"Astaga..! Kenan...kenapa pikiran kamu begitu kerdil. Kenapa semua orang kamu curigai, padahal kamu punya segalanya, tapi sangat takut dengan ancaman. Apakah Pasya adalah lawan yang cukup tangguh untuk kamu hadapi..?"
"Aku tidak akan kuatir seperti ini, kalau bukan karena baby Dilan. Jika kamu ingin aku bersikap wajar, sebaiknya kamu berikan Dilan kepada mereka dengan begitu aku tidak begitu takut menghadapi ini sendirian."
Setelah bicara begitu Kenan tidak lagi bicara apapun pada istrinya. Keduanya terlihat berpikir rencana apa yang akan mereka tempuh untuk mempertahankan Dilan.
Sementara di kediaman Pasya, nyonya Zoya langsung ke kamar putranya untuk mengabarkan kabar baik ini pada putranya itu.
Pasya yang sedang ogah-ogahan di tempat tidur nampak bengong menatap langit-langit kamarnya.
Tok... tok...
Nyonya Zoya langsung masuk ketika pintu kamar putranya tidak dikunci.
"Pasya...!"
"Iya ibu!"
"Coba kamu tebak! Pagi ini, ibu ketemu siapa?"
"Mana Pasya tahu ibu." Jawab Pasya agak cuek.
nyonya Zoya memberikan ponselnya pada putranya.
"Lho, kenapa ponsel ibu kasih ke Pasya?"
"Coba kamu buka galery foto di ponsel ibu itu!"
"Emangnya ada apa Bu?" Tanya Pasya sambil membuka galeri foto itu.
Pasya seketika tersentak saat ia melihat seorang bocah yang sangat tampan dan sangat mirip dengan dirinya.
"Ibu...ini...?"
Mulut Pasya tidak bisa berkata apa-apa lagi karena matanya sudah berkaca-kaca saat melihat wajah putranya yang sangat tampan dan menggemaskan.
__ADS_1
"Itu putramu sayang. Tadi ibu secara tidak sengaja bertemu dengannya. Baby Dilan sangat mirip denganmu saat masih seusianya."
Ucap nyonya Zoya yang kembali terharu melihat putranya menangis.