CINTA Kandas Di Tengah Perjodohan

CINTA Kandas Di Tengah Perjodohan
33. Rahasia


__ADS_3

Tiga bulan pernikahan Kiran dan Kenan akhirnya berbuah manis. Kiran yang pagi itu merasakan respon tubuhnya yang tidak biasa yang mengarah dirinya ke ciri-ciri pada orang hamil mulai terlihat.


Ia merasa tak bertenaga, mual dan pusing. Di tambah sudah dua bulan ini ia tidak mendapatkan haid.


Ibu dari Dilan ini tidak buru-buru mendatangi dokter kandungan karena ia ingin memastikan sendiri kecurigaannya dengan menggunakan testpack.


Saat melihat dua garis merah itu, wajah Kiran terlihat berbinar. Ia ingin memberikan kejutan untuk sang suami yang masih tertidur pulas.


Kiran membuka gordennya hingga matahari menampakkan sinarnya yang masuk hingga menyilaukan mata Kenan, yang sempat mengerjapkan matanya dan melihat sang istri sudah duduk di bawah lantai dengan wajah menyangga di atas kasur.


"Hai!"


Kiran memberikan tas pack itu pada suaminya yang masih setengah mengantuk.


"Apa ini Kiran... ?"


Kenan benar-benar tidak paham dengan benda yang saat ini sedang dipegangnya.


"Apakah kamu benar-benar tidak tahu benda itu?"


"Memangnya ini apa..?"


"Kamu ini lahir di planet mana? masa ini saja kamu tidak tahu."


Gerutu Kiran sambil cemberut.


"Ya beritahu aku sayang! Ini apa..?"


"Ini alat tes kehamilan."


Deggg...


"Jadi maksudmu, kamu hamil sayang?"


Mata Kenan langsung melebar mendengar ucapan istrinya.


Kiran mengangguk pelan tapi tidak se semangat tadi. Moodnya berkurang karena gapteknya suami yang tidak mengetahui alat tes kehamilan itu sama sekali.


Kenan langsung memeluk istrinya dengan penuh suka cita. Sambil meminta maaf, Kenan menggendong tubuh itu dengan ringannya membawanya ke kamar mandi.


"Apa yang ingin kamu lakukan Kenan?"


"Ingin mengunjungi bayiku."


"Kenapa harus di kamar mandi?"


"Aku ingin di mandikan oleh ibu dari calon bayiku."


"Astaga! Kamu ini ada-ada saja Kenan."


Ucap Kiran sambil merotasi mata malas.


Semenjak mereka menikah, Kiran kerapkali memperlakukan suaminya sama seperti baby Dilan. Mulai dari memandikan dan memakaikan dalaman, baju dan menyuapkan Kenan saat pria ini sedang ingin di manjakan istrinya.


Kiran yang sudah rapi sejak pagi harus mandi lagi karena keinginan suaminya. Saat menaburkan sampo di rambut Kenan, pria tampan itu sudah memeluk pinggang sang istri dan terus saja mengecup perut itu tanpa henti.


Bukan hanya itu saja, tangannya tidak berhenti berselancar di bagian tersempit yang menjadi tempat kesukaannya hingga Kiran seketika melenguh.


"Akkkkkkk! Kenan ....!" Bibir Kiran tak mampu lagi berkata hanya mendesis dan mende**ah merasakan kenikmatan yang sudah mengaliri tegangan yang mendesak bagian terdalamnya untuk mengeluarkan cairan kenikmatan itu.


"Ini seperti mimpi bagiku sayang. Aku akan memiliki anak sendiri dan itu suatu kebahagiaan yang tidak terbantahkan. Aku sangat mencintaimu Kiran. Aku tidak mengira akan secepat ini mendapatkan keturunan dari wanita yang sangat aku cintai."

__ADS_1


Ucap Kenan dengan terus memuji istrinya.


"Aku berjanji akan merawat kalian bertiga dan aku harap kalian tidak saling cemburu satu sama lain."


Jelas Kiran membuat Kenan tersenyum lebar.


"Kamu sedang mengingatkan kami karena takut kami akan saling merebutkan mu, hmm?"


Kenan membalikkan tubuhnya Kiran membelakanginya. Dorongan yang cukup keras dengan hantaman lembut memacu setiap hentakan dengan kecepatan tinggi membuat Kiran harus menopang tangannya pada wastafel sambil menatap tubuh polos mereka.


"Lihatlah sayang! Kamu terlihat sangat cantik dan menggairahkan. Aku seakan dibuat gila olehmu dan sulit konsentrasi bekerja."


Ucap Kenan lalu lebih dalam memacu tubuhnya karena sesuatu yang akan meledak ingin memuntahkan lahar di dalam rahimnya.


Bersamaan dengan pencapaian mereka, tubuh keduanya seketika lemas dan langsung membersihkan tubuh mereka untuk sarapan pagi bersama.


...----------------...


Hari itu kebetulan Kenan tidak mau berangkat ke perusahaan hanya untuk membahagiakan istrinya.


Kenan mengajak Kiran dan putra sambungnya ke pusat perbelanjaan di mana banyak sekali yang ingin mereka beli termasuk baju bayi untuk baby Dilan yang sudah mencapai tujuh bulan lebih.


Puas belanja baju untuk bayinya, Kiran beralih ke tempat tas wanita. Tanpa sengaja Kiran harus berpapasan dengan mantan sekertarisnya Pasya yaitu Lita.


Wanita ini menautkan kedua alisnya melihat baby Dilan dalam gendongan Kiran.


"Hai! Kebetulan sekali kita bertemu lagi Kiran."


Sapa Lita dengan tidak mengalihkan perhatiannya pada Baby Dilan yang sangat mirip dengan Pasya.


Kiran terlihat tenang namun juga kuatir dengan mulutnya Lita yang akan menceritakan putranya pada pada Pasya. Ia pura-pura mengabaikan Lita berjalan' ke tempat lainnya.


"Sayang!"


"Oh iya sayang! Tolong gendong putramu sebentar!"


Kiran sengaja mengencangkan suaranya agar Lita mendengar pembicaraan mereka.


"Astaga! Apakah dia sudah menikah lagi? Secepat itukah? siapa pria tampan itu? Sial! Ia selalu mendapatkan pria tampan dan kaya raya padahal hidupnya sudah bergelimang harta.


Dan anak itu, apakah itu adalah putra dari suaminya? tapi mengapa wajah bayi itu mirip dengan wajah Pasya?"


Lita seakan membenturkan jawabannya sendiri di dalam isi kepalanya antara ragu dan yakin bahwa bayi yang gendong Kiran tadi adalah bayinya Pasya.


Wanita licik ini menyeringai seperti iblis karena akan mendapatkan keuntungan jika ia memberitahu Pasya kalau putranya masih hidup.


Sementara itu, Kiran mengajak Kenan cepat pulang karena rahasianya sebentar lagi akan terbongkar.


"Sayang! Kenapa kita harus cepat pulang. Kita saja belum makan apapun." Sergah Kenan.


"Kenan! Baby Dilan berada dalam masalah besar."


"Apa maksudmu?"


"Gadis yang tadi berada dekat aku, dia adalah mantan sekertarisnya Pasya."


"Jadi maksudmu gadis itu akan mengadukan baby Dilan pada Pasya?"


"Tentu saja. Dia tidak akan melepaskan kesempatan ini begitu saja, kalau ingin mendapatkan lagi kepercayaan ayahnya baby Dilan."


"Kamu berpikir kalau dengan dia mengadu pada Pasya, dia akan di terima lagi di perusahaannya Pasya?"

__ADS_1


"Yap!"


"Sayang, aku mohon tenangkan pikiranmu dan jangan mudah panik. Saat ini kamu sedang hamil dan itu tidak baik dengan kondisimu saat ini."


Ujar Kenan menenangkan istrinya.


"Bagaimana aku bisa tenang kalau tiba-tiba saja, aku dituntut oleh Pasya karena sudah menyembunyikan fakta putranya yang sampai saat ini masih hidup."


"Dia tidak akan menuntut mu, Kiran walaupun mantan sekertarisnya itu memberitahunya."


"Kenapa kamu bicara begitu? seakan tidak punya beban sama sekali."


"Apakah kamu tidak percaya kepadaku?"


Kiran tercenung sesaat. Rasanya ia belum bisa bernafas lega kalau putranya akan terbebas dari incaran mantan suaminya.


Kenan menggenggam tangan istrinya lalu dikecupnya lembut.


"Kiran!"


"Hmm!"


"Aku harap apa yang akan aku katakan ini, tidak akan membuatmu syok."


"Apa yang ingin kamu katakan Kenan. Apakah ada sesuatu yang kamu sedang sembunyikan dariku?"


"Iya sayang. Sudah lama aku ingin menceritakan kepadamu, tapi aku begitu takut kamu akan menuduh aku yang tidak...tidak."


"Apakah ini ada hubungannya dengan Pasya...?" Tebak Kiran.


"Iya sayang!"


"Apa yang terjadi dengannya..?"


"Dia sedang mendekam di penjara."


Degggg...


"Kenan aku merasa kamu sudah salah menghukum Pasya karena bukan dia biang korupsinya."


"Kalau bukan dia lalu siapa?


"Dia itu adalah sekertarisnya Pasya, nona Lita. Kamu harus melaporkan dia ke polisi agar semua keuangan yang berhubungan dengan bank segera di blokir."'


"Bagaimana kamu tahu kalau dia itu pengkhianat?"


"Karena dia yang mengurus keluar masuknya uang perusahaan. Dia lebih tahu keuntungan perusahaan di bandingkan dengan Pasya."


"Jadi maksud kamu, sekertaris Lita yang sudah membuat laporan keuangan fiktif untuk mengelabui Pasya ?"'


"Betul sekali Kenan. Sejak aku bekerja di situ ia tidak pernah mau aku menyentuh barang-barangnya Pasya. Karena dia yang mengatur semuanya."


"Jadi diam-diam kamu menyelidiki Lita?"


"Iya sayang! Dia begitu takut aku mempengaruhi Pasya untuk mencoba mencari tahu pembukuan keuangan perusahaan untuk diperiksa oleh Pasya."


"Apakah dia punya komplotan?"


"Mungkin saja, orang seperti Lita tidak mungkin bekerja sendiri. Pasti ada orang yang mengajari dia bagaimana caranya untuk mengambil setiap keuntungan perusahaan secara perlahan tanpa di curigai oleh Pasya."


"Wah! Analisis tepat sekali sayang, rupanya kamu sengaja kerja di perusahaan Pasya ingin menyelidiki sekertaris Lita?"

__ADS_1


"Tepat sekali Kenan."


__ADS_2