CINTA Kandas Di Tengah Perjodohan

CINTA Kandas Di Tengah Perjodohan
23. Curiga


__ADS_3

Kenan merasa bahagia saat gadis itu meminta sendiri buah kesukaannya yang saat ini sedang di incar nya.


"Apakah kamu bisa mengirimkan buah itu untukku?"


Tanya Kiran sedikit mendesak.


"Buah rambutannya sangat banyak disini. Nanti aku akan memetik sendiri untukmu."


"Apakah bisa cepat sampai hari ini?"


"Apakah sebegitu butuh kah kamu akan buah itu, Kiran?"


"Aku bahkan tidak tenang kalau belum makan buah itu."


"Baiklah. Kamu tunggu saja dan jangan ke manapun untuk mencari buah itu lagi karena aku yang akan membawa buah rambutan itu ke Jakarta."


Deggggg....


"Tapi aku tidak....!"


Kenan memutuskan sambungan telepon itu sepihak.


"Astaga! Kenapa harus dua yang mengantar sendiri buah itu padaku? Bisa-bisa keduanya bertengkar bahkan berkelahi kalau bertemu. Ah, bikin pusing saja."


Kiran membenamkan wajahnya di bantal. Ia sudah tidak peduli dengan semuanya untuk menjaga janinnya tetap aman didalam sana dengan tidak memikirkan hal yang berat.


Kenan memetik sendiri buah rambutan dengan menggunakan baju pengaman dan kaus tangan plastik agar tidak di sengat oleh semut.


Ketiga anak buahnya Kenan terlihat heran saat bos mereka memetik sendiri buah rambutan yang sedari dulu tidak pernah ia lakukan saat panen buah berambut itu.


"Sejak kapan tuan kita senang dengan buah rambutan?" Tanya Hendra.


"Ada apa dengan si bos?" Tanya Izzat.


"Tidak usah mangap begitu!"


Ujar Agam menepuk punggung keduanya sedikit kencang.


"Bos! Kenapa tidak meminta kami saja untuk memetik buah rambutan?" Tanya Agam.


"Tidak apa. Buah ini adalah kesukaan Kiran. Gara-gara buah ini kami jadi berkenalan."


Ucap Kenan yang sudah turun dari pohon rambutan.


Ketiganya saling bertatapan dan merasa prihatin pada keadaan tuan mereka yang belum bisa move on dari gadis itu.


"Bos. Nona Kiran sudah tidak ada di sini dan dia sudah menjadi milik orang lain. Kenapa masih mengenangnya dengan memetik buah rambutan sebanyak ini?"


Keluh Izzat sedih.


"Saat ini Kiran sedang hamil dan dia sedang ngidam. Barusan dia menghubungi aku meminta rambutan karena tidak musim rambutan saat ini. Dan aku sangat senang saat ia meminta buah rambutan padaku."


Ucap Kenan terlihat berbinar.


"Apaaa...?" Teriak ketiganya serentak.

__ADS_1


Lagi-lagi ketiganya saling bergantian pandangan.


"Aku sendiri yang akan mengantar buah ini dengan pesawat karena ia sudah tidak sabar menunggu makan buah rambutan ini."


"Tapi, biasanya orang ngidam itu maunya selangit tapi yang dimakan cuma sedikit, tapi mengapa tuan memetiknya sebakul?"


"Dia bisa membagikannya kepada pelayannya kalau dia hanya memakannya hanya sedikit.


Dengan begitu bayinya tumbuh menjadi orang yang sangat dermawan di kemudian hari seperti ibunya yang selalu berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan."


Ucap Kenan yang mengenang kebaikan Kiran selama berada di kampungnya.


Ketiga anak buahnya sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk mengingatkan Kenan agar tidak terlalu masuk ke dalam kehidupan rumah tangga Kiran yang saat ini sudah bahagia.


Mereka hanya bisa membersihkan buah rambutan dari semut yang masih menempel di buah itu dengan obat pembasmi serangga lalu di bersihkan lagi dengan air dan di tiriskan sebelum di masukkan ke dalam peti kemas khusus untuk buah.


Hari itu juga Kenan langsung membawa buah itu ke Jakarta dengan menumpangi pesawat cepat.


...----------------...


Di Jakarta, Pasya sedang melakukan perjalanan bisnis ke Singapura dengan menumpangi pesawat jet pribadinya. Suami dari Kiran ini tidak bisa membawa serta istrinya karena sedang hamil muda.


Tapi ia tetap di dampingi oleh sekretaris Lita yang setia melayani kebutuhan bosnya selama dalam perjalanan.


Di hotel mewah yang ada di Singapura, Pasya melakukan meeting bersama para relasinya yang ada di negara tersebut.


Sementara ponsel milik Pasya tertinggal di kamarnya. Kiran yang sedang merindukan suaminya menghubungi Pasya namun yang mengangkat adalah sekertarisnya Lita.


Dreetttt....


Dengan wajah sinis ia menerima panggilan dari istri bosnya.


"Hallo sayang!"


"Maaf nona muda! Tuan Pasya sedang ada meeting. Anda bisa menghubunginya lagi setelah satu jam kemudian."


Ucap Kita dengan suara datarnya.


"Kau ini seperti lintah yang selalu menempel di tubuh suamiku seakan kau ini istrinya."


Umpat Kiran dengan kata-kata menohok.


"Maaf nona Kiran, itu sudah tugas saya untuk memastikan kebutuhan tuan selalu ada saat beliau membutuhkan."


"Termasuk melayani kebutuhan syahwatnya? Sergah Kiran spontan.


Degggg....


"Kalau itu dibutuhkan."


Balas Lita tak kalah menohok.


"Kau...!"


Lita mematikan ponsel itu membuat Kiran uring-uringan di sebrang sana.

__ADS_1


"Wanita sialan? apakah saat ini dia sudah berubah menjadi wanita pelakor?"


Maki Kiran menahan gemuruh didadanya.


Tok...tok...


"Siapa lagi yang menganggu ku?"


Kiran melempar ponselnya ke kasur lalu menghampiri pintu kamar itu.


"Ada apa?"


"Maaf non! Ada tamunya nona Kiran."


"Siapa..?"


"Dia tidak mau menyebutkan namanya. Tapi dia bilang kalau dia sedang mengantar pesanan buah rambutan yang non....?"


"Kenan...!" Batin Kiran dengan jantung berdebar.


Ia berjalan setengah berlari menemui sang kekasih yang sempat ia abaikan untuk menjaga keutuhan rumah tangganya. Namun kecemburuannya pada sekertaris suaminya membuatnya tidak peduli lagi dengan norma agama dan nekat menemui sang pria masa lalunya.


Kenan yang masih duduk di teras dengan membawa satu peti rambutan, anggur hijau dan apel merah untuk Kiran yang saat ini sedang hamil muda.


"Kenan!"


Sapa Kiran lirih.


"Kiran!"


Kenan langsung bangkit berdiri menyambut Kiran. Ingin rasanya ia memeluk gadis impiannya itu namun ia cukup tahu diri sedang berada di rumah suaminya Kiran.


Kiran melihat tiga peti yang berisi buah." Kamu membuktikan sendiri ucapanmu untuk mengantarkan buah kesukaanku secara langsung."


"Aku tidak ingin membuatmu lama menunggu buah yang saat ini kamu ngidam." Ujar Kenan.


"Terimakasih Kenan atas usahamu menyenangkan hatiku. Apakah aku boleh memakannya sekarang?"


Tanya Kiran yang sudah tidak sabar ingin menyicipi buah kesukaannya.


"Boleh sayang! Buahnya sudah dibersihkan dari semut yang selalu menempel pada permukaan kulitnya."


Kenan membuka papan dari peti kemas itu untuk mengambil buah rambutan untuk Kiran yang sudah tidak sabar menyicipinya.


Kenan sendiri yang mengupas kulit rambutan lalu memberikan buah itu ke tangan Kiran yang menyambutnya dengan berbinar.


"Apakah manis?"


Tanya Kenan begitu bahagia bisa memastikan Kiran memakan buah rambutan yang sudah ia petik sendiri untuk ibu hamil itu.


"Sangat manis bahkan lebih manis dari buah rambutan yang pernah saya makan di Jakarta."


Ucap Kiran terlihat menikmati tekstur buah rambutan itu.


Sesaat gadis ini melupakan kekesalannya pada sekertaris suaminya yang begitu mendominasi Pasya.

__ADS_1


__ADS_2