
Wajah Kiran langsung murung mendengar ayah dari putranya harus mendekam di penjara.
Kiran tahu betul kalau Pasya tidak mungkin melakukan korupsi atau penipuan karena ia sendiri hanya ditugaskan memimpin perusahaan yang dikiranya itu adalah milik ayahnya yang otomatis adalah miliknya.
"Kenan....!"
"Iya sayang..!"
"Apakah kamu sudah mengetahui apa kesalahannya Pasya..?"
"Mengapa kamu menanyakan hal itu sayang..?"
"Dia tidak bersalah. Dia hanya korban. Aku sangat mengenalnya. Dia lelaki yang baik. Hanya saja kurang perhitungan dan kurang jeli memilah masalah."
"Apakah kamu sedang membelanya?"
"Tidak..! Itulah faktanya. Dia tidak melakukan kesalahan seperti yang kamu tuduhkan. Tolong ditelusuri lagi kasusnya. Jika ia menggelontorkan dana perusahaan, itu juga demi aku. Tolong pikirkan lagi demi Dilan!"
Pinta Kiran lirih.
"Ini bukan wewenang ku untuk membebaskan dia dari penjara. Semua bukti mengarah padanya. Itu sudah keputusan pengadilan dari penyelidikan yang sudah dilakukan oleh pihak kepolisian."
"Tapi kamu pemilik tunggal perusahaan yang dipimpinnya saat itu. Dia tidak bersalah, tolong bebaskan dia bagaimanapun caranya. Aku tidak mau putraku mengetahui jika ayahnya seorang kriminal." Bantah Kiran.
"Tapi Kiran! Jika kamu meminta aku untuk membebaskannya, apakah kamu sudah siap dengan segala resikonya...?"
"Resiko apa..?"
"Dia akan mengambil baby Dilan darimu dan menuntut mu atas penipuan terhadapnya tentang Dilan."
'Itu tidak akan terjadi. Aku ibu dari putranya, dia tidak setega itu padaku."
"Tidak tega padamu...? Apakah kamu lupa saat dia berlaku kasar kepadamu..? Apakah itu yang kamu katakan kebaikan? Mendorong istri yang sedang hamil tujuh bulan hingga pendarahan dan mengabaikan istrinya yang sedang berjuang melahirkan putranya tanpa mau tahu hasil akhirnya, apakah itu di namakan lelaki baik, hahh?" Tukas Kenan makin meradang.
"Kenan! Kenapa kamu jadi sewot seperti ini sih? Aku memintamu demi kebaikan Dilan bukan karena ingin membangkitkan lagi luka masa lalu.
Aku tahu perbuatannya itu sangat keterlaluan, tapi menjebloskannya ke dalam penjara dengan kasus yang tidak terbukti kejahatannya itu juga suatu yang salah."
"Baik. Kalau memang ini kemauan kamu atas nama baby Dilan, aku akan membebaskannya. Tapi jika suatu saat nanti dia ingin mengambil Dilan darimu jangan pernah meminta bantuan ku."
Deggg...
"Apakah kamu sedang mengancam aku..?"
"Tidak..! Hanya mengingatkanmu. Jika ingin membebaskan singa yang terluka karena iba, maka bersiaplah saat dia sehat dia akan menyerang mu hingga kamu menyesal telah membebaskannya." Imbuh Kenan.
Kenan keluar dari kamarnya dengan dada yang terasa begitu sesak karena istrinya masih memikirkan mantan suaminya.
"Astaga! Apakah aku salah meminta dia untuk anakku Dilan kalau dia memang peduli." Keluh Kiran Lirih.
__ADS_1
Sementara itu, mantan sekertarisnya Pasya yaitu Lita mendatangi rutan di mana saat ini Pasya mendekam. Walaupun Pasya sangat membencinya, tapi ia tetap memperlihatkan pengabdiannya pada lelaki ini.
"Apa yang kamu inginkan hingga mau mengunjungi aku di tempat seperti ini?"
Tanya Pasya dengan wajah yang tak bersahabat.
"Aku tidak akan mengunjungimu kalau berita ini tidak penting untukmu." Ujar Lita terlihat serius.
"Sampaikan apapun yang kamu inginkan, setelah itu pergilah karena waktuku untuk mendengarkan omong kosong darimu tidak banyak."
Ketus Pasya .
"Terimakasih kamu masih mau mendengarkan aku, Pasya ."
Balas Lita dengan senyum tulusnya.
Pasya sama sekali tidak ingin menatap wajah cantik Lita yang tetap sabar menghadapi sikap arogansi Pasya padanya.
"Pasya! Putramu dari Kiran ternyata masih hidup."
Deggg...
Wajah Pasya yang sedari tadi melengos kini perlahan melihat ke arah Lita.
"Apakah kamu sedang menipuku, hah..?"
"Apakah hal sepenting ini kamu pikir aku becanda? Kalau bukan karena putramu, aku juga tidak sudi mau menginjak neraka ini."
"Bagaimana bisa kamu tahu kabar ini? Apakah kamu sedang menyebarkan mata-mata untuk mendapatkan informasi bodoh ini?"
"Untuk apa menghabiskan uangku dengan hal yang tidak berguna. Aku justru melihat sendiri putramu dalam gendongan Kiran.
Wajah bayi itu sangat tampan dan persis seperti wajahmu. Seakan dia jelmaan Pasya kecil. Baby yang sangat manis."
Ucap Lita bagaimana dia bisa berpapasan dengan Kiran di toko tas.
"Apakah kamu bisa membuktikan ucapanmu?"
"Dengan senang hati Pasya. Tapi mantan istrimu itu sudah melepaskan status jandanya. Kini ia sudah menikah lagi dengan seorang lelaki tampan dan kelihatannya, pria itu sangat tajir.
Lita makin memprovokasi Pasya untuk membenci mantan istrinya itu.
"Itu urusannya. Aku tidak punya hubungan apa-apa lagi dengannya. Jika memang benar-benar putraku masih hidup, hubungan kami hanya sebatas untuk putra kami, tidak lebih.
Dia berhak bahagia dengan lelaki yang ia cintai yang mampu memberikan perlindungan yang membuatnya nyaman tidak seperti diriku."
Ucapan Pasya tidak seperti harapan Lita.
"Sial...! Aku kira dia akan membenci perempuan itu, malah mengharapkan kebahagiaan untuk gadis itu. Kenapa Kiran selalu saja beruntung."
__ADS_1
Gerutu Lita.
"Aku ingin kamu bisa dapatkan foto bayiku. Jika perkataanmu itu benar adanya, aku akan memberikanmu sejumlah uang yang besar."
Ucap Pasya membuat Lita mengepalkan kedua tangannya dengan air mata yang sudah tercekat di tenggorokannya.
"Aku tidak mengharapkan uangmu bodoh! Yang aku inginkan adalah cintamu dan suatu hari nanti kamu akan menikahi ku jika aku bisa mendapatkan hak asuh untuk anakmu"
Batin Lita sambil menekan perasaan kecewanya.
Tidak lama kemudian datang sipir penjara untuk memanggil Pasya kembali lagi ke lapasnya.
Ketika Pasya dibawa masuk oleh sipir lapas, Lita baru bisa melepaskan bulir beningnya yang sejak tadi terbendung.
Gadis ini pulang dengan perasaan hampa. Awalnya ia sangat senang bisa memberi tahukan kabar putra mantan bosnya itu dengan harapan mendapatkan empati Pasya, tapi pria itu sama sekali tidak ingin membalas perjuangannya dengan cinta tapi dengan uang.
Sementara di mansion milik Kenan, suami dari Kiran ini nampaknya masih marah dengan istrinya. Ia memilih tidur di kamar lain.
"Kenapa semua lelaki begitu egois saat harga diri mereka terluka? Apakah dia tidak tahu perbuatannya akan mendatangkan gosip para pelayan." Batin Kiran.
Sudah beberapa malam ini, Kiran dibiarkan tidur sendiri dengan putranya baby Dilan bahkan Kenan sekarang sudah mulai pulang larut malam dan tidak lagi mau bermain dengan baby Dilan.
Sikap Kenan ini mulai membuat Kiran sudah tidak sabar menghadapi rasa cemburu suaminya. Ia ingin memberi pelajaran untuk Kenan.
Keesokan harinya Kiran memutuskan untuk menginap di rumah orangtuanya. Kiran membawa mobil sendiri dalam keadaan hamil. Ia membawa serta putranya Dylan menginap.
Kenan yang tidak mengetahui kepergian istrinya dari rumahnya tetap dengan sikap cueknya. Para pelayan pun enggan untuk memberi tahukan kepergian Kiran yang membawa koper besar menuju Jakarta.
Baru saja ia merebahkan tubuhnya, tiba-tiba ada telepon masuk. Kenan dengan malasnya mengambil ponselnya lalu menerima sambungan dari si penelpon tanpa nama.
"Hallo selamat malam! Apakah saya bisa bicara dengan Tuan Kenan?"
"Iya ini saya sendiri."
"Kami dari kepolisian ingin menyampaikan bahwa istri dan putra anda sekarang berada di rumah sakit."
Deggggg...
"Istri yang mana pak...? Istri saya baik-baik saja di rumah dan sedang tidur di kamar bersama putranya, anda sedang menipu saya, hah..?"
Bentak Kenan lalu mematikan ponselnya secara sepihak tanpa mendengar penjelasan polisi.
Walaupun begitu ia merasa penasaran dan ingin memastikan sendiri dan kalau polisi itu berbohong dengan mendatangi kamar istrinya.
Kenan memutar knop pintu kamar itu secara perlahan karena takut membangun keduanya. Saat ia membuka pintu itu lebih lebar, ia melihat tempat tidur itu dalam keadaan rapi. Jantungnya seketika berdegup kencang. Perasaannya mulai cemas.
Kenan segera turun ke lantai bawah sambil memanggil pelayannya. Para pelayan itu berbaris dengan wajah setengah mengantuk.
"Di mana istriku? Ke mana dia pergi, hah?" Tanya Kenan dengan bentakan yang menggelegar.
__ADS_1
"Nona Kiran membawa baby Dilan dan juga koper besar, tapi kami tidak tahu nona Kiran pergi ke mana." Ujar Kepala pelayan Dita.
Deggggg...