
Sejak mengetahui istrinya ditaksir oleh tuan Rio, Pasya mulai mengurangi kegiatan istrinya di luar perusahaan kecuali dengan dirinya.
Teman-temannya Kiran menjadi segan untuk mengajak Kiran ke kedai makanan langganan mereka setiap kali makan siang kecuali di kantin perusahaan.
Sekarang Kiran lebih banyak makan siang dengan sang suami. Kiran memaklumi sikap posesif Pasya karena Rio begitu mengagumi Kiran sedemikian rupa membuat sang suami menjadi trauma untuk membiarkan istrinya jalan sendiri.
"Tolong jangan jauh-jauh dengan diriku sayang atau mata mereka akan aku congkel."
"Kamu malah membuatku jadi takut Pasya dengan sikap posesif mu itu."
"Apakah kamu ingin berapa banyak laki-laki yang mengagumi istriku sendiri di hadapanku?"
"Yang penting aku tidak merespon bentuk perhatian mereka padaku Pasya."
Ucap Pasya setengah mengancam laki-laki lain yang berani menatap istrinya dengan intens.
"Aku senang sekali dengan perhatianmu seperti itu sayang, tapi aku juga ingin kamu memberi ku sedikit waktu untuk bisa bercengkrama dengan teman-temanku."
"Apakah aku tidak cukup untukmu? apakah kamu masih butuh yang lainnya untuk menghiburmu?"
"Bukan begitu sayang! Justru dengan aku dekat dengan orang-orang kalangan bawah aku lebih banyak bersyukur kepada Allah karena memberikan aku banyak ujian dengan segala kemudahan yang aku dapatkan termasuk mendapatkan suami yang kaya, tampan dan sangat perhatian."
Ucap Kiran membuat Pasya tersipu.
"Kamu pintar sekali memujiku bahkan pintar merayuku, sayang. Kamu tahu tidak sayang, rasanya aku ingin melahapmu seperti makanan ini."
Ucap Pasya saat makan siang mereka sudah tersaji.
Pasya menyiapkan memotong stik daging untuk sang istri agar Kiran mudah memakannya. Setiap hari Pasya ingin istrinya lebih banyak mengkonsumsi daging supaya cepat hamil.
"Aku bisa gemuk kalau setiap hari aku makan daging, Pasya." Protes Kiran kesal.
"Saya tidak meminta kamu untuk menjaga tubuhmu tetap ramping. Saya justru ingin kamu gendut supaya tidak ada lagi yang melirik dirimu."
"Apakah dengan begitu kamu bisa selingkuh? saat tubuhku sudah melar dan aku terlihat seperti wanita yang sangat menyedihkan."
Ucap Kiran kesal.
"Jangan berprasangka buruk seperti itu sayang! Jangan mengundang wanita lain di tengah obrolan kita."
Ujar Pasya memenangkan istrinya.
"Siapa yang mulai duluan. Dalam sebulan ini pikiranmu penuh dengan hal-hal bodoh hanya dengan satu pujian temanmu itu.
Sampai saat ini kamu tidak berhenti melarang aku begini dan begitu. Sementara dirimu sendiri selalu memperlakukan sekretaris mu melebihi tugasku sebagai istrimu."
Ucap Kiran lalu bangkit meninggalkan mejanya sementara makanannya belum dihabiskan.
Pasya menepuk jidatnya karena sudah salah bicara pada istrinya. Ia segera membayar tagihannya lalu menyusul sang istri yang sudah berdiri di depan mobil mereka sambil memainkan ponselnya.
__ADS_1
Wajah Kiran terlihat marah besar saat suaminya tidak ingin dirinya cantik karena begitu posesif dengan dirinya.
Pasya membuka pintu mobil untuk Kiran. Gadis itu langsung masuk dan duduk dengan wajah cemberut.
"Sayang, aku minta maaf karena sudah membuatmu kesal. Aku tidak bermaksud merendahkan mu. Mungkin rasa cemburuku membuat aku jadi meracau." Ucap Pasya.
"Sekarang aku mau pulang dan mulai besok aku tidak akan lagi bekerja. Aku mau menghabiskan waktu ku di rumah saja hingga aku bisa hamil."
Ucap Kiran membuat Pasya terbelalak.
"Apaaa ....? Apakah aku tidak salah dengar kalau kamu ingin tinggal di rumah saja?"
"No komen!"
Kiran merenggangkan jok mobilnya dan memilih memejamkan matanya agar tidak berdebat lagi dengan suaminya.
Pasya menjalankan mobilnya untuk mengantar Kiran pulang. Melihat sikap Kiran yang akhir-akhir ini mudah baper walaupun hanya diajak becanda sedikit saja.
Setibanya di mansion, Kiran berjalan cepat menuju anak tangga tanpa memperhatikan setiap tingkatannya membuat Pasya harus menjaga keseimbangan langkah gadis ini.
Jika salah perhitungan sedikit saja, Kiran pasti terpeleset dan jatuh.
"Sayang! Aku hanya becanda bukan menghinamu? Lagi pula kenapa kamu sampai membawa Lita. Apakah teman-temanmu yang mempengaruhi dirimu tentang dia?"
"Jangan libatkan teman-temanku dalam perdebatan kita." Sergah Kiran.
"Aku hanya tidak suka saja padanya. Lebih baik pecat dia atau pindahkan dia ke bagian lain. Ia seperti bayanganmu jika kamu sudah berada di perusahaan."
Teriak Kiran menjadi-jadi.
"Kirannn cukup! Kenapa kamu tiba-tiba jadi aneh seperti ini, hmm?"
"Keluarkan dia dari perusahaan atau aku yang akan pergi dari hidupmu!" Ancam Kiran.
Pasya menggaruk kepalanya yang tak gatal dengan kasar. Ia akhirnya meninggalkan kamarnya.
Jika bertahan di kamar itu emosinya lama-lama akan meledak dan itu tidak baik untuk Kiran yang saat ini sedang menjalankan program hamil.
"Aku tidak mau membuat istriku setress. Apakah sikapku tadi terlalu berlebihan hingga membuat ia sangat marah saat ini?"
Batin Pasya dan memutuskan untuk kembali ke perusahaannya dan membiarkan Kiran beristirahat dan memulihkan lagi pikirannya.
Mendengar suara deruman mobil suaminya sontak membuat Kiran makin geram. Rasa cemburunya yang awalnya membuat ia mulai tenang kembali menghantui.
Ia melempar apa saja yang ada di kamar itu karena tidak ingin suaminya meninggalkan dirinya saat ia masih dalam keadaan marah.
Kiran kembali memakai blazer miliknya dan mengambil kunci mobil untuk mencari udara segar. Hatinya yang saat makin kacau menuntun dirinya untuk pergi ke suatu tempat.
Ia memilih pantai Ancol untuk sekedar melepaskan beban di hatinya saat ini. Entah kenapa ia sudah merasa muak dengan sikap posesif suaminya.
__ADS_1
Di pantai itu mobilnya berlabuh. Ia duduk sendirian menatap laut dengan angin sepoi menyapu wajahnya. Rasa gundahnya mulai berkurang jika sudah memandang laut.
Kiran tidak menyadari bahwa ada seseorang yang sedang memperhatikan wajah cantiknya yang sudah lama tak pernah dilihatnya.
"Kiran!"
Gumam pria tampan itu ingin menghampiri Kiran yang tampak terlihat sedih bahkan wajah itu terlihat sembab habis menangis.
"Ada apa denganmu Kiran?"
Batin pria tampan itu yang tidak suka melihat gadis pujaannya itu saat ini bersedih.
Pasya yang baru pulang dari perusahaan sedang menapaki anak tangga dengan perlahan. Ia mengira saat ini istrinya masih tidur saat ia tinggalkan. Pasya membuka pintu kamarnya secara perlahan. Betapa kagetnya ia saat melihat kamarnya sangat berantakan dengan seprei yang awut-awutan.
"Rupanya tadi habis perang dunia ketiga."
Gumamnya sambil memanggil nama Kiran.
"Sayang!! Apakah kamu di dalam kamar mandi?"
Pasya menggedor pintu kamar mandi itu beberapa kali dan tidak ada jawaban. Ia membuka pintu kamar mandi itu dan tidak ditemukan Kiran.
Dadanya kembali bergemuruh melihat Kiran tidak ditemukan diruang manapun. Ia keluar memanggil pelayan untuk menanyakan ke mana istrinya pergi.
"Bibi!"
"Iya Tuan!"
"Ke mana istriku pergi?"
"Tidak tahu Tuan."
"Nona pergi membawa mobil sendiri dan tidak meninggalkan pesan apapun pada kami." Ujar bibi Lulut.
Dreeett
Pasya mengangkat ponsel itu yang ia kira dari Kiran dan ternyata...
"Selamat sore Tuan!"
"Sore!"
"Apakah benar ini dengan tuan Pasya ?"
"Saya sendiri pak!"
"Maaf kami dari kepolisian ingin memberitahukan kalau mobil yang di bawa istri anda mengalami kecelakaan."
Deggggg...
__ADS_1