
Kenan adalah seorang Milioner yang memiliki warisan yang sangat banyak dari kedua orangtuanya.
Kenan adalah putra satu-satunya dari keluarga Ghifari yang selamat dari kecelakaan pesawat yang jatuh di benua Eropa ketika melakukan perjalanan liburan saat usianya lima belas tahun.
Rasa trauma mendalam membuat ia sulit bangkit dari kesedihannya hingga sopir pribadi orangtuanya membawanya ke kampung agar suasana desa bisa menghibur dan memenangkan hati sang Milioner ini.
Rupanya suasana desa membetuk karakter seorang Kenan hingga ia betah dan ingin melakukan sesuatu untuk desa itu.
Dengan kekayaannya, ia bisa membeli puluhan hektar tanah di wilayah itu dengan harga yang sangat tinggi.
Ia mulai menanam buah, sayur, sawah dan juga tanaman lainnya berupa kacang-kacangan menjadi nilai ekspor komoditi yang berkualitas.
Tidak sampai di situ, Kenan juga mengerahkan para ahli pertanian untuk meneliti berbagai buah-buahan yang ada di luar negeri namun tidak bisa di tanam di media tanah Indonesia.
Ia memanfaatkan hutan untuk membuka lahan sebagai tempat untuk melakukan penelitian dan mengadakan uji coba pada setiap tanaman buah-buahan yang sulit tumbuh di Indonesia, akhirnya bisa tumbuh subur dengan hasil kualitas buah yang sangat unggul.
Kecintaannya pada tanaman membuatnya menjadi betah tinggal di desa dan mengabaikan semua perusahaan milik kedua orangtuanya yang masih dipimpin oleh asisten pribadi ayah dan ibunya menjadi CEO di perusahaan itu, dengan perjanjian jika ia kembali, semua asisten itu kembali ke profesi mereka semula.
Salah satu perusahan itu yang sekarang ini di pegang oleh Pasya yang ayahnya merupakan asisten pribadinya tuan Ghifari.
Entah mengapa lelaki paruh baya itu malah seenaknya menyerahkan tampuk kekuasaan itu pada putranya Pasya.
Karena permasalahan rumah tangga Kiran yang membuatnya, ingin mendapatkan kembali sang wanitanya,
memaksanya untuk kembali lagi ke kediamannya di Bogor walaupun ia juga memiliki rumah di Jakarta tapi Kenan belum berani kembali ke rumah utama di mana mendiang kedua orangtuanya pernah menetap rumah besar itu.
Kenan menceritakan siapa dirinya kepada Kiran membuat Kiran tidak bisa berkata apa-apa.
"Astaga! Ini sangat memalukan jika ayahku tahu siapa Kenan sebenarnya, ia mungkin sangat menyesal telah meremehkan Kenan selama ini sebagai anak petani.
Kenan yang sudah berusia tiga puluh tahun ini hanya jatuh cinta pada seorang Kiran. Apapun yang ada pada Kiran tidak membuatnya untuk berhenti mencintai gadis ini dengan satu anak.
Kiran mengagumi kebesaran hati Kenan yang begitu tenang dan terlihat kharismatik karena bisa menahan diri untuk tidak mengklaim dirinya hebat hanya ingin mendapatkan dirinya.
Tanpa diketahui Kiran bahwasanya Kenan pernah datang melamar Kiran pada tuan Herland sebelum perjodohan itu ditetapkan oleh tuan Herland.
Ayah kandung dari Kiran ini, menghina Kenan karena Kenan hanya seorang anak petani yang bermimpi untuk menjadi menantunya. Ia tidak ingin Kenan akan memanfaatkan putrinya untuk mengeruk kekayaannya.
Karena ditolak dan hinaan yang ia terima, membuat Kenan tidak berani merebut Kiran dari ayahnya kecuali gadis itu mau menerima lamarannya saat itu. Hanya saja, Kiran terlalu lamban untuk menyatakan perasaannya.
"Kenan!"
"Hmm!"
"Apakah kamu tidak menyesal memilih aku seorang janda dengan satu anak untuk menjadi ..?"
"Apakah aku pernah mengajukan syarat padamu sebagai calon istriku?"
Sambar Kenan untuk menghentikan keraguan Kiran padanya.
"Tapi aku tidak biasa menjaga hatiku untukmu saat sudah menikah dengan Pasya." Ucap Kiran sedih.
"Itu karena kamu seorang istri yang baik yang ingin menjaga dirimu dari kemaksiatan jika kamu nekat untuk berhubungan denganku.
Kamu ingin melupakan semuanya kenangan kita hanya ingin menjadi istri yang baik untuk suamimu, itu yang ku suka darimu, Kiran."
Ucap Kenan lalu menggenggam tangan Kiran lembut.
Kenan mengajak Kiran makan malam agar gadis ini bisa menyusui putranya.
__ADS_1
Sementara di mansion, Pasya begitu geram karena tidak bisa menemukan istrinya di manapun. Ia sudah mendatangi rumah mertuanya namun ia tidak menemukan Kiran di sana.
Keempat temannya Kiran juga mengira Kiran sudah berangkat ke luar negeri sesuai dengan ucapan gadis itu berapa bulan yang lalu. Mereka tidak mengetahui rencana sebenarnya Kiran yang ingin kembali lagi pada sang kekasih.
"Sial! Ke mana Kiran pergi?"
Umpatnya lalu memblokir semua kredit card miliknya Kiran yang ia fasilitasi agar gadis itu kembali lagi ke rumahnya jika tidak memiliki uang.
Pasya lupa kalau Kiran bukan gadis miskin. Gadis ini tetap mendapatkan jatah bulanan dari ayahnya walaupun gadis itu sudah bersuami.
Sudah hampir satu bulan, Kiran belum juga pulang membuat Pasya akhirnya memecat sekertarisnya Lita.
Pagi itu Lita yang sedang berada di atas awan dengan terus berharap agar Pasya akan menikahinya jika Kiran berhasil menggugat cerai suaminya Pasya. Tapi apa yang diharapkan oleh Lita, berbanding terbalik yang akan dilakukan Pasya padanya.
Lita masuk ke ruang kerja Pasya tanpa ijin dari Pasya.
"Selamat pagi tuan Pasya!"
"Pagi!"
"Aku sudah mempersiapkan presentasi untuk anda di meeting siang ini."
Ucap Lita dengan suara yang mendayu-dayu.
"Terimakasih!"
"Apakah ada yang masih tuan butuhkan dari saya?"
Pasya mengangkat wajahnya lalu menatap wajah genit Lita yang sedang tersipu malu padanya.
"Ada!"
"Mulai besok jangan datang lagi ke perusahaan ini!"
Deggg....
"Apa salah saya Tuan?"
"Apakah kamu tidak ingat akan kesalahanmu?"
Lita menggelengkan kepalanya dengan percaya diri. Pasya bangkit dari duduknya lalu mencekik leher Lita.
"Jika bukan karena dirimu, putraku tidak akan tewas dan istriku tidak akan kabur dariku."
"Tapi, itu semua karena kesalahannya tuan Pasya sendiri yang sudah mendorong tubuh nona Kiran, kenapa sekarang malah saya yang disalahkan?"
Lita balas menyerang.
"Jika aku tidak meleraikan kalian, mungkin wajahmu akan habis di cakarnya Lita. Kau tahu sendiri bagaimana kalau Kiran sudah ngamuk, bukan? Nah sekarang, aku minta kau pergi dari kehidupan kami untuk selamanya!"
Titah Pasya yang tidak lagi memikirkan perusahaannya tetapi lebih kepada perasaan istrinya.
"Dia tidak akan pernah memaafkanmu, apa lagi anak kalian juga sudah tiada." Ujar Lita sinis.
"Itu bukan urusanmu, yang jelas aku tidak akan pernah menerimamu lagi untuk berkerja di perusahaan ini apalagi berpikir untuk menikahimu, itu tidak akan pernah terjadi dalam hidupku, jadi jangan terlalu memaksakan dirimu untuk mengejarku.
Benar kata istriku, bahwa ular sepertimu harus di singkirkan lebih awal daripada menjadi salah satu petaka dalam rumah tangga kami dan kata-katanya itu terbukti." Ucap Pasya ketus.
"Baik....! Aaku akan pergi dari hidup kalian, tapi kau akan menyesal melakukan itu kepadaku, tuan Pasya."
__ADS_1
Lita mendengus kesal sambil menghentakkan kakinya keluar dari ruang kerja Pasya.
Wajahnya terlihat memerah sambil merapikan barang-barang miliknya di dalam kardus dan segera meninggalkan ruang kerjanya.
Rena dan teman-temannya tercengang melihat Lita yang melewati meja kerja mereka sambil berpandangan tanpa kata.
Intan hanya menipiskan bibirnya sambil mengangkat kedua bahunya.
"Apa yang terjadi? Apakah si bos baru bisa berpikir jernih saat rumah tangganya benar-benar hancur?" gumam Rena lirih.
"Sepertinya si bos baru menyadari kesalahannya pada nona Kiran setelah semuanya sudah hancur dan sulit untuk merubah pikiran nona Kiran. Semoga nona Kiran sudah bahagia dengan putranya di negara yang ia tuju." Imbuh Heni.
"Rasanya semua jadi hambar perusahaan ini, imbas dari rumah tangga nona Kiran yang sudah karam. Aku tidak yakin dia akan kembali lagi untuk tuan Pasya.
Dasar lelaki bodoh! Melepaskan perempuan sebaik dan selembut nona Kiran. Menyesal belakangan tidak akan berguna."
Ujar Lira terlihat sedih.
Sementara itu Kiran sedang bersemangat untuk merawat si kecil yang sudah makin sehat dengan bobot tubuh yang mulai bertambah.
Kenan yang tidak ingin terlalu dekat dengan ibu sang bayi memilih untuk kembali ke kampung dengan alasan melihat Perkebunannya.
"Apakah kamu tidak ingin menemani kami di sini?" Tanya Kiran saat Kenan sedang berkemas.
"Nanti tiap pekan aku akan menengok kalian, sayang! Banyak pelayan yang akan membantumu."
Ujar Kenan tidak ingin melihat Kiran sedih.
"Tapi Kenan! Apakah kamu sedang menghindari diriku?"
"Kita belum menikah dan aku tidak ingin berbuat khilaf kepadamu Kiran." Ucap Kenan bijak.
"Baiklah kalau begitu, aku akan mengurus perceraian ku dengan Pasya secepatnya agar kita bisa menikah."
Ucap Kiran untuk memberi harapan pada Kenan.
"Anak buahku yang akan mengawasi mu. Jangan takut untuk membela hakmu sebagai manusia yang bebas tanpa ada tekanan dari suamimu."
Ujar Kenan menguatkan hati Kiran.
"Cepat kembali Kenan! Aku sudah terbiasa setiap hari denganmu. Aku tidak kuat merasakan kesepian di sini."
Pinta Kiran yang sudah berkaca-kaca melepaskan kepergian sang kekasih.
"Aku akan secepatnya kembali untuk kalian. Jaga diri kalian!" Ucap Kenan.
Mobil mewah itu mulai bergerak meninggalkan kediaman Kenan. Kiran menahan bulir beningnya agar tidak mudah jatuh di hadapan para pelayan.
Keesokan harinya, Kiran sudah siap dengan berkas perlengkapan dokumen pribadi miliknya untuk siap berangkat ke pengadilan agama untuk mengajukan permohonan gugatan cerai dengan alasan penganiyaan dan perselingkuhan sang suami.
Dengan ditemani oleh seorang pengacara hebat yang direkomendasikan Kenan untuk mendampinginya selama proses perceraiannya, Kiran melangkah percaya diri menggugat cerai suaminya Pasya di kantor pengadilan agama Jakarta Selatan.
Pihak pengadilan sudah menerima gugatan cerai Kiran pada suaminya Pasya. Dalam beberapa hari kemudian, surat panggilan dari pengadilan tiba juga di meja kerja Pasya.
Suami dari Kiran ini membuka surat itu dan membacanya dengan gugup. Apa yang ia kuatirkan akhirnya terjadi juga.
"Astaga! Begitu marah kah Kiran padaku hingga menggugat cerai aku secepat ini?"
Keluh Pasya kecewa.
__ADS_1