
Usai pesta pernikahannya, Pasya mengajak istrinya ke kamar pengantin mereka di hotel mewah yang sudah di siapkan oleh pihak hotel.
Guratan wajah sendu lagi cemberut di wajah Kiran membuat Pasya makin geram. Ia tetap sabar menghadapi wanita yang baru ia nikahi ini.
Di kamar itu, Kiran menanggalkan gaun pengantinnya dan tidak berniat untuk melayani suaminya. Ia hanya ingin membersihkan tubuhnya di kamar mandi dan berinsiatif untuk tidur.
Tapi sayang, saat urusan mandinya telah usai, ia tidak menemukan sama sekali kopernya. Hanya ada lengerie warna moccha yang tergantung di dalam lemari tersebut.
"Astaga! Di mana pakaian ku semua? bukankah aku sudah menyiapkan koper dari rumah dan menitipkan kepada pelayan untuk di bawa ke sini?"
Gerutu Kiran terlihat kesal.
"Ini pasti ulah Pasya."
Ia keluar dari kamar ganti untuk menemui suaminya dengan baju bathtub masih melekat di tubuhnya.
Betapa kagetnya Kiran saat melihat Pasya sudah mencopot semua bajunya dan yang tersisa hanya boxer miliknya.
Tubuh kekar dengan dada bidang serta perut sixpack merupakan idaman setiap wanita bisa memiliki suami seperti Pasya.
Wajah Kiran yang merona merah menahan malu dan diam-diam mengagumi kesempurnaan fisik yang dimiliki suaminya. Namun ia kembali teringat niat awalnya yang ingin melabrak suaminya yang telah menyembunyikan koper miliknya.
"Di mana koperku?"
Tanya Kiran sambil berkacak pinggang.
"Pengantin baru tidak membutuhkan baju karena itu sangat merepotkan aku nantinya."
Sahut Pasya.
Kiran menarik sudut bibirnya dengan senyum remeh menatap sang suami.
"Siapa yang mau bercinta denganmu?" Ucap Kiran sinis.
Seketika pinggang ramping itu direngkuh dengan cepat merapatkan ke tubuh polosnya.
"Aku tidak butuh pendapatmu karena apa yang ada ditubuhmu adalah hakku."
Tubuh Kiran dihempaskan ke atas kasur dan di tindih oleh Pasya. Kedua wajah mereka saling berhadapan. Pasya menatap tajam manik Kiran yang sangat indah itu.
"Kau hanya mendapati tubuhku sebagai sisa sampah yang sudah dinikmati oleh lelaki lain. Aku tidak suci lagi dan jauhi aku sekarang jugaaa!"
Teriak Kiran yang tidak ingin tubuhnya di sentuh oleh suaminya.
Mendengar pengakuan Kiran , membuat Pasya nekat berlaku kasar pada Kiran yang menentang permintaannya. Tali pengikat baju bathtub itu di tarik dengan kasar sehingga memperlihatkan semua aset milik istrinya.
"Sekalipun saat ini kamu sedang hamil anaknya, aku tetap menggaulimu dan menerima anak itu sebagai anakku.
Sekalipun tubuhmu di jamah ratusan lelaki pun kau tetap yang terbaik untukku karena aku mencintaimu tanpa syarat apapun."
Deggggg...
"Dasar lelaki gila!"
Teriak Kiran yang masih tidak terpengaruh dengan ucapan tulus suaminya.
Bibir Kiran di lum*t dengan kasar. Kedua tangannya ditautkan ke atas sambil di tekan dengan kuat.
Kiran tidak bisa lagi menghindar dari serangan bertubi-tubi dari mulut suaminya pada tubuhnya. Permainan awal pemanasan itu mampu membuatnya mabuk merasakan lebih dahsyat servis yang diberikan suaminya padanya berkali-kali lipat lebih nikmat rasanya dibandingkan dengan apa yang Kenan lakukan kepadanya.
Tubuh Kiran terus menggelinjang kala sang suami sudah menyapu tubuhnya dengan lidah sang suami pada aset berharganya.
"Ini rasanya lebih nikmat, tapi aku tidak bisa berteriak. Sial! Ini sangat memalukan." Umpat Kiran dalam hatinya.
Reaksi tubuhnya yang mengeluarkan cairan kenikmatan itu membuat Pasya tersenyum puas mampu menaklukkan kerasnya hati sang istri.
Setelah Kiran di bawa tinggi ke atas awan hingga ia lupa dengan dengan kesetiaan yang terjaga untuk kekasihnya yang ada di nun jauh di sana, Pasya mengakhiri begitu saja permainan itu dengan tidak melakukan penyatuan tubuh mereka membuat Kiran berteriak histeris karena merasa sangat tersiksa.
"Aaaaaskkk! Bajingan kamu Pasya!"
Umpat Kiran sambil meringkuk kan tubuhnya.
"Aku tidak akan menyentuh tubuhmu itu Kiran, sampai tiga bulan lebih agar aku bisa tahu apakah kamu mengandung benih mantan kekasihmu itu atau tidak!"
Batin Pasya dengan tetap menyembunyikan rasa kecewanya pada sang istri.
Ia menutupi tubuh Kiran dengan selimut tanpa ingin memberikan baju tidur untuk istrinya.
__ADS_1
"Kamu harus menerima hukuman ini Kiran karena kamu sudah menolakku."
Gumam Pasya membatin.
Iapun tidur memunggungi istrinya tanpa pedulikan perasaan Kiran yang saat ini sedang menangis.
Sementara di tempat yang jauh di sana, Kenan sedang membawa motornya dengan kecepatan tinggi menelusuri jalan masuk ke hutan untuk melampiaskan kemarahannya setelah mengetahui kekasih hati sudah di persuntingkan oleh orang lain.
"Kiran! Aku mengira kamu akan menolak perjodohan itu dan kembali padaku, ternyata kamu menyerahkan dirimu begitu saja kepadanya."
Ucap Kenan menggerutu sepanjang jalan.
Ia baru berhenti saat berpapasan dengan para gerombolan rusa hutan yang sedang menyebrang jalan.
Beban hatinya tidak bisa lagi ditanggungnya kini. Menangisi ketidakberdayaannya, menangisi kebodohannya dan juga takdir yang tidak berpihak kepada dirinya.
"Kiraaaaann!"
Teriakannya menggema ditengah hutan balantara hingga mengagetkan burung-burung yang sedang berada di sarangnya, seketika terbang menjauhi rumah mereka.
Gerombolan rusa yang tadi berjalan secara teratur berhenti seketika menatap pemuda tiga puluh tahun ini.
"Kiran! andai kamu lebih awal menyatakan perasaanmu untuk siap menikah denganku, mungkin perpisahan ini tidak akan terjadi."
Keluh Kenan lirih seakan sedang curhat dengan alam sekitarnya.
...----------------...
Keesokan paginya, Kiran hanya mengenakan baju bathtub untuk menutupi tubuhnya. Sedikitpun Pasya tidak ingin memberikan bajunya hingga Kiran tidak ingin lagi melayangkan protes pada suaminya.
"Terserah kamu mau melakukan apapun atas diriku walaupun kematian ku yang kamu inginkan."
Gumam Kiran sambil menahan lapar.
Tidak lama bel kamarnya berbunyi. Pasya yang juga mengenakan baju bathtub membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan pelayan hotel yang sedang mengantar sarapan pagi untuk mereka.
Kiran yang tidak mau tampangnya dilihat oleh pelayan itu memilih masuk ke dalam selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.
Dua pelayan yang melihat pengantin wanita berada di dalam selimut, mengulum senyum mereka dengan pikiran fantasi liar mereka yang mengira Kiran sedang bugil di dalam selimut itu.
Pasya memberikan tip untuk keduanya sebelum mereka meninggalkan kamarnya.
"Hmm!"
"Apakah kamu tidak ingin sarapan?"
Pasya menarik selimut Kiran secara perlahan.
Kiran menatap sarapan nasi goreng omlet dan roti lapis coklat serta susu coklat sudah bertengger di atas meja makan yang ada di kamar itu.
Ia pun bangun dan menghampiri sarapannya karena ia sudah sangat lapar sejak tadi subuh.
Melihat Kiran yang melahap sarapannya membuat Pasya ingin ngakak saat ini. Kepolosan Kiran terlihat jelas di matanya, walaupun gadis ini kadang membuatnya geregetan.
"Apakah kamu menahan lapar semalaman hingga tidak sabaran mengunyah makananmu dengan cepat, hm?"
Tanya Pasya sambil memotong roti lapis keju miliknya.
"Hmm!"
Jawaban singkat yang diberikan Kiran cukup membuat Pasya mengangguk sambil mengangkat kedua bahunya.
"Habiskan makananmu dan setelah itu persiapkan dirimu!" Ucap Pasya.
"Apakah kita mau pergi?" Wajah Kiran seketika berbinar mendengar penuturan suaminya yang mengajaknya pergi.
"Kita tidak ke mana-mana! Aku hanya ingin mengulangi lagi percintaan kita semalam."
Deggggg.....
"Dasar iblis! Pada akhirnya kau hanya membuat aku kesal. Apakah kau puas menyiksaku dengan kenikmatan yang hanya dari luar tanpa ada penyatuan fisik sama sekali."
Umpat Kiran dalam hati sambil meminum susunya.
"Apakah saat ini kamu sedang mencaci maki diriku?"
"Untuk apa aku melakukannya?" Apakah akan membawa manfaat untuk diriku?"
__ADS_1
Tanya Kiran dengan wajah datarnya.
"Tidak bisakah kita bersikap dewasa dan menjadi pasangan bahagia seperti suami istri lainnya?"
"Kenapa bicara seperti itu padaku? Bukankah saat ini kamu hanya menjadikan aku sebagai tempat pelampiasan saja? hubungan suami istri dari mana? Itu hanya sebutan sebuah status kepemilikan saja." Balas Kiran ketus.
"Terserah kamu saja! yang jelas aku hanya ingin kau tidak memperlihatkan wajah jelek mu itu saat berjalan berdua denganku." Pinta Kenan.
"Aku juga tidak ingin kamu terus membuatku seperti pelacur, ah mungkin pelacur lebih baik statusnya. Ia tetap di tiduri pelanggannya walaupun yang ia lakukan itu untuk mendapatkan uang. Lalu apa sebutan yang pantas untukku."
Kiran meneguk air putihnya sampai tandas.
Ia juga menonton televisi dengan Chanel TV yang menayangkan film action kesukaannya.
Kiran begitu serius mengikuti setiap adegannya. Tapi saat adegan ranjang yang diperankan oleh aktor utamanya, Kiran malah menggantinya.
"Kenapa kamu malah menggantikan chanelnya Kiran? Itu lagi seru-serunya." Omel Kenan.
"Aku tidak menyukainya." Tukas Kiran ketus.
"Apakah kamu takut terangsang melihat adegan itu, sayang? Nanti aku akan membantumu untuk mendapatkan kenikmatan yang sama yang dilakukan oleh mereka."
"Aku tidak butuh."
"Tapi Aku butuh sayang."
"Itu urusanmu."
"Baiklah. Kalau begitu kita keluar jalan-jalan dulu supaya kamu tidak bosan." Ajak Pasya membuat Kiran langsung terkesiap.
"Apakah aku akan pakai baju ini untuk keluar?"
"Tidak mungkin sayang, entar lagi ada yang membawakan baju untukmu."
Ting tong...
"Itu pasti bajumu. Tunggu sebentar!"
Pasya membuka pintu kamarnya dan melihat pengantar paket dari dari salah satu aplikasi yang ia pesan untuk istrinya Kiran.
"Pakai bajumu setelah itu kita keluar."
Ujar Pasya seraya menyerahkan bag paper pada Kiran.
"Terimakasih Pasya!"
"Beri aku ciuman! Aku tidak butuh ucapan."
"Aku harus mencium mu....?"
"Hmm!"
"Ihhh..ogah!"
Tolak Kiran.
"Baiklah! Kalau begitu kita tidak jadi jalan-jalan."
"Apaaaa....? Kauuu..ihhhjh!"
Kiran makin greget dengan sikap suaminya yang selalu mengancamnya.
Ia segera mendekati wajah Pasya dan mengecup pipi Pasya dengan cepat.
"Bukan di pipi tapi di bibir!"
"Kenapa jadi di buat rumit sih? Membosankan!"
"Baiklah. Kalau begitu kita tidur saja, sayang!"
"Ohhh tidak .. tidak..kita harus pergi jalan-jalan. Baiklah aku akan mencium bibirmu.. Sekarang pejamkan matamu!"
Titah Kiran lalu di ikuti oleh Pasya.
Kiran mendekati wajah suaminya yang sedang menantikan ciuman darinya. Kiran memagut bibir itu dengan lembut.
Pasya merasakan ciuman yang diberikan Kiran untuknya sangat tulus karena ia merasakan sentuhan cinta yang mulai tumbuh di hati istrinya.
__ADS_1
Pasya menekan tengkuk Kiran agak lebih lama memagut bibirnya. Pasya memperdalam ciumannya hingga mengusai rongga mulut istrinya dengan penuh kenikmatan.