CINTA Kandas Di Tengah Perjodohan

CINTA Kandas Di Tengah Perjodohan
24. Menjaga Jarak


__ADS_3

Kenan segera pamit untuk kembali ke kampungnya setelah memastikan sendiri Kiran memakan buah rambutan untuk memuaskan rasa ngidamnya.


"Terimakasih Kenan! Kamu rela mengantar sendiri rambutan ini untukku."


Ujar Kiran menemani Kenan sampai ke pintu mobil.


"Cintaku tak pernah berubah apa lagi berhenti hanya karena kamu sudah menjadi milik orang lain." Ujar Kenan acuh.


Glekkkk...


"Apakah kamu tidak biasa menemukan wanita yang bisa menggantikan aku Kenan?"


"Sayangnya aku tidak menemukan apa yang ada dirimu pada mereka."


"Tapi aku tidak bisa kembali untukmu Kenan."


"Kadang takdir tidak bisa diprediksi. Siapa tahu aku akan mendapatkan janda mu."


Ujar Kenan penuh percaya diri.


Kiran hanya bisa menarik nafas panjang. Ia tidak ingin lagi berkomentar agar Kenan tidak lagi menyerang balik dirinya.


"Hati-hati di jalan, Kenan! salam untuk Izzat, Hendra dan Agam."


"Kamu juga Kiran. Jaga dirimu dan jabang bayimu. Kabari aku kalau kamu sudah melahirkan."


"Hmm!"


Kiran melambaikan tangannya melepaskan kepergian Kenan sampai mobil taksi itu menghilang dari pandangannya.


Pelayan memindahkan kontak buah ke dalam gudang penyimpanan. Kiran meminta mereka untuk membagikan setiap pelayan agar buah itu tidak dibiarkan busuk.


Pelayan begitu bahagia karena Kiran tidak pernah perhitungan dalam hal makanan dan uang pada mereka.


Bahkan Kiran tidak menganggap mereka pelayan dan itulah nilai lebih dari seorang Kiran yang pintar memenangkan hati siapapun yang ditemuinya walaupun watak gadis ini sedikit keras kepala.


Kiran meminta para pelayannya untuk merahasiakan kedatangan Kenan. Mereka pun menuruti permintaan Kiran agar tidak terjadi keributan di rumah tangga pasutri itu.


Tiga hari kemudian, Pasya pulang dari Singapura dan langsung pulang ke rumah karena begitu merindukan istrinya.


Kiran yang tidak tahu jika suaminya pulang hari itu nampak malas berdandan dan hanya memakai piyama tidur usai mandi. Selama kehamilannya gadis ini menjadi malas dandan fan hobi tidur.


Sore itu Pasya membuka pintu kamarnya perlahan dan mencium aroma minyak kayu putih untuk bayi. Wangi yang terasa sangat segar membuat Pasya makin merindukan sosok tubuh indah itu


Ia mendekati istrinya yang pulas tertidur dan ikut masuk ke dalam selimut itu. Pasya mencium pipi istrinya dan leher serta punggung Kiran.


Merasa ada yang menyentuhnya, Kiran tersenyum lalu membalikkan tubuhnya untuk memeluk sang suami.


"Kamu merindukanku, sayang?"


"Hmm."


"Kamu sangat wangi. Apakah sudah mandi?"

__ADS_1


"Hmm!"


"Kenapa tidur lagi kalau sudah mandi?"


"Lagi malas saja."


"Apakah baby yang membuat kamu malas?"


Kiran mengangguk dalam dekapan suaminya. Pasya sangat merindukan sifat manja istrinya yang kadang membuatnya gemas.


Ia merenggangkan pelukannya dan menatap wajah istrinya di bawah cahaya lampu tidur yang remang. Bibir itu di pagut nya lembut. Keduanya melepaskan kerinduan dan mulai tenggelam dalam lautan asmara penuh kesyahduan.


Lenguhan panjang disertai erangan erotis mulai menggema di kamar itu. Saling memberi sentuhan dengan rangsangan untuk memuaskan pasangan, lawan main mereka di atas ranjang.


...----------------...


Keesokan paginya, Pasya ingin menghabiskan weekend nya di rumah bersama sang istri tanpa mau mencari hiburan di luar rumah. Keduanya harus menjaga janin mereka agar tidak bermasalah.


Usai sarapan, pelayan menyiapkan buah segar yang dibawakan Kenan untuk pasangan ini. Apel, anggur dan rambutan yang sudah ada di keranjang buah menghiasi meja makan.


Pasya mengerutkan keningnya saat melihat buah rambutan yang beberapa waktu lalu tidak ia temukan di pasar manapun maupun di swalayan besar.


"Dari mana rambutan ini?"


Tanya Pasya penasaran.


"Dari kebun ayah di kampung."


Ucap Kiran yang sudah mempersiapkan jawabannya.


Ucap Pasya yang ikut makan rambutan itu dan membantu mengupas kan untuk Kiran.


Di saat santai itu, Kiran mulai menyinggung masalah sekertaris suaminya yang begitu lancang padanya.


"Pasya!"


"Hmm!"


"Apakah kamu harus mengijinkan Lita mengurus segala kebutuhanmu saat kalian ke luar kota maupun ke luar negeri?"


"Apakah ada masalah tentang itu Kiran?"


"Apakah aku harus menghubungi suamiku sendiri dan sampai ponsel suamiku yang mengangkatnya adalah sekretaris nya?"


"Apaaa...? Jadi kamu menghubungi aku? Tapi tidak ada panggilan di ponsel aku dari kamu, sayang."


"Jelas saja dia sudah menghapusnya." Balas Kiran.


"Tidak mungkin sayang! Lita tidak seperti itu."


"Jadi kamu lebih memilih mempercayai dirinya daripada aku istrimu?"


"Bukan begitu Kiran! Lita selalu memberi tahukan aku apapun yang berkaitan dengan diriku dan itu termasuk kamu dan kamu adalah prioritas ku."

__ADS_1


"Apakah dia tidak mengatakan kepadamu tentang kata-kata terakhirku padanya?"


"Apa yang kamu katakan padanya?"


"Kalau dia seperti lintah yang terus menempel padamu. Dan mungkin dia juga akan melayani mu di tempat tidur. Dan kau tahu dia jawab apa?"


"Apa jawabannya?"


"Kalau itu dibutuhkan dan ia langsung menutup teleponnya. Kamu tahu denganku dua sangat berani padaku karena kamu terus melindunginya. Lain kali kalau dia meminta dirimu untuk melayaninya sebaiknya lakukan itu demi memuaskan sekertaris kesayanganmu itu." Ucap Kiran sengit.


"Kiraaaaann!"


Bentak Pasya terdengar menggelegar di ruang makan itu, hingga para pelayan berlarian menyelamatkan diri karena tidak ingin menyaksikan pertengkaran itu.


"Demi sekertaris itu kamu berani membentak aku?"


"Jauh sebelum kita menikah, aku lebih dulu mengenalnya daripada kamu, Kiran!"


"Lho! Kalau kamu memang menginginkan dia, kenapa memilih menikahi aku? Bukankah dia lebih mengetahui apa yang kamu butuhkan dan lebih mengerti keinginanmu daripada aku yang harus banyak belajar untuk menyesuaikan diriku agar bisa menjadi istri yang baik untukmu?"


"Jangan samakan dirimu dengannya! Dia dan kamu sangat jauh berbeda. Dia ya dia dan kamu ya kamu."


"Kalau begitu ceraikan aku dan nikahin dia. Permisi."


Kiran segera beranjak dari meja makan menuju kamarnya. Ia tidak menyangka pembelaan suaminya pada sekertaris itu lebih diutamakan daripada perasaannya sebagai istri.


"Keterlaluannnn! Prankkkk..!"


Kiran melemparkan gelas yang ada di kamarnya hingga pecah berantakan. Ia tidak terima bentuk pembelaan suaminya pada sekertarisnya hingga melukai perasaannya sebagai istri.


"Aku dalam keadaan hamil tapi ia tidak peduli bahkan terkesan lebih mempercayai perempuan berengsek itu dari pada istrinya sendiri. Pernikahan seperti apa ini."


Keluh Kiran dengan darah yang sudah mendidih saat ini.


Untuk menenangkan jiwanya ia mengunci pintu kamar itu agar suaminya tidur di kamar terpisah dengannya. Dan sialnya Pasya bukan menenangkannya ia malah pergi dari rumahnya.


Kiran yang melihat dari atas balkon makin murka dengan perbuatannya Pasya. Ingin rasanya ia melompat dari atas balkon saat ini.


Amarahnya tidak mampu lagi terbendung. Satu-satunya cara yang ia inginkan adalah menghubungi Kenan.


"Hallo Kenan!"


"Kiran!"


"Kenan! Apakah tawaranmu masih berlaku untukku?"


"Tawaran apa Kiran?"


"Bahwa kamu siap menerima aku jika aku sudah jadi janda?"


"Tentu saja sayang!"


"Kalau begitu bersiaplah! Setelah anak ini lahir aku akan bercerai dari suamiku dan kembali kepadamu."

__ADS_1


Degggg..


__ADS_2