CINTA Kandas Di Tengah Perjodohan

CINTA Kandas Di Tengah Perjodohan
42. Perdebatan


__ADS_3

Untuk membuat jarak pertemuan Pasya dan puteranya Dilan, Kenan sengaja membuat banyak jadwal pertemuan di luar negeri atau luar kota untuk Pasya.


Sebagai orang yang dipercayakan lagi oleh Kenan, Pasya tidak keberatan sama sekali atas tugas yang dibebankan kepadanya. Lagi pula ia juga sangat merindukan untuk mengulangi ke masa kejayaannya bisa ke luar negeri lagi.


Kesibukannya itu membuatnya tidak bisa lagi bertemu dengan putranya karena Pasya keluar negeri bertepatan dengan weekend yang harusnya untuk putranya..


Paling Minggu terakhir di setiap bulannya ia baru bisa bertemu dengan putranya Dilan. Putranya yang menyadari pertemuan mereka yang sudah jarang terjadi membuat Dilan mulai melayangkan protes pada ayahnya.


Usia Dilan yang memasuki lima tahun, membuat anak ini bisa menilai sesuatunya dengan bahasanya yang sudah sangat kritis.


Seperti siang itu, Pasya mengajak putranya makan di restoran mewah sambil memberikan oleh-oleh untuk putranya Dilan dari luar negeri.


Dilan memasang wajah datarnya dan tidak menyukai sama sekali dengan hadiah dari Pasya.


"Papa!"


"Iya sayang!"


"Apakah semua yang papa berikan pada Dilan akan membuat Dilan bahagia?"


"Maksudmu apa, nak?"


"Dilan tidak menginginkan semuanya ini papa. Dilan hanya ingin kita selalu bertemu setiap minggunya bukan sebulan sekali seperti ini.


Dan ini sudah berlangsung secara terus menerus. Kita makan di restoran mewah dan bermain bersama seharian. Dilan tidak menyukai semua ini papa. Dilan hanya ingin seperti dulu lagi. Dilan juga bosan harus bermain dengan dua adik Dilan." Ucap Dilan geram.


"Sayang! Dulu papa punya waktu banyak untuk Dilan karena papa masih jadi pengangguran dan sekarang papa sudah banyak pekerjaan membuat papa sudah sulit mengatur waktunya.


"Bagaimana kalau kita ketemu saat papa antar jemput Dilan sekolah?"


"Apakah mamamu mengijinkan papa untuk melakukan itu?"


"Kenapa tidak papa. Bukankah aku adalah anak kandung papa?"


Degggg...


"Dari mana kamu mengetahui itu Dilan?"


"Dari seorang Tante yang mengaku sahabat baik papa."


"Sahabat? Papa jarang punya sahabat wanita, Dilan."


"Kalau bukan sahabatnya papa, kenapa dia tahu semua tentang papa?"


"Apa yang di katakan wanita itu Dillan?"


"Kalau papa dan mama berpisah karena kehadiran Dillan dan mama membohongi papa kalau Dilla sudah mati. Mama ingin menjauhkan Dillan dari papa. Dilan mau tinggal sama papa. Dilan benci sama mama."


Deggggg...


"Dilan! Apakah kamu lebih percaya orang luar dari pada mamamu sendiri?"

__ADS_1


"Apakah papa mau bilang kalau Dillan bukan anak kandungnya papa?"


Pasya terhenyak mendengar pertanyaan Dilan yang lebih menekannya untuk ia jawab.


"Kamu adalah anak kandung papa itu memang tidak terbantahkan. Tapi, apa yang dikatakan oleh wanita itu tentang mamamu, itu semuanya bohong."


Tukas Pasya yang sudah membayangkan kalau yang mengatakan semuanya itu adalah mantan sekertarisnya Lita.


"Awas kamu Lita! Aku akan membuat perhitungan denganmu hari ini karena kamu telah meracuni pikiran putraku dengan omong kosong mu itu."


Batin Pasya sambil mengatupkan rahangnya hingga mengeras.


"Papa!"


"Hmm!"


Dilan ingin tinggal dengan papa. Mama sudah punya Daddy dan kedua anak mereka. Sementara papa hanya punya Dilan, sekarang Dilan mohon, tolong bilang sama Daddy dan mama untuk mengijinkan Dillan tinggal sama papa."


Pinta Dillan dengan wajah memelas.


"Dilan! Papa juga mau seperti itu. Keinginan papa sama seperti Dilan. Papa ingin melakukan apapun untuk bisa tinggal bersama Dilan.


Tapi perjanjian antara mama dan papa serta ayah tirimu itu hitam di atas putih. Kalau papa melanggar perjanjian itu papa akan masuk penjara dan kita tidak akan bisa bertemu lagi, nak."


"Sekejam itukah mama pada papa? Jadi semua itu permintaan mama?"


"Iya sayang!"


Protes Dilan sengit.


Deggg..


"Astaga! Ternyata anak papa sudah sangat cerdas sekarang. Sudah dewasa dalam berpikir." Puji Pasya haru.


"Dilan harus lebih cepat dewasa memikirkan ini semua papa. Dengan begitu, hak papa sebagai papa kandung Dilan terpenuhi secara hukum negara dan agama."


"What...? Jadi kamu sampai berpikir sejauh itu demi papa?"


"Iya papa. Yang membuat Dilan semangat untuk besok mengejar mimpi Dilan agar bisa tinggal bersama dengan papa."


Ujar Dilan tegas.


"Baiklah sayang! Nanti papa akan konsultasi dulu dengan pengacara papa mengenai pengajuan hak asuh atas dirimu."


Ujar Pasya untuk meyakinkan putranya.


"Janji ya, papa! Jangan biarkan mama memisahkan kita dan mengusai Dilan seorang."


"Insya Allah sayang! Doakan papa semoga kita berhasil. Kita berjuang sama-sama demi hidup bersama."


Sahut Pasya menahan bulir bening yang hampir tumpah mendengar keinginan kuat putranya yang ingin hidup bersamanya.

__ADS_1


Keduanya menyelesaikan makan siang mereka. Pasya mengajak putranya ke tempat permainan game dan bermain bersama.


Pasya juga menerapkan agama pada anaknya agar selalu melaksanakan sholat.


Walaupun keduanya asyik bermain, mereka tidak lupa menunaikan sholat fardhu. Apa lagi bersama dengan neneknya Zoya, Dilan suka ikut mengaji.


Malam itu, Dillan menginap di rumah papanya Pasya. Setiap Minggu sore, ia baru dikembalikan kepada mamanya di Bogor.


Saat tiba di rumahnya di Bogor, kedua adiknya menyambut Dilan dengan penuh kerinduan. Pasya hanya menurunkan Dilan dan langsung pulang ke rumah.


"Abang Dilan! Kenapa Abang Dilan selalu di ajak paman Pasya jalan-jalan sementara kami berdua tidak?" Tanya Kinan yang beda usia dengan Dilan terpaut satu tahun.


Dilan melirik mama dan Daddy-nya yang sibuk memainkan ponsel mereka. Ia lalu menjawab pertanyaan adiknya itu.


"Itu karena paman Pasya adalah papa kandungnya Abang Dilan sedangkan kalian tidak."


Deggggg....


Kiran dan Kenan terperanjat mendengar ucapan Dilan yang begitu frontal pada kedua adiknya.


Kiran menghampiri Dilan dan membawa putra pertamanya itu masuk ke kamarnya.


"Dilan! Apa yang baru saja kamu katakan itu pada adikmu? dan dari mana kamu dengar omong kosong itu semua?"


"Dari sahabat papa saat ia mendatangi sekolahku dan tolong jangan salahkan papa karena papa sendiri tidak memberitahu aku.


Lagi pula bukankah mama itu sangat jahat pada papa karena mengatakan aku sudah meninggal dan sengaja menjauhkan aku dari papa."


Ketus Dilan sengit.


"Dilannnn..!!"


Kiran mengangkat tangannya hampir menampar putranya tapi keburu Kenan menahan tangannya Kiran.


"Jangan Kiran! Dilan tidak mengerti dengan apa yang Dilan katakan kepadamu!" Cegah Kenan.


"Tapi anak ini makin hari makin ngelunjak, Kenan. Siapa yang akan mendidiknya jika perilaku Dilan menjadi kurangajar seperti ini?" Protes Kiran pada suaminya.


"Jika dia mengerti, dia tidak akan berkata seperti itu." Tukas Kenan.


"Jadi kita harus maklumi perkataannya karena usianya yang masih kecil?"


"Bukan seperti itu Kiran! Kamu jangan terlalu termakan dengan ocehan Dilan karena fitnah seseorang." Timpal Kenan.


"Apakah Pasya itu papa kandungnya Dilan, itu juga fitnah Daddy...?" Tanya Dilan sinis.


"Itu bukan fitnah Dilan! Pasya memang ayah kandungnya Dilan." Sahut Kenan tegas.


"Berarti, Dilan bisa tinggal dengan papa Pasya selamanya?"


Tanya Dilan diluar dari dugaan Kiran dan Kenan.

__ADS_1


Deggggg..


__ADS_2