
'Aku berusaha keras untuk menahan diriku berbicara dengannya saat dia berada di dalam pelukanku sebelumnya saat kami mengobrol. Tapi sekarang aku harus mendorong diriku sendiri untuk bisa melupakan semua ini dan membuktikan kepada diriku sendiri bahwa aku tidak punya pengalaman apapun tentang semua ini. Bagaimanapun ini semua akan mempengaruhi sikapku kepada dirinya.'
'Aku tidak mau dia selalu bersikap mesra kepadaku lagi. Dia hanya akan menghabiskan waktunya beberapa hari denganku. Setelah itu dia akan pergi ke jalannya sendiri dan aku juga akan melanjutkan hidup ku sendiri. Dia punya kehidupannya sendiri dan aku punya kehidupan yang berbeda dan dalam kehidupan, kami tidak akan pernah bertemu lagi'
Steven masih berbicara dalam hati.
Setelah itu dia berkata, "ini semua pasti terjadi karena mimpi semalam. Bagaimanapun aku mendapat perasaan yang lebih dalam dan aku juga mendapatkan banyak energi seksual yang aku dapatkan dari mimpi itu dan mimpi itu juga membuatku mendapat perasaan yang berlebihan. Tapi dalam hatiku aku merasa bahwa aku tidak dapat menahan hasrat ku. Aku mengatakan semuanya dan aku melakukan semua itu karena dasar cinta. Aku merasa bahwa cinta yang dia punya benar-benar tercipta untukku di setiap bagian diriku di dalam mimpi itu."
"Kenapa aku dengan begitu mudah mengatakan kepadanya bahwa dalam sudut hatiku, aku mencintai dirinya dan juga mengatakan aku menyesal setiap harinya yang aku habiskan jauh dari dirinya. Kenapa aku bisa memintanya untuk berjanji kepadaku bahwa dia tidak akan meninggalkan aku? Kenapa aku berpikir bahwa hidupku tidak berarti tanpa dirinya?"
"Dalam mimpi itu, aku merasa semuanya begitu nyata dengan setiap apapun yang aku lakukan dengannya dan setiap kata yang aku ucapkan kepadanya. Tapi, bagaimana mungkin seorang pria bisa mendapat perasaan seperti itu hanya di dalam mimpi untuk seorang wanita yang dia ketahui hanya dalam waktu 1 hari saja? Apa yang salah dengan diriku? Kenapa hatiku terasa sakit setiap kali aku mengingat semua itu?"
Willa memanggil Steven dari dalam kamar mandi.
"Ayolah Steven, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu mandi. Cepatlah, sebelum sarapan mu menjadi dingin." Ucap Willa seraya keluar dari dalam kamar mandi.
Willa tanpa sengaja menabrak Steven saat Steven sendiri hendak masuk ke dalam kamar mandi. Kedua mata mereka bertemu, kemudian Willa berkata seraya melihat ke arah mata Steven.
__ADS_1
"Apa kau mau aku menggosok punggung mu dan memijat pundak mu di kamar mandi seperti yang aku lakukan dulu? Biasanya memijit pundak mu bisa membuat mu merasa lebih baik. Kau sepertinya mengalami mimpi buruk dan kulitmu tampak begitu pucat. Dengan memijat mu, akan membuatmu rileks dan merasa lebih baik." Ucap Willa.
Steven menatap Willa dengan tajam saat dia berbicara kepada dirinya sendiri.
'Oh ya Tuhan, aku sudah tidak bisa menahan diri ku sendiri dan dia malah mau ikut masuk ke dalam kamar mandi melakukan semua itu. Itu semua tidak akan membuat ku merasa lebih baik justru semua itu malah akan membuatku tergoda. Oh ya Tuhan, aku tidak bisa bernapas dengan baik sekarang setelah mendengar ucapannya. Apa yang akan terjadi jika dia ikut masuk ke dalam kamar mandi bersamaku, Tuhan tolong aku.'
Tiba-tiba Willa mulai menangis dengan keras dan berkata, "jangan pandang aku seperti itu. Aku tahu bahwa aku lupa akan diriku sendiri. Aku khawatir tentang dirimu dan aku melewati batas lagi. Tapi kau tidak tahu bagaimana sulitnya diriku untuk memperlakukan dirimu sebagai orang asing setelah sebelumnya kau dan aku telah bersatu. Tapi aku berjanji kepadamu bahwa aku tidak akan melupakan di siapa diriku lagi."
Steven lalu memegang wajah Willa dengan tangannya dan mendekat kearah bibir Willa saat mereka saling menatap satu sama lain dan air mata Willa jatuh ke pipinya.
Kemudian Steven mendekatkan bibirnya kepada bibir Willa dan mulai mencium Willa begitu dalam dan penuh hasrat seolah dia hendak merusak mulut Willa dan kembali berbicara kepada dirinya sendiri.
Kemudian Steven mencium Willa semakin dalam dan jauh lebih dalam lagi. Disaat yang bersamaan, dia memegang pinggang Willa dengan erat dengan kedua tangannya dan Willa juga membalas ciumannya.
Willa kembali berbicara kepada dirinya sendiri.
'Oh ya Tuhan, dia mencium ku lagi tanpa ada rasa kasihan. Dan ini yang kedua kalinya dia mencoba untuk menghiburku dengan mencium ku. Bagaimanapun perasaan kasihan di dalam dirinya itu merupakan suatu kemajuan. Itu membuktikan bahwa dia tetap peduli kepadaku. Tapi aku tidak melihat semua ini sebagai rasa simpatinya kepadaku. Aku melihat semua ini atas dasar cintanya dan aku tidak bisa menahan dirinya untuk selalu mencium ku. Aku harus berhenti menangis karena itu akan membuat dia merasa lebih kasihan kepadaku.'
__ADS_1
Sepanjang waktu dia akan merasa bahwa aku mengganggu dirinya dan dia akan mencoba untuk membuat aku menjauh dari hidupnya. Aku tidak mau itu terjadi. Apa yang salah dengan diriku. Aku harus menjadi lebih kuat dan menahan diriku sendiri. Atau pada akhirnya nanti, aku tidak akan pernah bisa melihat dia lagi.
Tiba-tiba Steven melingkar kan kedua lengannya di pinggang Willa, mengangkat Willa hendak menaruhnya di meja yang ada di dalam kamar itu.
Willa kembali berbicara kepada dirinya sendiri saat Steven mengangkat tubuhnya ke atas meja.
'Oh ya Tuhan, semuanya menjadi semakin rumit. Jika aku membiarkan dia melakukan hal ini kepadaku sebelum dia bisa mengingatku, dia bisa merasa menyesal nantinya. Dan karena semua ini, dia bisa saja membenci ku dan bukannya mencintai aku. Aku tidak akan membiarkan semua ini terjadi.'
Tiba-tiba Steven menaruh tubuh Willa di atas meja.
Steven mendekatkan dirinya ke leher Willa dan di saat yang bersamaan, Willa mendekatkan bibirnya ke telinga Steven dan mulai berbisik.
"Steven tenanglah, lihat aku! Aku sudah berhenti menangis. Kau tidak perlu memaksakan dirimu sendiri untuk menghibur aku lagi."
Steven berkata dalam hati.
'Oh ya Tuhan, aku kehilangan kontrol diriku lagi saat aku melihat air matanya. Aku merasa dia kecewa dan hal itulah yang membuat hatiku merasa sangat sakit. Kemudian aku mulai menciumnya tanpa sadar. Sebenarnya, apa yang salah dengan diriku? Aku harus bisa menahan diri ku. Jika aku terus bertingkah seperti ini, aku akan merusak dia dan bukannya membantunya. Tapi setelah aku mendapat mimpi itu yang terasa sangat nyata itu, hal itu membuat sikap ku seperti ini kepadanya. Sampai sekarang, aku tidak bisa menerima semua perasaan ini. Di mana aku merasa mimpi itu membuatku kehilangan akal dan kehilangan hatiku sendiri.'
__ADS_1
Bersambung.....