
Mama Willa, Agatha, berkata kepada Mama Steven, Anisa, "kau tahu dengan benar bahwa Tuhan akan memberikan sesuatu yang sangat hebat dibalik kesedihan dan bencana yang pernah kita alami. Dan Tuhan akan memberikan kesabaran kita dalam hidup ini sesuatu yang baik sampai akhir hidup kita juga."
Bu Anisa melihat ke arah bawah dengan wajah yang sedih kemudian menjawab apa yang dikatakan Bu Agatha dengan sedih.
"Iya sayangku, aku selalu mempercayai hal itu."
Kemudian Bu Agatha menunjuk ke arah Steven dengan tangannya untuk membuat Steven berjalan mendekat kearah mamanya saat mamanya duduk di sofa dekat dirinya di depan ruangan khusus di mana Willa dirawat. Dan setelah itu dia berkata kepada Bu Anisa.
"Anisa, kau sudah dikhianati oleh suamimu dan juga kehilangan anakmu."
Kemudian Bu Anisa menggigit bibirnya, mengepalkan tangannya dengan sangat erat dengan matanya yang mulai basah dan dia membalas ucapan Bu Agatha dengan suara yang bergetar seolah hendak ingin menangis.
"Iya."
Saat ini Bu Agatha menunjuk ke arah Steven dengan tangannya untuk membuat Steven berlutut di lantai di depan mamanya dan Bu Agatha berkata kepada Bu Anisa.
"Jadi sekarang kau akan mendapat reward atas semua kesabaranmu."
Bu Anisa tampak terkejut dan berkata kepada Bu Agatha dengan wajah yang syok.
"Apa maksudmu?"
Mama Willa memegang tangan Bu Anisa dengan lembut dan menaruhnya di wajah Steven, saat dia berkata, "ini adalah hadiah untukmu. Orang ini sangat ingin bicara denganmu."
Setelah Bu Anisa memegang wajah Steven, suara tangis nya mulai mengeras, bibirnya mulai bergetar. Saat dia terus memindahkan kedua tangannya di wajah Steven lagi dan lagi, dan dia pun mulai menangis menjadi-jadi.
Tiba-tiba Bu Anisa menarik Steven mendekat ke arahnya dan memeluknya dengan sangat keras semampu yang dia bisa sembari dia terus menangis dengan menggila dan berkata, "oh Dion bagaimana kau bisa kembali hidup lagi?"
Kemudian Steven membenamkan wajahnya di dada sang Mama dan membalas pelukan mamanya dengan begitu erat seolah dia ingin menyatu bersama dengan sang Mama yang terus menangis seperti anak kecil dan berkata, "oh Mama, aku sangat merindukan Mama."
__ADS_1
Bu Anisa berkata kepada Steven dengan suara yang bergetar karena dia terus menangis, "aku lebih merindukanmu melebihi apa yang kau bayangkan."
"Apa kau tahu sesuatu, aku tidak pernah berharap untuk mendapatkan penglihatan ku kembali sebelum hari ini, karena aku percaya bahwa selama mataku tidak bisa melihat dirimu lagi, tidak akan ada artinya bagiku untuk bisa melihat dalam hidup ini. Tapi sekarang aku benar-benar menginginkan penglihatan ku bisa kembali, agar aku bisa melihat wajahmu lagi."
Disaat itu Bu Agatha dan Tuan Adam yang melihat mereka berdua, ikut menangis terharu.
Bu Anisa akhirnya mendengar suara Papa Steven saat dia masih menangis.
"Itu bukan Dion, itu adalah kembarannya, Steven."
Setelah mendengarkan suara Tuan Adam, Bu Anisa semakin menangis menggila dan bertanya kepada Tuan Adam, "Adam, apa yang membawa mu datang kemari?"
Tuan Adam berkata kepada Bu Anisa dengan air mata yang jatuh di pipinya.
"Setelah beberapa tahun ini, kau masih mengingat suaraku."
"Bagaimana mungkin aku melupakan suara orang yang selalu mengganggu siang dan malam di telingaku selama 24 jam." Ucap Bu Anisa kepada Tuan Adam.
"Jadi Adam, aku berdoa untuk bisa bertemu denganmu sebelum kematian ku untuk menjawab pertanyaan sulit ini dan akhirnya doaku terjawab dan satu hal yang aku ingin ketahui sekarang adalah, apakah aku begitu jahat hingga pantas menerima kekejaman seperti itu darimu?"
"Adam sekarang aku ingin kau menjawab pertanyaan ku dan apa yang kau maksud dengan mengatakan bahwa dia bukanlah Dion, tapi dia adalah kembarannya yang bernama Steven?" Ucap Bu Anisa panjang lebar.
Kemudian Tuan Adam berdiri di depan Bu Anisa dan dia tetap terdiam melihat ke arah bawah, menggigit bibirnya dan menggenggam tangannya dengan sangat erat karena perasaan yang begitu malu pada dirinya sendiri dengan apa yang sudah dilakukan kepada Bu Anisa 24 tahun yang lalu dengan air matanya yang terus turun di pipinya seperti air sungai.
Kemudian Bu Anisa menjadi marah dia berdiri mendekat ke arah wajah Tuan Adam dan berteriak pada Tuan Adam dengan sangat keras dengan suaranya yang bergetar karena menangis.
"Adam, jawab aku. Apakah pertanyaan ku begitu sulit untuk mu?"
Tiba-tiba Bu Anisa tertawa dengan keras, dia melihat kearah Tuan Adam.
__ADS_1
"Bagaimanapun, aku tidak bisa melihat dirimu dengan mataku, tapi hatiku bisa melakukannya. Tapi aku bisa mengenali nafasmu yang selalu aku dengar sebelumnya. Apakah kau malu mengatakan kepadaku kebenarannya? Apakah kebenaran itu begitu buruk? Apakah kau menyesali nya? Tapi apa yang kau sesali atas apa yang telah kau lakukan kepadaku. Hal itu tidak ada apa-apanya kecuali lebih menyakiti aku lagi."
Kemudian Tuan Adam berkata kepada Bu Anisa dengan suaranya yang bergetar karena dia begitu sulit untuk berbicara akibat dari tangis nya sejak tadi.
"Maafkan aku."
Kemudian Bu Anisa berteriak lebih keras dibanding sebelumnya.
"Apakah kau baru saja menyadari bahwa kau itu bersikap tidak adil padaku? Apakah kau baru saja menyadari bahwa wanita yang kau sukai ini, kau merusak nya dan dia hendak ingin mati karena kau memisahkan diri darinya."
Kemudian suara tangis Bu Anisa mulai terdengar pelan saat dia mencoba untuk tersenyum.
"Apakah kau baru saja menyadari bahwa kau menyia-nyiakan hidupnya karena menangisi cintanya yang hilang? Apakah kau tahu bagaimana rasa sakit itu menyelimuti diriku? Ada banyak hari berlalu bagiku dan aku benar-benar tidak punya kekuatan untuk menjalaninya lagi. Apakah kau tahu bagaimana 24 tahun itu berlalu untukku? Setiap detik yang berlalu dalam usiaku, apakah kau tahu seberapa besar rasa sakit dan kehancuran dari Dion putra ku yang malang, setiap saat dia melihat rasa sedih saat dia mengusap air mata ibunya ini? Kau begitu mudah untuk datang meminta pengampunan dariku."
Secara tiba-tiba Tuan Adam berlutut di depan Bu Anisa, lalu memegang tangannya dan mencium tangan Bu Anisa dengan begitu lembut serta berkali-kali dengan suara tangis nya yang keras.
Dia lalu berkata kepadanya, "aku tahu bahwa aku telah membuat suatu dosa yang tidak bisa dilupakan. Aku tahu itu dengan benar, bahwa aku merusak dirimu dengan begitu kejam."
Kemudian Tuan Adam kembali mencium tangan Bu Anisa lebih banyak dari sebelumnya menekan tangan Bu Anisa dengan bibirnya dengan keras seraya terus menangis dengan keras dan kembali berkata kepada Bu Anisa.
"Tapi aku mohon kepadamu untuk memberikan aku satu kesempatan terakhir untuk menjelaskan semuanya, untuk memberikan ku kesempatan untuk mengatakannya kepadamu. Anisa aku tidak pernah mencintai orang lain sebanyak aku mencintai dirimu."
"Tahun demi tahun berlalu bagiku dengan begitu sulit bahkan lebih sulit dari yang kau bayangkan. Aku ingin kau tahu bahwa aku menceraikan mu hanya dengan melalui kertas. Tapi hatiku tidak bisa melakukan hal itu."
"Kau mengatakan bahwa suaraku selalu menghantui siang dan malam di telingamu. Tapi bagiku setiap tahun tidak hanya suaramu, tapi semua dari dirimu hidup di dalam diriku dengan rasa bersalah yang terus membunuhku lebih kejam dan perlahan secara terus-menerus. Aku terus berpikir untuk kembali kepadamu dan memintamu untuk memaafkan aku. Tapi aku tidak punya cukup keberanian untuk melakukannya."
Kemudian Bu Anisa menangis dengan keras memalingkan kepalanya ke sisi lain untuk melihat menjauh dari Tuan Adam dan menggigit bibirnya dengan keras. Jantungnya tidak bisa menahan rasa sakit itu lagi, jantungnya seolah berdarah begitu banyak.
Saat ini Bu Agatha dan Steven yang melihat mereka berdua pun tampak menangis.
__ADS_1
Bersambung....