Cinta Membuat Aku Gila

Cinta Membuat Aku Gila
26. Mengungkapkan Perasaan


__ADS_3

Semua orang yang berada di lokasi syuting, tampak serius menatap adegan yang ditampilkan Willa dan Steven.


"Tolong jangan menangis seperti ini. Aku tidak pantas menerima semua tangisan ini. Dengan melihat air matamu, membuat hatiku merasa begitu terluka." Ucap Steven yang terus memandangi wajah Willa dengan penuh cinta.


"Bahkan jika kau mengusap air mataku, hal itu tidak akan bisa menyembuhkan luka yang ada di dalam diri ku." Balas Willa.


Saat itu Steven tampak terkejut dan menatap Willa dengan tajam dan disaat yang bersamaan dia terus mengusap air mata Willa.


"Jangan tatap aku seperti itu. Aku hanya berpikir bahwa hanya aku yang mencintaimu. Tapi setelah kau datang padaku, aku tahu bahwa cintamu benar-benar sudah ada di dalam diriku dan menyatu dengan nafasku dan juga jiwaku sejak sangat lama, sampai kau menjadi semua bagian dari dalam diriku.”


"Kemudian aku berubah. Hari-hari berlalu bagiku, semakin aku jatuh cinta padamu. Saat aku bernafas dengan cintamu, semakin banyak udara yang aku hirup untuk bernapas, semakin banyak cintamu masuk ke dalam diriku. Terkadang aku berpikir bahwa aku butuh sejuta hati untuk merasakan semua cinta yang aku punya untukmu."


"Kau menjadi satu-satunya duniaku dan satu-satunya tempat ku berlindung. Aku harap aku bisa bersembunyi di dalam dirimu hingga kau tidak akan bisa mendapatkan luka apapun, karena aku tidak akan pernah bisa hidup di dunia ini tanpa dirimu. Sangat sulit bagiku untuk hidup di dunia ini tanpa adanya dirimu di dalamnya. Aku sangat membutuhkan dirimu."


"Karena tanpa adanya dirimu di sampingku, aku menjadi buta. Aku tidak bisa melihat jalan yang aku lalui dalam hidup ini tanpa dirimu. Aku adalah orang yang paling lemah di dunia ini. Lebih lemah dari yang pernah kau bayangkan. Tanpa dirimu, aku bukanlah apa-apa, sama sekali bukanlah apa-apa. Dengan berada di sampingmu membuatku menjadi lebih kuat dan membuatku bernafas untuk bisa kembali hidup."


"Hanya bersamamu aku bisa mengembalikan semua hal yang pernah hilang dari dalam diriku dan begitu juga dengan hidupku. Di dalam dunia ini, tanpa adanya dirimu aku selalu merasa lapar. Tanpa dirimu semua yang terjadi dalam hidupku ini terasa kurang saat kau jauh dariku."


"Bagaimanapun menjauh dari dirimu membuatku sangat terluka, melukai jiwaku dengan cara yang paling buruk dan bahkan membunuhku secara perlahan. Aku tidak punya siapapun kecuali dirimu. Aku merasa aman saat bersamamu. Selama kau ada bersamaku, aku tidak akan pernah takut akan apapun di dunia ini. Satu hal yang paling aku takutkan adalah kehilangan dirimu. Jadi, aku sangat takut kehilangan dirimu lagi."


"Semua hal yang aku inginkan adalah dirimu, hanya dirimu saja. Aku tidak mau menghadapi hari lainnya sendiri tanpa cintamu. Kau adalah pemilik ku. Aku bukanlah milik orang lain kecuali dirimu. Aku adalah tahanan mu, jadi jangan pergi menjauh dariku walaupun hanya sesaat. Tempatmu hanya berada disisi ku."


"Aku hanya bisa hidup di manapun kau berada di dekatku. Jadi bisakah kau membiarkan aku untuk hidup? Bawa aku mendekat kearah mu di dalam pelukanmu, yang menjadi tempat teraman bagiku."


Secara tiba-tiba Steven membawa Willa ke dalam pelukannya. Dia menarik Willa mendekat ke arahnya dengan lembut, kemudian mengusap punggung Willa.


Steven lalu melihat ke arah mata Willa dengan penuh hasrat dan berkata,


"Semua kata cinta yang ada di dunia ini tidak akan pernah cukup untuk mengekspresikan bagaimana aku menghargai dirimu. Ada beberapa hal yang hanya bisa kita rasakan dan jika kita mengatakannya dengan ucapan dari bibir, hal itu akan membuat maknanya hilang. Karena hanya dengan bahasa tubuh yang bisa mengatakan dan mengekspresikan cinta. Karena cinta tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata."


"Tapi, hanya satu hal yang bisa aku katakan bahwa kau adalah satu-satunya hasrat ku, perasaanku, kau satu-satunya bagi diriku. Tempatku adalah di mana kau berada. Satu menit bersamamu, itu berarti satu juta tahun tanpa dirimu."


Ucapan Steven lantas bisa membuat air mata Willa terhenti. Willa tidak dapat mengatakan apapun saat dagu Steven berada di puncak kepalanya. Tangan Steven menggenggam dirinya dengan sangat erat.


Kemudian Willa berkata, "tolong jangan tinggalkan aku lagi."


Steven berkata, "aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. Aku berjanji padamu. Mulai saat ini dan seterusnya, aku akan selalu membuatmu berada di dekatku. Kita akan menjadi dua hati yang berdegup bersamaan. Mulai hari ini dan seterusnya kau tidak boleh berjalan sendiri. Hatiku akan menjadi tempatmu berlindung dan pelukanku akan menjadi rumah bagi mu."


Willa melihat ke arah mata Steven, mencoba masuk kedalam jiwa Steven dengan matanya yang coklat itu. Steven juga menatap ke arahnya dengan nafas yang tersengal dan sorot matanya yang menunjukkan cinta, ingin melindungi, menjaga penuh kasih sayang, kesabaran dan respect untuk Willa.


Jantung Willa mulai berdegup semakin kencang. Dia berdiri dengan perasaan penuh hasrat yang berlari dari dalam dadanya dan semakin masuk ke dalam relung hatinya yang terdalam.


Tiba-tiba Steven melingkar kan satu lengannya di pinggang Willa. Kemudian menarik Willa mendekat lebih dekat dari sebelumnya pada tubuhnya, memegang kepala Willa dari belakang dengan lembut. Menunduk untuk mendekat kearah bibir Willa, melihat ke arah mata Willa dengan penuh cinta dan hasrat kemudian dia berkata,


"aku bisa melihat dengan jelas bagaimana hasrat mu yang ingin terus bersamaku dari dalam matamu. Tapi aku jauh lebih berhasrat dan tidak sabar dibanding dirimu untuk memilikimu."


Kemudian tangan Steven menyentuh leher Willa dan kepalanya, mengusap leher Willa hingga rambut Willa, lalu turun ke arah bahu Willa dan kemudian pada tangannya. Hal itu membuat jantung Willa semakin berdegup kencang. Kemudian dia menutup matanya dan mengambil nafas dalam-dalam.


Saat itu pikiran Steven sudah kosong dan di dunia ini seolah tidak ada siapapun lagi kecuali dia dan Willa. Kemudian secara tiba-tiba bibirnya langsung menyentuh bibir Willa.

__ADS_1


Setelah Steven menyentuh bibir Willa, Willa merasa seolah semuanya meledak. Badai tiba-tiba seolah datang bergemuruh dalam hatinya.


Willa seolah tengah begitu lapar hingga membuka mulutnya dan mulai membalas ciuman Steven.


Steven lalu memegang wajah Willa dengan kedua tangannya, sementara Willa memegang lengan Steven dan meremasnya dengan begitu erat.


Rasa kasar dari janggut tipis Steven terasa menggores sekaligus membuat geli pipi Willa. Willa lantas memegang kepala Steven seolah tak ingin membiarkan Steven melepaskan ciumannya.


Bibir Willa ikut sibuk membalas ciuman penuh hasrat yang diberikan Steven. Mereka seperti ingin menelan satu sama lain, dan membuat ciuman itu terasa semakin intens. Saat itu hembusan napas Steven terasa begitu hangat menerpa wajah Willa.


Orang-orang di sekitar lokasi syuting tampak menangis dan juga bertepuk tangan untuk mereka dan berkata, "meskipun sebenarnya adegan itu benar-benar berubah. Tapi adegan itu jauh lebih baik dibandingkan yang sebelumnya."


Asisten Steven lalu berkata, "cut, cut, cut, cut..."


Tapi Steven dan Willa terus melanjutkan ciuman mereka, karena keduanya sama sekali tidak mendengar suara orang lain. Mereka juga tidak mendengar orang-orang yang bertepuk tangan untuk mereka.


Saat itu, keduanya benar-benar seolah ada di dunia mereka berdua dan mereka benar-benar terpisah dari dunia luar.


Kemudian salah seorang asisten berteriak dengan sangat keras, "Steven, kami sudah mengatakan cut ratusan kali sampai sekarang. Tapi kau tidak mendengarkan kami, ada apa denganmu?"


Tiba-tiba Willa mulai mendengarkan mereka, jadi dia mendorong Steven dengan lembut sementara dia sendiri tampak merona karena merasa malu.


Kemudian Steven mulai mengusap bibirnya dengan lembut karena begitu basah akibat ciuman tadi. Steven lalu memutar kepalanya melihat ke arah mereka semua, ke arah orang-orang yang berada di sekeliling mereka seraya memanggang tangan Willa dengan sangat erat.


Saat itu Steven berdiri dengan jantungnya berdegup kencang dan kepala yang sedikit pusing karena dia baru saja melakukan hal yang begitu fantastis, sensasional dan tidak pernah berakhir. Ciuman yang membuat dia melupakan dimana dirinya berada dan bahkan siapa dirinya saat ini.


Akhirnya Willa dan Steven berpisah. Meski dalam hati, mereka berharap jika mereka tidak akan pernah terpisahkan.


Walaupun tubuh Willa sudah berpisah dari tubuh Steven, tapi pikiran mereka, jiwa dan hati mereka berdua, belum terpisahkan sepenuhnya.


Semua yang dilakukan Steven hanya berdiri di sana untuk waktu yang lama menatap Willa, dengan penuh cinta, hasrat dan kasih sayang.


Disaat yang bersamaan Willa tampang merona. Dia tampak bernapas dengan kesusahan melihat ke arah bawah, menggigit bibirnya karena dia tahu bahwa Steven tengah menatap dirinya.


"Steven, Steven, Steven.... Ada apa denganmu? Apakah kau merasa kurang enak badan? Apakah kau mau kami membawa seorang dokter untukmu?" Ucap asisten Steven kepadanya tapi Steven tetap tidak menjawab mereka semua.


Kemudian Willa tahu bahwa jika dia tetap berdiri di depan Steven, pria itu akan terus menatapnya dan Willa merasa bahwa dia akan menyebabkan masalah bagi Steven dan juga untuk pekerjaannya.


Jadi Willa hendak berkata pada Steven, tapi Steven langsung lebih dulu bertanya kepadanya.


"Ada apa Willa?" Tanya Steven.


"Tuan aku minta maaf. Aku merasa kurang sehat. Aku mau pergi ke ruang ganti lebih dulu dan dengan izin dari anda, aku akan menunggu anda di dalam mobil sampai anda menyelesaikan pekerjaan anda disini. Aku minta maaf Tuan, karena sudah mengecewakan anda dan semua dokumen dan barang yang anda butuhkan, aku meninggalkan mereka di atas meja anda di lokasi ini." Ucap Willa dengan terus memandang ke arah bawah dengan suara nafasnya yang terdengar berat.


Steven tidak tahu harus mengatakan apa. Jadi dia mulai untuk menjulurkan tangannya dengan tujuan untuk menarik Willa kedalam pelukannya, tapi Willa dapat merasakan hal itu dimana Steven akan memeluknya. Jadi Willa berjalan menjauh dengan cepat.


"Apa kau mau aku membawa dokter untukmu?" Ucap Steven.


"Ini tidak terlalu buruk Tuan, sampai ketemu nanti setelah pekerjaan anda selesai Tuan." Ucap Willa.

__ADS_1


"Sampai ketemu nanti Willa." Ucap Steven dengan wajah yang tampak sedih.


Kemudian Willa pergi dan menuju ke kamar mandi.


Saat dia masuk ke kamar mandi, dia membuka keran air dan dia berkata pada dirinya sendiri dengan keras saat nafasnya terasa begitu berat.


"Dia membakar aku dengan api miliknya. Aku tahu dengan benar bahwa ini semua tidak akan bisa memadamkan api itu, kecuali darinya sendiri. Tapi semua yang bisa kulakukan sekarang hanyalah menyiram wajahku dengan air dingin. Kemudian semua api yang aku rasakan di seluruh tubuhku akan padam dan semuanya akan lebih baik nanti. Aku harap begitu." Ucap Willa.


Kemudian Willa melihat dirinya sendiri di cermin dan kembali bicara pada dirinya sendiri.


"Ada apa denganmu Willa? Kau harus bangun. Meskipun sebenarnya kau mengatakan perasaanmu yang sebenarnya padanya, tapi baginya semua itu hanyalah akting. Jangan berikan dirimu sendiri sebuah harapan palsu. Apakah kau ingin menyakiti dirimu sendiri dengan melihat harapan itu musnah di depan matamu sendiri? Dia belum mengingat dirimu, karena jika dia mengingat dirimu yang sebenarnya, dia akan terus membuatmu berada dalam pelukannya dan menghadapi semua dunia ini dengan mengatakan kepada mereka semua kebenarannya bahwa kau adalah istrinya."


Kemudian Willa memukul kedua pipinya dengan tangannya sangat keras dan dia kembali bicara pada dirinya sendiri dengan sangat keras.


"Aku akan memaksa mu untuk bangun sebelum ini semua terlambat. Kau memberikan semua kata-kata dan perasaan yang kau simpan selama ini di dalam dirimu sampai dia mengingatmu dan mengatakan kepada dunia bahwa kau adalah istrinya."


Secara tiba-tiba pintu kamar mandi diketuk.


Willa berbalik dengan tampak terkejut kemudian dia mendengar suara Steven yang berbisik.


"Willa, apakah kau ada di dalam sana? Aku sangat ingin berbicara denganmu tentang suatu hal yang sangat penting sebelum kau pergi Willa."


Tanpa membuang waktu, Willa langsung keluar dari dalam kamar mandi. Setelah itu, saat dia sudah berada diluar Steven langsung menarik tangannya dan membawanya ke sebuah ruangan yang berada dekat dengan kamar mandi itu.


Tanpa kata-kata Steven langsung memeluk Willa dan menaruh dagu nya di pucuk kepala Willa, kemudian Willa bertanya kepadanya saat jantung Steven tengah berdegup begitu kencang.


"Ada apa Steven? Kenapa kau memelukku dengan begitu erat?"


"Willa, setelah menyelesaikan pekerjaan ku aku tidak punya waktu untuk berbicara denganmu karena kemudian aku akan langsung kembali ke perusahaan. Ada suatu hal yang sangat penting untuk aku kerjakan. Setelah itu aku akan kembali ke rumah untuk berganti pakaian sebelum aku naik pesawat.


Sebenarnya aku sangat ingin berbicara denganmu tentang hal yang penting itu. Tapi aku harus pergi ke tempat papaku. Aku ingin menanyakan kepadanya tentang sesuatu lebih dulu. Setelah itu aku akan mengatakan kepadamu hal yang penting itu. Saat aku kembali, aku berjanji kepadamu bahwa kita akan berbicara bersama."


Willa memegang pakaian yang digunakan Steven dengan kedua tangannya dari depan, dan kemudian melihat ke arah mata Steven dengan tatapan memohon di matanya saat dia dalam pelukan Steven dan berkata,


"Tolong Steven, jangan tinggalkan aku dengan penuh pertanyaan seperti itu. Hal penting apa yang ingin kau katakan kepadaku?"


Tiba-tiba salah seorang asisten memanggil Steven untuk keluar dari dalam ruangan itu.


"Steven apa kau ada didalam? Kita akan mulai syuting. Jadi kami memerlukan mu disana, bisakah kau lebih cepat?"


Kemudian Steven berkata kepada asistennya itu, "baiklah, tunggu saja di sana. Aku akan segera datang."


"Seperti perintah anda Tuan." Balas asisten Steven.


Secara tiba-tiba Steven langsung mencium Willa dengan penuh hasrat kemudian dia berkata, "aku harus pergi sekarang. Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja. Tapi aku tidak bisa untuk mengatakan kepadamu segalanya sampai aku bertemu dengan papaku lebih dulu. Kemudian aku akan mengatakan kepada mu semuanya setelah aku kembali. Hanya berikan aku beberapa waktu, ku mohon."


Willa menghela nafas dalam dan berkata dengan wajah yang sedih, "baiklah, aku tidak akan memaksamu. Aku akan sabar menunggu sampai kau kembali Steven."


Steven tersenyum kearah Willa mengusap punggung Willa dan kemudian mencium kening Willa dan berkata, "sampai bertemu nanti Willa."

__ADS_1


Willa membalas senyuman Steven dan berkata, "sampai bertemu nanti Steven."


Bersambung.....


__ADS_2