
Kemudian Willa menaruh telapak tangannya di pipi Steven dan berkata kepada Steven dengan melihat ke arah mata Steven dengan dalam dan air matanya mulai jatuh ke pipinya tanpa sadar.
"Apa kau tahu sesuatu Steven? Bahkan setelah kematian ku, aku akan terus mencintai dirimu dalam makam ku. Bahkan jika aku mati, cinta yang aku punya untukmu tidak akan pernah mati bersamaku. Tapi itu semua akan terus berlanjut untuk hidup selamanya. Cinta ku tidak akan pernah berakhir, kau adalah cinta terakhirku."
'Huk... Huk...'
Willa batuk dan mengeluarkan darah.
Saat Steven melihat darah itu keluar dari dalam mulut Willa, dia dengan tanpa sadar menangis dengan sangat keras dan juga terdengar sesenggukan.
"Seseorang panggil ambulan..." Teriak Steven dengan suara yang terbata-bata.
Truk yang menabrak Willa tadi langsung melarikan diri, sementara mobil polisi itu terus mengejar truk besar itu.
Willa terus bicara kepada Steven saat dia memegang pipi Steven dengan kedua telapak tangannya melihat ke arah mata Steven dan tersenyum pada Steven dengan matanya yang masih penuh dengan air mata.
"Jangan menangis, matamu itu seharusnya tidak boleh menangis. Untuk apa air mata itu? Air matamu lebih berharga dibanding apapun di hidup ini, bahkan lebih berharga dibandingkan diriku. Jadi, air matamu itu seharusnya tidak keluar dari matamu untuk hal apapun dalam dunia ini. Jika kau menangis karena kau berpikir bahwa aku merasakan sakit, kau berarti salah. Aku sudah mengatakan kepadamu sebelumnya, tapi kau tidak mempercayai aku sampai saat ini. Saat kau merasakan begitu sakit di dalam dirimu, suatu hal seperti ini bahkan tidak akan pernah membuatmu merasakan sakit apapun. Apakah kau berpikir bahwa semua yang aku rasakan saat ini sangat sakit? Asal kau tahu, rasa sakit di dalam diriku jauh lebih sakit dari yang dirasakan tubuhku saat ini."
"Kau bisa membayangkan seberapa banyak aku berharap untuk meninggal dalam pelukanmu. Aku tidak peduli apa yang akan terjadi padaku selama aku berada dalam pelukanmu. Aku tidak peduli apa yang akan aku lalui, asalkan pada akhirnya aku akan mati dalam pelukanmu."
'Huk... Huk... Huk...'
Willa kembali batuk dan mengeluarkan lebih banyak darah.
__ADS_1
"Berhentilah bicara. Ambulan akan segera datang." Ucap Steven terisak.
Sebenarnya Steven bisa saja membawa Willa dengan menggunakan mobilnya sendiri. Tapi, dengan kondisi Willa yang seperti itu, Steven benar-benar tidak akan bisa fokus menyetir. Terlebih dirinya yang saat ini tampak begitu syok dan gemetar.
Kemudian Willa tersenyum dengan senyumannya yang tampak begitu manis dan kembali berkata kepada Steven.
"Apa kau pikir aku ini tengah bersedih? Itu tidak benar, aku malah sangat bahagia karena pada akhir hidupku, satu-satunya harapanku bisa terkabulkan dengan kematian ku yang ada dalam pelukanmu. Hanya satu hal yang aku harapkan, andai saja aku tidak tahu apapun tentang hal itu bahwa kau akan menikah dengan wanita lain dibandingkan diriku, itulah hal yang paling menyakitkan dalam hatiku."
'Huk... Huk... Huk...'
Lagi-lagi Willa terbatuk. Steven tampak menatap kearah darah yang keluar dari mulut Willa.
"Jika kau pikir bahwa darah yang keluar dari dalam mulutku itu disebabkan karena aku begitu keras ditabrak oleh truk, kau benar-benar salah. Apa kau tahu kenapa? Karena hatiku sudah berdarah selama bertahun-tahun yang terus menyakiti diriku tanpa ampun. Tapi pada akhirnya aku tidak bisa mengeluarkan darah itu dari dalam diriku."
"Aku sangat bahagia pada akhirnya aku bisa mengeluarkan semua rasa sakit yang terus ada di dalam diriku. Dengan keluarnya darah ini, akhirnya aku bisa membuat diriku terbebas."
'Huk.... Huk... Huk...'
Willa kembali terbatuk.
Willa menaruh kedua telapak tangannya di pipi Steven, melihat kearah matanya, tersenyum padanya dan dengan darah yang masih keluar dari dalam mulutnya, Willa berkata kepada Steven.
"Meskipun aku berharap bahwa kau bisa menemukan cinta yang lain, tapi hal itu membuatku sedih karena sejauh ini, aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa ada wanita lain yang bisa masuk ke dalam hidupmu selain aku. Percayalah, bahwa aku terus merasa cemburu padamu, bahkan jika aku sudah berada didalam kubur ku. Memikirkan bahwa ada wanita lain yang bisa masuk ke dalam hidupmu kecuali diriku, membuatku benar-benar merasa terluka. Aku berharap jika hatiku terbuat dari batu. Aku berharap jika hatiku tidak bisa terluka, maka tidak ada yang bisa membuat hatiku terkoyak dengan cara seperti ini."
__ADS_1
"Apa kau pikir bahwa aku sedih karena aku akan mati? Kau salah, karena aku sangat bahagia. Karena pada akhirnya mataku bisa melihat dirimu yang masih dalam keadaan sehat. Aku sudah sering melihat kejadian kematian mu setiap hari dalam mimpiku. Aku pikir bahwa itu adalah mimpi buruk, tapi kadang-kadang kenyataannya bisa lebih buruk dari sebuah mimpi buruk."
Steven memegang dadanya yang terasa sakit karena melihat kesedihan dimata Willa, saat Willa kembali berkata.
"Apa kau berpikir aku percaya bahwa kau bukanlah orang yang aku cintai? Meskipun aku sudah pernah melihat kau mati di depan mataku, dan mamaku yang juga mengatakan hal itu kepadaku. Tapi aku tidak akan pernah mempercayai hal itu, karena kau adalah jiwaku dan aku adalah satu-satunya orang yang bisa mengenali jiwaku sendiri. Aku bisa mengenali nafas my, bahkan aku bisa mengenali aroma tubuhmu. Katakan padaku, bagaimana mungkin ada dua pria yang begitu sama persis di dunia ini?"
"Jadi kau adalah suamiku. Bahkan jika seluruh dunia menyangkal hal itu dan mengatakan bahwa kau bukanlah dirinya, jangan percaya kepada mereka. Kau harus percaya kepada orang lain yang bahkan bisa mengenali detak jantung mu."
"Aku berharap kau bisa hidup bahagia. Aku berharap kau bisa menggapai semua mimpimu. Aku berharap kehidupan memperlakukan mu dengan baik. Tapi dibalik semua itu, aku selalu berharap kau bisa mempunyai kehidupan yang bahagia tanpa adanya rasa sakit tanpa harus menghadapi rasa sedih."
Huk... Huk... Huk...
Willa kembali batuk dan mengeluarkan darah.
Willa terus memegang wajah Steven dengan telapak tangannya dan terus menatap ke arah mata Steven dan tersenyum kepada Steven.
"Aku sangat bahagia dan berterima kasih kepadamu karena sudah memberikan aku waktu yang bahagia. Aku bahkan sudah melewati hidupku seperti mayat hidup untuk waktu yang lama. Tapi kau membuatku bisa bernapas lagi. Kau membuatku tertawa, menangis, kau bisa mengukir senyum di wajahku, kau memberikan aku cinta yang selalu aku inginkan selama ini. Terima kasih cinta terakhirku, tetaplah bahagia. Tetaplah hidup sehat, dan ingatlah untuk tetap tersenyum."
Kemudian Willa berhenti bicara dan tangannya terjatuh dan akhirnya dia kehilangan kesadaran nya.
Saat itu Steven berteriak dengan sangat keras dan tangannya menekan ke arah dada Willa terus menerus dengan sangat keras dan air matanya terus jatuh seperti air sungai di pipinya.
"Tidak... Tidak.... Tidak...." Teriak Steven.
__ADS_1
Bersambung.....