
Steven berkata kepada Willa.
"Oh ya Tuhan, kau membuatku lupa bahwa kita masih berdiri di jalanan di depan kantor polisi. Lihatlah sekeliling mu, semua orang tengah melihat kearah kita. Mereka pasti berpikir bahwa kita tengah shooting sebuah film. Para polisi pasti sangat marah karena kita sudah membuat banyak orang berkerumun di depan kantor polisi ini. Apakah kau mau para polisi itu menangkap kita? Mama mu juga melihat kita di belakang ku itu dan dia tampak sangat marah. Bukan begitu?"
Willa tersenyum dan berkata, "iya, dia tengah menatap kita dengan marah."
"Aku tahu itu, kita harus pulang ke rumah sekarang juga. Tapi sebelum kita berpindah dari sini dan masuk ke dalam mobil kemudian menuju ke rumah kita, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu. Suatu hal yang sangat penting dan aku ingin kau menyimpan ini di kepalamu." Ucap Steven.
"Apa itu Steven? Aku akan mendengarkan mu dengan baik." Balas Willa.
"Mulai sekarang, aku tidak mau kau mencintai aku sebanyak ini. Aku ini tidak pantas menerima semua cinta yang kau berikan ini, dan tidak ada seorangpun di dunia ini yang pantas dicintai dengan cara seperti ini." Ucap Steven.
"Tapi semua ini diluar kendali diriku dan aku tidak bisa mengendalikan nya." Balas Willa.
Steven menghela napas panjang lalu berkata, "tapi jika kau terus melanjutkan cara mu mencintai aku seperti ini, kau akan menjadi gila, saat sesuatu yang buruk terjadi kepadaku. Bagaimana jika...."
Willa menaruh tangannya di mulut Steven seraya menggelengkan kepalanya dan berkata dengan raut wajah yang tampak begitu sedih.
"Tolong jangan katakan hal itu. Aku tidak bisa mendengarkannya. Tapi jika itu terjadi padamu, aku akan meminta mereka untuk mengubur diri ku dengan hidup-hidup bersama denganmu. Apakah kau tahu, sesuatu yang ada di dalam pikiranku ini tidak bisa memikirkan tentang hal itu. Aku benar-benar berdoa dan memohon kepada Tuhan setiap saat untuk membuat kematian ku lebih dulu dibandingkan dirimu. Tuhan tahu bahwa aku tidak akan bisa menerima semua itu, jika kau lebih dulu meninggalkan aku. Jadi aku benar-benar merasa yakin bahwa Tuhan tidak akan melakukan hal itu kepadaku." Ucap Willa dengan air matanya yang mulai jatuh ke pipinya.
__ADS_1
Steven benar-benar terkejut dan merasa bahwa air matanya hampir bisa saja terjatuh karena Willa. Karena akhirnya Steven menyadari bahwa Willa sudah benar-benar gila akan cinta yang dia punya kepada suaminya dan tidak ada jalan bagi dirinya untuk kembali lagi.
Hal ini menjadi dilema bagi Steven. Dia tidak tahu harus memikirkan apapun lagi. Ucapan dan tindakan, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan atau dikatakan. Semakin Steven mencoba untuk membantu Willa dan membawa dia keluar dari kekacauan ini, semakin Willa masuk ke dalamnya dan dia semakin dekat dengan Steven.
Steven berbicara kepada dirinya sendiri berpikir dan berkata dalam hati, ' kenapa takdir mempermainkan kami saat hidupku dan hidupnya sebenarnya tidak mungkin untuk bertemu dan bersatu. Ini hanya tinggal dua minggu lagi sampai pernikahanku dengan Lucy. Kenapa dia muncul saat ini dalam hidupku? Apa sebenarnya tujuan Tuhan mentakdirkan kami seperti ini.'
'Bagaimanapun kami harus pulang ke rumah lebih dulu dan kemudian aku akan berpikir tentang apa yang harus aku lakukan selanjutnya.' pikir Steven lagi.
Tiba-tiba Steven berkata kepada Willa dengan tersenyum.
"Aku harap kau terus bersikap mesra seperti ini kepadaku selamanya. Tapi aku tahu bahwa Mama mu sangat marah dan aku tidak punya keberanian untuk berbalik dan melihat dia yang tengah memberikan tatapan marah dan mematikan itu kepadaku."
Willa kemudian melihat kearah Mama nya saat dia tengah bersikap begitu mesra dengan Steven dan berkata, "kau sangat benar, tatapan mata Mama ku benar-benar mematikan."
"Jadi kau takut kepada Mama ku?" Tanya Willa.
"Aku tidak takut kepada Mama mu. Tapi, aku hanya menghargai perasaannya." Balas Steven.
Willa tertawa dengan sangat keras.
__ADS_1
Kemudian Steven berkata, "yeah, aku ingin melihat kau selalu tertawa seperti ini dan tidak ada lagi air mata. Apakah kau tidak lelah untuk menangis dan bersedih? Berjanjilah kepadaku, apapun yang akan terjadi kau tidak akan pernah menangis lagi."
"Pertama, aku tahu bahwa kau tidak takut kepada Mama ku. Aku hanya bercanda kepadamu. Ini sudah sangat lama sejak terakhir kalinya aku bercanda denganmu. Jadi aku hanya ingin bercanda denganmu saja. Kedua, aku tidak bisa berjanji kepadamu atas apapun yang aku, tidak akan pernah bisa melakukannya."
Tiba-tiba Willa menurunkan kakinya dari atas tubuh Steven, melepaskan kedua tangannya dari leher Steven. Dia berdiri di tanah memegang kedua tangan Steven melihat ke arah mata Steven dan berkata dengan tersenyum, "sebelumnya, saat kau bersamaku, kita selalu berjalan dengan berpegangan tangan."
"Tidak peduli apapun yang akan terjadi, kita tidak boleh melepaskan tangan satu sama lain. Ayo sekarang kita masuk ke dalam mobil dan pulang ke rumah. Semua orang, baik itu Mama ku dan para polisi itu masih terus menatap kita."
Steven tahu benar bahwa dia harus melepaskan tangan Willa cepat atau lambat karena dia bukanlah suami Willa yang sebenarnya. Dan Willa bukanlah istrinya dan dia punya kehidupannya sendiri, dimana dia harus melanjutkan hidupnya tanpa Willa.
Tapi sekarang Steven terpaksa untuk berjanji kepada Willa bahwa dia tidak akan pernah melepaskan tangan Willa lagi. Oleh karena itu Steven ingin berkata kepada Willa, 'saat rasa sakit ini merasuk ke dalam hatinya, karena dia tahu konsekuensi dari ucapannya akan menjadi rasa kasihan kepada Willa setelah dia meninggalkan Willa.'
"Yeah, tidak peduli apa yang akan terjadi, kita tidak boleh melepaskan tangan kita satu sama lain." Ucap Steven.
Willa tersenyum kepada Steven, kemudian mereka masuk ke dalam mobil dan memulai perjalanan mereka pulang ke villa milik Steven.
Setelah satu jam perjalanan, mereka akhirnya tiba di villa milik Steven.
Willa masih memegang tangan Steven, dan dia tidak mau melepaskan tangan itu. Kemudian Steven mengajak Willa pergi ke sebuah kamar yang tampak begitu manis dan berkata, " ini akan menjadi kamarmu. Ada banyak keperluan wanita di sini. Kau akan menemukan apapun yang kau inginkan di dalam kamar ini."
__ADS_1
"Jadi, bisakah kau melepaskan tanganku? Aku berjanji bahwa aku tidak akan pernah kabur darimu."
Bersambung......