Cinta Membuat Aku Gila

Cinta Membuat Aku Gila
23. Menjadi Sekretaris


__ADS_3

Setelah Willa menyelesaikan panggilan telpon itu, dia langsung masuk ke dalam ruang ganti pakaian dan mengambil sebuah gaun berwarna biru terang. Kemudian dia beranjak menuju cermin.


Saat dia berdiri di depan cermin, dia memulai menaruh gaun itu di depan tubuhnya. Kemudian dia menatap pantulan dirinya di dalam cermin, untuk melihat apakah gaun itu cocok atau tidak untuk dikenakan.


Tiba-tiba Willa menghela napas dalam dan berkata, "aku tidak bisa mengingat kapan terakhir kali saat aku melihat diriku di dalam cermin seperti ini. Itu sudah sangat lama. Apakah dia akan menyukai gaun ini?"


"Walaupun sebenarnya aku membenci warna biru terang sepanjang hidupku. Tapi setelah jatuh cinta dengannya, aku sangat menyukai warna ini saat aku mulai mengetahui bahwa dia sangat menyukai warna ini. Aku harap dia juga menyukai gaun yang akan aku kenakan ini."


Beberapa saat kemudian....


Willa sudah selesai berganti pakaian, dari seragam sopir dan kini menggunakan gaun berwarna biru terang. Kemudian dia beranjak pergi ke ruangan Steven.


Willa berdiri di depan pintu ruangan Steven, menutup matanya dan mengambil napas dalam. Kemudian dia mengetuk pintu ruangan itu.


"Siapa itu?" Tanya Steven.


"Ini aku Willa Tuan. Bisakah aku masuk?" Balas Willa.


"Iya tentu saja kau boleh masuk." Ucap Steven.


Willa kemudian membuka pintu saat mendapati Steven tengah duduk di mejanya dan bersikap seolah dia sangat sibuk, karena sebelumnya dia sebenarnya sudah melihat Willa di layar CCTV. Setelah menggunakan gaun itu, Willa memang tampak sangat seksi dan bagaimanapun, Steven tidak mau kehilangan kontrol akan dirinya lagi.


Kemudian Willa berdiri di depan Steven. Namun Steven tampak benar-benar tidak menghiraukan nya, kemudian Willa berkata, "Tuan bisakah anda mengatakan kepadaku di mana ruangan ku berada?"


Steven menunjuk kearah pintu lainnya di mana ada sebuah ruangan di dalam ruangannya sendiri kemudian.


Dia kemudian berkata, "buka pintu itu. Ruangan itu terhubung dengan ruangan ku dan itu akan menjadi ruangan mu."


Tanpa pikir panjang, Willa langsung membuka pintu itu dan masuk ke dalam ruangan nya. Kemudian dia bicara kepada dirinya sendiri.


'Kenapa dia tidak menghiraukan aku seperti itu? Apakah aku melakukan suatu kesalahan secara tidak sengaja, jadi dia bersikap seperti itu kepadaku? Aku mengenal dia dengan sangat baik. Dia tidak pernah bertingkah seperti itu saat bekerja sebelumnya. Apa yang salah dengan dirinya?'


Kemudian Willa menghela napas dan berkata, "aku harus bersikap normal sampai aku mengetahui kenapa dia bertingkah seperti itu."


Beberapa saat kemudian, Willa kembali masuk ke dalam ruangan Steven seraya membawa secangkir kopi dan sebuah kertas di tangannya.


Dengan begitu cepat Willa menaruh kopi itu di meja kerja Steven.


"Apa ini?" Tanya Steven


"Ini adalah kopi anda Tuan." Balas Willa.


"Tapi aku tidak suka kopi biasa." Ucap Steven.


"Ini adalah cappuccino. Aku membuat ini sama seperti yang selalu anda sukai Tuan." Balas Willa.


Steven tampak terkejut dan berbicara pada dirinya sendiri.


'Ini sudah sangat berlebihan. Dia tidak pernah menanyakan kepada ku tentang apapun. Tapi dia tahu semua tentang diriku. Bagaimana mungkin dia mengetahui semua detail tentang diriku?'


Tiba-tiba Willa berkata, "Tuan, aku sudah menyiapkan semua yang anda butuhkan di lokasi dan ini semua adalah script yang anda butuhkan hari ini Tuan."

__ADS_1


Steven memanggang kertas itu melihatnya, kemudian dia bertanya kepada Willa.


"Bagaimana kau bisa mengetahui bahwa aku membutuhkan semua benda ini dan bagaimana kau bisa mengetahui semua tentang pekerjaanku?"


"Tuan, mungkin anda lupa bahwa aku punya banyak perusahaan di kota ku sendiri. Dan pekerjaannya hampir sama dengan pekerjaan anda dan kami bekerja bersama sebagai general manager dari seluruh grup dan perusahaan." Ucap Willa.


Sesaat kemudian setelah Steven mendengar ucapan Willa, dia tampak terkejut dan berbicara kepada dirinya sendiri.


'Kau adalah general manager dari perusahaan yang sangat besar dan kau begitu puas dengan hanya bekerja padaku sebagai sopir atau pelayan atau bahkan sekretaris. Perasaan seperti apa yang kau punya didalam hatimu untuk pria itu?' ( Yang dimaksud Steven adalah suami Willa)


'Walaupun sebenarnya pria itu sudah meninggal. Tapi dengan yang kau lakukan kepadaku, aku bisa meyakinkan dirimu bahwa kau membuat aku seratus persen yakin bahwa aku adalah suamimu. Aku tidak tahu kenapa, tapi satu hal yang aku tahu dengan baik adalah, aku tidak akan pernah membiarkan pria manapun untuk memiliki dirimu seperti yang dikatakan pria tua tadi pagi itu.'


'Pria tua itu sesungguhnya sangat benar. Laki-laki yang meninggalkan dirimu untuk pergi kepada pria lain, dia akan menjadi pria yang paling bodoh di dunia ini. Aku sudah menahan semua perasaan ini sejak sangat lama, tapi sekarang, tidak lagi.'


Steven tanpa sadar berdiri dari kursinya dan mendekat kearah Willa dari belakang, saat Willa berdiri di depan mejanya


Willa tampak begitu terkejut dan bicara kepada dirinya sendiri saat Steven mendekat kepadanya.


'Apa yang akan dia lakukan? Ada apa dengan dirinya? Aku tahu tatapan itu dengan baik. Seperti yang sudah aku ketahui bahwa dia belum mengingat aku sepenuhnya. Apakah hatinya memulai mengingat aku, jadi hatinya mendorong dirinya kepadaku? Namun disaat yang bersamaan, pikirannya menahan dirinya dari diriku karena pikirannya menolak untuk menerima aku sebagai istrinya.'


'Aku harus kuat. Jika aku membiarkan dia mendorong hatinya saat pikirannya menolak aku, pada akhirnya pilihan terakhirnya akan ada pada pikirannya dan semua ini akan berakhir dengan merusak hubungan diantara kami berdua.'


Kemudian mata Willa mulai berair, saat dia berkata kembali kepada dirinya sendiri.


'Aku sangat ingin memiliki dirinya, tapi tidak dengan cara seperti ini. Aku tidak mau kehilangan dia. Karena aku mau dia selalu bersamaku sampai akhir napas ku di hidup ini. Bahkan jika dia tidak mengingat aku, aku akan menjadi orang yang selalu hidup di sampingnya.'


'Tapi, jika aku mengikuti perasaanku dan membiarkan dia memiliki diriku secepatnya atau nanti dalam hal ini. Jika dia tidak mengingat aku, dia akan sepenuhnya membuat aku keluar dari dalam hidupnya tanpa penyesalan. Aku tidak mau seperti itu. Pada akhirnya aku akan sangat lemah, tapi untuk bisa hidup di sampingnya aku tidak akan menyerahkan hal lainnya.'


Tiba-tiba Steven berdiam diri dan memeluk Willa dari belakang dan memegang pinggang Willa dengan kedua tangannya dari belakang. Lalu menaruh pipinya di kepala Willa dari samping, kemudian dia semakin memeluk Willa dengan erat dari belakang dan mendekatkan bibirnya kearah telinga Willa dan bertanya kepada Willa.


Willa kembali bicara kepada dirinya sendiri.


'Bagaimana aku harus menjawab pertanyaan sulit itu. Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Jika seseorang bertanya kepadamu kenapa kau bernapas dengan udara? Jawabannya tentu saja aku tidak bisa bernapas tanpa udara. Jadi aku bernapas dengan udara untuk hidup. Dia sama seperti udara bagiku yang membuat aku bernapas untuk terus hidup. Tapi bagaimana aku bisa membuat dia percaya, jika dia sendiri tidak merasakan hal itu sendiri.'


'Jika saja dia mengetahui posisi dirinya didalam hatiku, dia tidak akan pernah bertanya pertanyaan seperti itu. Cinta itu hadir tanpa alasan. Aku tidak membutuhkan alasan apapun untuk mencintai dirinya. Cinta itu buta. Saat dua hati bertemu, tidak ada jalan untuk bisa kembali lagi. Cinta itu lebih besar dibanding dengan bagaimana cara menjelaskannya dengan lidah dan mengucapkannya dengan kata-kata. Suatu hal yang berasal dari hati dan hanya hati yang bisa merasakannya. Setelah itu tangan dan mata ditambah dengan seluruh bagian tubuh yang bisa mengekspresikan semuanya.'


'Pertanyaan yang diajukan dirinya kepada ku, membuatku yakin bahwa pikirannya masih menolak aku sebagai istrinya.'


Tiba-tiba Willa merasa bahwa Steven tengah mendekat kearah lehernya untuk menciumnya. Dengan cepat Willa bertingkah bodoh dan berbalik melihat wajah Steven untuk menghindar agar Steven tidak menciumnya, dengan Steven yang masih memegang pinggangnya dengan satu tangannya.


Kemudian Willa tertawa dan berkata, "Tuan, aku tidak butuh alasan untuk mencintaimu. Aku mencintaimu karena kau adalah dirimu. Aku tidak mencintaimu untuk suatu alasan. Aku mencintaimu karena dirimu sendiri. Aku mencintaimu karena hati kita dan jiwa kita telah bersatu."


Tiba-tiba Steven langsung mendaratkan sebuah ciuman di bibir Willa.


Kemudian Willa berkata, "Tuan, apa anda masih lupa bahwa kita masih bekerja. Seseorang bisa saja melihat kita dan aku sudah berjanji kepada Tuan sebelumnya bahwa aku tidak akan merusak hidup baru Tuan. Tuan adalah seorang pria yang mempunyai reputasi. Jadi apapun perasaan yang aku punya, aku akan menunggu sampai Tuan mengingat aku dan mengatakan sendiri kepada semua orang."


"Karena Tuan dan kebahagiaan Tuan adalah hal yang paling penting dibanding perasaanku sendiri, karena aku tahu dengan benar jika sesuatu merusak reputasi Tuan maka Tuan akan menjadi begitu sedih. Aku bisa menahan perasaanku sendiri di dalam diriku. Tapi aku tidak bisa untuk melihat kesedihan yang ada di mata Tuan di depan mataku sendiri. Jadi aku merasa begitu berterima kasih kepada Tuan karena sampai sekarang, meskipun Tuan belum mengingat aku. Tapi Tuan memperlakukan aku dengan semua kebaikan. Tuan selalu menghargai perasaan ku, dan selalu memperhatikan aku. Sekarang, bisakah Tuan melepaskan tangan Tuan dari pinggangku sebelum seseorang masuk kedalam sini dan melihat kita berdua yang berdiri sedekat ini."


Dengan begitu cepat Steven melepaskan tangannya dari tubuh Willa. Kemudian dia berbicara dengan dirinya sendiri.


'Wanita seperti apa dia ini? Bagaimana dia bisa menahan semua perasaannya dengan tujuan untuk tidak membuat orang lain berpikir buruk tentang diriku. Aku sangat berharap bahwa dia menjadi istriku yang sebenarnya. Aku benar-benar mengharapkan hal itu dengan seluruh hatiku dan seluruh jiwaku.'

__ADS_1


"Kita harus pergi ke lokasi syuting sekarang Tuan. Apa anda sudah siap?" Ucap Willa.


"Iya, ayo kita pergi." Balas Steven.


"Tuan, aku akan pergi lebih dulu dan aku akan menunggu anda di dalam mobil sampai anda selesai meminum kopi anda." Ucap Willa.


Steven tersenyum dan berkata, "terima kasih sudah mengingatkan aku. Aku hampir saja melupakan kopi itu."


Setelah itu Willa mengambil semua barang-barang yang mereka butuhkan untuk pergi ke lokasi syuting dan masuk ke dalam mobil lebih dulu. Di sisi lain Steven mulai meminum kopi buatan Willa.


5 menit kemudian....


Steven sudah selesai minum kopi dan bergegas menuju mobil.


"Tuan, anda harus lebih cepat. Kita sudah terlambat. Semua kru dan pemain sudah menunggu anda di sana." Ucap Willa.


Steven dengan cepat masuk ke dalam mobilnya kemudian mereka pergi menuju lokasi syuting. Willa duduk di kursi pengemudi dan mengendarai mobil dan Steven duduk di kursi penumpang belakang.


"Aku lupa untuk mengatakan kepada anda Tuan, bahwa papa anda menelpon pada ponsel yang anda berikan kepadaku tadi pagi dan aku menjawab panggilan telpon itu. Papa anda meninggalkan pesan kepada anda bahwa dia akan datang dan mengunjungi anda besok." Ucap Willa.


Steven tampak begitu terkejut dan bicara pada dirinya sendiri.


'Semua ini tidak akan berakhir dengan baik. Apa yang akan aku katakan kepada papa tentang Willa. Apa alasan yang harus aku katakan kepada papa tentang membiarkan seorang wanita asing untuk tinggal bersamaku di bawah satu atap. Dan disaat yang bersamaan aku bahkan tidak pernah membiarkan tunangan ku sendiri untuk tinggal bersamaku di bawah satu atap.'


Kemudian Steven menghela napas dalam dan terus berbicara pada dirinya sendiri.


'Pria tua itu akan curiga padaku dan pada akhirnya dia akan menyadari kenyataannya. Ya Tuhan, tolong aku! Kenapa ini semua kesulitan ini datang secara begitu tiba-tiba.'


"Kenapa anda tiba-tiba melamun Tuan? Apakah semuanya baik-baik saja?" Tanya Willa.


"Iya aku punya sesuatu yang penting untuk dilakukan. Jadi aku hanya berpikir tentang bagaimana cara untuk mengatasinya." Balas Steven.


"Oh iya Tuan, aku juga punya suatu pertanyaan yang aku ingin menanyakan nya kepadamu Tuan, bisakah aku bertanya?" Ucap Willa.


"Iya, tentu. Katakan saja." Ucap Steven.


"Bagaimana anda bisa menemukan papa anda setelah beberapa tahun ini dan kapan anda bertemu dengannya?" Tanya Willa.


Steven tampak begitu terkejut dan berkata, "apa maksud perkataan mu itu?"


Willa berkata, "papa anda bernama Adam dan dia orang Amerika, bukan begitu?" Ucap Willa.


"Iya, bagaimana kau bisa mengetahui nama papaku. Apakah dia mengatakan kepada mu saat dia berbicara denganmu di telepon tadi?" Tanya Steven.


"Tidak, aku tahu bahwa aku sudah berjanji kepadamu sebelumnya bahwa aku tidak akan pernah memanggilmu Dion lagi. Tapi nama suamiku adalah Dion Adam dan papanya juga seorang pria Amerika." Jawab Willa.


Steven semakin terkejut. Dia menatap Willa dengan tajam lalu memegang pundak Willa dari belakang saat dia duduk di kursi belakang dan Willa masih mengendarai mobil.


Kemudian dia menggoyang kan tubuh Willa dengan kencang dan bertanya.


"Apa yang kau katakan dan apa maksudmu dengan bagaimana dan kapan aku bisa menemukan papaku?"

__ADS_1


"Tuan, bisakah anda bersikap tenang. Tolong lepaskan pundak ku dan berhentilah mengguncang nya dengan keras seperti itu. Jika anda terus mengguncang nya seperti itu, kita akan mengalami kecelakaan." Ucap Willa.


Bersambung.....


__ADS_2