
Beberapa hari kemudian....
Masih di rumah sakit....
Willa masih terbaring koma, sementara Steven terus melihat melewati pintu dari ruangan tempat Willa di rawat secara khusus.
Tiba-tiba Mama Willa datang ke rumah sakit dan melihat Steven, saat Steven tengah tertidur di kursi di depan ruangan tempat Willa dirawat secara khusus.
Mama Willa mendekat kearah Steven kemudian mengusap punggungnya dengan lembut dan berkata kepada Steven, "Steven l, kau tertidur tanpa sadar."
Perlahan Steven membuka matanya dan berkata kepada Mama Willa.
"Maaf, aku tidak tahu bagaimana aku bisa tertidur."
"Ini sudah tiga hari dan kau masih mengintip ke arah ruangan di mana dia berbaring di atas tempat tidur itu. Tidak ada gunanya melakukan hal itu. Kau harus pulang ke rumahmu dan beristirahat." Ucap Mama Willa.
Tiba-tiba mata Steven tampak basah saat dia berkata kepada Mama Willa, "dia adalah rumahku. Aku tidak punya rumah kecuali dia dan dimana pun dia berada, tempat itu akan menjadi tempat dimana aku menemukan tempatku untuk beristirahat di dalamnya."
Kemudian Mama Wila berkata kepada Steven.
"Tapi kita tidak tahu kapan dia akan keluar dari kondisi komanya. Dengan terus seperti ini, kau malah membunuh dirimu sendiri."
"Tidak, aku tidak seperti itu. Dia bagiku adalah seperti lautan bagi ikan-ikan. Aku merasa bahwa aku akan kehabisan nafas jika aku pergi dari sana dan menjauh darinya. Meskipun dia masih berada dalam kondisi koma, tapi untuk sesaat, aku bisa pergi bersamanya dan melihat dia dari balik kaca dari ruangannya dan membuatku bisa bernafas untuk hidup dan membuatku bisa untuk melanjutkan agar aku bisa bernapas. Sebenarnya aku merasa bahwa itu membuat aku bisa hidup sejauh ini." Ucap Steven panjang lebar.
Mama Willa berkata kepada Steven, "terserah kau saja Steven, dan seperti yang kau inginkan Steven, aku tidak akan memberikan banyak tekanan lagi padamu Ngomong-ngomong, Mamamu, Anisa menelpon aku dan mengatakan kepadaku bahwa dia akan datang kemari untuk mengunjungi Willa setelah 3 hari dari sekarang. Itu saja yang bisa kulakukan dan sisanya terserah padamu dan Papamu.
Steven menghela napas setelah dia mendengar ucapan Mama Willa dan kemudian dia berkata, "baiklah, aku sudah tidak sabar untuk menunggu kedatangannya."
Mama Willa tiba-tiba menerima sebuah panggilan telpon yang tak disangka-sangka dari Bu Anisa, Mama Steven. Sementara Steven tampak duduk disampingnya di sebuah sofa di depan tempat Willa dirawat secara khusus.
Mama Willa yang bernama Bu Agatha itu mengangkat ponselnya.
"Hai Agatha, ini aku Anisa."
Bu Agatha membalas, "hai sayangku, apa kabarmu?
"Aku baik. Bagaimanapun kemarin aku memberitahukan padamu bahwa aku akan datang mengunjungi Willa setelah 3 hari. Tapi untungnya seseorang yang sudah memesan tiket pergi ke kota itu malah terjadi sesuatu kepada nya dan dia harus menyelesaikan masalahnya lebih dulu sebelum dia berangkat lagi ke kota itu. Jadi kami menukar tiket kami satu sama lain. Dia akan berangkat ke kota itu setelah 3 hari dan aku sekarang sudah berada di bandara dan aku akan naik pesawat sekarang juga. Jadi aku akan datang ke kota itu hari ini." Ujar Bu Anisa, Mama Steven.
Bu Agatha tersenyum dan dia berkata kepada Bu Anisa.
"Kabar yang sangat bagus. Aku sangat senang untuk mendengar hal itu. Aku sangat merindukanmu dan aku tidak sabar menunggu kedatangan mu kemari."
__ADS_1
Bu Anisa berkata kepada Bu Agatha, "aku juga sangat senang. Aku merindukan kalian semua. Apakah ada kabar terbaru? Apakah Willa sudah keluar dari koma nya?"
Bu Agatha menghela napas panjang saat dia membalas ucapan Bu Anisa dengan sedih.
"Willa belum juga sadar, sayangku."
Kemudian Bu Anisa berkata kepada Bu Agatha, tidak sayangku, jangan sedih seperti itu. Willa adalah wanita yang kuat dan semuanya akan baik-baik saja."
Bu Agatha berkata kepada Bu Anisa dengan sedih, "iya, dia adalah memang wanita yang sangat kuat dan semuanya akan baik-baik saja."
"Baiklah, aku harus naik pesawat sekarang dan menutup telepon ini sekarang juga. Petugas bandara di sini sudah menunjuk ke arahku dengan marah untuk menutup sambungan telepon dan naik ke atas pesawat. Jadi maafkan aku sayangku. Jaga dirimu dengan baik, sampai jumpa nanti." Ucap Bu Anisa secara tiba-tiba.
"Sampai jumpa Anisa." Ucap Bu Agatha kepadanya.
Saat Steven akhirnya mendengarkan nama Mamanya disebut, dia tampak terkejut dan menatap kearah Mama Willa dengan mengarah dan hendak berkata, saat Mama Wila menunjuk padanya dengan telapak tangannya terbuka untuk membuat Steven bersabar sampai dia menutup sambungan telepon itu.
Setelah Mama Willa menutup sambungan telepon, dia pun berkata kepada Steven seraya tersenyum kepadanya.
Aku punya berita baik untukmu. Mama mu akan tiba di kota ini setelah beberapa jam."
Steven tiba-tiba berdiri dan tertawa dengan keras seperti orang gila dan dia berbicara pada dirinya sendiri dengan sangat keras.
"Aku selalu mengharapkan tentang bagaimana rasanya mendapatkan kasih sayang seorang ibu dan akhirnya aku akan mendapat nya. Akhirnya aku akan merasakan hangatnya dari Mamaku."
Tiba-tiba Steven mengusap pipinya dengan jemarinya.
"Oh ya Tuhan, apakah ini air mata kebahagiaan yang setiap orang orang bicarakan? Akhirnya aku bisa mengalaminya sendiri. Mama aku tidak bisa menunggu lebih lama untuk menahan mataku untuk melihat Mama. Bagaimana rupa Mama. Aku berharap bahwa waktu akan berlalu secepat mungkin karena aku benar-benar ingin melihat Mama."
Masih di rumah sakit.....
Saat sore hari, Mama Willa Bu Agatha, kembali ke rumah sakit lagi dengan begitu cepat. Setelah ia masuk, dia melihat Steven dan juga Papanya, Tuan Adam, ada bersama di rumah sakit.
Dia langsung berkata kepada Steven.
"Mama mu menelpon ku, dan mengatakan kepadaku bahwa dia sudah tiba di rumah sakit dan dia menunggu aku di lobby rumah sakit untuk menjemputnya pergi ke ruangan Willa. Lalu aku mengatakan kepadanya untuk menunggu sampai aku datang padanya. Dan saat aku tiba di sini, aku melihat dia. Tapi aku tidak mau berbicara padanya sampai aku mengatakan kepada kalian berdua lebih dulu bahwa dia sudah ada di sini. Aku sudah melakukan apa yang bisa aku lakukan dan sisanya terserah pada mu dan papamu sendiri."
Setelah mengatakan hal itu, Bu Agatha lalu pergi ke lobi rumah sakit dan dengan memastikan untuk pergi ke ruangan di mana Willa dirawat secara khusus.
Steven tengah berdiri di sisi lain dari ruangan tempat Willa dirawat dan melihat Mamanya. Saat Bu Agatha memegang tangannya dan membawanya masuk ke dalam ruangan khusus di mana Willa dirawat.
__ADS_1
Tapi Mama Steven tidak dapat melihatnya karena resep sedih atas kehilangan putranya Dion membuat dia hampir mengalami kebutaan. Wanita yang malang l, dia menjadi tidak bisa melihat apapun secara jelas.
Saat Steven melihat Mamanya dengan kondisi yang buruk seperti itu, air matanya jatuh ke pipinya dengan begitu deras dan tanpa sadar air mata itu keluar dari rasa kasihan untuk hal yang membuatnya sangat sedih atas Mamanya yang malang itu.
Saat itu Steven menyadari bahwa Mamanya adalah wanita yang cantik yang tampak berusaha terus bertahan karena tindakan yang dilakukan papanya dan kematian saudaranya dan hal itu merusak hati Steven.
Secara tidak sadar Steven berlari kearah Mamanya untuk membuang dirinya dalam pelukan Mamanya.
Kemudian dengan begitu cepat Bu Agatha menatap Steven dengan marah dan menunjuk ke arahnya, untuk menghentikan dia di tempatnya berdiri dengan mengangkat tangannya dengan telapak tangannya yang menghadap kearah Steven.
Saat itu juga Steven langsung mematung, berdiri di tempatnya dengan air mata yang terus terjatuh di pipinya. Disaat yang bersamaan, dia juga terus menatap Mamanya seolah seluruh perhatiannya tertuju kepada sang Mama. Seolah dia tidak melihat hal lainnya kecuali sang Mama.
Bibir Steven tampak gemetar, jantungnya berdegup begitu kencang. Dia juga bernapas begitu berat seolah nafasnya menjauh dari tenggorokannya dan dia tengah berusaha dengan keras untuk membuat dirinya kembali bernafas.
Kemudian Bu Agatha, Mama Willa, berkata kepada Bu Anisa, Mama Steven, di saat yang bersamaan Bu Agatha memegang lengan Bu Anisa untuk membantunya untuk duduk disebuah sofa yang ada di depan ruangan tempat Willa dirawat secara khusus.
"Maukah kau duduk di sofa ini hanya untuk 5 menit saja? Aku akan berbicara denganmu satu hal yang sangat penting sebelum kau masuk ke dalam ruangan tempat dimana Willa di rawat secara khusus."
Anisa bertanya kepada Bu Agatha dengan terkejut.
"Apakah ada sesuatu yang salah? Apakah Willa baik-baik saja? Kau sangat menakuti aku. Jangan katakan kepadaku bahwa sesuatu hal yang buruk telah terjadi kepada putriku Willa."
Kemudian Bu Agatha duduk di samping Bu Anisa di atas sofa kemudian melihat kearah Bu Anisa, mengusap pundak Bu Anisa dari belakang dan berkata kepada Bu Anisa, "Willa baik-baik saja."
Saat Bu Anisa mendengar ucapan Bu Agatha, Bu Anisa pun menghela napas panjang dan berkata kepada Bu Agatha.
"Melegakan sekali untukku. Terima kasih Tuhan, karena Willa baik-baik saja. Lalu apa yang sangat penting yang ingin kau katakan kepadaku?"
Setelah saat itu, Bu Anisa dan Bu Agatha mulai berbicara satu sama lain. Steven dan papanya hanya bisa menatap ke arah mereka berdua dan tidak sabar menunggu untuk bisa bicara dengan Bu Anisa.
Sementara, Tuan Adam tidak bisa menahan air matanya untuk jatuh karena rasa bersalah nya atas apa yang sudah dia lakukan kepada istri tercinta nya. Satu-satunya wanita yang mencintai dirinya dengan sepenuh hati nya.
Perasaan menyesal dan bersalah sangat membunuh Tuan Adam dan membuat hatinya begitu terluka dengan sangat parah dan dia juga merasa begitu kasihan kepada Bu Anisa benar-benar memenuhi relung hatinya.
Detik-detik menunggu saat untuk bisa berbicara dengan nya lagi, meminta maaf padanya, detik-detik itu terasa sangat lama bagi Tuan Adam.
Detik demi detik yang semakin berlalu, bagi Tuan Adam terasa seperti bertahun-tahun. Dia lalu bicara pada dirinya sendiri.
'Cinta terakhirku, istriku yang malang. Sudah sangat lama aku tidak menganggap mu apa-apa, kecuali istriku di masa lalu. Aku hanya berusaha untuk menghubungi kamu melalui sebuah surat. Tapi hatiku tidak bisa melakukannya. Apakah kau akan memaafkan iblis seperti aku atau apa yang akan kau lakukan padaku?'
Bersambung.....
__ADS_1