
Saat tiba di depan mobil, Steven mematung di tempatnya berdiri.
Kemudian dia berkata, "oh ya Tuhan... Ada apa ini? Dia menggunakan seragam yang dikenakan oleh sopir. Dia menganggap semua ini terlalu serius."
Willa lalu membuka pintu mobil dan menunduk seraya berkata, "apakah anda akan pergi ke perusahaan anda Tuan?"
Steven menatap Willa dengan tajam, kemudian Willa berbisik, "aku tidak akan bisa untuk memanggilmu Steven di hadapan orang lain. Aku sudah mengatakan kepadamu sebelumnya bahwa aku tidak akan membiarkan orang lain untuk mengetahui bahwa aku adalah istrimu, sampai kau mengingatku dengan sendirinya."
"Iya kau benar." Ucap Steven dengan terkejut.
Willa tersenyum lebar kepada Steven dan mengerlingkan matanya, seolah itu adalah rahasia kecil di antara mereka dan Steven membalas senyuman Willa seraya masuk ke dalam mobil.
Kemudian Willa juga ikut masuk ke dalam mobil dan mulai mengendara mobil itu menuju kantor.
Tiba-tiba saat mereka dalam perjalanan menuju kantor, seorang pria besar dengan ototnya yang besar menabrakkan dirinya sendiri ke depan mobil Steven. Willa lalu menginjak rem dengan cepat, kemudian dia keluar dari dalam mobil begitu juga dengan Steven.
Steven hampir saja membantu pria itu berdiri saat Willa menghalangi nya kemudian dia berbisik, "Tuan, bisakah anda membiarkan saya yang mengurus masalah ini. Saya tahu bagaimana caranya menghadapi pria seperti ini." Ucap Willa seraya mendekat kearah pria berotot besar itu dan berbicara kepadanya.
"Ada apa Tuan? Apa yang anda inginkan?" Tanya Willa.
"Apa kau buta? Kau hampir saja membunuhku." Ucap pria besar itu.
"Jadi seperti yang anda tahu Tuan, anda lah orang yang menabrakkan diri anda sendiri di depan mobil. Jadi ini bukanlah kesalahanku, aku tahu dengan benar apa yang anda inginkan." Ucap Willa.
Dengan begitu cepat Willa berbalik ke arah Steven dan berkata, "Tuan bisakah anda memberikan dompet anda kepada saya."
"Untuk apa?" Tanya Steven.
"Berikan saja kepada saya. Kemudian anda akan tahu, kenapa saya membutuhkan dompet anda." Ucap Willa.
Steven lalu memberikan dompetnya kepada Willa, kemudian Willa berbalik ke arah pria besar itu, membuka dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang dan berkata, "Tuan inilah yang anda inginkan, bukan begitu?" Ucap Willa seraya memberikan uang itu kepada pria besar itu.
__ADS_1
Namun secara tiba-tiba, pria besar itu membuang semua uang itu ke wajah Willa dan berkata, "apa kau sudah cukup dengan uangmu? Apakah aku ini terlihat sangat membutuhkan uang? Apa kau pikir aku ini sangat miskin hingga aku membutuhkan uang mu? Semua yang aku inginkan adalah ketika aku melihat seorang pria tampan, pria kaya seperti dirinya, itu membuatku menggila dan aku tidak akan pernah puas sampai aku merusak wajah tampan nya dan memukuli nya sampai mati."
Willa begitu terkejut dan mendekat ke arah mulut pria itu dan mencium aroma napas pria itu.
"Tuan, anda mabuk. Apakah anda ingin aku menelepon seseorang untuk anda?" Ucap Willa.
"Iya, kau harus menelpon sebuah ambulan untuk dia secepatnya." Ucap pria besar itu seraya menunjuk ke arah Steven.
Steven tampak marah, dia pun mengeluarkan ponselnya seraya berkata, "aku akan menelpon polisi untuk menangkap mu."
Dengan cepat Willa memegang ponsel Steven dan mengambil ponsel Steven dari tangannya untuk membuat Steven agar tidak menelpon polisi.
Kemudian Willa memohon kepada Steven dengan matanya yang berair dan berkata, "Steven kumohon, jangan telepon polisi. Jika mereka datang kemari, mereka akan membawaku pergi darimu lagi. Aku mohon kepadamu jangan lakukan ini kepadaku, kumohon."
Steven menghela napas, kemudian Willa berkata, "kau memang punya hak untuk menelpon polisi karena kau lupa bagaimana kuatnya aku. Aku lupa tentang hal ini karena kau menjauh dariku sangat lama dan hal itu melukai aku, dan membuatku merasa menjadi orang yang paling lemah dan membuatku melupakan bagaimana kuatnya aku."
"Apa maksudmu?" Tanya Steven.
Willa menutup matanya, kemudian tersenyum canggung karena merasa kasihan kepada dirinya sendiri karena dia menjadi orang yang paling lemah. Padahal sebelumnya dia begitu kuat.
Ada seorang pria tua berjalan melewati Willa.
Willa pun berkata, "Tuan, bisakah anda meminjamkan aku tongkat anda itu sebentar."
"Kau bukanlah orang tua yang membutuhkan tongkat berjalan, hingga membuatmu mau merebut tongkat ini dariku." Ucap pria tua itu kepada Willa.
Willa tersenyum kepada pria tua itu dan berkata, "aku tidak akan berani melakukan hal itu. Tapi aku sangat membutuhkan tongkat itu sekarang dan anda bisa beristirahat di dalam mobil kami sampai aku menyelesaikan pekerjaan ku. Setelah aku selesai dengan pria besar ini, aku akan memberikan tongkat itu kepada anda Tuan."
Pria tua itu tersenyum dan berkata kepada Willa, "kau bisa memukuli pria jahat itu, aku percaya kepadamu."
Willa tersenyum kepada pria tua itu dan berkata, "aku berjanji bahwa aku tidak akan merusak kepercayaan mu padaku Tuan."
__ADS_1
Pria besar itu berkata seraya tertawa dengan keras.
"Jadi, seorang wanitalah yang akan membela pria nya."
"Biar aku katakan kepadamu, bahwa dia bisa menjaga dirinya sendiri. Tapi aku tidak akan pernah membiarkan dia mengotori tangannya sendiri untuk meladeni seorang pria seperti mu. Kau bisa tertawa sebanyak yang kau mau, tapi jangan pernah berpikir untuk melayangkan jemari mu kepadanya. Percaya padaku, maka aku akan membuat mu mati 1000 kali dan aku tidak akan pernah melanggar semua ucapan ku itu kepadamu." Ucap Willa.
Steven menarik lengan Willa dengan erat dan berkata, "apa kau sudah gila? Dia berukuran 2 kali lebih besar dari mu, kau bisa mati jika berkelahi dengannya."
Willa berkata kepada Steven, "siapa yang akan terbunuh? Kau tunggu dan lihat saja. Dengan ukuran tubuhnya yang begitu besar, aku sudah bisa menyelesaikan masalah ini dengan menggunakan tongkat milik pria tua itu dan sekarang ini akan menjadi pertarungan yang seimbang. Jadi kumohon, bisakah kau tenang dan biarkan aku melakukan apa yang harus aku selesaikan?"
Steven terus aja menggenggam lengan Willa dengan erat dan menggoyang kan tangannya seraya berkata, "apa yang harus diselesaikan sekarang adalah membawamu pergi dari sini. Kau tidak tahu bagaimana kuatnya pria itu. Jadi kau jangan menggunakan kemampuan mu untuk menyelesaikan semua ini."
"Siapa yang mengatakan hal seperti itu? Jaga saja pria tua ini sampai aku menyelesaikan semuanya." Ucap Willa.
Willa kemudian berkata kepada pria besar itu, "hei pria jelek! Apakah kau cemburu kepada pria tampan ini? Jika kau pikir bahwa kau adalah seorang pria, maka tunjukkan padaku sendiri. Kau terlihat seperti kau hanya mempunyai omongan besar saja."
Willa kemudian berjalan lurus ke arah pria besar itu.
Steven menaruh kedua tangannya di wajahnya.
"Oh ya Tuhan, ini akan berakhir dengan mudah. Dia akan mati di tangan pria besar itu."
Pria besar itu tertawa keras dan berkata, "apa yang kau pegang di tanganmu itu?"
"Apa yang kau ter tawakan? Pertama-tama biar aku katakan, ini adalah senjata paling terkenal di kalangan orang-orang di kota ku. Saat orang mulai berkelahi, tongkat ini akan menjadi penolong terbaik dan teman terbaik untukmu."
Willa tiba-tiba memanggil Steven dan berbalik ke arahnya, melihat kearah Steven dan berkata, 'Steven pegang ini untukku." Seraya membuang topi dari seragam sopir yang dikenakan kemudian dia mengedipkan matanya ke arah Steven.
Steven lalu memunguti topi itu, kemudian Willa tampak mengikat rambut nya dengan tinggi. Setelah itu Willa kembali melihat kearah pria besar itu dan dia menggerakkan lehernya ke kanan dan ke kiri.
"Apa yang kau tunggu? Datanglah kepadaku. Apakah kau takut dipukuli oleh seorang wanita dan kemudian kau akan ditertawakan oleh orang banyak?" Ucap Willa.
__ADS_1
"Dia benar-benar sengaja membuat pria itu kesal dengan tujuan untuk membuat pria itu marah padanya. Oh ya Tuhan, mohon pertolonganmu." Ucap Steven.
Bersambung....