Cinta Membuat Aku Gila

Cinta Membuat Aku Gila
16. Kebetulan Atau Tidak


__ADS_3

Steven terus aja berbicara pada dirinya sendiri.


'Dia berkata, bahwa aku adalah pria paling baik dan yang terbaik dari semuanya. Dia salah, aku adalah pria paling jahat dan paling kejam selamanya. Aku adalah pria yang paling egois selamanya.'


'Aku bukanlah seorang manusia. Tapi apa yang terjadi jika itu yang terbaik ataupun yang terburuk. Ini semua berada diluar kendali ku. Setiap kali aku melihat dirinya, aku kehilangan kontrol diriku sendiri. Otakku bahkan berhenti untuk berpikir. Disaat yang seperti itu,hanya hatiku yang berjalan menuju dirinya. Tapi aku harus menahan diriku sendiri, aku tidak mau merusak dia. Dia sudah banyak melewati hal buruk.'


Kemudian Steven mulai mengganti pakaiannya.


Tiba-tiba Willa masuk ke dalam kamar itu. Saat Willa melihat Steven tengah menggunakan kemejanya, Willa memegang dadanya dan berucap kepada dirinya sendiri.


'Dadaku berdegup begitu kencang. Sudah beberapa tahun berlalu sejak terakhir kali aku melihat dia seperti ini. Aku sangat putus asa ingin menyentuh dadanya yang bidang itu, aku benar-benar putus asa ingin merasakan temperatur dari hangat tubuhnya itu.'


Steven merasakan bahwa Willa tengah menatap dirinya saat dia mengenakan pakaiannya. Jadi dia melihat kearah Willa dan berkata kepada dirinya sendiri.


'Tidak diragukan lagi, dia sangat ingin menyentuh tubuhku. Aku harus pura-pura untuk tidak melihatnya atau semua ini tidak akan berakhir dengan baik.'


Steven menatap ke arah Willa.


'Oh ya Tuhan, dia mendekat kepadaku. Tolong jangan datang lebih dekat lagi. Aku baru saja ingin menahan diriku sendiri. Tuhan, mohon pengampunan Mu. Tolong aku, dia mendekat kepadaku dengan matanya yang berair.' Ucap Steven dalam hati.


Tiba-tiba Willa mendekat kearah Steven dan berkata, "biarkan aku membantumu untuk menggunakan pakaian mu itu."


"Aku sudah hampir selesai. Jangan report kan dirimu sendiri. Tanganmu masih sakit karena memukul jeruji besi itu kemarin. Kau tidak akan bisa untuk mengikat dasi untukku. Aku bisa melakukannya sendiri." Ucap Steven mencoba melarang Willa.


"Tidak, kau tidak boleh begitu. Setidaknya biarkan aku mencoba." Balas Willa.


Willa memegang dasi Steven untuk mengenakan kepadanya. Willa tampak berusaha dengan keras untuk bisa memasang dasi itu.

__ADS_1


"Aku sudah katakan kepadamu. Kau tidak akan bisa melakukannya, tanganmu masih sakit." Ucap Steven.


"Tidak, kumohon bersabarlah. Biarkan aku melakukannya." Balas Willa tetap dingin memasangkan dasi untuk Steven.


Steven kembali berbicara kepada dirinya sendiri, saat Willa tengah memasangkan dasi untuknya.


'Apakah dia akan tetap bisa memegang janjinya? Bisakah dia untuk tetap memegang janji itu bahwa dia akan menyimpan perasaannya di dalam hatinya dan mengabaikan semua perasaannya saat bersamaku? Tapi semuanya terlihat sangat jelas, bahwa dia benar-benar kesulitan untuk melakukan semuanya. Lihat saja dari matanya yang berair itu.'


5 menit kemudian...


Willa sudah selesai memasangkan dasi untuk Steven. Kemudian dia menarik tangan Steven dengan tangannya dan memegang nya kemudian berkata, "ayolah Steven, aku sudah sangat lapar."


Steven kembali berbicara kepada dirinya sendiri saat Willa menarik tangannya untuk mencapai ruang makan.


'Wanita ini selalu membuatku kagum. Dia sangat kuat, tetap berusaha untuk mengabaikan perasaannya dan mencoba untuk tetap menepati janjinya padaku.'


Mereka berdua kemudian tiba di ruang makan.


'Oh ya Tuhan, sekarang aku seratus persen yakin bahwa ini semua bukanlah suatu kebetulan. Saat dia memberitahukan kepada ku sebelumnya, bahwa dia tahu dengan memijit ku akan membuat ku merasa rileks dan lebih baik. Aku pikir bahwa itu hanya suatu kebetulan, tapi setelah dia menyiapkan makanan favoritku ini, sekarang aku yakin bahwa semua ini bukanlah suatu kebetulan. Tidak ada seorangpun yang mengetahui hal ini kecuali mamaku dan mamaku sudah meninggal sangat lama. Wanita ini kadang-kadang membuatku percaya bahwa aku memang benar suaminya.'


"Ada apa Steven? Kenapa kau menatap makanan seperti itu? Apakah kau tidak menyukainya?" Tanya Willa.


"Bukan begitu, tentu saja aku menyukainya." Jawab Steven.


Willa sangat bersemangat. Dia tersenyum kemudian menarik kursi untuk Steven dan berkata, "ayolah. Jika kau memang menyukainya, aku bisa menyuapi mu sendiri. Jadi duduklah dengan tenang dan bukan mulutmu."


Steven kembali bicara kepada dirinya sendiri saat di saat yang bersamaan dia duduk di kursi dan siap untuk makan.

__ADS_1


'Aku sangat bahagia dan sedih di waktu yang bersamaan. Aku sangat sedih karena aku tahu bahwa aku akan kehilangan semua ini sebentar lagi. Aku bisa merasakan begitu hangatnya suasana seperti ini. Rumahku menjadi begitu hangat setelah dia datang. Dia membawa kehangatan dalam hidupku dan rumah ini.'


'Aku sangat bahagia karena dia mengingatkan aku kepada mamaku saat dia menjaga diriku. Aku sangat sangat merindukan mama. Mama meninggalkan aku saat aku masih sangat muda. Mama adalah orang yang paling penuh kasih sayang terhadap diriku dan juga begitu perhatian kepadaku.'


'Tunggu sebentar, apakah Willa memang benar mengingatkan aku dengan mamaku? Jika semua alasan ini benar yang membuat dia peduli kepadaku, cintanya yang berlebihan untukku, rasa peduli nya yang berlebihan untuk ku, apakah itu semua karena aku merindukan semua kasih sayang yang mama berikan kepadaku saat aku kehilangan mama sejak aku masih kecil. Jadi aku mau mendapatkan kelembutan Willa.'


Kemudian Steven terus menggelengkan kepalanya sembari terus berbicara kepada dirinya sendiri.


'Semua ini tentu saja tidak benar, karena sejak pertama kali mata kami bertemu aku merasa begitu familiar dengannya. Aku merasa kasihan padanya sebelumnya, bahkan aku tahu bahwa dia sangat peduli kepada ku atau sangat mencintaiku.'


'Aku merasa sangat putus asa mencari apa alasannya. Aku benar-benar ingin tahu kenapa, khususnya dia dari semua wanita di dunia ini malah membuatku merasa lemah di hadapannya. Aku bahkan tidak membiarkan tunangan ku untuk berada dekat denganku. Tapi aku membiarkan dia untuk dekat denganku.'


'Sejujurnya saja, aku tidak membiarkan dia untuk dekat denganku, tapi entah kenapa aku merasa nyaman untuk dekat dengannya, dan akulah orang yang seharusnya memperlakukan dia seperti itu. Aku ingin memperlakukan dia dengan semua kebaikan dan kelembutan.'


Tiba-tiba Willa berkata, "kenapa kau terdiam seperti itu dan menggelengkan kepala mu terus? Apakah aku melakukan hal yang salah kepadamu?"


"Tentu saja tidak, kau tidak melakukan apapun. Hanya saja ada sesuatu yang sedang aku pikirkan. Jadi aku hanya tengah memikirkan hal itu." Balas Steven.


Willa mengambil napas dalam dan berkata, "terima kasih Tuhan. Bisakah kau membuka mulutmu dan biarkan aku menyuapi mu."


"Jangan sibukkan dirimu sendiri. Aku bisa melakukannya sendiri. Kau harus membiarkan tanganmu untuk beristirahat." Ucap Steven..


"Tapi aku tidak merasakan apapun. Aku sudah mengatakan kepadamu sebelumnya, bahwa hal seperti ini tidak menyakitiku. Tapi kau tetap tidak mau percaya kepada ku. Jadi, apakah kau mau membuka mulutmu dengan cepat? Ini sudah jam 08.00 pagi." Balas Willa.


Steven membuka mulutnya dan Willa mulai untuk menyuapi dirinya seraya tersenyum lebar.


Steven membalas senyuman Willa dan kemudian kembali berbicara pada dirinya sendiri.

__ADS_1


'Dia tampak menggemaskan saat dia tersenyum.'


Bersambung......


__ADS_2