
Steven terus berbicara kepada dirinya sendiri.
'Aku mencoba untuk mengeluarkan kata-kata ku, tapi aku tidak bisa mengeluarkan mereka semua. Apakah aku harus berlari untuk bisa mengeluarkan semua kata-kata yang aku punya dari pikiranku sendiri?'
'Sejauh ini, aku tidak tahu kenapa aku selalu kehilangan kontrol akan diriku sendiri dan terus mencium nya? Apa alasan yang harus aku katakan kepadanya untuk membuktikan kepadanya bahwa itulah alasan yang membuatku sampai mencium dia tadi. Jika aku tidak tahu apa alasannya, bagaimana aku bisa menghadapi dirinya?'
Tiba-tiba Steven berkata kepada Willa.
"Aku minta maaf."
Kemudian dia kembali berbicara pada dirinya sendiri, 'aku minta maaf? Apakah itu kata yang harus keluar dari dalam mulutku? Lalu apa yang sebenarnya harus aku katakan?'
Tiba-tiba Willa melingkar kan kedua tangannya di leher Steven. Melihat ke arah mata Steven seraya berkata saat dia duduk di atas meja.
"Minta maaf untuk apa? Jika kau tidak tahu alasannya untuk apa, maka biarkan aku mengatakan ini kepadamu. Kau adalah harta paling berharga dalam hidupku. Memberikanku sebuah ciuman, itu bukanlah sesuatu yang harus kau katakan sebagai permintaan maaf. Karena merasa dekat dengan mu, merasakan hangatnya bibirmu dan sentuhan mu adalah mimpi yang paling aku inginkan selama ini dalam hidupku. Sebenarnya aku lah orang yang seharusnya minta maaf kepadamu. Aku lah orang yang selalu mengganggu dirimu dengan perasaanku dan air mataku. Mulai sekarang, aku tidak akan mengganggu dirimu lagi dengan air mataku." Ucap Willa seraya tersenyum kepada Steven.
Steven hendak berbicara, tiba-tiba Willa menyentuh hidung Steven dengan hidungnya sendiri dan berkata, "jangan membuat wajah yang tampak bersalah seperti ini lagi. Aku benci melihat wajahmu yang menggemaskan ini bersedih, aku ingin melihat wajah mu yang selalu tersenyum setiap hari."
Kemudian Willa memberikan ciuman kilat ke bibir Steven dan berkata, "aku mencium mu. Sekarang kita sudah impas. Jadi jangan sedih seperti ini lagi."
Tiba-tiba Steven tersenyum.
Willa menjadi bersemangat, membalas senyuman Steven dan berkata saat dia tersenyum dan melihat ke arah mata Steven.
"Iya, saat kau tersenyum, aku merasa seperti matahari mulai bersinar dan dunia mulai bercahaya. Setelah sebelumnya dunia dipenuhi dengan kegelapan karena cahaya mu menerangi hidupku. Jadi aku memohon kepadamu untuk jangan pernah lagi memperlihatkan wajah sedih dan selalu memperlihatkan senyuman di wajahmu, karena kesedihan di wajahmu itu membuat hatiku terluka. Kau adalah harta paling berharga dalam hidupku."
__ADS_1
Boom!!!
Tiba-tiba Steven langsung menarik Willa dalam pelukannya begitu erat, tanpa dia sadari.
"Steven kau harus bergegas. Ini sudah jam 07.30 pagi. Kau mulai terlambat, mandilah dan ayo kita sarapan." Ucap Willa.
"Tentu saja, tidak masalah. Seperti yang kau inginkan." Balas Steven.
Saat Steven hendak melepaskan Willa dari dalam pelukannya, tiba-tiba dia memegang tangan Willa dan berkata dengan sedih.
"Tanganmu tampak begitu kurus, apalagi saat kau memukuli jeruji besi dengan tanganmu berjam-jam kemarin. Apakah tanganmu ini masih sakit?"
Willa tersenyum dan berkata, "aku sudah memberitahukan kepadamu sebelumnya. Hal seperti ini tidak bisa menyakiti aku." Kemudian Willa kembali berkata, "rasa sakit yang sebenarnya, ada disini." Ucap Willa seraya tersenyum dengan senyuman palsu dan menunjuk ke arah hatinya.
Steven merasa kasihan kepada Willa. Willa memegang kedua tangan Steven membuat Steven berbalik dan dia kembali berkata kepada Steven.
Steven berbicara kepada dirinya sendiri saat dia masuk ke dalam kamar mandi.
'Terima kasih Tuhan, kata-kata yang diucapkannya tadi membuatku tersadar kali ini. Aku hampir saja mencium kedua tangannya.'
Kemudian Steven masuk ke dalam kamar mandi dan Willa pergi ke arah lemari melihat ke kanan dan ke kiri untuk meyakinkan dirinya bahwa tidak ada orang yang melihatnya. Willa lalu mengeluarkan pakaian Steven dan mencium pakaian Steven dengan maksud untuk mencium aroma tubuh Steven.
Willa lalu bernapas dengan dalam lagi dan lagi, dengan matanya yang mulai basah. Kemudian dia berbicara kepada dirinya sendiri.
'Oh ya Tuhan, aku sangat merindukan dirinya.'
__ADS_1
Kemudian dia kembali mencium aroma tubuh Steven lagi dan lagi dan kembali berbicara kepada dirinya sendiri dengan air mata yang mulai jatuh ke pipinya.
'Kapan aku bisa bersama dengan dirinya sebagai suami dan istri? Aku harus berpura-pura kuat, tapi ada banyak rasa sakit dan ketakutan di dalam diriku. Memperlakukan dia sebagai seorang asing, perlahan-lahan membunuh diriku.'
'Sampai kapan kami harus seperti ini? Aku berusaha dengan kuat menahan diri ku darinya. Setiap kali aku melihat dia, aku ingin berlari kearahnya, membuat dia berada dalam pelukanku dan tidak akan pernah melepaskan dia lagi. Aku merasa jika seseorang mengambil jiwaku dari dalam tubuhku. Bagaimana kami bisa menjadi dua orang yang berbeda saat sebelumnya kami adalah tubuh yang menyatu. Aku lelah mencoba untuk menahan diri ku sendiri. Aku sangat putus asa, ingin merasakan kehangatan dari tubuhnya.'
'Kami memang berciuman dan aku pikir itu akan membuatku merasa lebih baik. Tapi semua itu malah membuatku merasa lebih buruk. Semakin dia mencium ku, semakin aku merindukannya. Aku tidak pernah memikirkan semua ini akan terjadi padaku suatu hari. Dan ini membuatku merasa begitu sedih.'
Tiba-tiba Steven keluar dari kamar mandi. Dia sudah selesai mandi dan dia melihat Willa saat Willa tengah mencium pakaiannya dan berbicara dengan keras kepada dirinya sendiri dan menangis.
Willa tampak terkejut melihat kearah Steven. Dia dengan cepat mengusap air matanya dan memberikan pakaian Steven kemudian berkata,
"Ini dia, ini pakaian mu. Kau bisa mengganti pakaian mu sekarang." Ucap Willa seraya tersenyum untuk menyembunyikan kesedihan dibalik senyumannya itu.
"Ada apa Willa? Kenapa kau menangis?" Tanya Steven.
"Aku tidak menangis. Siapa yang mengatakan hal itu kepada mu?" Tanya Willa balik.
"Tapi matamu dipenuhi dengan air mata." Balas Steven.
"Maksudmu air mata ini? Ini bukan apa-apa. Aku hanya perlu segelas air. Ada sesuatu di dalam mataku, dan itulah yang membuat mataku berair. Aku akan mengambil air untuk mataku." Ucap Willa.
"Iya, kau memang harus melakukan itu." Balas Steven.
Setelah Willa mengambil segelas air, Steven berbicara kepada dirinya sendiri.
__ADS_1
'Akulah satu-satunya orang yang harus disalahkan di sini. Aku sudah melakukan semua ini kepadanya. Aku bukannya membantunya, tapi aku malah semakin menyakiti nya. Aku tahu dia tengah berusaha untuk bertahan sekarang. Tapi apa yang bisa kulakukan untuk nya? Dia ingin mendapatkan diriku dan aku juga ingin mendapatkan dirinya dengan begitu kuat. Di saat yang bersamaan, aku tahu dengan benar bahwa aku akan menikahi wanita lain setelah beberapa hari ini, dan akan meninggalkan dia sendirian.'
Bersambung...