
Secara tiba-tiba Tuan Adam berdiri menggunakan lututnya kemudian memeluk kedua kaki Bu Anisa dan menciumnya dengan terus-menerus saat dia berkata, "tolong Anisa, aku memohon kepadamu untuk memberikan ku pengampunan darimu."
Bu Anisa begitu terkejut dan menarik kakinya menjauh dari tangan Tuan Adam dan berjalan berbalik menjauh dari Tuan Adam saat dia berkata, "tolong Adam, dengan cara seperti ini, kau semakin menyakiti hatiku. Tolong jangan lakukan hal ini kepadaku."
Kemudian Bu Anisa berhenti melangkah mundur dan tetap terdiam beberapa saat. Dia lalu mengangkat kepalanya kearah atas menutup matanya dengan air matanya yang terus berjatuhan ke pipinya dan disaat yang bersamaan dia bernafas dengan begitu berat.
Bu Anisa lalu menghela napas panjang lagi dan lagi dan tiba-tiba dia membuka matanya dan berkata kepada Tuan Adam.
"Baiklah Adam, aku akan mendengarkan mu. Aku akan memberikanmu kesempatan untuk menjelaskan semuanya ke kepadaku."
Tuan Adam tampak sumringah dan tersenyum karena dia tahu bahwa ada sedikit harapan baginya.
Saat itu juga Tuan Adam menarik nafas dalam dan mulai mengatakan kepada Bu Anisa seluruh cerita dari awal sampai akhir dan Bu Anisa pun mendengarkan setiap kata yang diucapkan Tuan Adam dan membuka mata nya dengan begitu lebar karena begitu terkejut.
Tuan Adam mengatakan semua cerita itu dan setelah itu dia berkata kepada Bu Anisa, "pada awalnya aku ingin membohongi dirimu, tapi aku malah jatuh cinta pAdamu."
Kemudian Tuan Adam merangkak mendekat kearah kaki Bu Anisa dan mendekat kearah Bu Anisa dan berkata kepadanya, "aku sudah melakukan dosa besar. Tapi aku tahu dengan benar, bahwa hatimu jauh lebih besar daripada dosa yang aku lakukan."
"Aku tahu dengan baik bahwa kmu adalah orang yang paling baik yang pernah aku kenal. Jadi aku berlutut di hadapanmu memohon pengampunan darimu Anisa. Aku ingin menghabiskan seluruh hidupku berada di sampingmu. Aku berjanji kepadamu jika kau maafkan aku, aku tidak akan pernah, tidak akan pernah lagi meninggalkan dirimu sampai kematian yang memisahkan kita."
Tiba-tiba Bu Anisa berhenti menangis dan dia berkata kepada Tuan Adam.
"Adam, aku begitu bingung. Aku tidak tahu harus mengatakan apa."
__ADS_1
Melihat hal itu Steven mulai melangkah mendekat kearah mamanya saat dia masih menangis dan berkata kepada mamanya, "katakan bahwa Mama mau memaafkan Papa. Mama, tolong sekali saja demi diriku. Ayo kita hidup bahagia bersama. Ayo biarkan kami bersatu kembali dengan Mama. Ini adalah pertama kalinya dalam hidupku, aku meminta sesuatu pada Mama. Apakah Mama akan mengecewakan aku dan menolak permintaan ku?"
Bu Anisa tiba-tiba tersenyum dan membuka lengannya dengan lebar untuk membuat Steven memeluk dirinya.
Tanpa berkata apa-apa Steven langsung menjatuhkan dirinya dalam pelukan sang Mama memeluk sang Mama dengan begitu erat. Menaruh dagunya di pundak sang Mama dan berkata, "oh Mama, akhirnya aku bisa mendapatkan suatu hal yang sangat penting yang selama ini selalu aku impikan dan sangat aku butuhkan. Ini adalah kehangatan Mama kandung ku. Dan sejauh ini aku belum bisa mempercayai diriku sendiri tapi Tuhan memang Maha Pengasih."
Kemudian Steven kembali berkata kepada mamanya, "Mama kumohon, aku tahu bahwa Papa melakukan kesalahan. Tapi berikan Papa satu kesempatan lagi demi diriku dan aku berjanji kepada Mama, jika Papa melakukan suatu kesalahan lagi kepada Mama, aku adalah orang yang akan menghukum Papa untuk Mama."
Kemudian Bu Anisa semakin memeluk Steven dengan erat dan berkata kepada Steven, "hanya untuk dirimu putra ku sayang, Mama akan memaafkan dia."
Kemudian Steven tampak bahagia dan berteriak dengan sangat keras, "yeahh... Ini baru Mamaku yang sangat baik."
Setelah Tuhan Adam mendengarkan bahwa Bu Anisa sudah memaafkan nya, dia langsung berdiri dan seolah hendak terbang karena penuh rasa bahagia dan tiba-tiba dia tertawa dengan keras seperti seorang anak kecil dan berkata, "akhirnya aku bisa membuang semua beban berat di punggung ku selama ini."
Setelah itu Tuan Adam membuka kedua tangannya dengan lebar dan hendak memeluk Bu Anisa. Saat dia mendekat kearah Bu Anisa dan berkata, "terima kasih banyak Anisa, aku tidak akan pernah...."
"Aku adalah pria yang menjaga Mama sekarang. Sekarang Papa harus berlutut di hadapan Mama dan melamar Mama. Dan jika Mama menerima Papa, maka aku akan memikirkan apakah aku bisa memberikan Papa kesempatan untuk menikahi Mama atau tidak."
Tuan Adam tampak terkejut dan berkata kepada putranya, "Steven apa yang tengah kau bicarakan? Aku tidak mengerti?"
Kemudian Steven berkata kepada papanya. "Apakah Papa pikir bahwa aku akan memberikan restu ku kepada Papa dengan begitu mudah setelah apa yang Papa lakukan kepada Mama sebelumnya? Dahulu Papa bisa melakukan apapun yang Papa inginkan terhadap Mama karena Mama adalah wanita yang hanya sendirian dan tidak punya seseorang yang mendukung dirinya dan membela dirinya. Tapi sekarang aku adalah pria yang akan berdiri di belakang Mama, untuk melindungi Mama dari semua orang, siapapun dia, bahkan melindungi Mama dari Papa sekalipun.."
Kemudian Tuan Adam berkata kepada Steven dengan sedih, "tapi putraku, aku ini sudah begitu tua untuk berlutut di depan seorang wanita untuk melamar nya dan meminta dia untuk menikah denganku."
__ADS_1
Kemudian Steven mencium kening mamanya kemudian dia memeluk mamanya dan berkata kepada mamanya.
"Jangan begitu sedih Ma. Papa memang terlalu tua untuk melakukan hal itu. Jadi, dia tidak pantas untuk Mama. Mama jangan khawatir, aku akan menemukan suami yang tepat untuk Mama secepatnya."
Dengan begitu cepat Tuan Adam langsung berlutut di depan Bu Anisa dan berkata kepada Steven, "baiklah Steven aku sudah berlutut di depan mamamu. Apakah kau sudah puas? Sekarang, bisakah kau memberikan dia kembali kepadaku?"
Steven langsung menggelengkan kepalanya dengan keras karena tidak setuju dan kemudian berkata, "apakah Papa berpikir bahwa aku tengah bercanda. Aku berbicara serius. Jika Papa tidak melamar Mama dengan cara yang manis, aku tidak akan pernah memberikan Mama kembali kepada Papa."
Kemudian Tuan Adam berkata kepada Bu Anisa dengan suara yang pelan dan bergetar, "An.... Anisa... apakah kau mau... me..... menikah denganku?"
Bu Anisa hendak berkata, tetapi Steven lebih dulu mengatakan sesuatu kepada Papanya.
"Mama tidak bisa mendengarkan suara Papa."
Kemudian Steven melihat kearah Mamanya seraya terus memeluk Mamanya dan bertanya kepada Mamanya.
"Apakah Mama mendengarkan apa yang dikatakan Papa?"
Bu Anisa hendak mengatakan sesuatu tapi Steven lagi-lagi berkata lebih dulu kepada Papanya.
"Lihat! Mama tidak bisa mendengarkan Papa. Jadi bisakah Papa mengatakan hal itu lebih keras lagi, agar Mama bisa mendengarkan Papa dengan jelas."
Kemudian Tuan Adam berteriak dengan sangat keras.
__ADS_1
"Anisa maukah kau menikah denganku?"
Bersambung....