
Ada banyak orang yang berkumpul mendekat ke arah Steven setelah mendengar suara teriakannya. Semua orang menatap ke arah Steven dan juga Willa.
Kemudian Steven melihat ke arah mereka semua dengan dirinya yang terus menangis dan memeluk Willa mendekat ke dadanya.
"Apa yang kalian lihat? Apa kalian sudah menelepon ambulan?" Teriak Steven marah.
Kemudian Steven terus menepuk pipi Willa dengan lembut dengan tujuan untuk membuatnya bangun dengan dirinya yang masih terus menangis dan berkata pada Willa.
"Willa, tetaplah bersamaku." Isak Steven.
"Kau adalah pembohong besar. Kau bilang padaku saat aku datang menemui mu untuk pertama kali bahwa kau tidak perduli tentang siapa aku atau aku berasal dari mana atau aku tinggal dimana dan semua yang kau inginkan hanyalah pria yang berdiri di depanmu. Bukankah itu yang kau katakan padaku?" Ucap Steven lagi.
"Jadi, kenapa kau menyerah sekarang? Apakah kau sudah melupakan apa yang kau katakan padaku saat itu? Jika kau sudah melupakannya, aku tidak akan pernah melupakannya. Willa aku tahu dengan benar bahwa kau mendengarkan aku. Jangan bermain-main dengan kematian."
Kemudian Steven kembali berucap dengan suara yang gemetar.
"Aku juga menginginkan dirimu, dan aku tidak perduli jika aku ini suami mu atau bukan. Willa, percaya padaku bahwa aku akan menjadi orang yang akan seperti mayat hidup tanpa ada kau disisi ku. Aku benar-benar tenggelam dalam cintamu."
Tiba-tiba, ambulan tiba di tempat kejadian.
Beberapa petugas keluar dari dalam ambulan itu dengan membawa turun sebuah tandu dan langsung mengangkat tubuh Willa dan menaruhnya diatas tandu itu. Mereka lalu membawa tubuh Willa masuk ke dalam ambulan.
Steven pun hendak ikut masuk ke dalam ambulan itu, namun para petugas menghalanginya dan bertanya padanya.
"Anda siapa Tuan? Hanya anggota keluarganya saja yang boleh ikut masuk dalam ambulan." Tanya salah seorang petugas.
"Aku adalah suaminya." Ucap Steven pada para petugas ambulan itu lalu masuk ke dalam ambulan.
Steven berkata bahwa dia adalah suami Willa karena jauh dalam hatinya dia memutuskan jika Willa hidup, dia akan menikahi Willa apapun dampaknya pada dirinya, Steven pasti akan menikahi Willa.
Dengan waktu yang cukup cepat, mereka akhirnya tiba di rumah sakit.
Dokter langsung bergegas membawa Willa ke ruang operasi untuk segera dilakukan operasi.
(Tiga jam kemudian....)
Akhirnya, pintu ruang operasi terbuka...
Begitu mendengar suara pintu terbuka, Steven langsung berlari ke arah dokter yang tampak keluar dari dalam ruang operasi.
Steven menarik nafas panjang saat dia memutuskan untuk bertanya pada dokter.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Steven.
Jantung Steven terasa seolah berhenti berdetak karena merasa ketakutan dengan jawaban apa yang akan dikatakan dokter padanya.
Steven menahan nafas, saat dokter membuka mulut untuk menjawab pertanyaan darinya.
Kemudian dokter berkata, "kondisinya sangat serius. Dia benar-benar terluka parah. Kami sudah melakukan semua yang bisa kami lakukan dengan baik, dan sisanya kita serahkan pada tangan Tuhan. Dia akan dipantau dengan ketat saat ini. Jika dalam waktu 72 jam dia bisa melewati semuanya, maka dia bisa melewati masa kritisnya dan dia akan hidup. Tapi bahkan jika dia hidup, dia akan berada dalam kondisi koma."
"Kami tidak tahu apakah akan ada kerusakan lebih parah pada jaringan dalam tubuhnya sampai dia bisa bangkit dari koma dan kami juga tidak pernah bisa tahu kapan dia kan bangun dari koma."
Saat itu, Steven merasa hatinya tercabik-cabik karena merasa begitu sedih dengan keadaan Willa.
Kemudian Steven menghela nafas dalam dan berkata pada dokter.
"Terima kasih dokter."
Kemudian, mama Willa yang juga ada di rumah sakit itu bertanya pada Steven.
"Apa kau mencintai Willa?"
"Iya, aku mencintainya." Balas Steven.
"Kapan itu terjadi? Kau baru saja mengenal dia beberapa hari ini?" Tanya mama Willa yang tampak begitu terkejut.
Steven berkata, "aku rasa, aku mulai mencintainya sejak pertama kali mata kami bertemu."
Mama Willa kembali berkata dengan wajah yang begitu terkejut.
"Tapi dia tidak mencintaimu. Dia hanya mencintai suaminya, dan bagaimana dengan pernikahanmu?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu apapun tentang semuanya. Tapi hanya satu hal yang aku tahu bahwa aku akan melawan seluruh dunia ini hanya untuk putrimu." Ucap Steven dengan begitu serius.
"Nyonya, pernikahanku adalah sebuah pernikahan yang diatur oleh papaku. Tunangan ku Lucy adalah putri dari sahabat baik papaku. Aku tidak pernah ingin menikah. Aku hanya akan menikah untuk kebahagiaan papaku."
"Kau tidak pernah membayangkan berapa kali aku menolak pernikahan ku ini sampai papaku lelah dengan sikapku dan pada akhirnya dialah orang yang mempersiapkan pernikahan ini untukku."
"Tapi setelah aku bertemu dengan putrimu, bagiamana pun aku menahan diriku dan menyangkal bahwa aku tidak mencintai Willa. Tapi jauh di dalam hatiku, aku tahu dengan benar bahwa aku benar-benar mencintai putrimu."
"Jadi, aku tidak perduli jika Willa menganggap aku sebagai pengganti suaminya dan aku juga tidak perduli apakah kau mau menerima kau atau tidak. Tapi, jika dia hidup, aku akan menikahi dia. Dia akan menjadi satu-satunya wanita yang terbaik untukku dalam hidupku dan hanya dia."
Mama Willa berkata dengan sedih, "aku benar-benar minta maaf dengan kata-kata kejam yang sudah aku ucapkan kepadamu sebelumnya. Aku pikir bahwa kau hanya mempermainkan Willa dan memanfaatkan kelemahannya untuk kebaikanmu sendiri. Aku tidak pernah berpikir bahwa kau malah bisa jatuh cinta dengan Willa dengan cara seperti itu."
"Tidak apa-apa Nyonya, aku bisa mengerti situasi mu. Jadi aku tidak marah padamu." Ucap Steven kepada mama Willa.
Mama Willa berkata kepada Steven, "kau bisa pulang ke rumahmu sekarang, dan jika sesuatu terjadi, aku akan segera menghubungi mu. Jadi kau jangan khawatir."
Steven tersenyum sedih dan berkata kepada mama Willa.
"Apakah anda pikir bahwa aku akan bisa meninggalkan tempat ini? Aku sudah berjanji padanya bahwa aku tidak akan pernah meninggalkan sisinya. Jadi tempatku berada disini, disampingnya, dan aku tidak akan pernah meninggalkan tempat ini sampai aku bisa menggendong dia dalam pelukanku untuk membawanya pulang ke rumah kami."
"Jadi, kaulah yang harus membawa putri Willa pulang. Kembalilah dan beristirahat lah dan jika sesuatu terjadi, aku akan menghubungi mu dengan segera."
Setelah itu mama Willa pun pergi membawa putri Willa untuk pulang ke rumah mereka.
Keesokan paginya, saat Steven tengah duduk di kursi rumah sakit, tunangannya Lucy datang mendekat kepadanya.
Kemudian Lucy mulai menatap Steven dengan mata yang penuh dengan kemarahan dan dia berkata dengan wajah yang penuh marah pada Steven.
"Apakah semua ini benar Steven?"
Steven tampak begitu mengantuk karena dia tidak pernah tidur sejak kemarin. Kemudian dia pun berkata kepada Lucy dengan dia yang tampak mengusap matanya dan juga menguap.
"Ada apa Lucy?"
Lucy berkata kepada Steven dengan sangat marah.
"Steven lihatlah berita utama dari majalah dan koran ini."
"Lihat ini juga...."
"Dan ini..."
"Dan ini juga."
Steven tampak memegang koran dan majalah itu untuk melihat berita utama dari mereka semua. Saat dia melihat kearah semua berita utama itu, Steven tampak terkejut karena dia menemukan bahwa semua berita utama dari koran dan majalah itu tentang kisah cinta antara dirinya dan Willa. Tidak hanya itu, tapi foto saat Steven tengah mencium Willa di lokasi syuting dan foto saat Steven memegang tangan mungil Willa yang tengah berada dalam pelukannya dan tampak juga bahwa Steven tengah mencium telapak tangan Willa saat kecelakaan itu. Foto itu terdapat di semua berita utama majalah dan koran itu.
Saat itu juga lidah Steven terasa kelu karena dia merasa bersalah pada Lucy. Dia tidak pernah memikirkan bahwa semua masalah itu akan menyebar seperti ini dan sangat menyakiti Lucy.
Lucy berkata kepada Steven lagi.
"Steven, semua majalah dan koran itu berita utama mereka hari ini tentang kisah panas antara seorang produser yang sangat terkenal Steven Adam dan seorang wanita asing di kota ini, yang ternyata merupakan pebisnis terkenal dari kota x bernama Willa Winona."
Steven hendak berkata,, tapi Lucy langsung berucap lebih dulu.
"Aku tidak mau mendengarkan apapun darimu. Aku selalu mendengarkan setiap ucapan mu. Tapi kali ini, kau yang harus mendengarkan aku Steven."
Lucy kembali berbicara pada Steven, sementara Steven sendiri tengah memegang majalah dan koran itu dengan wajah yang tampak begitu terkejut "lihatlah dengan baik-baik pada semua gambar itu. Lihatlah bagaimana tatapan matamu saat kau melihat padanya dan lihatlah bagaimana caramu memegang tubuh wanita itu."
Lucy berkata kepada Steven dengan sedih.
"Kita sudah bertunangan dalam waktu 2 tahun dan kau belum pernah sama sekali melihat ke arahku dengan cara seperti itu. Kau juga tidak pernah memegang ku dengan penuh hasrat seperti itu."
Steven hanya melihat ke arah bawah karena merasa malu dan begitu bersalah pada Lucy.
Lucy berkata kepada Steven dengan sedih.
"Bagaimanapun, aku mencintaimu Steven. Tapi aku selalu merasa bahwa kau tidak akan pernah bisa menjadi milikku dan kita tidak akan pernah bisa menjadi milik satu sama lain."
"Dua hari yang lalu kau bersumpah padaku bahwa kau tidak pernah mengenal atau melihat wanita itu sebelumnya dan itu adalah pertama kalinya kau melihat dia."
Steven kembali hendak mengatakan sesuatu, tapi Lucy lebih dulu berbicara kepadanya.
__ADS_1
"Tolong Steven, biarkan aku menyelesaikan apa yang ingin aku katakan. Kau tidak tahu bagaimana sulitnya semua ini untukku "
Kemudian Steven mulai terdiam.
Lucy berkata kepada Steven, "aku tidak bermaksud dengan mengatakan bahwa kau tengah berbohong padaku. Aku tahu dengan benar hal itu. Selama dua tahun, kau selalu mengatakan yang sebenarnya kepadaku dan kau tidak pernah sekalipun berbohong kepadaku. Jadi, aku tahu dengan baik bahwa saat kau mengatakan kepadaku hal itu, kau memang mengatakan yang sebenarnya bahwa kau memang benar-benar tidak mengetahui wanita itu sebelumnya."
"Itulah yang membuat aku datang kemari untuk mengetahui kebenarannya karena aku menghargai semua kejujuran mu. Steven untuk membuat semuanya jelas, jujurlah padaku dan katakan yang sebenarnya kepadaku. Semua yang aku inginkan darimu adalah jawabanmu dari pertanyaan ku dengan mengatakan iya atau tidak."
Kemudian Lucy mulai bertanya kepada Steven.
"Apakah wanita itu menghabiskan 2 hari berada di rumahmu dengan dibawah satu atap denganmu?"
Steven hendak berkata, saat Lucy menyelanya.
"Steven, semua yang ingin aku dengarkan hanyalah iya atau tidak. Aku tidak mau kau menjelaskan apapun."
Steven menghela napas dan tetap melihat ke arah bawah karena dia merasa malu dan kemudian berkata, "iya, itu benar."
Kemudian Lucy menggigit bibirnya dan kembali bertanya pada Steven.
" Apakah kalian tidur di tempat tidur yang sama?"
Steven menggigit bibir bawahnya lagi karena malu dan mengatakan, "iya aku melakukannya."
Lucy hendak menangis tapi dia menahan dirinya untuk tidak melakukan hal itu karena dia tidak mau. Steven merasa kasihan padanya karena mendengar Lucy yang menangis.
Lucy kembali bertanya kepada Steven dengan dia menggenggam tangannya sendiri dengan sangat erat hingga membuat kukunya menusuk telapak tangannya dengan begitu keras.
"Selama waktu itu, saat dia menghabiskan waktu di rumahmu, apakah kau pernah berniat untuk menciumnya lebih dulu?"
Steven kembali menggigit bibirnya dengan keras kemudian dia berkata dengan suara yang bergetar dan pelan.
"Iya."
Lucy berkata kepada Steven dengan marah.
"Steven, aku tidak bisa mendengar apa yang kau katakan. Katakan itu dengan keras, biarkan aku mendengarkan ucapan mu."
"Iya." Ucap Steven.
Lucy kembali bertanya pada Steven, "apakah semua gambar di mana kau mencium dia ini adalah ciuman palsu dan gambar ini tidak bermakna apapun untukmu atau kau mencium dia balik karena itulah yang ingin kau lakukan?"
Steven terus melihat arah bawah dan tetap terdiam. Lucy kemudian berkata dengan marah jawab, "jawab aku Steven."
Steven berkata dengan suara yang begitu sedih.
"Semua itu tidak palsu."
"Apakah gambar di mana kau tengah menangis karena dia, kau memeluk dia begitu erat dan matamu tampak penuh dengan air mata karena dia mengalami kecelakaan, apakah semua itu palsu?"
Steven lagi lagi melihat ke arah bawah dan tetap terdiam.
" Steven aku bilang jawab aku." Ucap Lucy dengan begitu marah.
"Itu tidak palsu." Balas Steven dengan suara yang pelan.
"Dalam waktu 2 hari sebelumnya, apakah kau jatuh cinta pada wanita itu?" Tanya Lucy dengan menatap kearah Steven dengan wajah yang sedih.
"Iya." Balas Steven dengan terus melihat ke arah bawah.
"Jika aku memberikanmu sebuah pilihan untuk memilih salah satu diantara kami berdua untuk menjadi istrimu, siapakah diantara kami yang akan kau pilih Steven?" Tanya Lucy dengan suara yang terdengar bergetar.
Kali ini Steven benar-benar menggigit bibirnya dengan keras saat dia terus terdiam dan tetap melihat ke arah bawah.
Kemudian Lucy berteriak dengan air matanya yang mulai jatuh ke pipinya.
"Jawab aku Steven, kau selalu mengatakan kebenaran padaku."
Secara tiba-tiba Steven berdiri lalu menarik Lucy dalam pelukannya, kemudian mengusap kepala Lucy dari belakang saat dia berkata kepada Lucy.
"Lucy, aku tidak membencimu."
__ADS_1
Bersambung....