
Steven tinggal di sebuah villa yang berada disamping villa milik Willa. Saat mereka tiba di parkiran mobil, Willa menolak untuk ikut bersama Mama nya dan dia ingin ikut bersama dengan Steven.
Kemudian Willa langsung menggandeng Steven dan berkata, "aku tidak akan pergi ke manapun kecuali bersama dia. Aku akan pergi kemanapun dia pergi."
Mama Willa lantas memegang tangan Willa dengan begitu kuat dan berkata, "kau tidak boleh pergi kemana pun kecuali bersamaku dan pulang ke rumah kita."
"Kenapa? Katakan kepadaku apa yang salah dengan tinggal bersama suami ku sendiri di rumahnya." Ucap Willa dengan raut wajah yang tampak kesal.
"Dia punya alasannya sendiri." Balas Mama Willa.
"Tidak ada alasan apapun di dunia ini yang bisa memisahkan seorang wanita untuk tinggal bersama suaminya, di rumahnya sendiri." Ucap Willa lagi.
"Kau ingin melakukan apa yang aku katakan dengan kesadaran mu sendiri, atau aku akan membuat para penjaga untuk memaksamu agar pulang bersamaku? Silahkan, kau putuskan apa yang ingin kau pilih." Ucap Mama Willa yang tampak geram.
Willa dengan cepat menolak dan berkata, "aku tidak akan pernah, tidak akan pernah selamanya melepaskan dirinya."
Steven merasa sangat marah dan sekaligus merasa kasihan kepada perasaan yang tengah berkecamuk di dalam hatinya dan membuat dia merasa lebih menyesal karena andai saja jika dia tidak pergi menemui Willa di tempat yang pertama tadi dan berpura-pura menjadi suaminya, keadaan ini tidak akan menjadi lebih buruk bagi Willa.
Dibalik semua yang terjadi, Steven merasa sangat bersalah. Tapi sekarang, dia dipaksa untuk menerima semua ini. Tidak peduli apapun yang dia inginkan atau tidak, sekarang dia tidak punya pilihan lain.
Saat para penjaga tengah berusaha menarik Willa dengan keras untuk melepaskan Willa dari Steven, dia melihat kearah tanah dan mengeraskan rahang nya dengan begitu kuat, karena dia tidak punya pilihan lain dan dia tidak bisa menahan diri untuk melihat Willa yang seperti itu lagi.
__ADS_1
Willa melihat ke arah mata Steven, saat matanya sendiri dipenuhi dengan air mata dan diapun berkata, "kau berjanji kepadaku bahwa kau tidak akan membiarkan orang lain untuk membawaku pergi jauh dari dirimu. Tapi, kenapa sekarang kau malah melihat kearah bawah? Apakah kau merasa takut untuk melihat kearah mataku karena kau telah berbohong padaku?"
Willa tampak begitu terluka.
Tiba-tiba Willa berteriak dengan keras.
"Lihat aku.... Bahkan jika kau tidak mengingat aku, kau akan selalu berada didalam hatiku dan akan selalu menjadi suami yang paling aku cintai. Kau tidak akan pernah bisa tergantikan oleh orang lain."
Willa mulai terisak dan kembali berkata dengan lembut.
"Kumohon Dion.... tidak, maksudku Steven, apapun namamu... Biarkan aku menghabiskan waktu bersamamu. Aku mohon kepadamu dan aku berjanji kepadamu bahwa aku tidak akan pernah mengganggu dirimu. Perlakukan saja aku seperti pelayan mu atau seperti peliharaan di rumahmu bahkan kau bisa memperlakukan aku seperti kursi di rumahmu. Aku sudah merasa sangat puas. Kumohon, jangan melarang aku. Setidaknya untuk melihat dirimu."
Kemudian Steven menggigit bibirnya dengan keras.
Willa mulai menangis, berteriak dan berkata, "apakah kau tahu apa yang aku rasakan saat kau membiarkan mereka membawa diriku menjauh darimu? Kau membiarkan mereka untuk membawa jiwaku keluar dari dalam tubuhku dengan cara yang paling buruk di hadapan matamu dan kau hanya melihat mereka dengan tenang."
"Dion, aku selalu mencintai namamu karena aku selalu berpikir bahwa nama itu cocok dengan dirimu. Karena kau selalu menerangi diriku. Tapi jika nama itu membuatmu merasa terganggu, aku bisa memanggilmu dengan nama apapun yang kau inginkan. Jika kau menyukai nama Steven, aku akan memanggilmu Steven mulai dari sekarang. Semua yang aku inginkan adalah orang yang berdiri di hadapanku saat ini, siapapun namanya."
Sementara para penjaga itu terus menarik Willa menjauh dari Steven. Tiba-tiba Steven menarik tangan Mama Willa menjauh dari posisi Willa berdiri.
"Aku tahu bahwa kau menganut budaya ke timuran. Kau mempunyai budaya dan tradisi yang berbeda dengan diriku yang tidak memperbolehkan wanita untuk melakukan hubungan dengan seorang pria sebelum mereka menikah. Jadi aku berjanji kepadamu, tidak peduli apa yang akan dia katakan atau dia lakukan, aku tidak akan melupakan siapa diriku dan tidak akan melakukan hubungan apapun dengan dirinya. Karena aku tahu dengan jelas, bahwa aku ini adalah orang asing dan aku bukanlah suaminya. Jadi biarkan dia tinggal bersamaku di dalam rumahku sedikit lebih lama, sampai dia merasa tenang. Kita sudah memulai semua ini secara bersama-sama, dan sekarang ayo kita selesaikan semua ini sampai berakhir dengan bersama-sama juga." Ucap Steven dengan raut wajah yang serius.
__ADS_1
Sebenarnya Mama Willa sangat kesal dan juga marah, karena semua ini tidak benar untuk dilakukan oleh putrinya. Willa tidak seharusnya tinggal bersama pria asing di rumah pria itu, dan ini semua sangat bertentangan dengan agama, tradisi, dan budaya yang dianut oleh keluarga Willa.
Sementara bagi Steven, budaya tinggal bersama lawan jenis meski belum menikah sudah menjadi hal yang lumrah. Itulah yang membuat Mama Willa ragu. Tapi untuk yang satu ini, Mama Willa harus membuat pengecualian.
Willa sudah tinggal di fasilitas kejiwaan selama 4 tahun. Jadi Mama Willa ingin bahwa Willa harus diperlakukan seperti orang normal. Jadi dia pun harus menyetujui pengecualian itu untuk membuat putrinya itu dalam kondisi yang tidak kembali seperti dulu lagi.
"Ingatlah, kau sudah berjanji kepadaku. Dia tidak akan menerima kesalahan apapun jika sesuatu terjadi, karena dia pikir bahwa kau adalah suaminya. Tapi kemudian, kaulah orang yang akan bertanggung jawab jika sesuatu terjadi kepadanya."
Steven tersenyum dan berkata, "aku tahu. Terima kasih karena sudah mempercayai aku. Aku berjanji kepadamu, aku tidak akan mengecewakan dirimu."
Kemudian Steven kembali mendekat ke arah dimana Willa berdiri dan berbicara kepadanya.
"Ayo, kita akan pergi...."
Willa langsung mendorong semua penjaga itu dengan sekali dorongan. Dia kemudian berlari kearah Steven dan melompat ke tubuhnya, melingkar kan kedua lengannya di leher Steven, melingkar kan kedua kakinya di pinggang Steven dan melihat ke arah mata Steven dengan matanya yang penuh dengan air mata.
Kemudian dia tertawa dan berkata, "aku tahu itu. Bahkan jika pikiranmu tidak mengingat aku, tapi hatimu tidak akan pernah mengecewakan aku."
Detik berikutnya Steven melingkar kan lengannya pada tubuh Willa dengan tanpa sadar. Dia lalu melihat ke arah mata Willa dan menghapus air matanya dan tersenyum kepadanya.
"Jangan sedih lagi. Ayo kita pulang ke rumah bersama."
__ADS_1
Bersambung....