
Lucy berkata kepada Steven dengan dirinya yang tampak menangis dengan tersedu.
"Aku tahu itu Steven, kau tidak membenciku. Tapi wanita ini, dia baru saja dua hari bersamamu dan dia bisa melakukan apa yang tidak bisa aku lakukan selama 2 tahun ini. Wanita ini bahkan bisa memenangkan hatimu." Ucap Lucy.
Kemudian Steven mencium kening Lucy dan terus mengusap kepala Lucy dari belakang dengan lembut seraya terus memeluk Lucy dan dia berkata kepada Lucy.
"Lucy, kau adalah wanita yang sangat baik dan aku sangat menghargai dirimu."
Lucy pun menangis lebih keras dan berkata kepada Steven, "ini adalah pertama kalinya kau berbicara kepadaku dengan aku yang berada di dalam pelukanmu dan kau bahkan sampai mencium kening ku yang selama 2 tahun ini tidak pernah kau lakukan. Dia adalah satu-satunya wanita yang bisa membuat es yang ada di dalam hatimu mencair."
"Steven, dia bisa membangunkan dan membangkitkan perasaanmu yang begitu hampa itu. Jika kau tidak menyadarinya, dia bisa mengajari dirimu bagaimana caranya untuk mencairkan perasaanmu yang dingin, dia mengajari dirimu bagaimana caranya untuk mencintai. Tapi ini memang bukan keberuntungan bagiku dan memang dialah wanita yang tepat untuk mu Steven."
Kemudian Lucy kembali berkata kepada Steven dengan air matanya yang semakin jatuh ke pipinya dan dia masih berada dalam pelukan Steven.
"Meskipun pernikahan kita seharusnya akan terjadi dua minggu lagi, tapi bahkan jika kau menerima untuk melanjutkan pernikahan ini, tapi aku tidak akan pernah bisa untuk menerimanya sama sekali."
"Kau tahu Steven, pernikahan adalah hubungan yang sakral dan akan dijalani sampai akhir hidup kita. Dan aku tidak akan mau untuk menerima dengan membangun sebuah hubungan pernikahan diatas sebuah kebohongan."
Tiba-tiba Lucy melepaskan dirinya dari pelukan Steven. Dia lalu mengeluarkan cincin pertunangan dari jemari nya. Dia memegang tangan Steven dengan satu tangannya dan membuka tangan Steven dengan tangan yang lainnya dan lalu menaruh cincin tunangan itu di telapak tangan Steven seraya dirinya terus terdiam dan air mata yang jatuh ke pipinya seperti air sungai.
Meskipun Steven mencintai Willa, tapi saat ini dia merasa begitu kasihan pada Lucy dan perasaan yang begitu bersalah benar-benar ada dalam dirinya.
Lucy tiba-tiba berhenti menangis. Dia lalu tersenyum untuk menutupi kesedihan dibalik senyumannya itu dan dia berkata kepada Steven.
"Steven, perjalanan kita bersama, berakhir disini."
Saat itu entah kenapa Steven merasa sebuah pisau menusuk ke dalam hatinya. Bagaimanapun dia memang tidak mencintai Lucy, tapi mereka sudah bersama selama 2 tahun. Jadi Steven merasa sangat bersalah dan kasihan kepada Lucy.
Kemudian kesedihan muncul dengan sangat jelas di wajah Steven.
Lucy lalu kembali berkata kepada Steven.
"Steven, jangan sedih seperti itu. Pada akhirnya hubungan kita berakhir disini, dan sekarang lebih baik kita mengakhiri semua hubungan kita ini dengan cepat."
Lucy lalu melihat ke arah mata Steven dengan penuh hasrat dan kembali berkata kepadanya.
"Steven, kau sudah melakukan apapun yang kau inginkan dan aku membiarkan dirimu melakukan apa yang kau inginkan. Jadi biarkan aku mendapatkan apa yang sangat aku inginkan selama ini, seperti aku yang membiarkan mu melakukan apapun yang kau inginkan. Ini adalah pertama kalinya aku meminta kepadamu. Jadi jangan katakan tidak atau menolak aku untuk mendapatkannya."
Steven lalu bertanya kepada Lucy dengan melihat ke arah mata Lucy.
"Apa yang kau inginkan Lucy?"
Lucy berkata kepada Steven saat dia mendekat kearah bibir Steven.
"Steven, bisakah kau memberikan aku sesuatu yang selama ini sangat aku inginkan. Tapi kau tidak pernah membiarkan aku melakukannya. Bahkan jika kau tidak menginginkannya atau bahkan jika ini tidak berarti apa-apa untukmu. Biarkan aku untuk tetap mendapatkannya Steven." Ucap Lucy yang tampak begitu serius.
"Steven, berikan aku sebuah ciuman yang penuh cinta, kumohon."
Tanpa berkata-kata, Steven langsung melingkarkan lengannya di pinggang Lucy untuk membuat Lucy mendekat ke arahnya. Dia lalu memegang pundak Lucy dengan sangat erat dengan tangannya yang lainnya dan akhirnya mendekat kearah wajah Lucy. Di sisi lain Lucy melingkarkan kedua lengannya di leher Steven seraya melihat ke arah mata Steven dengan penuh hasrat.
Sesaat kemudian, Lucy merasakan hembusan napas devon di wajahnya kemudian dia menutup matanya dan Steven tetap melihat kearah wajah Lucy saat dia mendekat kearah bibir Lucy dengan perlahan.
__ADS_1
Kemudian Steven membuka mulutnya dengan tujuan untuk menahan bibir Lucy dan mencium bibir Lucy.
Setelah itu bibir mereka bertemu. Steven mulai mencium Lucy dengan penuh hasrat saat Lucy sendiri membalas ciuman Steven dengan begitu penuh hasrat juga.
Ciuman itu bertahan cukup lama, hingga kemudian akhirnya mereka berhenti. Steven memegang bibirnya setelah berciuman dengan Lucy. Lucy sendiri langsung berbalik dengan maksud untuk meninggalkan Steven, karena dia tidak mau Steven dapat merasakan kesakitan yang ada dalam dirinya yang terus saja menangis.
Kemudian mata Steven tampak basah dan dia mengepalkan tangannya dengan sangat erat karena merasa bersalah dan dia kemudian berkata kepada Lucy.
"Lucy tunggu dulu!"
Kemudian Lucy berbalik dengan tujuan untuk melihat kearah wajah Steven dan dia berkata kepada Steven, "selamat tinggal Steven."
Mata Steven dipenuhi dengan air mata dan dia berkata kepada Lucy, "maafkanlah aku Lucy. Semua ini benar-benar di luar kendali diriku."
Kemudian air mata mulai jatuh dari mata Steven karena dia benar-benar merasa begitu bersalah dengan apa yang sudah dilakukan pada Lucy.
Dia lalu berkata kepada Lucy, "aku tidak bermaksud untuk melakukan hal seperti ini kepada wanita yang sangat baik dan sangat sempurna seperti dirimu."
Lucy mendekat kearah Steven dan mengusap air mata Steven dan berkata kepadanya.
"Aku tahu dengan benar bahwa kau bukankah pria seperti itu. Bagaimanapun, aku selalu berharap bahwa kau akan bahagia dari dalam lubuk hatiku."
Kemudian Lucy kembali berkata kepada Steven saat dia melihat ke arah mata Steven.
"Jngan bersedih seperti ini. Suatu hari nanti, aku akan menemukan belahan jiwaku yang akan membalas cintaku. Jadi jangan bertingkah seperti ini. Aku harus pergi sekarang untuk membatalkan semuanya yang sudah aku persiapkan untuk pernikahan kita. Sampai bertemu lagi Steven."
"Sampai bertemu lagi Lucy." Balas Steven.
Setelah Lucy berbalik dan pergi, air matanya keluar dengan begitu deras, tapi dia berusaha dengan keras untuk tidak membuat suara apapun dari tangis nya itu.
Bagaimanapun Lucy ingin Steven untuk mendapatkan kebahagiaan nya dimana pun itu bahkan jika kebahagiaan Steven adalah bersama dengan wanita lain.
Jadi Lucy benar-benar mengubur semua harapannya untuk tujuan tidak merusak kebahagiaan Steven.
Saat Lucy sudah melangkah menjauh, Steven berbicara dengan suara yang keras.
"Aku sangat minta maaf Lucy. Aku berharap kau bisa menemukan kebahagiaanmu sendiri di manapun itu. Kau adalah wanita yang sangat baik dan kau sangat pantas menerima kebahagiaan dari orang yang pantas untukmu."
Lucy memang mendengar suara Steven. Tapi dia tidak membalas apapun, karena dia tidak mau Steven melihat air matanya.
Kemudian Steven berbicara pada dirinya sendiri saat Lucy sudah tidak ada dihadapannya.
'Lucy, aku sangat tahu bahwa kau adalah wanita yang baik. Tapi aku tidak pernah membayangkan bahwa kau ternyata sebaik itu Lucy. Hatiku merasa sangat sakit untukmu dan aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri sepanjang hidupku karena melakukan hal ini padamu Lucy.'
4 jam kemudian....
Steven memohon kepada dokter untuk membiarkan dirinya agar bisa melihat Willa karena Willa tengah di berikan perawatan intensif di sebuah ruangan khusus.
Pada akhirnya dokter mengizinkan Steven dengan satu syarat.
__ADS_1
Satu syarat yang mereka berikan itu adalah para dokter hanya memberikan waktu kepada Steven 5 menit untuk bisa melihat Willa. Saat waktu 5 menit itu berakhir, Steven harus segera keluar dari dalam sana.
Steven pun akhirnya menerima syarat yang diberikan dokter dan dia masuk ke dalam ruangan tempat dimana Willa diberikan perawatan secara intensif untuk bisa menemui Willa.
Saat Steven melihat Willa, matanya tampak basah dan dia mulai bicara pada Willa yang tidak sadarkan diri.
"Willa, kau tidak tahu bagaimana sakitnya aku melihat dirimu seperti ini. Aku tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari, aku akan melihat dirimu dalam kondisi seperti ini. Willa, melihat dirimu seperti ini, hatiku terluka menjadi begitu berkeping-keping."
Kemudian Steven mendekat ke arah tempat tidur Willa dan duduk di sebuah kursi di samping tempat tidur Willa. Dia lalu memegang tangan Willa dan terus menatap kearah wajah Willa dengan sedih, di mana Willa tampak tidak sadarkan diri. Dan disaat yang bersamaan, Steven kembali berbicara kepada Willa.
"Sebelumnya, kau meminta kepadaku untuk membiarkan mu mendengar detak jantungku karena mendengar detak jantungku, itu tetap membuatmu hidup. Tapi saat itu aku tidak mengerti apa yang kau maksudkan dengan hal itu dan aku juga tidak mengerti bagaimana perasaanmu saat kau meminta hal itu padaku."
"Tapi sekarang setelah aku melihatmu seperti ini, aku mengerti bahwa kau mengatakan hal itu karena selama kau bisa mendengar detak jantungku, kau tahu bahwa aku tetap hidup dan aku tetap dalam keadaan baik dan inilah yang sangat kau inginkan dan inilah yang sangat ingin kau rasakan."
"Sekarang, aku adalah orang yang sangat ingin mendengarkan detak jantungmu, karena setiap detak jantungmu mengatakan padaku bahwa kau masih hidup dan itulah yang membuat aku untuk tetap hidup."
"Terima kasih Tuhan, aku masih bisa merasakan denyut jantungmu hanya dengan memegang tanganmu."
"Willa, aku akan selalu menunggu dirimu. Jadi, jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku sendirian di dunia ini. Aku tidak akan pernah bisa menjalani hidup ini tanpa dirimu. Kau adalah satu-satunya cintaku."
Tiba-tiba, tampak seorang perawat menunjuk ke arah Steven dengan memperlihatkan kelima jarinya, dengan tujuan untuk mengatakan kepada Steven, bahwa waktu lima menit baginya untuk melihat Willa sudah berakhir.
Dengan cepat Steven lalu bangkit dari duduknya. Kemudian dia berkata kepada Willa yang tampak masih tidak sadar.
"Willa, aku tahu kau bisa mendengarkan apa yang aku katakan. Jadi bangunlah, jangan bersikap kejam seperti ini. Ayo kita menikah."
Saat Steven keluar dari dalam ruangan Wila, dia tiba-tiba bertemu dengan papanya yang datang untuk menemui dirinya.
Tuan Adam berkata kepada Steven, "apa yang terjadi? Aku datang untuk menemui mu di villa mu. Tapi pelayanmu berkata bahwa kau ada di rumah sakit sejak kemarin. Kemudian aku mendengar para tetanggamu berbicara tentang kisah cintamu dengan seorang wanita bernama Willa Winona. Apa yang terjadi sebenarnya dengan dirimu? Siapa wanita itu dan bagaimana dengan Lucy? Dia adalah wanita yang sangat baik. Kenapa kau melakukan ini padanya?"
Tiba-tiba Mama Willa datang ke rumah sakit. Dia berdiri dibelakang Tuan Adam saat mendekat ke arah Steven dan bertanya kepada Steven.
"Bagaimana keadaannya sekarang?"
Kemudian Tuan Adam berbalik dengan tujuan untuk melihat wajah wanita yang tengah berbicara dengan Steven.
Saat Mama Willa melihat ke arah Tuan Adam, dia tampak begitu terkejut dan langsung mendekat kearah Tuan Adam dengan tatapannya yang tampak begitu tidak percaya dan berkata,
"Kau adalah Tuan Adam bukan? Kau pernah menikah dengan Anisa yang tinggal di kota X, 25 tahun yang lalu. Dan kau menceraikan dia secara tiba-tiba dan kemudian kembali ke kotamu. Kau adalah suami Anisa bukan?"
Steven bertanya kepada Mama Willa.
"Siapa wanita yang bernama Anisa itu?"
"Dia adalah Mama dari Dion." Balas Mama Wila.
"Aku rasa kau salah Nyonya. Nama Mamaku adalah Susan dan dia sudah meninggal sejak aku berusia 5 tahun dan papaku tidak pernah menikah sebelum dengan Mamaku dan bahkan setelah kematian Mamaku." Ucap Steven kepada Mama Wila.
"Siapa yang mengatakan itu kepadamu? Kau bisa bertanya pada Papa mu." ucap Mama Willa yang tampak tersenyum dengan canggung.
Tiba-tiba Papa Steven tampak begitu terkejut dan dia langsung duduk di kursi yang berada di sampingnya. Sementara itu Steven langsung bertanya kepada Papanya.
__ADS_1
"Papa Apakah itu benar? Apakah Papa pernah menikah dengan seorang wanita bernama Anisa di kota X? Apakah aku adalah putranya yang bernama Dion? Jawab aku Pa. Katakan yang sebenarnya kepadaku."
Bersambung....