
Steven langsung menggendong Willa dan berkata kepada Willa.
"Aku tahu apa yang ada di dalam pikiranmu. Jadi aku sangat yakin bahwa kau akan mengunjungi saudaraku. Disamping itu aku tidak bisa meninggalkanmu pergi sendirian ke kota ini dengan kondisi mu yang seperti ini dan jika aku memintamu untuk membiarkan aku pergi bersamamu, kau pasti tidak akan pernah bisa melepaskan semua rasa sakit yang selama ini kau rasakan dihadapanku. Jadi aku mengikuti dirimu secara diam-diam." Ucap Steven.
Steven lalu memandang kearah makam saudara kembarnya itu.
"Dion saudaraku, aku berjanji padamu bahwa aku akan membuat dia menjadi wanita yang paling bahagia selamanya dan aku akan menjaga dia selama aku bernafas di dunia ini. Ditambah, aku juga akan membesarkan putri mu seperti putriku sendiri. Aku tahu dengan benar bahwa itu akan membuatmu bahagia." Lanjut Steven lagi.
Diana putri semata wayang Willa, yang mendengarkan ucapan Steven langsung berlari kearah Steven dan memeluk kaki Steven dengan tangannya yang kecil dan berkata kepada Steven...
"Terakhir kali aku melihatmu di depan villa mu. Aku berkata kepada nenek, Papaku kembali hidup lagi. Karena setiap hari aku selalu berdoa untuk Papaku agar bisa hidup lagi. Tapi nenek berkata kepadaku, bahwa orang yang sudah meninggal tidak akan pernah bisa hidup lagi. Tapi kita akan bertemu dengan mereka lagi di kehidupan yang selanjutnya. Sekarang aku tahu bahwa kau adalah kembaran Papaku. Apakah aku benar?"
Steven lalu melihat ke arah mata Diana yang kecil itu, dengan dia yang masih menggendong Willa. Steven lantas tersenyum dan berkata kepada Diana, "iya, kau sangat benar. Aku ini adalah Om mu."
Kemudian Diana tampak sumringah, dia kembali berlari kearah makam Papanya, kemudian memeluk nisan Papanya dan berkata kepada Papanya.
"Papa aku lupa mengatakan kepada Papa bahwa selama ini aku selalu membawa gambar Papa bersamaku, kemanapun aku pergi."
Diana lalu memasukkan tangan kecilnya ke dalam saku celananya dan mengeluarkan foto dari Papanya dan tersenyum kepada pusara Papanya dan kemudian kembali berlari kepada Steven. Dia lalu memegang celana Steven dan menariknya dengan tangan kecilnya agar Steven membungkuk untuk membuat Steven duduk di tanah karena Steven terlalu tinggi dan dia tidak bisa meraih wajah Steven.
Steven lantas duduk dengan masih menggendong Willa dan tersenyum lebar, kemudian berkata kepada Diana...
"Ada apa putriku? Apa yang kau inginkan?" Tanya Steven.
Saat Diana mendengarkan Steven memanggil dirinya dengan sebutan putriku, Diana tersenyum dan menaruh foto Papanya disamping wajah Steven lalu menatap ke arah belakang melihat kearah makam Papanya seraya berkata kepada Papanya...
__ADS_1
"Lihatlah Pa, tidak ada perbedaan diantara kalian berdua. Jadi jika Papa tidak masalah, bolehkah aku memanggil dia Papa sampai nantinya aku bisa bertemu dengan Papa di kehidupan selanjutnya. Aku juga tentu akan terus memanggil Papa dengan sebutan Papa juga. Hal itu tidak akan pernah berubah Pa."
Secara tiba-tiba Steven melihat kearah makam Dion dan berkata, "ada apa Dion? Apa yang ingin kau katakan padaku? Bisakah kau berkata lebih keras, agar aku bisa mendengarkan apa yang ingin kau katakan padaku."
Diana menjadi tampak terkejut dan terus menatap kearah Steven dengan tajam dengan matanya yang membelalak dan mulutnya yang juga terbuka lebar.
Steven tersenyum saat melihat ekspresi Diana. Steven lantas kembali melihat kearah makan saudaranya itu, bertingkah seolah dia tengah berbicara dengan Dion, saudaranya itu.
"Benarkah? Apakah kau setuju dengan hal itu? Baiklah kalau begitu, tapi hanya dengan satu syarat...." Ucap Steven.
Kemudian Diana tampak sedih dan membuat wajahnya yang tampak kecewa, takut kepada Papanya yang mungkin tidak mengizinkannya. Takut juga jika syarat yang diberikan Steven tidak bisa ia lakukan. Tapi kemudian Steven berkata....
"Aku akan setuju hanya jika dia bisa mencintai aku, sebanyak dia mencintaimu dan memberikan aku sebuah pelukan dan juga mencium pipiku sekarang juga. Maka dia boleh memanggil aku Papa sepanjang hidupnya."
Setelah itu Diana berkata kepada Steven, "Papa selamat datang kembali, aku sangat mencintai dan menyayangi Papa dan aku punya banyak hal yang ingin aku katakan kepada Papa."
"Diana kesayanganku, Papa adalah milikmu. Papa akan membawamu ke semua tempat yang kau inginkan dan Papa akan mendengarkan apapun yang ingin kau ceritakan pada Papa." Ucap Steven.
Kemudian Diana berkata kepada Steven, "bisakah Papa membiarkan aku untuk tidur dalam pelukan Papa setiap malam?"
Steven menatap mata Willa yang masih dalam gendongannya dan dengan posisi yang duduk di tanah dan kemudian dia berkata, "hanya dalam waktu 2 hari saja, Papa akan membuatmu tidur dalam pelukan Papa sepanjang malam. Tapi setelah 2 hari itu, Papa akan membawa orang lain untuk tidur dalam pelukan Papa."
Willa lalu tampak merona, menggigit bibirnya karena merasa malu dan melihat kearah lain dengan debaran jantung yang tak karuan.
Mendengar ucapan Steven, Diana menjadi tampak sedih.
__ADS_1
Kemudian Steven mencium kening Diana dan berkata kepadanya, "jangan sedih, Papa akan membuatmu tidur dalam pelukan Papa sepanjang hari kapanpun kau mau. Dan Papa akan menjaga Mamamu dalam pelukan Papa, karena Mamamu sangat sedih dan Papa hanya mau menghibur nya. Papa tahu bahwa kau adalah gadis yang sudah besar dan kau pasti akan mengerti hal itu."
Kemudian Diana berkata kepada Steven, "baiklah, itu terdengar cukup adil bagiku."
Steven berkata kepada Diana saat melihat ke arah matanya yang kecil itu.
"Putriku, Papa berharap jika saja Papa bisa membawamu dalam pelukan Papa sekarang. Tapi seperti yang kau lihat kaki Mamamu patah dan dia tidak bisa berjalan. Jadi Papa harus menggendong nya."
Kemudian Diana berkata dengan terkejut, "tapi Papa tidak perlu menggendong Mama dengan cara seperti itu. Itu akan membuat Papa merasa kelelahan. Papa bisa menaruh Mama di kursi roda dan mendorong Mama kan?"
Kemudian Steven pun tidak dapat berkata apa-apa, wajahnya tampak merona dan dia terlihat menggigit bibirnya karena rasa malu.
Tiba-tiba Willa tertawa terbahak-bahak dia berkata kepada putri kecilnya itu.
"Sayangku, Papamu hanya ingin menggendong Mama dalam pelukannya. Itu tidak akan pernah membuat Papamu kelelahan. Itu malah akan membuat Papa mu bahagia karena...."
Kemudian Steven melihat ke arah mata Willa, setelah itu Willa melanjutkan ucapannya dan berkata, "karena Mama sedang sedih. Jadi Papa hanya ingin menghibur Mama."
Steven pun menghela nafas dalam. Kemudian Willa menjitak kening Steven dan berkata padanya.
"Apa yang kau pikirkan yang hendak aku katakan kepadanya?"
Kemudian mereka berdua tertawa dengan keras dan Diana pun mengikuti mereka tertawa.
Bersambung.....
__ADS_1