
Steven terus bicara pada dirinya sendiri.
'Tunggu dulu, aku sebenarnya bukan lah orang yang berada di antara dua api. Untuk lebih tepatnya, sebenarnya aku sekarang tengah berada diantara tiga api. Aku lupa akan mama Willa. Aku akan menjadi daging busuk jika mama Willa tahu tentang hal ini dan kemungkinan dia akan membunuhku jika dia tahu bahwa aku mempekerjakan putri kesayangannya sebagai sopir untuk ku.'
'Tapi apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah, tidak akan pernah sekalipun membuat Willa kecewa. Lihatlah dia, bagaimana dia bisa berdiri di sana dengan perasaannya yang terluka. Melihat ke arahku dengan mata yang penuh permohonan. Dia tampak bernapas dengan berat saat berada di sekeliling ku. Melihat kearah bibirku. Tampak ketakutan dengan apa yang akan aku katakan padanya. Dia berpikir bahwa apa yang akan aku katakan seolah menjadi sebuah senjata dan itu mungkin akan membuatnya terluka. Di mana semua itu akan membangkitkan luka lamanya. Lihat, dia tampak menggigit bibirnya karena ketakutan, menggenggam erat tangannya. Aku tidak akan pernah, tidak akan pernah sedikitpun untuk membuatnya kecewa apapun yang akan terjadi. Apapun yang akan aku hadapi nanti.'
Kemudian Steven berkata "aku...."
Namun Steven kembali berbicara kepada dirinya sendiri setelah melihat wajah Willa.
'Dia masih terus melihat kearah bibirku. Matanya tampak basah dan dia tersenyum kepadaku untuk menyembunyikan ketakutan nya. Ketakutan dibalik senyuman palsu nya itu membuat aku lupa dengan apa yang hendak aku katakan kepadanya.'
Kemudian Steven mencoba untuk melanjutkan ucapannya.
"Aku berjanji kepadamu bahwa aku tidak akan pernah, tidak akan pernah sedikitpun membuatmu menjauh dari hidupku dan aku akan membiarkan mu bekerja dengan ku sebagai seorang sopir, sampai aku menemukan pekerjaan yang cocok untuk mu."
Willa langsung melompat penuh kegirangan. Dia lalu berlari dengan cepat untuk memeluk Steven dengan erat dan mencium setiap sudut wajah Steven dan berkata, "terima kasih banyak Steven, kata-kata yang kau ucapkan membuatku merasa lega."
Steven membalas senyuman Willa, dan dia juga terlihat tampak begitu bahagia karena dia bisa membuat Willa bahagia seperti itu.
Steven lalu berkata, "aku akan membuat sebuah panggilan lebih dulu, kemudian kita akan pergi."
"Kalau begitu, aku akan pergi sekarang untuk menyiapkan diriku. Setelah kau selesai menelpon, kau bisa mendapati aku menunggu dirimu di depan mobil mu. Aku akan pergi lebih dulu menuju mobil mu." Ucap Willa dengan penuh semangat.
Steven tersenyum dan berkata, "baiklah. Setelah aku selesai, aku juga akan berada di sana dengan cepat."
Setelah Willa pergi, Steven mengambil ponselnya dan menelpon Lucy tunangannya.
__ADS_1
"Hai Lucy, maaf karena tidak mengangkat telepon darimu tadi. Aku sangat sibuk." Ucap Steven merasa bersalah.
"Hai Steven." Balas Lucy.
Steven berkata, "ada apa Lucy? Ada hal penting apa yang ingin kau bicarakan denganku?" Tanya Steven.
"Aku sangat khawatir tentang dirimu. Sejak kau bertemu dengan wanita gila itu kemarin dan kau mulai bertingkah sangat aneh. Kau bahkan lupa tentang gaun pernikahan yang seharusnya kita lihat sejak kemarin. Steven, katakan kepadaku. Aku akan mendengarkan semuanya jika kau butuh seseorang untuk mendengarkan ucapan mu. Aku akan selalu ada bersamamu." Ucap Lucy.
Steven melihat ke bawah dan menggigit bibirnya karena merasa bersalah seraya dia berbicara kepada Lucy dengan suara yang terdengar sedih.
"Jangan berpikir terlalu banyak. Aku baik-baik saja. Jadi kau jangan khawatir, maafkan aku. Aku mempunyai banyak pekerjaan yang harus aku lakukan hari ini. Kita akan pergi besok untuk melihat gaun pernikahan mu. Aku janji padamu bahwa aku akan melakukan semuanya untukmu." Ucap Steven.
"Terimakasih banyak Steven. Aku akan menemui mu besok jam 03.00 sore, setelah kau selesai bekerja." Ucap Lucy bersemangat.
"Baiklah Lucy, aku akan menunggu dirimu. Sampai bertemu besok Lucy." Ucap Steven.
Kemudian Steven menutup sambungan telepon itu, lalu dia menaruh tangannya di wajahnya saat dia mulai bicara kepada dirinya sendiri dengan wajah yang begitu marah.
'Ini adalah pertama kalinya aku merasakan perasaan seperti ini. Aku merasa bersalah dan merasa menjadi pengecut dengan apa yang sudah aku lakukan kepada Lucy. Lucy adalah wanita yang baik. Dia tidak pantas menerima semua perlakuan seperti ini dengan aku yang berselingkuh darinya. Aku hanya berharap dia akan menghukum ku dan keberatan akan semua ini, karena rasa bersalah ini benar-benar membunuh ku.'
Kemudian Steven melihat ke arah jam di tangannya dan berkata, "oh ya Tuhan, aku sudah terlambat. Aku harus membuat panggilan lainnya dengan cepat sebelum aku pergi."
Steven kembali mengambil ponselnya lagi dan kemudian menelpon sahabat baiknya.
"Hai John, ini aku Steven. Apakah kau masih tidur? Kau benar-benar sangat malas." Ucap Steven.
John membalas ucapan Steven dengan berteriak.
__ADS_1
"Ada apa Steven? Kau tahu dengan baik bahwa aku tidak pernah bangun sepagi ini. Apa ada hal yang penting sampai membuatmu membangunkan aku sepagi ini?"
Suara John terdengar kesal dan masih mengantuk.
"John ada banyak hal yang terjadi sejak kemarin, dan aku ingin berbicara padamu. Tapi kau tampaknya masih mengantuk. Jadi aku akan bicara denganmu nanti. Tapi aku punya suatu hal yang ingin kau lakukan untukku." Ucap Steven serius.
"Ayolah Steven, katakan saja kepadaku." Balas John.
"Kau tahu sopir ku Jack kan? Dia tengah berada dalam masalah besar. Aku mau kau menyelesaikan masalah itu untuknya, karena aku punya banyak pekerjaan hari ini dan aku tidak bisa untuk menyelesaikan semua itu sendiri." Ucap Steven.
"Ayolah Steven, katakan saja dengan cepat. Aku masih ingin tidur lagi." Balas John.
Steven berkata, "hidup putra Jack dalam bahaya. Dokter mengatakan seharusnya putra Jack sidah di operasi pengangkatan usus buntu kemarin. Tapi Jack tidak melakukannya, karena memang kemarin dokter salah mendiagnosa penyakit yang di derita oleh putra Jack. Jack sekarang berada di sebuah rumah sakit kecil dekat dengan rumahnya, tapi jika putranya itu tidak mendapat tindakan medis dengan cepat, dia akan kehilangan nyawanya. Jadi, aku mau kau mengirim putra Jack itu ke rumah sakit yang ada di kota M. Itulah sebabnya aku membutuhkan seorang teman seperti mu. Teman akan selalu saling membantu saat kesusahan. Bagaimanapun kau harus berhenti tidur sekarang, dan bantulah aku."
"Steven, aku harus berkata begini. Aku adalah orang yang tidak beruntung karena memiliki teman seperti dirimu yang selalu menggangguku dan tidak pernah membiarkan aku bermimpi indah selama ini sejak aku mengenalmu." Ucap John.
"Aku minta maaf Bro, aku tahu bahwa kau sangat menyukai tidur dibanding apapun di dunia ini. Tapi, siapa lagi yang bisa membantuku kecuali dirimu. Aku tidak percaya orang lain selain dirimu." Balas Steven.
"Baiklah, aku mengalah. Aku tidak akan tidur lagi dan melakukan keinginanmu. Lagi pula aku selalu saja luluh dengan kata manis mu itu." Ucap John.
Steven tersenyum dan berkata, "itu baru sahabat baikku. Terima kasih John. Sampai jumpa."
"Sampai jumpa Steven." Balas John.
Steven lalu memutuskan sambungan telepon dan bergegas menuju mobilnya.
Bersambung....
__ADS_1