Cinta Membuat Aku Gila

Cinta Membuat Aku Gila
28. Kecelakaan


__ADS_3

Willa kembali berkata kepada Steven.


"Katakan pada mama bahwa kau kembali hidup untuk ku lagi, karena kau tahu dengan benar bahwa aku hilang akal, jika aku kehilangan dirimu, katakan kepada mama Steven."


Kemudian Willa berkata kepada Steven dengan tangis yang keras.


"Kumohon Steven, jangan lakukan ini kepadaku. Kau perlahan-lahan membunuh ku karena terus terdiam seperti ini."


Tapi Steven terus terdiam dan menggigit bibirnya seraya melihat ke arah bawah dengan wajahnya yang tampak sedih.


Kemudian Willa terjatuh dia memegang pakaian Steven dengan kedua tangannya. Willa lalu menggoyang kan tubuh Steven dengan sangat keras dan berteriak dengan keras dan juga menangis.


"Lihat aku Steven! Kenapa kau terus melihat ke arah bawah dan menggigit bibirmu seperti itu. Lihat ke mataku dan katakan yang sebenarnya."


Kemudian Willa semakin menangis lebih keras dan berkata kepada Steven.


"Jangan katakan kepadaku bahwa apa yang dikatakan mama memang benar."


Kemudian Willa kembali berteriak lebih keras.


"Jawab aku Steven, kau membuat aku gila karena terus terdiam seperti ini."


Lagi-lagi Willa berteriak.


"Steven jawab pertanyaan ku. Apakah pertanyaan ku sangat sulit untukmu?"


Kemudian mama Willa berkata kepada Steven.


"Kenapa kau terus terdiam. Katakan padanya yang sebenarnya."


Kemudian Steven berkata kepada Willa dengan suara yang bergetar dengan dirinya yang terus melihat ke arah bawah.

__ADS_1


"Aku bukanlah suamimu."


Saat itu juga Willa merasa ada sebuah pisau yang menancap di jantungnya. Kemudian dia berhenti menangis dan memegang dadanya dengan keras karena rasa sakit yang diberikan mamanya dan Steven dengan apa yang mereka ucapkan itu.


Mama Willa berkata kepada Steven.


"Katakan bahwa aku lah orang yang datang kepadamu dan memintamu untuk membantu dia. Katakan kepadanya bahwa kau sudah mempunyai seorang tunangan dan kau akan menikah dengannya setelah dua minggu ini."


Mama Willa kembali berkata kepada Steven.


"Katakan kepadanya bahwa aku sudah menaruh kepercayaan ku kepada dirimu danp berpikir bahwa kau adalah orang yang bisa dipercaya. Tapi aku salah karena berpikir seperti itu."


"Katakan kepadanya bahwa dia harus bangun sebelum semua ini terlambat. Katakan padanya, dia harus bangun sebelum kau menikah dengan wanita itu atau dia akan kehilangan akal nya lagi." Ucap mama Willa kepada Steven.


"Ayolah Steven, dia harus menghadapi kenyataannya sekarang." Ucap mama Willa lagi.


Willa berdiri di pintu gerbang villa Steven mendengar ucapan mamanya tanpa mengatakan apapun seolah semua kata itu sudah terhapus dalam pikirannya. Wia sudah tak menangis lagi, air mata Willa sudah mengering. Dia hanya berdiri dan membuka matanya dengan lebar karena terkejut seolah hatinya sudah membatu.


Di sisi lain Steven berbicara pada dirinya sendiri dengan masih melihat ke arah bawah dengan wajah yang sedih dan merasakan sakit yang teramat sangat di hatinya.


Steven terus menatap ke arah bawah dan masih saja bicara dengan dirinya sendiri dengan matanya yang sudah penuh dengan air mata dan rasa sakit di dalam hatinya.


'Willa, aku mencintaimu sebanyak kau mencintai aku. Setiap bagian dalam diriku berteriak dengan keras bahwa aku mencintaimu. Kau mencintai aku karena kau berpikir bahwa aku adalah suamimu. Tapi aku mencintaimu karena dirimu sendiri dan sekarang setelah kau membuat aku tenggelam dalam cintamu, kau akan meninggalkan aku karena aku bukanlah pria yang seharusnya menerima semua perasaan ini darimu.


'Ini adalah hukuman bagi ku karena mengharapkan sesuatu yang memang bukan untukku sejak awal. Oh ya Tuhan, betapa sakitnya kehilangan belahan jiwa karena hal ini. Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan.'


'Apa yang dikatakan Willa kepadaku sangat menyakiti hatiku karena hal itu membuatku merasakan bahwa aku lah orang yang menyebabkan semua rasa sakit itu padanya. Karena jika aku tidak memainkan peran sebagai suaminya sejak awal, dia tidak akan bertahan dengan rasa sakit itu. Aku membuat semuanya menjadi lebih sulit untuk nya. Perasaan bersalah ini perlahan-lahan membunuhku.'


Sementara Steven terus berbicara pada dirinya sendiri, Willa mulai melangkah ke belakang saat dia terus menatap kearah mamanya dan juga Steven dengan tatapan marah dan kemudian dia berteriak dengan keras.


"Kalian berdua bohong padaku. Tidak.... semua itu tidak mungkin benar."

__ADS_1


Tapi Steven tidak memperhatikan Willa karena dia tengah sibuk dengan pikirannya sendiri dengan melihat ke arah bawah karena dia tidak punya keberanian untuk melihat kearah wajah Willa dan tengah bicara pada dirinya sendiri dengan matanya yang penuh dengan air mata.


Setelah itu, Willa mulai berlari menjauh dari mereka berdua dengan dirinya yang tampak menangis dengan keras.


Saat Willa mulai berlari menjauh dari mereka dengan menangis, tiba-tiba Steven mendengar sebuah suara dari mobil berkecepatan tinggi yang datang mendekat.


Steven langsung mengangkat kepalanya dengan cepat untuk menemukan dimana Willa tengah berlari dengan cepat. Dan kemudian, Willa tampak terlihat menyeberangi jalanan dimana ada sebuah mobil polisi tengah mengejar sebuah truk besar dan truk itu akan menabrak Willa.


Steven berteriak dengan sangat keras kemudian dia berlari mendekati ke arah Willa.


"Willa.... awas ada truk."


Saat Willa mendengar suara Steven, dia mengusap air matanya dan mengalihkan pandangannya ke samping untuk melihat truk yang dikatakan oleh Steven. Kemudian truk itu langsung menghantam nya dengan sangat keras.


Truk itu membuat tubuh Willa berguling karena dia ditabrak dengan begitu keras dan membuatnya terpental menjauh ke sisi jalanan.


Steven berteriak dengan sangat keras.


"Tidak...."


Air mata Steven mulai jatuh di pipinya dengan tanpa sadar dan dia terus berlari kearah Willa.


Di sisi lain mama Willa juga berlari dengan cepat ke arah putri Willa dan mendekat pada putri Willa dan menutup matanya dengan kedua tangannya dengan tujuan untuk tidak membiarkan putri kecil Willa itu melihat pemandangan yang menyeramkan itu.


Steven dengan cepat terduduk di trotoar dengan lutut yang menyentuh trotoar dan mengangkat tubuh Willa ke dalam pelukannya yang membuat tubuhnya sendiri ikut berlumuran darah.


Kemudian Steven menggenggam tangan Willa dan mencium telapak tangan Willa dengan lembut dan melihat ke arah mata Willa dengan air mata yang mengenang di matanya.


"Tidak.... tidak.... tidak..."


Willa mengusap air mata Steven dan tersenyum kepadanya dan berkata kepada Steven.

__ADS_1


"Ini adalah takdir kita. Kita tidak bisa menghentikan dunia untuk terus berputar. Dunia ini seperti sebuah roda yang terus mengejar kita dan tidak akan pernah berhenti. Dan ngomong-ngomong kematian ku akan menjadi hal terbaik untuk kita berdua. Kau sudah punya kehidupan barumu. Jika aku tetap berada disisi mu, aku akan mengganggu kebahagiaan mu dan bagiku aku akan hidup seperti mayat hidup tanpa kau ada di sisiku."


Bersambung......


__ADS_2