Cinta Membuat Aku Gila

Cinta Membuat Aku Gila
45. Malam Pengantin


__ADS_3

Setengah jam kemudian....


Di pesta pernikahan....


Steven berkata kepada Papanya...


"Papa, aku begitu kelelahan karena menggendong Willa sepanjang waktu. Aku sudah tidak bisa menggendong Willa lebih lama lagi, jadi aku rasa kami harus pulang ke rumah..."


Tuan Adam tiba-tiba tersenyum dan berkata kepada Steven, "lihat ke arah belakang mu. Kau akan menemukan kursi roda milik Willa. Kau bisa menaruh Willa diatasnya daripada harus menggendong nya. Aku membawa itu khusus untukmu karena aku tahu bahwa kau akan beralasan untuk pergi dengan cepat pulang ke rumahmu."


Setelah itu Tuan Adam mulai berjalan menjauh dari Steven saat dia tersenyum dan kembali berkata, "aku tidak akan pernah membiarkanmu curang untuk bisa menang dalam kompetisi ini. Ini masalah harkat dan martabat, putra ku sayang."


Kemudian Steven menatap kearah Papanya dengan mata yang penuh tatapan kemarahan dan berkata, "dasar pria tua bangka."


Tapi Tuan Adam terus berjalan menjauh dari Steven dan tertawa dengan keras.


Kemudian Willa bertanya kepada Steven dengan wajah yang penuh tanda tanya.


"Kompetisi seperti apa yang kau dan Papamu bicarakan?"


Lidah Steven terasa kelu, "aaaa.... Mmmmmm...." Steven lantas mengalihkan pembicaraan dan berkata kepada Willa, "oh ya Tuhan, lengan ku sudah mati rasa dan aku akan menurunkan mu sekarang."


Dengan cepat Steven lalu menurunkan Willa dan menaruh nya di atas kursi roda dan dia kembali berkata, "biarkan aku menaruh mu di atas kursi roda lebih dulu."


Willa berkata kepada Steven dengan tersenyum, "apakah semua pembicaraan itu begitu buruk sehingga membuat mu langsung mengganti topik pembicaraan kita."


Tiba-tiba Steven berteriak dan berjalan mendekat kearah James dan Lucy yang tengah duduk berdampingan dengan tangan yang saling berpegangan.


"James, aku mau bicara denganmu tentang suatu hal yang penting." Ucap Steven.


Kemudian Willa tersenyum dan berkata kepada Steven, "tidak ada jalan untuk kabur, cepat atau lambat aku akan mengetahui hal itu."


Setengah jam kemudian...


Steven dan Willa duduk berdampingan dengan menggenggam tangan penuh cinta, tersenyum dan saling mengobrol. Kemudian Steven berkata kepada Willa.


"Willa, bisakah kau berpura-pura sakit?"


Willa tampak terkejut dan menatap kearah Steven dengan tajam dan dia bertanya kepada Steven, "untuk apa aku melakukan hal itu?"


Steven memegang tangan Willa dan menaruh tangan Willa di dadanya dan berkata kepada Willa, "rasakan detak jantungku ini. Jantung ini berdetak begitu cepat dan detakan ini berkata kepadamu, 'kasihanilah pria malang ini. Dia tidak bisa lagi menahan dirinya untuk jauh dari dirimu. Pria malang ini benar-benar ingin berdua bersama denganmu.' Tolong Willa, bantu aku untuk bisa meninggalkan pesta pernikahan ini secepatnya. Aku tidak mau apapun lagi kecuali dirimu dan aku sudah tidak bisa menahan diriku untuk hal itu."


Willa menggigit bibirnya dengan malu dan melihat ke arah mata Steven dan berkata kepada Steven, "tidak bisakah kau menunggu sampai kita memotong kue pernikahan kita?"


Lalu Steven berkata kepada Willa dengan menatap mata Willa penuh hasrat.


"Tolong Willa, kumohon. Aku akan membelikan mu kue pernikahan terbaik nanti, tapi bantu aku untuk melakukan hal itu. Aku benar-benar menginginkan dirimu."


Tanpa kata Willa memegang kepalanya dan memainkan akting dengan memperlihatkan wajahnya yang tampak pusing dan mulai berkata dengan suara yang sedikit keras agar semua orang mendengarkan dirinya.


"Steven, tolong bawa aku pulang. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba aku merasa pusing."


Semua orang yang ada di situ tampak terkejut dan langsung mendekat ke arah Willa.


"Ada apa Willa?" Tanya Bu Agatha, Mama Willa.


"Ada apa dengan Mama? Apa Mama baik-baik saja?" Tanya Diana, putri Willa.


"Bagaimana perasaanmu?" Ucap James dan Lucy.


"Putriku, apakah kau mau kami mengirim mu ke rumah sakit?" Ucap Bu Anisa, Mama Steven.


"Ini semua karena dirimu. Kau yang memaksa untuk menikah dengannya dengan kondisinya yang seperti ini." Ucap Tuan Adam tampak kesal.


"Iya benar." Ucap semua orang.


Kemudian Steven menatap ke arah mata Willa seolah dia berkata kepada Willa, 'Willa, tolong bantu aku.'

__ADS_1


Willa kemudian berkata kepada mereka dengan dirinya yang tampak pusing seraya memegang kepalanya, menunduk sedikit dan kembali memainkan peran seolah tengah begitu pusing.


"Ini bukanlah kesalahannya. Akulah orang yang benar-benar ingin menikah dengannya. Hari berlalu bagiku seolah sudah bertahun-tahun. Dan aku sudah tidak bisa untuk menunggu sampai aku bisa sembuh." Ucap Willa.


Semua orang lalu berkata, "wah jika seperti itu, biarkan dia membawamu pulang ke rumah sekarang juga."


Kemudian Willa berkata kepada mereka semua dengan kondisinya yang masih tampak pusing.


"Iya, biarkan dia membawa aku pulang. Aku butuh minum obat dan perlu istirahat sebentar."


Secara tiba-tiba Steven tertawa begitu keras. Semua orang yang ada di sampingnya, mereka semua tampak begitu terkejut.


"Hai, dasar bodoh! Apa yang kau tertawa kan? Istrimu ini tengah sakit dan bukannya menjaga dia kau malah tertawa." Ucap Tuan Adam pada Steven dengan marah.


Dengan cepat Steven menggendong Willa dan mulai berjalan menjauh dari mereka dengan cepat seraya berkata,


"Jangan khawatir, aku akan memberikan treatment dan obat yang terbaik padanya. Aku yakinkan pada kalian semua, bahwa dia akan segera sembuh dan bisa berlari seperti seekor kuda."


Semua orang tampak terkejut setelah mendengar ucapan Steven.


"Treatment seperti apa yang tengah dia bicarakan?" Ucap Bu Anisa bingung.


Kemudian Papa Steven berkata dengan marah.


"Itu.... Dasar....!!! Aku tahu treatment seperti apa yang tengah dia bicarakan. Willa, kau adalah orang terakhir yang tidak aku harapkan untuk bisa melakukan hal itu." Kemudian Tuan Adam menghela nafas dalam. "Jadi kau bekerja sama dengan istrimu untuk berbuat curang? Curang lah sebanyak yang kau bisa dan lakukan apapun yang kau mau. Tapi akulah yang akan jadi pemenangnya dan aku akan mengalahkan mu putra ku." Lanjut Tuan Adam menyeringai.


 


10 menit kemudian....


Willa dan Steven, sudah tiba di villa milik Steven.


Dengan cepat Steven masuk ke dalam villa dan langsung membawa Willa masuk ke dalam kamarnya. Saat masuk ke dalam kamar, tampak tempat tidur mereka ditutupi dengan sprei berwarna putih dan di dekorasi dengan kelopak bunga mawar warna merah dengan bentuk hati di tengah-tengah nya.


Saat Willa melihat hal itu dia langsung menghela nafas dalam dan tersenyum.


"Selamat datang ke rumah kita pengantin ku. Akhirnya kita bisa berduaan. Ngomong-ngomong, apakah kau mau tahu tentang mimpi yang aku punya tentang dirimu? Sebelumnya aku sudah berjanji kepadamu bahwa aku akan memberitahukan mu tentang mimpi itu secara detail dimalam pernikahan kita. Dan aku akan memenuhi janjiku itu sekarang."


"Sebuah kesempatan datang dan semua fantasi dalam mimpiku itu akan menjadi kenyataan. Apa kau tahu apa yang membuat mimpi itu menjadi nyata? Percaya lah padaku, kau tidak akan menyesalinya. Aku meyakinkan dirimu bahwa kau akan menyukainya."


Willa langsung merona dan tersenyum malu dan kemudian berkata kepada Steven, "tidak terimakasih. Sekarang aku tahu mimpi seperti apa yang ingin kau bicarakan itu."


Tiba-tiba Steven bergegas menuju pintu kamar untuk mengunci pintu itu dan berkata kepada Willa, "mau kau setuju atau tidak, aku akan mengatakan kepadamu tentang setiap detail kecil dari dalam mimpiku itu. Bagaimanapun, aku akan membuatmu merasakan semuanya."


Setelah Steven mengunci pintu kamarnya, dia memegang jasnya dengan begitu bangga dan berjalan berbalik ke arah Willa dan melihat ke arah mata Willa dengan penuh hasrat dan berkata, "akhirnya serigala yang lapar ini akan mencabik kelinci kecil yang kakinya terluka ini."


Kemudian Willa menggigit bibirnya dan memiringkan kepalanya sedikit dan dia mencoba untuk duduk bersandar di atas tempat tidur dengan masih menggunakan gaun pernikahan nya dan tampak tersenyum malu.


Steven tampak mulai membuka jasnya seraya mendekat ke arah tempat tidur. Willa yang melihat hal itu, semakin menggigit bibirnya dan wajahnya mulai memerah.


Kemudian Steven tertawa dengan sangat keras dan berkata kepada Willa, "kau langsung memerah hanya karena aku membuka jas ku."


Dengan cepat Steven langsung duduk di samping Willa. Mendekat kearah telinga Willa dan dengan suara yang begitu romantis dia berbisik, di telinga Willa "aku berpikir, apa yang akan kau lakukan jika aku membuka semua pakaian ku dan naik di atas tubuhmu seperti yang aku lakukan di dalam mimpiku."


Setelah Willa mendengarkan bisikkan Steven yang lembut dengan nafasnya yang hangat yang berhembus di seluruh wajahnya, Willa merasa seolah kehilangan kesadaran nya untuk beberapa detik. Ia lantas menutup matanya dan mulai gemetar.


Seolah nafas Steven yang hangat memiliki kemampuan untuk menjelajah ke dalam jiwa Willa dan membuat Willa terdiam, hingga membuat Willa kehilangan kesadaran nya dengan sepenuhnya.


Kemudian Steven tersenyum dan berkata kepada Willa, "tubuh tidak pernah berbohong. Jadi kau memang bersedia untuk melakukannya."


Willa tampak begitu malu, dia kembali pada kesadaran nya dan langsung berkata, "siapa? Aku? Tidak... tidak... tidak... Kau salah paham akan diriku. Aku hanya masih merasa sakit dan aku mau istirahat sebentar. Itulah kenapa aku menutup mataku."


Secara tiba-tiba bibir Steven langsung menyentuh leher Willa. Mengusap leher Willa dengan begitu nakal dan dia kembali berkata kepada Willa.


"Maka biarkan aku menyembuhkan mu."


Steven terus mengusap leher Willa dengan mulutnya yang terbuka, lagi dan lagi memberikan nafasnya yang hangat pada leher Willa. Tiba-tiba jantung Willa berdegup dengan cepat dan suara nafasnya mulai terdengar memburu.

__ADS_1


Dengan cepat Steven langsung menarik tubuh Willa mendekat pada tubuhnya dan mulai mencium, menjilat dan menggigit leher Willa dengan lembut. Semua itu lantas mengirimkan hasrat yang begitu besar kepada Willa dan membuat setiap sudut dalam tubuh Willa ingin berteriak dengan keras.


"Aku tidak mau yang lainnya kecuali dirimu." Ucap Willa lirih.


Willa akhirnya benar-benar menyerah pada Steven. Saat Steven merasakan hal itu dia lalu mendorong Willa ke atas tempat tidur dan bibir mereka berdua pun bertemu dan mulai bersatu.


Mereka mulai berciuman dengan begitu menggila, dan Steven pun mulai membuka pakaian Willa satu persatu.


Saat Steven sudah berhasil membuka gaun pernikahan yang dikenakan Willa, Steven tampak begitu terkejut. Dia lantas berhenti mencium Willa dan terus menatap Willa dengan tajam.


"Darimana datangnya lingerie berwarna ungu ini?" Tanya Steven dengan wajah terkejut.


Kemudian Willa tertawa dengan keras.


"Aku meminta Mama untuk membantuku menggunakan ini didalam gaun pengantin ku, untuk membuat semuanya mudah untukmu. Karena aku tahu dengan sangat, bahwa kedua kakiku terluka dan aku tidak akan pernah bisa untuk mengganti pakaian ku sendiri. Jadi aku tidak mau membuatmu repot karena membantuku untuk mengganti pakaian ku, kapanpun kita pulang ke rumah."


Lalu sikap Steven berubah 180 derajat. Dia lalu berkata pada Willa.


"Kau bilang untuk membuat semuanya mudah bagiku. Tapi, kau malah membuat semua ini menjadi lebih sulit untukku." Ucap Steven dengan tatapan mata penuh hasrat.


Willa kemudian berkata dengan wajah yang tampak terkejut, "eh, apa maksud mu?"


Saat secara tiba-tiba Steven langsung naik ke atas tubuh Willa dan menekan dirinya sendiri dengan satu lengannya yang bertumpu diatas tempat tidur agar tidak langsung jatuh di atas tubuh Willa.


Steven lalu berkata kepada Willa, "kau bodoh! Siapa yang mengatakan kepadamu bahwa kau harus mengganti pakaian mu dulu. Kau tahu sayang, kita bahkan tidak perlu menggunakan apapun saat berdua."


Wajah Willa langsung memerah seperti tomat. Steven kemudian mulai membuka pakaian yang tersisa ditubuh Willa.


Setelah begitu lama saling bergumul, berciuman satu sama lain dengan penuh hasrat dan akhirnya mereka berdua pun mulai melakukan ritual malam pertama mereka.


Willa yang sudah begitu lama tidak pernah merasakan sentuhan lelaki setelah Dion, sang suami meninggal, membuatnya seperi singa betina yang kelaparan. Ia bahkan jauh lebih ganas dibandingkan Steven.


 


Beberapa saat kemudian, setelah mereka sudah selesai dengan aktivitas yang menguras banyak keringat, saat Steven masih berada di atas tubuh Willa, dia melihat ke arah mata Willa dengan penuh hasrat dan memegang pundak Willa dengan tangan kirinya dengan erat. Dan juga memegang rambut Willa dengan lembut menggunakan tangannya yang lain di saat yang bersamaan dan berkata kepada Willa.


"Willa, aku mencintaimu sejak pertama kali dimana mata kita bertemu. Tapi aku tidak menyadari hal itu kecuali sekarang."


Willa menatap mata Steven dengan penuh hasrat, dan dia lantas membalas ucapan Steven.


"Tapi aku mencintaimu bahkan jauh sebelum mata kita bertemu. Untuk pertama kalinya, aku merasa begitu bahagia. Kau tidak tahu berapa banyak waktu yang aku sesali setiap hari yang aku habiskan jauh dari dirimu."


Steven lalu berkata kepada Willa, "Willa, berjanjilah padaku bahwa kau tidak akan pernah meninggalkan aku sendirian dalam kehidupannya ini yang tidak berarti tanpa adanya dirimu."


"Steven, kita adalah satu jiwa yang hidup dalam dua tubuh. Jadi aku tidak akan pernah bisa hidup menjauh dari dirimu." Balas Willa.


Setelah Steven mendengarkan ucapan Willa, dia lalu mencium Willa dengan penuh hasrat dan berkata, "iya sayang, kau adalah jiwaku."


Willa membalas mencium Steven dengan penuh hasrat dan berkata, "iya, biarkan aku terus berada dalam pelukanmu. Sentuh aku setiap saat, sebanyak yang kau mau. Biarkan aku bernafas untuk hidup lagi dan lagi, cinta terakhirku."


Saat Steven hendak mendekatkan bibirnya kepada Willa, Willa kembali berkata kepada Steven.


"Tapi tidak ada yang bisa mengubah fakta, bahwa kau kalah dalam ronde ini."


Steven tampak merona melihat ke bawah dan berkata kepada Willa.


"Aku belum siap, dan ini memang yang pertama kalinya bagiku. Jadi aku tidak bisa menahan diriku cukup lama. Aku juga tidak pernah membayangkan bahwa kau akan begitu hebat di atas tempat tidur. Bagaimana dengan ronde kedua, sebagai kompensasi atas kekalahan ku?"


Willa tersenyum, lalu kemudian Steven membalas senyuman Willa dan dia kembali berkata kepada Willa, "jadi, itulah hal yang kau inginkan juga."


Jawaban Willa tertahan di bibirnya karena Steven langsung menciumnya dengan penuh hasrat. Willa pun membalas ciuman Steven dengan tak kalah semangat.


"Jadi, kau juga masih menginginkan hal ini? Kenapa tidak? Sayang, biarkan aku memberikanmu beberapa ronde lagi."


Setelah itu, Steven mulai menyentuh bibir Willa dengan begitu kasar. Willa langsung membalas dengan mencium Steven dengan penuh hasrat dan berteriak dengan penuh hasrat, " iya sayang, berikan aku lagi dan lagi. Sampai aku merasa kelelahan bersamamu."


Kemudian pertarungan cinta itu dimulai di atas tempat tidur. Di mana mereka berdua melakukan yang terbaik untuk mendapatkan yang lebih lagi dari salah satunya untuk memenangkan pertarungan cinta itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2