
Waktu berjalan begitu cepat, cinta Steven dan Willa semakin membesar. Beberapa bulan kemudian Willa pun hamil dan saat mereka mengetahui bahwa Willa tengah hamil bayi kembar, kebahagiaan mereka pun semakin bertambah besar.
Hingga 9 tahun kemudian.....
Di dalam ruang rawat inap sebuah rumah sakit...
"Bisakah kau tenang, tarik napas dan keluarkan dengan perlahan." Ucap Willa kepada Steven.
Sejak awal saat Willa sudah memberikan tanda bahwa ia akan segera melahirkan, orang yang paling panik bukanlah dirinya, melainkan suaminya, Steven.
"Jika aku adalah dirimu, aku akan berteriak dengan keras dengan seluruh tenaga yang aku punya. Itu akan membuatku merasa lebih baik." Ucap Steven dengan wajah yang tampak gugup.
"Aku berharap jika aku bisa melakukan hal itu. Tapi aku tidak mau berteriak, sementara ada bagian dari dirimu yang akan keluar dari dalam diriku ke dunia ini." Balas Willa. "Aku sangat mau suara pertama yang didengar oleh anak kita dalam hidup ini adalah suara tawaku bukan suara tangis ku."
Ucapan Willa sangat menyentuh hati Steven dan membuat Steven semakin mencintai dirinya. Tapi Steven tampak kasihan kepada Willa. Jadi dia berkata kepada Willa untuk mengalihkan perhatiannya dari rasa sakit dengan membuat Willa tertawa.
"Maka aku akan mengabulkan permintaan mu dengan berteriak padamu."
Willa pun tertawa dan menarik kepala Steven mendekat kearahnya mencium kening Steven dan berkata, "aku mau anak kita mendengar suara tawamu juga. Jadi tetaplah tersenyum, aku sangat membutuhkan untuk melihat tawamu. Itulah hal yang akan membantuku agar memiliki tenaga untuk melahirkan anak ini."
Tanpa ragu Steven langsung tersenyum.
Di dalam ruangan itu ada orang tua Willa, orang tua Steven, dan juga putri Willa, Diana yang tampak khawatir pada keadaan mamanya. Steven lalu mendekat kearah Diana dan berkata kepadanya.
"Tidak apa-apa, aku tahu bahwa kau khawatir dengan kondisi mamamu. Aku juga khawatir padanya. Bagaimana jika dia tidak..."
Tiba-tiba Willa berteriak dengan keras...
"Aaaahhhh...."
Kemudian Steven melihat kearah Willa dan mendapati bahwa tempat tidur Willa sudah dipenuhi dengan darah yang keluar dari jalan lahirnya.
Steven begitu terkejut dan langsung berteriak dengan keras.
"Perawat cepat kemari, cepatlah!" Teriak Steven.
Perawat langsung masuk ke dalam ruangan dan berkata, "Maaf Tuan, kami mendapat banyak kelahiran hari ini. Aku baru saja melihat wanita lain di samping ruangan anda, dia juga hendak melahirkan bayinya."
Saat perawat itu melihat kearah kondisi Willa dia langsung berteriak dengan keras.
"Dokter Hana, cepat datang kemari."
"Apa yang terjadi?" Tanya Steven dengan terkejut.
"Kepala bayi sudah muncul, Nyonya Willa akan melahirkan bayinya sekarang juga. Kita tidak punya waktu yang cukup untuk membawa Nyonya Willa kedalam ruangan persalinan. Kita akan melahirkan bayinya disini." Balas perawat itu.
__ADS_1
"Apa?" Ucap Steven yang tampak begitu terkejut.
Dokter langsung masuk ke dalam ruangan Willa dan saat dia melihat kondisi Willa dia berkata dengan wajah yang begitu terkejut.
"Oh ya Tuhan...."
Setelah mendengarkan ucapan perawat itu, orang tua Willa dan Steven, lantas mengajak Diana, putri Willa untuk keluar dari dalam ruangan itu. Diana tampak menangis karena mengkhawatirkan kondisi Mamanya.
Setelah itu, dokter langsung membantu Willa untuk melahirkan bayinya.
Willa lalu memegang tangan Steven dan meremas nya dengan sangat keras. Di sisi lain Steven menatap istrinya yang tengah berjuang dan menggigit jemarinya dengan sangat keras karena rasa yang begitu gugup.
"Willa, kepala bayi mu sudah terlihat. Dia mencoba dengan sangat keras untuk keluar. Dia membutuhkanmu, jadi aku membutuhkan bantuan mu untuk membantu bayi mu dengan memberikan dia satu dorongan yang kuat." Ucap dokter.
Willa semakin meremas tangan Steven dengan sangat keras. Dia mulai mendorong bayinya agar bisa keluar dengan mata yang berair karena kesakitan.
Steven ikut merasakan sakit yang dirasakan istrinya karena melihat istrinya kesakitan. Disaat yang bersamaan dia tidak tahu harus melakukan apa agar membuat istrinya itu keluar dari rasa sakitnya. Kemudian mata Steven tampak berair karena dia tidak bisa melakukan apapun.
Willa kembali berteriak dan disaat yang bersamaan Steven mendengar suara tangisan bayi. Steven pun tersenyum dengan matanya yang tampak berair.
Saat itu senyuman muncul di wajah Steven karena dia merasa begitu bahagia karena bayi pertama sudah terlahir di dunia. Tapi air mata yang ada di matanya itu tetap untuk istrinya yang tengah berjuang penuh kesakitan yang membuat hatinya menjadi begitu terluka.
Setelah beberapa saat, bayi kedua sudah hendak keluar. Saat itu Willa hampir kehilangan kesadaran nya karena merasakan sakit. Dokter yang menyadari hal itu lantas berteriak kepada Willa.
"Willa tetaplah bersamaku."
Melihat air mata istrinya, Steven merasa tidak berguna karena tidak bisa membantu istrinya. Air matanya pun jatuh ke pipinya.
Dokter lantas berteriak dengan wajah yang begitu terkejut.
"Ya Tuhan, dia akan kehilangan kesadaran nya. Willa tolong, tetaplah bersamaku untuk bayi mu. Jika kau kehilangan kesadaran mu, bayimu tidak akan bisa lahir dan itu bahaya baginya."
Tiba-tiba Steven langsung berbaring di samping Willa dan membuat Willa dalam pelukannya.
Steven melihat ke arah mata Willa, tersenyum dan berkata, "kau pembohong. Kau bilang kepadaku bahwa dengan mendengar suara detak jantungku, bisa membuatmu tetap hidup. Sekarang kau bisa mendengarkan detak jantungku, maka buktikan apa yang kau katakan kepadaku sebelumnya, setidaknya dengan tetap sadar."
Willa mulai melakukan yang terbaik untuk membuat matanya terbuka kemudian dokter tersenyum dan berkata, "ya Tuhan, itu bisa berhasil."
Setelah itu, dokter kembali berkata, "ayolah Willa, kau bisa melakukannya. Aku hanya membutuhkan satu dorongan besar, tolong lakukan itu untuk bayimu."
Kemudian Willa mulai mencoba yang terbaik untuk mendorong bayinya keluar dengan keningnya yang berkeringat dan dia bernapas begitu berat dengan matanya yang berair. Tapi dia tidak bisa melakukannya. Steven pun dapat merasakan hal itu, kemudian secara tiba-tiba Steven tertawa.
Semua orang yang ada di dalam ruangan itu pun tampak terkejut.
Kemudian Steven berkata kepada Willa dengan melihat ke arah mata Willa dengan nakal.
__ADS_1
"Jadi kau kucing nakal, di waktu yang seperti ini kau malah kehabisan tenaga. Bagaimana kalau kau mencoba lagi, aku akan memberikanmu ciuman sebagai imbalan atas kau yang memberikan sebuah dorongan besar. Aku tidak akan pernah melepaskan ciuman dari bibirmu sampai kau dapat mengeluarkan bayi itu."
Dokter pun berkata, "jangan lakukan hal seperti itu. Atau dia akan memotong bibirmu dengan giginya tanpa sadar karena merasakan hal yang begitu sakit."
Steven langsung tertawa, "dia tidak akan melakukannya. Dia mencintai aku dan sangat begitu menggilai aku, bahkan tanpa sadar dia tidak akan pernah menyakiti aku. Dan aku sangat yakin akan hal itu."
Tiba-tiba Steven langsung mencium bibir Willa dengan penuh hasrat. Tapi Willa tidak bisa merespon ciuman Steven.
Steven semakin mencium bibir Willa, tapi Willa tetap tidak merespon hal itu. Kemudian Steven mulai menjilat bibir Willa dengan penuh hasrat tapi Willa juga belum merespon hal itu.
Saat Steven mulai menjelajahi dalam mulut Willa, Willa pun akhirnya mulai merespon dan mulai membalas ciuman Steven. Semakin Steven mencium Willa, semakin Willa mendorong bayinya keluar. Itu bertahan beberapa detik.
Tiba-tiba mereka berdua mendengar suara tangisan bayi. Kemudian mereka berdua melepaskan bibir mereka secara perlahan dan melihat ke arah mata satu sama lain dan tersenyum.
Kemudian Steven berkata, "kau kucing nakal, di situasi yang seperti ini kau tetap bisa melakukan hal nakal seperti ini."
Willa tersenyum malu dan berkata, "aku tidak bisa menahan nya. Kau tahu bahwa aku tidak akan pernah bisa merasa cukup atas dirimu."
Para dokter dan perawat yang ada di dalam ruangan itu bertepuk tangan dengan sangat keras dan mereka pun tertawa.
Kemudian Steven dan Willa tampak merona. Steven lantas berkata kepada Willa, "ngomong-ngomong aku sudah mencium mu di depan banyak orang untuk yang pertama kalinya."
Willa berkata dengan malu, "aku tidak bermaksud untuk melanggar tradisi ku, ini adalah kesalahanmu. Kaulah orang yang mengambil kesempatan dari kelemahan ku dan membuat aku melakukan hal itu tanpa sadar."
"Sekarang kau menyalahkan aku. Apapun yang kau katakan, hal itu tidak akan mengubah fakta bahwa aku sudah melakukannya." Balas Steven.
Willa hanya bisa tersenyum malu.
15 menit kemudian...
Bayi Willa sudah dibersihkan dan perawat membawa keduanya kepada Steven dan Willa. Willa lantas menggendong salah satu bayinya dan Steven menggendong yang satunya, kemudian Willa tersenyum begitu juga dengan Steven.
Willa bertanya pada Steven, "apakah kau bahagia?"
"Tentu saja, aku sangat bahagia." Ucap Steven.
"Apa nama yang akan kau berikan kepada mereka berdua?" Tanya Willa.
"Kau saja yang berikan nama yang kau suka." Balas Steven.
"Aku akan menyukai apapun yang kau suka. Jadi tolong berikan nama apapun yang kau mau, hal itu akan membuatku bahagia." Ucap Willa.
Setelah itu, semua anggota keluarga mereka berdua masuk. Semua orang tampak bahagia, Diana yang melihat adik bayinya yang kembar dan ternyata berjenis kelamin laki-laki dan perempuan itu lantas berkata...
"Namanya William dan Stefani."
__ADS_1
Semua orang pun menyetujui nama itu.
'Terima kasih Tuhan, atas kebahagiaan ini.' ucap Willa dalam hati.