Cinta Membuat Aku Gila

Cinta Membuat Aku Gila
41. Mimpi Indah


__ADS_3

"Apakah kau sudah kehilangan akal mu? Kedua kakimu patah, kau setidaknya butuh waktu berbulan-bulan untuk bisa sembuh." Ucap Mama Willa, Agatha yang berkata kepada Willa dengan sangat marah.


"Katakan kepadaku apa yang lebih penting hingga kau akan pergi kembali ke kota kita menggunakan kursi roda." Lanjut Mama Willa lagi.


Tiba-tiba Steven menatap kearah Mama Willa menunjuk ke arah Mama Willa untuk memberikan izinnya kepada Willa untuk pergi ke kota x.


Kemudian sikap Mama Willa berubah 180 derajat. Jadi dia berkata kepada Willa.


"Baiklah Willa, lakukan apapun yang ingin kau lakukan. Kau adalah wanita dewasa dan kau tahu dengan baik, apa yang benar dan apa yang salah untuk dilakukan."


Kemudian Willa berkata kepada Mamanya, "terima kasih banyak Mama."


Seorang perawat tiba-tiba masuk ke dalam ruangan khusus di mana Willa dirawat itu dan perawat itu mulai berkata kepada semua orang.


"Dia harus istirahat. Jadi bisakah kalian semua keluar dari ruangan ini dan biarkan dia istirahat beberapa saat?"


Tanpa banyak bicara, mereka semua mulai keluar dari dalam ruangan itu dan saat Steven hendak keluar dari dalam ruangan, dia berbalik dan tersenyum kepada Willa dan berkata, "selamat tinggal istriku. Aku akan sangat merindukanmu."


Willa tampak merona dan dia berkata kepada Steven dengan wajah yang tampak malu, "selamat tinggal Steven."


Steven tampak sedih dan berkata kepada Willa, "apakah itu saja yang bisa kau katakan kepadaku?"


Kemudian Willa berkata kepada Steven dengan tersenyum, "setelah 11 hari aku akan mengatakan kepadamu apa yang akan aku katakan. Tapi untuk sekarang hanya itu saja yang bisa ku katakan."


Wajah Steven tampak cerah dan dia kembali berkata kepada Willa.


"Baiklah, kalau begitu Willa sampai bertemu nanti."


Di luar ruangan Willa....


"Biarkan aku mengantar Mamamu pulang ke rumahku." Ucap Tuan Adam kepada Steven.


Steven lalu berkata kepada Tuan Adam.


"Tidak Papa, aku tidak bercanda. Mama akan tinggal bersamaku di villa ku sampai kalian menikah."


"Janganlah bersikap jahat seperti itu, aku sangat merindukan Mama mu. Biarkan aku menghabiskan waktu beberapa saat dengan Mama mu. Seperti yang aku katakan kepadamu, aku tidak pernah menceraikan dia. Semua itu hanya di atas kertas saja. Dia adalah istriku." Ucap Tuan Adam.


"Papa, aku serius. Papa tidak akan bisa menyentuh Mama lagi dengan begitu mudah. Mama membutuhkan waktu untuk menerima dan menyembuhkan luka atas apa yang Papa lakukan kepada Mama. Jadi jangan memberikan tekanan pada Mama. Biarkan Mama mendapatkan waktunya sendiri." Balas Steven.


Kemudian Tuan Adam kembali berkata kepada Steven.

__ADS_1


"Lalu tanyakan kepadanya. Apakah dia mau pulang bersamaku atau denganmu? Aku tahu dengan baik, bahwa dia juga merindukan aku seperti aku merindukan dirinya dan dia pasti akan memilih untuk pergi bersamaku ke rumahku."


Steven lalu menatap Mamanya yang ada dalam pelukannya, melihat ke arah mata Mamanya dan berkata, "Ratu ku tersayang, apakah Mama mau pergi bersama Papa ke rumahnya atau bersamaku ke rumahku? Mama boleh memilih apapun yang Mama inginkan dan aku meyakinkan Mama bahwa Mama akan mendapatkan apapun yang Mama mau."


Bu Anisa lalu membalas pelukan Steven.


"Tentu saja...."


Tuan Adam tampak sumringah karena dia sangat yakin bahwa Bu Anisa akan memilih untuk pergi bersamanya. Tapi sayangnya Bu Anisa berkata, "aku mau pergi dan menghabiskan waktu bersama putraku yang selama 24 tahun, aku sudah terpisah dengannya."


Tuan Adam menjadi marah dan berkata kepada Bu Anisa dengan marah.


"Baiklah habiskan saja waktumu bersama putra mu selama yang kau mau, aku pergi."


Setelah itu Tuan Adam berbalik dan mulai berjalan menjauh dari mereka berdua.


Steven dan Mamanya tersenyum melihat tingkah Papanya, kemudian Mama Willa yang ada disana bertanya kepada Steven dengan terkejut.


"Oh iya, tadi kenapa kau menunjuk kepada aku untuk memberikan izin kepada Willa untuk pergi ke kota x bersama putrinya?"


"Aku tahu dengan benar kemana dia akan pergi. Jadi jangan khawatir, aku akan mengikutinya secara diam-diam dan terus mengawasi nya dan juga putrinya sampai dia kembali lagi kemari dengan aman."


 


Willa sudah keluar dari ruangan khusus dimana sebelumnya dia dirawat dan masuk ke ruangan rawat inap yang biasa.


Di sore hari di dalam ruangan Willa yang baru di rumah sakit.


Willa tengah tertidur, dia berbicara saat tidur dan bermimpi sebuah mimpi indah tentang dirinya dan Steven. Dia bermimpi bahwa dia berada dalam pelukan Steven di atas tempat tidur.


"Betapa hangatnya pelukanmu ini Steven. Aku sangat merindukanmu lebih dari yang kau pikirkan." Ucap Willa. "Tiga hari berlalu seperti tiga abad bagiku. Aku tidak bisa menahan diriku lagi untuk bisa bersamamu. Karena aku takut akan Tuhan, jadi aku harap kau bisa membuat pernikahan kita secepatnya."


"Aku juga.... Bagaimanapun, aku selalu mengunjungi mu setiap hari. Tapi aku selalu menahan diriku untuk menyentuh mu dan semua itu terasa membunuhku secara perlahan. Jadi maafkan aku bila aku sudah mencapai batas kesabaran ku dan tidak bisa lagi menahan diriku lebih lama." Balas Steven.


"Kenapa kau harus menahan dirimu untuk menyentuh ku?" Ucap Willa kepada Steven dengan terkejut. "Ini hanya sebuah mimpi. Jadi kita bisa melakukan apapun yang kita inginkan."


Steven tampak menghela napas dan berkata kepada Willa, "kau benar. Ini adalah salah satu mimpi yang paling indah yang pernah aku dapatkan. Akhirnya aku akan menyentuh mu tanpa rasa khawatir karena akhirnya kau bisa menjadi milikku.


"Aku selalu menjadi milikmu dan akan selalu seperti itu." Balas Willa.


Steven lalu memeluk Willa dengan sangat erat, hingga membuat tulang Willa terasa patah, menciu Willa dengan penuh hasrat dan tanpa sadar dia menggigit bibir Willa.

__ADS_1


Willa berteriak kesakitan.


"Ah, semua ini terasa begitu nyata. Tapi jika ini hanya mimpi, lalu kenapa aku bisa merasakan sakit?"


Willa lalu membuka matanya, tapi dia tidak bisa melihat apapun dihadapannya karena obat pereda rasasakit yang diminum sebelum dia tidur yang membuatnya begitu mengantuk dan juga pusing.


Willa lalu berteriak dengan keras.


"Kenapa sangat gelap di sini? Kenapa mataku terbuka, tapi aku tidak bisa melihat apapun?"


Willa lalu mendengar suara Steven yang berkata kepadanya, "jangan khawatir, semua itu karena obat pereda sakit yang kau minum sebelumnya. Itulah kenapa kau seharusnya tidak bangun, kau seharusnya tetap tidur dan biarkan kita melanjutkan mimpi indah kita tadi."


"Iya, kita seharusnya melanjutkan nya. Berapa banyaknya tahun yang berlalu bagiku tanpa bersama denganmu di atas tempat tidur. Aku sangat ingin bersamamu." Balas Willa.


Setelah Steven mendengarkan ucapan Willa, Steven menjadi begitu ganas. Jadi dia naik keatas tempat tidur dan berkata kepada Willa.


"Tidak sebanyak diriku, aku benar-benar menginginkan dirimu."


Willa tiba-tiba mulai bisa melihat sekelilingnya dan melihat Steven berada di atas tubuhnya. Willa tampak terkejut menatap Steven dengan marah dan berkata...


"Oh ya Tuhan.... Steven, kenapa kau bisa berada diatas ku, dan kenapa kau menggunakan pakaian dokter? Steven, ini bukan mimpi bukan?"


Steven tampak malu, jadi dia tidak tahu harus mengatakan apa. Dia benar-benar menginginkan Willa sama halnya dengan Willa sendiri.


Bagaimanapun, Willa benar-benar menginginkan Steven. Tapi dia tidak bisa melakukannya karena sesuai dengan apa yang diyakini dan tradisinya yang takut akan Tuhan. Jadi dia tidak mau melakukannya, tapi disisi lain, dia juga tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.


Kemudian Willa berkata kepada Steven.


"Steven, Tuhan tahu bagaimana inginnya aku bersamamu. Tapi aku tidak mau memulai hubungan kita dengan cara yang salah. Kau begitu murni dan pria pemalu yang selalu melakukan hal apapun dengan cara yang benar dan pria itulah yang membuat aku jatuh cinta padanya. Steven, berapapun perasaanmu pada ku, akan selalu ada aturan yang harus kita hormati dan ikuti. Tidak peduli bagaimana keyakinan tradisi, adat atau ketakutan kepada Tuhan, apakah kau tahu itu kenapa?"


"Tidak." Balas Steven dengan malu.


"Karena aturan itulah yang membuat kita menjadi orang yang seperti hari ini." Balas Willa.


Mata Steven tampak berair dan dia lalu mencium kening Willa dengan lembut.


"Willa, dengan apa yang kau katakan ini, membuat cintaku semakin membesar dalam hatiku dan menghormati dirimu. Tidak mudah bagi seorang wanita yang mencintai seorang pria dengan begitu menggila, bisa mengontrol perasaannya sendiri. Hal itu juga yang semakin membuatku bahagia dan membuat ku tahu bagaimana setianya dirimu jika menjadi istriku di masa depan. Eow hanya wow saja. Satu satunya pria dalam seumur hidupmu... Wah, Willa kau membuat cintaku padamu semakin membesar sampai aku semakin mencintaimu. Karena sejujurnya, kesempurnaan dirimu membuatku merasa tenggelam didalamnya, istriku."


Steven lalu berdiri di samping Willa dan tersenyum pada Willa dengan matanya yang berair.


"Aku akan dengan sabar menunggu sampai hari pernikahan kita tiba. Tapi kemudian aku akan mengeluarkan semua perasaan yang aku tahan selama ini didalam diriku dan kemudian Tuhan pun tidak bisa membantumu karena sejujurnya aku tidak tahu apa yang akan bisa aku lakukan kepadamu."

__ADS_1


Kemudian Willa tersenyum kepada Steven dan berkata kepadanya, "aku akan menunggu sampai hari itu tiba sayang."


Bersambung.......


__ADS_2