
Steven akhirnya menyelesaikan pekerjaannya dan pergi ke perusahaannya untuk menyelesaikan beberapa hal penting seperti yang dia katakan kepada Willa sebelumnya.
Di sisi lain, Willa tengah berdiri di depan perusahaan Steven disamping mobil menunggu kedatangan Steven sampai dia selesai dengan pekerjaannya. Kemudian Steven akan kembali padanya dengan secepatnya.
Saat Willa menunggu Steven, seorang wanita yang bertanggung jawab atas ruangan ganti mendekat kearah Willa dan berkata,
"Nona, kau harus mengembalikan gaun yang kau pakai ini secepatnya. Semua orang yang bekerja disini hanya boleh meminjam pakaian dari ruangan ganti, tapi mereka harus mengembalikan pakaiannya ke dalam ruangan ganti pada akhir jam kerja."
Wila berkata kepada wanita itu, "aku benar-benar minta maaf. Aku tidak tahu itu adalah peraturannya. Jadi maafkan aku, sekarang juga aku akan pergi ke ruangan ganti dan mengembalikan nya dengan segera."
Willa lantas dengan cepat pergi ke ruangan ganti untuk mengembalikan gaun itu dan menggunakan seragam sopirnya lagi. Kemudian dia kembali ke mobil dan kembali menunggu Steven di samping mobil itu.
10 menit kemudian.....
Steven tampak keluar dari dalam perusahaan dengan sangat cepat. Dia lalu berlari kearah mobil seraya berkata kepada Willa.
"Aku akan ketinggalan penerbangan ku. Ini sudah jam 08.45 malam. Hanya tersisa waktu 45 menit sampai jadwal penerbangan ku tiba."
Saat Steven masuk ke dalam mobil, dia kembali berkata kepada Willa.
"Cepatlah Willa! Aku mohon, aku harus pergi ke villa lebih dulu untuk mengganti pakaian ku dengan cepat, sebelum aku pergi ke bandara."
Saat Steven duduk di kursi belakang mobil dan menutup pintu, Willa langsung mengendarai mobil itu menuju villa dengan sangat cepat.
Saat mereka dalam perjalanan menuju villa, Steven melihat kearah pakaian yang dikenakan Willa.
Kemudian dia berkata dengan wajah yang terkejut kepada Willa, "Willa, kenapa kau menggunakan seragam sopir lagi? Di mana gaun berwarna biru yang kau kenakan tadi?"
Willa berkata kepada Steven, "seorang wanita yang bertanggung jawab dengan ruangan ganti meminta aku untuk melakukannya. Dia berkata bahwa semua pekerja harus mengembalikan pakaian yang mereka pinjam saat jam kerja berakhir. Aku tidak punya pakaian apapun untuk di gunakan kecuali seragam ini. Jadi aku harus menggunakannya lagi."
"Wanita bodoh itu! Siapa yang memintanya melakukan hal itu? Bagaimana dia bisa memperlakukan mu sama dengan pekerja lainnya? Kenapa kau tidak mengatakan kepadaku hal itu, saat dia memintamu untuk melakukannya? Bukankah aku sudah memberikan ponsel ku kepadamu, agar kau bisa menelpon aku saat kau membutuhkan sesuatu." Ucap Steven dengan wajah yang tampak begitu marah.
Willa tersenyum dan berkata kepada Steven, "sudahlah Steven, tidak apa-apa. Semua itu bahkan tidak mengganggu aku sama sekali."
Steven menghela napas dengan dalam dan berkata, "saat aku kembali nanti, aku akan memperbaiki semuanya untukmu Willa."
Willa hendak mengatakan sesuatu kepada Steven saat tiba-tiba dia melihat sosok mama dan putrinya berdiri di depan villa milik Steven. Saat itu kesedihan muncul dari wajah Willa dan dan lidahnya tiba-tiba terasa kelu.
Di sisi lain, Steven bicara dengan sedih pada dirinya sendiri saat dia duduk di kursi belakang dan melihat dari jendela pada wajah mama Willa.
__ADS_1
'Masalah datang. Tatapan yang aku lihat sekarang dari wajah mamanya membuatku seratus persen yakin, bahwa semuanya tidak akan berakhir dengan baik. Tuhan tolong aku.' ucap Steven dalam hati.
Saat Willa menghentikan mobilnya, mama Willa dengan cepat mendekat kearah Willa dan berkata dengan marah.
"Ada apa ini Willa? Apakah kau bekerja sebagai sopir untuknya? Apakah kau sudah kehilangan akal mu? Seorang wanita seperti dirimu yang merupakan wanita paling kaya di kota kita bekerja sebagai seorang sopir?"
Kemudian mama Willa berteriak dengan keras, "kenapa? Katakan kepadaku kenapa? Kau tidak membutuhkan uangnya, kau bahkan tidak memerlukan apapun sebenarnya."
Mama Willa menggigit bibirnya dengan penuh kemarahan dan terdiam untuk beberapa saat.
Kemudian dia mengambil napas dalam dan berkata kepada Willa.
"Aku tidak pernah mau mengatakan hal ini kepadamu Willa, tapi kau lah orang yang memaksa aku untuk mengatakan ini kepadamu sekarang." Mama Willa menarik napas dalam. "Willa, pria yang berdiri di depanmu itu, bukanlah suamimu."
"Jika dia bukan suamiku, jadi di mana suamiku?" Ucap Willa dengan begitu terkejut.
Saat ini mata Steven tampak berair. Matanya melihat ke arah bawah, dia menggigit bibirnya dengan sedih dan berkata pada dirinya sendiri.
'Oh ya Tuhan, untuk sesaat aku percaya bahwa aku adalah suaminya. Meskipun dia mengatakan kepada ku bahwa papa ku sudah menyakiti aku dan juga mamaku sebelumnya. Sungguh, hal itu membuatku merasa sakit dari dalam hatiku. Tapi aku masih berharap bahwa papa ku akan mengatakan kepadaku bahwa aku adalah orang yang sama dengan suami Willa.'
Kemudian Steven menggigit bibir bawahnya lagi dan terus bicara pada dirinya sendiri.
'Oh Tuhan, tolong aku. Bagaimana aku harus menghadapi semua ini? Bagaimana aku bisa hidup tanpa dia setelah dia menjadi segalanya bagiku dalam hidupku ini.'
"Suamimu sudah meninggal sejak 4 tahun yang lalu."
Willa tertawa dengan sangat keras dan dia berkata kepada mamanya.
"Itu tidak benar, mama bohong padaku."
"Cepat atau lambat, kau akan menghadapi kenyataannya. Jadi katakan kepadaku, bukankah kau adalah orang yang beradab. Jadi, kau tidak akan tinggal di rumah seorang pria asing. Aku hanya membiarkan mu tinggal bersamanya di bawah satu atap untuk membuatmu tenang, karena aku tidak mau kondisi mu menjadi lebih buruk. Tapi aku sangat salah. Kondisi mu malah semakin memburuk setiap harinya. Jadi aku memutuskan tidak akan pernah membiarkan mu berada dengan pria itu meskipun hanya sedetik, tidak akan pernah lagi." Ucap mama Willa.
Willa berkata dengan marah pada mamanya.
"Apakah mama mau aku mempercayai semua itu? Aku tidak akan pernah mempercayai mama dan meninggalkan dia. Aku tidak akan pernah meninggalkan suami sah ku.
"Mama kenapa mama melakukan semua ini kepadaku? Mama selalu mencintai dan menghargai suamiku. Jadi kenapa sekarang mama mau membuat aku menjauh darinya. Katakan kepadaku kenapa mama tiba-tiba bertingkah aneh seperti ini?" Ucap Willa.
Kemudian mama Willa berteriak dengan sangat keras.
__ADS_1
"Willa, kau harus bangun. Jangan pernah katakan kata suami lagi padanya, kau harus ingat itu."
Mama Willa kembali berkata padanya, "biarkan aku katakan kepadamu dengan perlahan jadi kau bisa percaya. Suamimu dibunuh di depan matamu sendiri dan dia sekarang sudah berbaring dengan tenang di dalam makamnya."
Secara tiba-tiba Willa menaruh kedua tangannya di telinganya dan menekan nya dengan sangat keras seraya dia berteriak dengan keras, dan menangis dengan begitu keras kemudian berkata kepada mamanya.
"Hentikan mama jangan pernah mengatakan bahwa dia sudah meninggal. Aku tidak mau mendengar apapun lagi."
Mama Willa berkata pada Willa.
"Sebenarnya, jauh di dalam dirimu, kau sangat tahu itu dengan benar, bahwa dia sudah meninggal. Jadi kenapa kau masih terus menyangkal dan tetap menolak fakta yang ada." Ucap Mama Willa geram.
Kemudian tiba-tiba Willa mengingat gambaran suaminya, Dion, di dalam kepalanya saat Dion memegang lehernya yang terluka.
Saat itu juga Willa menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dan dia menaruh kedua tangannya di wajahnya. Mencakar wajahnya dengan sangat keras dengan kukunya. Dia menangis dengan keras terjatuh di tanah dengan lutut nya dan berteriak dengan sangat keras.
"Tidak, tidak, tidak, tidak mungkin. Semua itu tidak benar, itu semua tidak benar."
Willa kembali berteriak dan terus berteriak lagi dan menutup matanya dengan kedua tangannya seolah dia tidak mau melihat kejadian yang ada di dalam kepalanya karena dia merasa bahwa jika dia menutup matanya dengan kedua tangannya maka dia tidak akan bisa melihat kejadian yang membuat hatinya begitu terluka.
Tapi semua itu tidak berguna karena kejadian itu terus saja terlintas dipikiran Willa dan membuat hatinya merasa begitu terluka.
Kemudian Willa berteriak dan menggelengkan kepalanya seolah menolak dan dia berkata kepada dirinya sendiri.
'Aku tidak akan pernah menerima kenyataan ini.'
Kemudian Willa kembali berteriak dengan keras.
"Tidak Dion, tidak mungkin, tidak mungkin."
Secara tiba-tiba, Willa berdiri dan mendekat ke arah Steven. Kemudian dia menatap Steven dan bicara padanya dengan raut wajah yang begitu marah.
"Apakah semua itu benar Steven? Ayo katakan padaku bahwa mama ku berbohong. Katakan padanya bahwa dia yang salah. Katakan padanya yang sebenarnya. Katakan padanya bahwa kau adalah suamiku. Katakan padaku bahwa semua ini tidak benar."
Tapi Steven tidak mengatakan apapun....
Kemudian Willa tertawa dengan sangat keras dan disaat yang bersamaan dia juga menangis dengan begitu keras dan berkata kepada Steven.
"Kumohon Steven. Aku memohon kepadamu, katakan pada mama bahwa kau kembali hidup untukku lagi, karena kau tahu bahwa aku tidak akan pernah bisa hidup tanpa dirimu."
__ADS_1
Tapi Steven lagi-lagi tidak mengatakan apapun....
Bersambung.....