
Sudah tiga hari sejak kejadian itu,sena dan Rudi masih belum bertegur sapa Seperti biasa, Sena memilih diam dan tak ingin terlalu memikirkan masalahnya dengan Rudi.
Sementara di tempat lain,rudi mondar mandir tidak jelas karena merasa resah,sejak kejadian itu sena tak pernah membalas pesan dari rudi, Rudi pun tidak tahu harus berbuat apa agar sena memaafkannya, tiba-tiba ia terfikir sesuatu Rudi bergegas mengambil bola basketnya lalu bergegas pergi ke rumah Sena, sekarang ia sudah berada di depan pintu rumah sena, dengan ragu-ragu ia mengetuk pintu rumah sena,tak lama sena muncul dari balik pintu..
"hy sena"
"ngapain lo kesini, lebih baik sekarang (belum sempat sena melanjutkan kata-katanya, ibunya sudah muncul di belakangnya)
"siapa na?"
"hey tante"
"ehh nak Rudi, kenapa berdiri di situ ayo masuk"(ajak bu asni)
"nggak usah tante,rudi cuma mau ngajak sena main basket,udah lama nggak pernah main basket"
"owh gitu,sena kenapa diem aja,sana ajak nak rudi ke lapangan di samping rumah"
"iya bu"
__ADS_1
Sena pun beranjak tanpa memperdulikan rudi, Rudi mengikuti langkah sena, sesampainya di lapangan sena berbalik menghadap rudi,,
"lo ngapain sih kesini?"
"mau main basket,"(ucap rudi menunjukkan bola yang ada di tangannya)
"gue nggak bisa,gue masih capek lain kali aja,udah ya gue masuk dulu"(ucap sena dengan muka datar)
"Maafin gue na,gue nyesel udah kasar sama lo, please jangan diemin gue"(ucap rudi sembari menarik tangan sena yang hendak beranjak pergi)
Sena berbalik dan mendekati rudi,"bagus lah kalau lo nyadar sama kesalahan lo,gue udah maafin lo sebelum lo minta maaf, jadi nggak usah khwatir"
"gue cuma butuh waktu buat sendiri"
"please jangan diemin gue lagi,gue mau lo selalu ada di sisi gue,lo itu orang penting bagi gue"
"penting? kenapa gue penting bagi lo?(ucap sena penuh selidik)
Rudi hanya diam karena merasa gugup dengan pertanyaan sena,ia tak tau harus menjawab apa bibirnya terasa kaku karena selama ini dia belum pernah mengungkapkan perasaannya kepada wanita manapun ini pertama kalinya ia merasakan perasaan seperti ini, bahkan saat berpacaran dengan nisya rudi tak pernah merasakan perasaan seperti sekarang, mengingat dulu Nisya lah yang mengungkapkan perasaannya kepada Rudi.
__ADS_1
Melihat Rudi hanya terdiam sena menghebus kan nafasnya dengan kasar,ia mencengkram erat kedua tangannya,
"udah nggak usah di jawab,gue udah tau,lo pasti mau bilang karena gue ini sahabat lo kan, sekarang lo pulang aja,gue lagi nggak mood main basket,gue udah nggak marah kok sama lo"(ucap sena sembari tersenyum kepada rudi, senyum yang di paksakan untuk menutupi ke sedihannya.)
"beneran na,lo udah nggak marah lagi?"
"iya, beneran..lo nggak liat senyum gue yang manis ini hmm"(menunjukkan senyuman lebar kepada rudi)"
"senyumnya biasa aja kali, kalau lo senyum kayak gitu malah nyeremin tau' hahaha"
"Sialan lo, malah ngeledek gue"
"iya iya,,,maaf, untuk menebus kesalahan gue, gimana kalau kita jalan-jalan hari ini, kemana aja lo mau gue anterin"
"serius nih..."
"iya serius, udah sana mandi,gue jemput jam satu"
"oke"
__ADS_1