
Selamat membaca๐
๐บ๐๐บ๐๐บ
Hari ini tepatnya satu hari setelah kelulusan Renata, akan diadakan syukuran kecil-kecilan dirumahnya. Sebagai ungkapan rasa syukur atas kelulusan dan pencapaian prestasi terbaiknya sampai detik ini. Renata pun mengundang beberapa teman sekolahnya dan juga teman akrabnya.
Syukuran akan diadakan sehabis ashar. Akan tetapi rumah Renata sudah mulai terlihat ramai. Teman-temannya berinisiatif untuk datang lebih awal. Karena mereka ingin membantu Renata dan ibunya untuk mempersiapkan acara syukuran.
Teman-temannya asyik mengobrol dan bercengkrama satu sama lain. Sebagian lagi sibuk berjalan kesana kesini mempersiapkan keperluan syukuran.
Ada yang membantu ibu Renata menghias nasi kuning. Ada yang mempersiapkan minuman. Ada yang mempersiapkan snack. Dan ada juga yang memotong buah-buahan untuk hidangan penutup.
Mereka semua terlihat sangat piawai dan cekatan dalam mempersiapkan semuannya. ibu Renata terlihat sangat senang karena teman-teman Renata begitu baik dan peduli. Mereka mau meluangkan waktunya untuk datang, bahkan membantunya dari awal persiapan.
Dari kejauhan terlihat Yudha yang baru saja datang. Disusul oleh Lisa dibelakangnya. Tawa canda menyambut mereka berdua. Suasana pun semakin hangat dan ceria. Yudha dan Lisa segera bergabung membantu teman-teman yang sedang sibuk mempersiapkan acara syukuran.
Setelah semuannya selesai. Acara syukuran segera dimulai. Akan tetapi berhubung sudah terdengar azan ashar, maka semuannya bergegas untuk sholat terlebih dahulu. Sembari menunggu ustadzah Aisyah atau yang tak lain tetangga Renata, datang untuk memimpin syukuran.
Ustadzah Aisyah pun telah datang. Semuannya juga telah selesai sholat ashar. Acara langsung saja dimulai. Ustadzah Aisyah memimpin pengajian dan doa syukuran.
Pengajian dan doa kini sudah ditutup oleh ustadzah Aisyah. Sekarang giliran ibu Renata mempersilahkan ustadzah Aisyah dan teman-teman Renata menikmati hidangan yang telah tersedia.
Beberapa menit kemudian hidangan telah habis disantap. Kecuali ustadzah Aisyah, teman-teman Renata tidak langsung pulang. Mereka ingin bermain dulu di Rumah Renata. Kali ini ibunya tidak ikut serta. Dengan maksud agar Renata beserta teman-temannya lebih leluasa atau lebih bebas dalam berekspresi.
Suasana semakin meriah disaat salah seorang teman Renata bernyanyi. Diikuti teman lainnya yang saling bersorak menyanyikan sebuah lagu.
Setelah menyanyi, mereka saling tanya jawab kemana mereka akan melangkah. Meneruskan ke bangku kuliah, bekerja atau di rumah saja.
Ada pula yang masih membicarakan tentang kemeriahan sekaligus kesedihan sehari yang lalu di acara wisuda dan perpisahan sekolah.
Tidak terbayangkan kebahagiaan mereka pada waktu itu. Meskipun dibenak hati mereka masing-masing, masih menyimpan kerinduan pada guru-guru yang membimbingnya.
Akan tetapi, mereka harus tetap ikhlas merelakannya. Meskipun tidak mudah bagi mereka, meninggalkan warna putih abu-abu yang banyak mengisahkan segudang cerita.
__ADS_1
Tak terasa adzan maghrib telah berkumandang. Teman-temannya segera berpamitan kepada Renata dan ibunya untuk pulang.
Kecuali Lisa dan Yudha yang masih tetap di rumah Renata. Mereka ingin membantu Renata dan ibunya untuk mencuci piring kotor dan membereskan sampah makanan yang masih berserakan di atas tikar.
"Loh Lisa sama Yudha tidak ikut pulang seperti yang lain? Maaf bukannya ibu mengusir," tanya ibu Renata.
"Saya mau bantu ibu dan Renata dulu untuk memberesakan semua ini," ucap Lisa.
"Tidak usah nak Lisa..., biar ibu dan Renata saja yang mengurus semua ini. Terimakasih sebelumnya atas tawaran nak Lisa dan nak Yudha," ucap ibu Renata.
"Ibu benar Lis, biar kita saja yang membereskan semua ini. Kalian kalau mau pulang tidak apa-apa. Lagian ini juga sudah maghrib. Takut kalian dicariin sama orangtua," lanjut Renata.
"Tidak apa-apa bu, Ren. Kalian sudah terlalu capek hari ini. Lagian kita juga senang kok bisa bantuin ibu sama Renata. Dan untuk orang tua, kebetulan saya sudah izin kepada mereka," ucap Lisa memaksa.
"Apa yang Lisa bilang itu benar bu, Ren," lanjut Yudha.
"Ya sudah kalau kalian memaksa. Tapi sebelumnya kita sholat maghrib dulu," ucap Renata.
Selesai sholat, mereka pun memulai beberes. Ada yang membuang sampah, menggulung tikar, menyapu lantai dan mencuci piring.
"Biar aku bantuin Ren," timpal Yudha.
Renata pun membawa piring-piring kotor itu ke tempat cucian piring. Dia merasa gugup dan deg-degan karena Yudha mengikutinya. Dia takut kalau Yudha akan menanyakan masalah kebaya kemarin.
"Emmm, Ren. Aku...," ucap Yudha terpotong.
"Yud, disana masih ada yang perlu di cuci ga? Minta tolong ambilin dong kalau masih ada," tanya Renata mengalihkan pembicaraan.
"Ga ada kok Ren, sudah dibawa kesini semua," jawab Yudha.
"Ren, aku...," ucap Yudha terpotong lagi.
"Yud, ibu sama Lisa masih ngapain yah, sekarang? Minta tolong liatin dong yah, yah..., lanjut Renata.
__ADS_1
"Ibu lagi nyapu lantai dan Lisa tadi aku lihat habis membuang sampah," jawab Yudha.
"Emmm, Yud Kalau?" tanya Renata terpotong.
"Ren, kalau kamu terus mengalihkan pembicaraan, terus kapan giliran aku ngomong? Hmmm, tanya Yudha sambil menghela nafas.
"Maaf Yud, kalau kamu jadi ga nyaman," ucap Renata.
"Ga apa-apa Ren, aku cuma mau mastiin ajah kok. Kemarin kenapa kamu ga pakai kebaya yang aku kasih? Padahal aku udah susah payah, beliin khusus buat kamu. Aku cuma pengin lihat kamu pakai kebaya itu di acara kemarin. Tapi ternyata aku ga melihatnya. Aku ga marah sih sebenarnya, cuma aku sedikit kecewa ajah," ucap Yudha.
Aduh aku jadi ga enak sama Yudha. Pasti dalam hati Yudha, dia kecewa banget sama aku. Mana dia bela-belain lagi, buat beli kebaya yang harganya fantastis. Yaudah deh aku jelasin apa adanya mudah-mudahan saja Yudha mau ngertiin aku.
Renata pun meminta maaf dan menjelaskan alasan yang sebenarnya kepada Yudha. Dan akhirnya Yudha mengerti dengan apa yang Renata jelaskan. Malahan dia ingin Renata tetap menyimpan dan menjaga dengan sebaik-baiknya kebaya tersebut.
Dia ingin suatu hari nanti Renata memakainya di acara yang lebih sangat spesial. Yang sudah Yudha impikan sedari dulu.
Renata hanya mengangguk dan mengiyakan permintaan Yudha. Meski dia sebenarnya tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Yudha.
Saat Lisa akan menghampiri Renata dan Yudha di tempat cucian piring, tiba-tiba dia mendengar percakapan antara Yudha dan Renata. Lisa sudah mendengarnya sedari tadi dibalik pintu dapur. Dia merasa sedih dan kesal.
Yudha membelikan Renata kebaya? Jadi waktu kemarin yang aku lihat, mereka habis jalan-jalan? Pasti kebaya yang Yudha belikan bukan kebaya sembarangan, apalagi aku tahu selera Yudha.
Ternyata sebegitu istimewakah Renata di hati Yudha. Sampai-sampai yang ada dipikiran Yudha, hanyalah Renata. Apapun, kemanapun dan dimanapun pasti Renata yang selalu dicari.
Sedangkan aku yang sedari dulu memperhatikannya, tidak pernah Yudha anggap sedikitpun. Padahal aku dan Yudha satu kelas, tapi tetap saja itu tidak membuat kita menjadi dekat.
Mendengar hal yang membuat hatinya tersayat, Lisa segera berbalik arah dan menunggu mereka di sofa bersama dengan ibu Renata.
Akhirnya Renata dan Yudha telah selesai dengan cucian piringnya. Mereka segera menemui Lisa dan ibu. Setelah itu Lisa dan Yudha pun berpamitan pulang ke rumahnya masing-masing.
bersambung...
๐บ๐๐บ๐๐บ
__ADS_1
Jangan lupa berikan kritik dan sarannya untuk author yah reader..., supaya author dapat memperbaiki dan menyajikan karya yang terbaik untuk kalian. Terimakasih๐๐
Dukung terus author dengan like dan vote. Terimakasih๐๐