Cinta Sang Desainer

Cinta Sang Desainer
Bunga Tidur atau Pertanda?


__ADS_3

Selamat membaca๐Ÿ˜Š


๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐ŸŒบ


"Huh, hari yang sungguh melelahkan dan menyebalkan," celetuk Lisa sembari merebahkan badannya diatas kasur.


Renata dan Lisa telah sampai dikosanya, setelah menghabiskan waktunya rapat BEM dikampus.


Renata yang melihat wajah kesal dari Lisa pun hanya mengabaikannya begitu saja. Dia langsung merebahkan badannya di atas kasur, karena indra penglihatannya sudah tak sanggup lagi memandang keadaan sekitar. Sekarang Renata dan Lisa pun sudah berada di alam bawah sadarnya.


"Ibu kenapa duduk disini sendirian? Kenapa ibu belum tidur? Kenapa ibu tidak istirahat? Ini sudah larut malam," tanya Renata pada ibunya yang sedang duduk di kursi mesin jahit membelakangi Renata. Akan tetapi suasana hening, ibunya tidak menjawab pertanyaan darinya.


Dia berbalik badan dan hanya memberikan selembar kertas bergambar sebuah desain busana. Yang kemungkinan telah dibuat olehnya.


Hanya ada senyuman, tanpa sedikit katapun yang terlontar dari mulutnya. Wajahnya pun terlihat sangat pucat, namun badannya yang dibalut kain putih seolah memantulkan cahaya rembulan.


Tiba-tiba Renata terbangun karena ingin buang air kecil. Dia pun bergegas pergi menuju kamar mandi untuk buang air kecil.


Setelah itu, duduk di atas kasur.


Renata terus memikirkan mimpinya tadi. Subuh ini dia terbangun dengan mimpi yang cukup sulit untuk dimengerti olehnya. Dadanya terasa sesak. Matanya pun mulai berkaca-kaca. Tanpa disadari setetes air mata jatuh membasahi pipi mulusnya. Mimpinya itu, membuat dia jadi teringat dan kepikiran dengan ibunya.


Suara isakan tangisnya pun membuat Lisa kembali ke alam sadarnya.


"Kenapa Ren?" tanya Lisa sembari mengangkat setengah badannya dan melirik kearah Renata.


"Aku mimpi aneh tentang ibu Lis. Membuatku merasa tidak tenang," ucap Renata.


"Udah ga usah dipikirin, mimpi kan cuma bunga tidur," ucap Lisa menenangkan.

__ADS_1


Benar juga apa yang dikatakan oleh Lisa. Sebaiknya aku buang jauh-jauh pikiran buruk tentang ibu. Aku harus tetap berpikir positif. Kelak suatu saat nanti, aku ingin ibu bisa melihat, merasakan dan menikmati kesuksesanku. Aamiin...


Seketika tangan Lisa meraba tempat tidur untuk mengambil HP yang tadi malam dia letakkan di sekitar situ. Dia mengaktifkan HP nya dan melihat ke bagian jam, yang ternyata telah menunjukkan pukul 05.25.


"Eh Ren, udah sholat subuh belum udah jam segini loh," ucap Lisa panik sembari menunjukkan jam di HP nya ke Renata.


Renata pun segera membuang jauh-jauh pemikirannya itu. Dia bangkit bersama Lisa dari tempat tidur untuk menunaikan sholat subuh. Tak lupa Renata pun mengangkat dan merapatkan kedua tangannya untuk bermunajat kepada Allah SWT setelah salam. Dengan khusyuk dia mendoakan ibunda tercintanya.


Setelah sholat, hatinya kini menjadi lebih tenang. Dia melanjutkan aktivitas seperti biasanya bersama Lisa. Membereskan kos, mandi dan sarapan.


Waktu pun terus berputar, sekarang jam di HP telah menunjukkan pukul 06.45. Lisa yang ada kelas pagi, telah berangkat ke kampus untuk kuliah. Sekarang tinggal Renata yang ada dikamar kos itu, karena dia kuliah siang. Jadi masih ada waktu untuk santai-santai dulu di kos.


#Pukul 12.30#


๐ŸŒบ Gedung Jurusan Fashion Design ๐ŸŒบ


Hari ini Renata ada kelas siang pukul 13.00. Akan tetapi, kali ini dia dan Sandra sengaja berangkat lebih cepat. Karena mereka berniat untuk makan siang di kantin jurusannya.


Renata dan Sandra tak mau menghiraukan lagi Caca, Mika, Sifa dan Ola. Mereka segera memesan makanan dan mengambil tempat duduk yang masih kosong. Kebetulan tempat duduknya persis ada di depan geng mereka.


Beberapa menit kemudian, makanan yang mereka pesan telah datang. Mereka pun langsung menyantapnya sembari bercerita. Akan tetapi, ditengah-tengah pembicaraan mereka dikejutkan dengan suara gaduh dibelakang mereka. Saat mereka melihat ke belakang, ternyata suara gaduh itu bersumber dari Caca yang sedang mencaci maki seorang mahasiswa yang penampilannya sekilas terlihat sangat culun.


Sandra yang penasaran pun mengajak Renata untuk mendekat kearah Caca.


"Ada apa ini?" tanya Sandra penasaran.


"Ada apa, ada apa, loe ga lihat baju gue basah dan kotor kaya gini," jawab Caca marah sembari memperlihatkan bajunya ke Sandra.


"Ya ampun Ca, cuma hal sepele ajah kamu sampe segitunya maki-maki orang. Udahlah Ca, masalah kecil ajah kamu besar-besarin. Lagian kan ini juga bisa kamu kucek pake air," ucap Sandra heran.

__ADS_1


"Oh my God..., hal sepele kamu bilang San. Masalah kecil? Ya kalau ilang dikucek pake air, kalau membekas gimana? Baju gue tuh mahal, emang dia bisa ganti apa" ucap Caca sembari menatap tajam orang yang tadi menabraknya.


"Lagian loe yah, jalan ga lihat-lihat. Loe pikir ini jalanan nenek moyang loh apa..., udah tau bawa jus buah naga. Jalannya nunduk-nunduk ga jelas. Ga lihat apah gue mau keluar," ucap Caca sembari menyenggol kasar orang yang tadi menabraknya. Sedari tadi dia berlutut pada Caca untuk meminta maaf. Akan tetapi sangkin kesalnya, Caca meninggalkannya begitu saja tanpa ada pemberian maaf darinya.


"Eh tunggu Ca, main pergi-pergi ajah," teriak Sifa menyusulnya. Diikuti oleh Ola dan Mika.


Renata dan Sandra yang tidak tega melihat dia diperlakukan seperti itu, langsung mengajaknya berdiri. Dia berterimakasih pada Renata dan Sandra, kemudian meninggalkan kantin itu. Melihat jam ditangan Sandra yang sudah tidak bersahabat lagi, mereka langsung membayar makanannya yang masih tersisa itu. Dan melangkahkan kaki menuju ke ruang kelas.


๐ŸŒบ Gedung Jurusan Ekonomi ๐ŸŒบ


Kuliah hari ini telah selesai. Akan tetapi, Yudha dan kedua temannya masih berada di dalam kelas untuk mengerjakan sebuah tugas kelompok. Kedua temannya adalah Anton dan Ricko. Mereka bukan hanya teman satu rombelnya, akan tetapi juga teman akrab Yudha. Selama ini mereka selalu bersama. Anton dan Ricko merupakan teman curhat yang baik bagi Yudha. Terutama untuk masalah cewek.


"Bro, kapan nih kamu mau nembak cewek yang sering kamu ceritain ke kita?" tanya Anton meledek, padahal dia sedang sibuk mengetik.


"Iya nih, ihirrr," ucap Ricko yang juga ikut meledek Yudha.


"Maksud kalian Renata? Ya sabarlah, yang jelas ga sekarang. Tunggu ajah tanggal mainnya. Lagian dia juga sepertinya belum ada respon ke aku. Masih sama kaya dulu, takut aku kalau ditolak yang ketiga kalinya," ucap Yudha sedikit menghela nafasnya.


"Yaelah, gitu ajah takut cowok apaan. Maju terus dong pantang mundur..., cinta itu harus diperjuangkan. Iya ga Ko..." ucap Anton pada Ricko sembari sedikit menaikkan alisnya.


"Iyalah bro, hahaha..." ucap Ricko tertawa geli melihat Anton yang terus meledek Yudha.


"Udah dilanjut tugasnya, daritadi kalian udah kaya mak-mak rempong," celetuk Yudha menghentikan ucapan kedua temannya itu. Dan mereka pun melanjutkan mengerjakan tugas dengan penuh konsentrasi, tanpa ada pembicaraan lagi.


bersambung...


๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐ŸŒบ


Jangan lupa berikan kritik dan sarannya untuk author yah reader..., supaya author dapat memperbaiki dan menyajikan karya yang terbaik untuk kalian. Terimakasih๐Ÿ˜Š๐Ÿ™

__ADS_1


Dukung terus author dengan like dan vote. Terimakasih๐Ÿ˜Š๐Ÿ™


__ADS_2