Cinta Sang Desainer

Cinta Sang Desainer
Surga Yang Dirindukan


__ADS_3

Selamat membaca😊


🌺🍃🌺🍃🌺


Mereka telah selesai dengan sarapannya. Yudha mengeluarkan uang dari saku celanannya untuk membayar makanan dan minuman yang dipesan olehnya. Dia juga membayari makanan dan minuman Renata serta Lisa.


"Makasih yah Yud, ini kedua kalinya loh kamu traktir kita," ucap Renata senang.


"Sama-sama Ren, anggap ajah ini bonus untuk kalian karena udah mau aku ajak joging," ucap Yudha senang.


"Habis ini udah kan? Ga dilanjut lagi jogingnya? tanya Lisa yang ingin cepat-cepat kembali ke kos.


"Iya udah Lis, lagian juga udah jam 09.00" jawab Renata.


"Ga papa kan Yud, kalau langsung pulang ajah?" tanya Renata merasa tidak enak.


"Iya ga papa Ren, aku juga masih ada urusan kok," jawab Yudha melebarkan senyumnya.


Mereka pun bangkit dan beranjak dari tempat itu. Melangkahkan kaki untuk pulang ke kosan masing-masing. Akan tetapi, Yudha mampir dulu ke kosan Renata dan Lisa. Dia harus mengambil mobilnya yang dititipkan dikosan mereka.


Jadi sewaktu Yudha ke kos Arimbi, dia mengendari mobil miliknya. Akan tetapi, karena jarak kos Arimbi ke lapangan FIK lumayan dekat, mereka memutuskan untuk jalan kaki menuju ke tempat itu.


🌺 Kos Arimbi 🌺


Yudha berpamitan pada Renata dan Lisa. Dia menuju mobil dan masuk kedalamnya. Melajukan mobilnya meninggalkan kos Arimbi.


"Ayo masuk Ren," ajak Lisa sembari merangkul Renata, untuk masuk ke dalam kosan.

__ADS_1


"Yuk Lis," jawab Renata sembari membalas rangkulan Lisa.


Sekarang kegiatan mereka adalah bersih-bersih kos dan setelah itu membersihkan badan atau mandi.


"Huh..., akhirnya semua sudah beres. Bisa istirahat sekarang," ucap Renata membaringkan badannya di kasur setelah mandi dan ganti baju.


#Beberapa menit kemudian#


"Seger...," ucap Lisa di depan pintu kamar mandi sembari mengusap rambut basah itu menggunakan handuk. Dia baru saja selesai mandi.


"Lis kamu mau kemana? Rapi banget bajunya," tanya Renata melirik kearah Lisa yang sedang merapikan bajunya di depan cermin.


"Oh ya aku lupa bilang ke kamu Ren. Aku mau ke kos temen Ren, mau kelompokkan hari ini. Ada tugas kuliah," jawab Lisa yang masih sibuk merapikan bajunya. Setelah itu dia memasukkan buku dan laptop yang akan dibawa kelompokkan ke dalam tasnya.


"Aku tinggal dulu yah Ren..., ga papa kan sendirian dikos? nanti pulangnya aku bawain makanan buat kamu," lanjutnya pamit kepada Renata sembari melangkah keluar.


"Ok Ren," jawab Lisa sembari menutup kembali pintu kos dari luar.


Sekarang suasana kamar kos terasa sepi. Hanya ada Renata sendirian. Tiba-tiba saja terlintas dipikiraannya sosok seorang wanita.Dia adalah wanita hebat yang selama ini menjadi tombak kekuatan untuknya. Seketika wajahnya melirik ke arah foto yang dipajang di meja samping tempat tidur. Dia mengambil foto itu dan memandanginya terus menerus. Senyum kerinduan pun terlihat dari raut wajahnya.


"Rasanya ingin mengulang momen kebersamaan yang begitu berarti," ucap Renata yang masih memandangi foto dirinya bersama ibunda tercinta.


Tapi karena jarak, yang membuatku tidak bisa langsung mengobati rasa rindu itu. Sebab tanpa bertemu atau memeluknya secara langsung rasa rindu tetap akan membuncah di dada. Untuk melegakan hanya seuntai doa yang dapat aku panjatkan saat ini.


"Tapi..., kenapa aku tidak meneleponnya saja," ucapnya bersemangat.


Renata mulai mencari nomornya kemudian menelepon. Dan di ujung sana terdengar suara girang menyambut teleponnya. Ternyata ikatan batin seorang ibu dan anak memang sangat kuat. Sama-sama saling merindukan satu sama lain.

__ADS_1


Renata📱: Assalamualaikum ibu..., bagaimana kabar ibu?


Ibu Renata📱: Waalaikumsalam nak..., alhamdulillah ibu baik. Kamu gimana disana, sehat kan?


Renata 📱: Alhamdulillah Renata juga sehat bu.


Ibu Renata bernada sedikit parau. Kemudian, Renata bertanya kenapa dengan suaranya? Lalu ibunya mencoba untuk berbohong, bahwa dia baru saja makan gorengan dan itu sangat mengganggu tenggorokannya.


Renata pun merasakan kalau ibunya sedang berbohong. Dia tidak berkata sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Renata juga merasakan kalau ibunya sedang kurang sehat. Akan tetapi, ketika ditanya berulang kali, ibunya tetap saja memberikan jawaban yang sama. Dia selalu mengelak dan mengalihkan pembicaraan.


Entah mengapa dengan kebohongan itu,Renata justru semakin ingin terisak nangis. Hingga dia tak mampu lagi untuk membendung maksud hati bahwa dia sangat merindukannya. Dan ingin sekali melihatnya secara langsung.


Setelah berbicara panjang lebar dan cukup lama, mereka mengakhiri pembicaraannya. Dan Renata pun menutup teleponnya.


Kebohongan yang dilakukan oleh ibu Renata, semata-mata hanya untuk selalu terlihat tegar di depan putrinya. Dia tidak ingin membebani putrinya. Sekalipun dengan kondisi kesehatannya yang sedang tidak baik, dia selalu berusaha menutupinya dari Renata. Dia tidak ingin putrinya sampai tahu dan kepikiran. Apalagi menjadi tidak fokus dengan kuliahnya.


Aku tahu, bahwa ibu ingin selalu terlihat tegar akan rindunya padaku. Bahkan ibu tak berminat sama sekali untuk menangis bersamaku karena ibu tak menginginkan aku cengeng, ibu juga tak ingin aku manja. Dia hanya ingin aku jadi anak yang kuat dan mandiri hidup di perantauan, bukan malah menangis mengatasnamakan rindu. Aku paham itu.


Bahkan aku tahu bahwa setelah mematikan telepon, ibu justru lebih terisak, terluka karena merasa bersalah membohongi perasaannya sendiri. Aku juga tahu bahwa dia sangat-sangat merindukanku, dan segera menginginkan aku pulang ke rumah. Semoga ibu memang benar baik-baik saja. Dan sehat selalu pastinya. Aamiin..., lanjutnya.


bersambung...


🌺🍃🌺🍃🌺


Jangan lupa berikan kritik dan sarannya untuk author yah reader..., supaya author dapat memperbaiki dan menyajikan karya yang terbaik untuk kalian. Terimakasih😊🙏


Dukung terus author dengan like dan vote. Terimakasih😊🙏

__ADS_1


__ADS_2