
Selamat membaca๐
๐บ๐๐บ๐๐บ
Sampailah Renata dan Lisa di kosan. Mereka langsung masuk ke dalam dan mengunci kosanya. Melemparkan tas ke sembarang arah dan membaringkam tubuh di atas kasur tanpa berganti baju terlebih dahulu. Memejamkan mata mereka ke alam bawah sadar. Mereka terlihat sangat kelelahan setelah menghadiri ulang tahun Sandra yang selesai sampai larut malam.
Renata bangun tepat adzan subuh berkumandang. Dia mengangkat tubuhnya dari kasur dan bergegas melangkah masuk ke kamar mandi untuk berwudhu.
Selesai menunaikan kewajibannya kepada sang pencipta, Renata melipat kembali mukenah putih bermotif bunga itu. Dan membungkusnya dengan sajadah. Serta meletakkan kembali di tempat semula.
"Lis, Lis, Lisa...," panggil Renata membangunkan Lisa dari tidurnya dengan menepuk lengan kanannya.
"Bangun..., sholat subuh dulu. Nanti mau tiduran, tiduran lagi," lanjut Renata menyuruh Lisa sholat.
"Iya Ren," jawab Lisa yang langsung bangkit dari kasur meski dengan penglihatan yang belum terbuka sempurna.
Sehabis sholat mereka kembali tiduran diatas kasur. Renata merasakan badannya pegel-pegel dan kaku, mungkin karena semalem dia tidur kemaleman, ditambah lagi mungkin karena salah gerak sewaktu dia berdansa.
Burung-burung bernyanyi menyambut datangnya pagi. Butiran embun membasahi daun hijau. Angin berhembus lembut. Sinar matahari mulai menampakkan walaupun masih samar-samar.
"tok, tok, tok...," suara ketukan itu membangunkan Renata dan Lisa.
"Siapa sih Ren, pagi-pagi udah ketuk pintu ajah. Ganggu orang tidur," ucap Lisa yang masih nyaman dengan selimut tebal yang membungkusnya.
"Ga tau Lis, bentar yah aku liat dulu," jawab Renata menyibakkan selimut dan bangkit membukakan pintu.
"Pagi Ren," sapa Yudha yang telah berpakaian olahraga lengkap.
"Pagi juga Yud. Loh, kamu tumben pagi-pagi banget udah ada di kosku dan ini...," tanya Renata heran sembari mengarahkan jari telunjuknya kearah Yudha dari ujung kepala sampai ujung kaki
"Maaf sebelumnya kalau menganggu tidurmu. Aku kesini cuma mau ngajak kamu sama Lisa joging. Mumpung ini hari minggu Ren" ajak Yudha dengan senyuman manisnya.
Aduh gimana nih, mau nolak juga ga enak dia udah nyamperin kesini. Tapi sebenarnya ga papa juga sih joging. Udah lama juga aku ga nglakuin itu. Lagian ada manfaatnya juga kok.
"Kalau kamu ga mau juga ga papa sih, biar aku joging sendiri ajah," ucap Yudha pada Renata yang terlalu lama berpikir.
__ADS_1
"Eh, jangan Yud. Tunggu bentar yah aku ganti baju dulu," ucap Renata menghentikkan Yudha yang hendak berbalik badan.
"Ok Ren, kalau gitu aku tunggu diluar yah Ren," ucap Yudha berbalik badan dan duduk di teras kos.
Renata pun segera mengganti bajunya dengan pakaian olahraga. Dia juga menarik Lisa yang masih berbaring di kasur untuk mengganti pakaiannya. Dan ikut joging bersama dengan Renata dan Lisa.
Awalnya Lisa susah banget disuruh ganti pakaian untuk joging. Dia bilang masih mager. Mau ngelanjutin mimpinya. Tapi karena Renata terus mamaksa, akhirnya Lisa mau juga diajak joging.
๐บ Lapangan FIK ๐บ
Lapangan fakultas ilmu keolahragaan merupakan salah satu fasilitas yang dimiliki oleh fakultas ini. Tempatnya bersih, luas dan sangat nyaman untuk olahraga. Tiap hari lapangan itu tak pernah sepi oleh pengunjung. Jadi tidak hanya digunakan oleh anak FIK saja. Akan tetapi, boleh digunakan untuk umum.
Tiket masuk sebesar lima ribu rupiah dikenakan untuk pengunjung yang bukan bagian dari kampus itu. Karena pada pintu masuk lapangan, ada petugas yang menjaganya. Sehingga, pengunjung yang masuk harus menunjukkan kartu identitas. Untuk menentukan gratis atau membayar.
Lapangan ini pun sangat ramai kalau hari minggu.
Renata, Lisa dan Yudha melakukan pemanasan terlebih dahulu. Sedikit jalan di tempat dan berlari-lari kecil mengitari lapangan.
Lisa adalah seorang yang paling malas kalau disuruh joging. Tapi dia sangat bersemangat untuk lari pagi ini. Kadang Renata berlari cepat untuk membuat Lisa berlari cepat juga. Lisa sangat lucu ketika sedang berlari cepat.
"Yaudah yuk kita istirahat dulu disana," ajak Yudha sembari menunjuk kearah tempat duduk yang kosong.
Sekarang mereka istirahat ditempat duduk panjang tanpa sekat. Sembari melihat orang-orang sekitar lalu lalang lari kesana kemari. Lisa menghembuskan nafasnya dengan berat. Renata tahu kalau sahabatnya itu mudah lelah, karena tidak terbiasa untuk lari.
"Gimana nih? Mau lanjut lari atau udahan?" tanya Yudha.
"Udah yah..., udah..., please ok?" bujuk Lisa.
"Yaudah kalau memang Lisa udah ga mau, aku juga tidak akan memaksa. Gimana kalau kita beli sarapan ajah, kalian juga pasti lapar kan?" tanya Yudha mengajak Renata dan Lisa.
Renata dan Lisa pun mengiyakan pertanyaan dari Yudha. Mereka bangkit dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya untuk keluar dari tempat itu.
Saat berada dipertengahan lapangan menuju pintu keluar, tiba-tiba saja ada seorang laki-laki yang berlari dengan sangat kencang. laki-laki itu tidak melihat jika di depannya ada orang yang sedang berjalan. Dia pun sontak menabrak Renata dan Lisa.
"Kamu tidak apa-apa Ren?" tanya Yudha mengkhawatirkannya.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa Yud, yang jatuh tuh Lisa bukan aku. Aku cuma kesenggol ajah," ucap Renata mengarahkan jari telunjukknya kepada Lisa yang sedang dibantu berdiri oleh laki-laki tadi.
"Maaf yah mb, aku ga sengaja. Aku terlalu bersemangat untuk lari sampai-sampai tidak bisa mengontrol diri," ucap laki-laki itu merasa bersalah.
"Iya ga papa mas, lagian aku juga tidak apa-apa kok," ucap Lisa sembari melirik sinis ke arah Renata dan Yudha.
Setelah meminta maaf, laki-laki itu pun meninggalkan mereka. Renata, Lisa dan Yudha melanjutkan langkahnya menuju ke tempat angkringan yang letaknya masih berada di sekitar area lapangan FIK.
Melihat Lisa yang sangat lelah, dan berjalan sembari memegangi pundaknya yang masih kesakitan karena kejadian tadi, Yudha pun akhirnya menggendong Lisa. Dia melakukan semua itu semata hanya karena rasa kemanusianya.
"Ayo naik ke punggungku, biar aku gendong sampai ke angkringan," ucap Yudha menawarkan bantuan kepada Lisa.
"Ga usah Yud, malulah kalau diliatin orang," ucap Lisa menolaknya.
"Udah ga papa Lis, keliatannya kamu juga sangat lelah," timpal Renata membujuknya.
"Baiklah...," ucap Lisa yang akhirnya mau naik ke punggung Yudha.
Jantungnku rasanya berdetak lebih kencang. Ingin sekali aku bisa seperti ini terus sama Yudha. Aku merasa diperhatikan olehnya. Meski aku tahu dia melakukan semua ini pasti karena kasihan padaku.
Kenapa hatiku terasa risau yah..., melihat Yudha memperlakukan Lisa seperti itu.
Aneh...
bersambung...
๐บ๐๐บ๐๐บ
Jangan lupa berikan kritik dan sarannya untuk author yah reader..., supaya author dapat memperbaiki dan menyajikan karya yang terbaik untuk kalian. Terimakasih๐๐
Dukung terus author dengan like dan vote. Terimakasih๐๐
ย ย ย ย
ย ย ย ย
__ADS_1
ย ย